Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 3]

“Presently the small of coffee began to fill the room. This was morning’s hallowed moment. In such a fragrance the perversity of the world is forgotten, and the soul is inspired with faith in the future…”
― Halldór Laxness, Independent People

Pagi saya hari itu diawali persis sesuai kutipan buku Independent People di atas; Segera, cecahan harumnya kopi mulai mengisi ruangan. Momen kudus di pagi hari. Dengan semerbak aroma kopi, kebengisan dunia terlupakan, dan jiwa dipulihkan oleh iman kepada pengharapan masa depan… Aroma kopi di pagi hari kadang memang bisa membawa dampak sedahsyat itu. Gangsi biji kopi itulah yang langsung menyambut saya ketika saya sampai ke ruang makan pada pagi hari di penginapan rumah pertanian Steinsholt tempat kami menginap. Uap kopi panas tampak mengepul dari cangkir di meja makan depan teman saya sementara aromanya sudah menyebar ke seisi ruangan ketika saya masuk. Bulir-bulir debu yang terkena cahaya matahari pagi dari jendela raksasa di pinggir meja makan, berkilau dan memantul saat beradu dengan uap kopi. Tarian momentum hukum kinematika berpadu dengan hukum-hukum optika fisika menciptakan pemandangan berpijar yang menari-nari liar seolah kopi yang ada di meja adalah minuman ramuan sihir yang ada di kartun-kartun TV saat sang penyihir menebar mantra kepada eliksir misteriusnya. Saya memang gampang sekali terpukau oleh hal-hal sesederhana seperti ini. Melihat saya terpesona takjub menatap hanya cangkir kopi seolah itu ramuan ajaib betulan, seorang petugas penginapan dengan sigap mendekati saya dan menanyakan apakah saya ingin kopi juga, yang langsung saya jawab tanggap dengan anggukan mantap, “Yes! Yes! Yes! Without sugar, please…

Sebetulnya saya sudah bangun jam dua dini hari seperti malam sebelumnya. Jendela kamar kami yang langsung menghadap lapangan luas tempat kami memarkirkan mobil dan gudang tempat menyimpan mesin-mesin pertanian mereka. Silo yang dicat putih tampak berkilau saat dilihat pada pukul jam 2 malam, sementara bulan kuarsa yang terlalu lemah untuk bersinar sesekali muncul di balik awan yang sangat cepat berganti muncul-tenggelam. Gejolak atmosfer di luar sangat dahsyat, sementara dilihat dari balik jendela semuanya terasa tenang dan membisu. Bebukitan yang tertidur pulas, menebar dan menyebar mengelilingi rumah pertanian melindungi bangunan penginapan kami dari amukan angin dahsyat. Sehingga dengan angin sekencang itu, tak mampu membuat bilah-bilah rumput di area parkir untuk bergoyang.  Kuda-kuda tidur dengan berdiri berkerumun mencari perlindungan kehangatan di antara sesamanya karena tanah terlalu dingin untuk direbahi.

Saya membaca buku sebentar segera setelah bangun, lalu dialihkan dengan menonton film Bokeh (Geoffrey Orthwein, Andrew Sullivan, 2017) pada tablet yang sebelum ke Iceland sudah dijejali dengan film-film sebagai alternatif cadangan hiburan selain buku-buku. Film Bokeh, yang menceritakan dua pasangan yang sedang berlibur di Iceland lalu terkena ‘kiamat’ aneh dimana orang-orang lain lenyap begitu saja, memang tidak terlalu bagus. Saya dibuat terkantuk-kantuk padahal dengan settingan cerita di Iceland*, filmnya mestinya bakal asyik karena banyak sekali tempat syuting di film yang pernah dan akan saya datangi. Alhasil sehabis menonton tanpa terasa saya tertidur lagi selama setengah jam.

Ketika saya terbangun untuk kedua kalinya jam 5.30, teman saya di kasur sebelah sudah menghilang. Malam sebelumnya dia memang sudah bilang bahwa dia sedang sibuk mengerjakan tugas pekerjaan sehingga saya menebak dia sudah mangkal di ruang makan yang memang menyediakan kursi dan meja besar untuk menggelar laptop. Awalnya saya meledek tajam dia karena ‘buat apa jauh-jauh dan mahal-mahal terbang ke Iceland jika ujung-ujungnya malah kerja‘, ledekan yang kemudian saya tarik kembali hari-hari berikutnya karena di kemudian hari saya harus mengemis-ngemis padanya untuk meminjam laptopnya, haha. Sementara teman saya satu lagi sedang cuci muka di kamar mandi ketika saya mulai bangkit dari kasur dengan malas. Setelah saya selesai cuci muka juga kami berdua memutuskan untuk jalan-jalan keliling area penginapan. Kemarin saat kami tiba, hujan dan kabut masih turun sehingga tak banyak area yang bisa dijangkau oleh pandangan. Di pagi yang cerah, saya memutuskan jalan-jalan berkeliling penginapan sekaligus memulai petualangan pertama di pagi itu.

IMG_1071.JPG

Pemandangan dari belakang kamar, lanskap cokelat-hijau sejauh mata memandang; rumput yang meranggas oleh musim dingin sadis perlahan bangkit dari kematian dengan tunas hijau yang meneruskan mata rantai siklus kehidupan

*****

Penginapan Steinsholt yang kami inapi memang terletak di kawasan antah berantah jauh dari pemukiman padat. Hari sebelumnya kami sedikit kesulitan menemukan lokasinya karena meski nama penginapan ini muncul di peta (di Iceland, saking sepi dan jarangnya penduduk, nama rumah bisa gampang masuk ke dalam peta, agar terlihat negaranya ‘ramai’ ketimbang kosong melompong) tetapi jalan menuju Steinsholt tak masuk dalam peta sehingga membuat kami menebak-nebak jalan menuju ke sana. Dari jalan utama, jalan menuju Steinsholt memang relatif baru, belum diaspal hanya dilapisi kerikil. Lokasinya yang terpencil membuat kami merasa ‘salah pesan’, namun setelah masuk, kesan rumah pertaniannya terasa sekali sehingga sangat nyaman.

Segera setelah cuci muka dan sebelum sarapan, saya dan teman saya berkeliling sekitar rumah pertanian Steinsholt. Dari brosur yang ada di meja lobby penerimaan tamu, disebutkan bahwa Steinsholt adalah rumah pertanian yang menyewakan jasa tur menaiki kuda sebagai andalannya. Dikelilingi lanskap bukit bergelombang-gelombang, rasanya memang akan menjadi pengalaman menarik untuk mengendarai kuda keliling area pertanian. Rumah pertanian Steinsholt seperti halnya rumah pertanian khas Iceland lainnya, terdiri dari 3 bangunan utama, rumah pemilik pertanian yang merangkap penginapan, gudang tempat mesin-mesin, dan gudang silo tempat jerami dan hewan ternak berlindung di musim dingin. Lokasinya yang terpencil jauh dari keramaian (bahkan dari rumah pertanian terdekat) menjadikan suasananya hening luar biasa. Hanya sesekali angin lembah kencang lewat yang menyibak rerumputan yang mengisi latar suara keheningan. Meski temperatur di aplikasi ramalan cuaca menunjukan angka 9°C, saya keluar jalan-jalan tanpa perlu memakai jaket dan base slayer baju hangat, hanya mengenakan sandal jepit dan baju tidur saja. Selama 40 menit saya menjelajah daerah sekitar dengan antusiasme besar seolah tak pernah menjumpai bukit-bukit meranggas sebelumnya. Menuruni dan mendaki bukit, mengitari dan melintasi lembah, semangat kepramukaan saya tetiba bertunas secara eksponensial.

IMG_1121

Traktor pertanian di tengah padang senyap. Selama di Iceland saya tak pernah melihat ada petani yang sedang bekerja di ladang

Meski pemandangannya sedikit monoton, bukit-bukit berwarna seragam cokelat-hijau dengan langit berjejalan awan monokrom kelabu, tetapi tak sedikitpun saya mengalami kepasaian. Ketenangan udaranya yang relatif jinak, terasa sangat kontras dengan hari-hari sebelumnya dimana kami babak belur dihajar angin kencang. Setelah melewati tiga bukit, akhirnya saya menjumpai sungai Þjórsá, sungai terpanjang se-Iceland raya. Sebelum saya berniat menyusuri sungai itu sampai muaranya di selatan Iceland sana, teman saya buru-buru memperingatkan bahwa sudah waktunya sarapan. Jadi rencana untuk jalan kaki sepanjang 60 km ke arah Samudera Atlantik harus dibatalkan, haha. Toh foto-foto sudah cukup banyak kami lakukan sehingga tepat jam 7 pagi, saya memutuskan kembali ke penginapan.

Setelah mandi dan ganti baju, saya bergabung dengan teman saya yang sudah nongkrong di ruang makan sejak pagi buta yang sibuk mengerjakan tugas. Sesaat saya masuk ruang makan, saya langsung disambut aroma kopi harum. Dengan jendela besar menghadap timur sehingga memaksimalkan cahaya matahari pagi masuk, ruang makannya terasa terang, sementara mebeul skandinavia yang sederhana dan efisien menciptakan kesan lega, resik, dan nyaman. Kopinya sendiri memang tidak seharum kopi manggarai tetapi sedikit mirip dengan kopi tambora, yang untungnya karena masih berjenis arabika tetap masih terasa enak. Minum kopi enak di Iceland di mana tanahnya tak mungkin bisa ditanami kopi membuat saya sedikit mencelos, di Indonesia sendiri saya jarang minum kopi enak kalau ‘tidak niat’. Menu sarapannya sendiri berupa irisan buah, aneka roti-selai-keju, rebusan telur, dan sosis panggang dan bacon (tentu khusus makanan berbahan daging saya lewatkan) membuat porsi sarapan saya terasa berlebihan dibandingkan hari biasanya. Lagipula selama 3 hari sebelumnya menu sarapan saya terasa tak terlalu beres juga sih, dan untuk menambah pembenaran makan melebihi porsi biasanya ya tentu saja karena sebelum sarapan kan saya sudah jalan-jalan bertualang dulu sehingga lelah dan lapar. Apapun alasannya, saya minum jus sampai tiga gelas untuk menemani aneka menu makanan ke lambung, dan segelas kopi hangat yang begitu diidam-idamkan sejak masuk ke ruang makan. Haha.

IMG_1123

Dari penginapan Steinsholt menuju tempat wisata berikutnya, pemandangan tipikal seperti ini yang menemani saya dalam 3 jam bermobil berikutnya

*****

Perjalanan di hari itu dimulai dalam kombinasi déjà vu dan halusinasi yang aneh. Saya merasa familiar dengan banyak jalan di Iceland (saya yang bertugas sebagai navigator tidak banyak menyalakan GPS seperti hari-hari sebelumnya) dan juga mungkin karena kurang tidur, saya melihat lanskap di pinggir jalan Iceland sebagai pemandangan dunia mimpi yang penuh kegamangan tiada akhir. Apalagi selama 3 jam, pemandangan yang tersajikan benar-benar monoton, lanskap bukit rendah kecokelatan tanpa ada varian gunung-gunung es seperti hari sebelum-sebelumnya. Hari itu, setelah hari-hari sebelumnya kami menjelajahi kawasan barat dan tengah Iceland, kami merapat ke daerah pesisir selatan Iceland, kawasan yang relatif lebih datar dan hangat sehingga gunung-gunung salju menghilang di kaki horizon terkubur oleh bukit-bukit rendah. Baru ketika memasuki rute jalan Route 1, pemandangan drastis dan dramatis dimulai, yang seolah menegaskan bahwa perjalanan hari itu memang ada di dunia mimpi.

Dalam sehari itu saya tak pernah melihat air terjun sebanyak itu seumur hidup. Padahal hari pertama datang ke Iceland sudah banyak sekali air terjun kami jumpai. Tapi tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sekian puluh (atau ratus jika dihitung dengan tepat) pada hari itu. Jika saya menjadi Sekjen PBB, maka tak akan ragu saya menetapkan tanggal 4 Mei sebagai Hari Air Terjun Sedunia. Haha.

Route 1 adalah sebutan untuk jalan nasional di Iceland yang mengitari negara itu di sisi terluar dekat garis pantainya. Dengan posisinya di tepi pantai yang membatasi Samudera Atlantik di satu sisi dan tebing-tebing curam serta gunung-gunung es di sisi lainnya, Route 1 sudh pasti akan masuk dalam daftar jalan-jalan terindah di dunia. Dengan jumlah kendaraan yang relatif lengang (pun itu kebanyakan mobil-mobil turis), sangat menggoda sekali untuk mengebut di jalan itu meski pemandangan dahsyatnya akan membuat kita enggan segera meninggalkannya buru-buru. Keberadaan tebing curamnya, dimana saat itu musim semi baru dimulai, membuat lelehan salju tercurah dalam ratusan air terjun yang masing-masing air terjunnya berlomba-lomba memproklamirkan diri sebagai air terjun tercantik. Luar biasa indah.

IMG_1902 (convert-video-online.com).gif

Tipikal pemandangan di jalan Route 1 dengan pemandangan gunung dan tebing-tebing curam. Perhatikan ukuran “kota” yang kecil dan langsung berakhir tak sampai 5 menit dilewati

Awal dari “Hari Air Terjun Sedunia” dimulai saat teman saya melihat benda putih nun jauh di kaki carawala yang dibatasi tebing cokelat. Awalnya benda ini sekilas terlihat seperti tiang sebuah menara. Teman saya berpendapat bahwa itu adalah sebuah silo, mercusuar, atau tiang listrik. Tetapi saya tak percaya. Berdasarkan pengamatan gerak relatif, benda ini selalu ada di tebing yang lokasinya begitu jauh padahal kami sudah 1 jam lebih berkendara. Alias, benda ini sudah pasti letaknya begitu jauh dan menempel di tebing tersebut karena tingginya setinggi tebing itu sendiri. Mustahil sebuah menara atau tiang. Ketika saya mengemukakan bahwa benda itu mungkin air terjun, banyak yang mencemooh saya, karena tak percaya ada air terjun sebesar itu yang bisa terlihat dari jarak puluhan kilometer. Mereka masih bersikukuh bahwa benda putih itu adalah salah satu menara dicat putih. Namun setelah sejam lebih ‘benda putih’ itu masih tetap ada terlihat, keyakinan mereka mulai goyah. Ketika papan petunjuk penunjuk jalan terbaca baru mulai terdengar kata ‘waaahh….’ terucap beberapa kali. Kami akan menuju air terjun Seljalandsfoss yang ikonik itu.

Saya pikir setelah melihat Glymurfoss, Barnafoss, Öxaráfoss, atau bahkan Gullfoss yang gemuruhnya bisa terdengar sampai berkilo-kilo, serta aneka air terjun yang begitu banyak dijumpai, kami sudah cukup dipuaskan oleh pemandangan air terjun. Rasanya tak mungkin ada air terjun yang bisa membuat kami terpesona lagi. Tetapi begitu kami berhenti di tempat parkir dan menatap Seljalandsfoss, rasanya pemandangan air terjun sebelumnya belum cukup untuk memuaskan kami. Menatap Seljalandsfoss, kami tak henti-hentinya berujar ‘wow!‘ berkali-kali.

Meski tidak setinggi Glymurfoss atau sederas Gullfoss, tetapi dengan tinggi mencapai 65 meter, Seljalandsfoss terlihat sangat massif dan gagah–saya bahkan merasakan kesan mengintimidasi yang kuat. Seljalandsfoss adalah satu dari sekian air terjun yang ada di sepanjang tebing di sana, tetapi selain yang paling besar juga paling terkenal karena di kaki air terjunnya ada ceruk yang menjorok ke belakang air terjun sehingga kita bisa memutari air terjunnya. Angin masih sekencang hari-hari sebelumnya, tetapi datang dalam bentuk gelombang-gelombang, dimana ada masa sangat kencang bertiup dan ada jeda-jeda yang amat tenang dan nyaman. Dan ini membuat saya kecele.

20170502_112935.jpg

“Menara Putih” yang kami saksikan dari jarak puluhan kilometer ternyata air terjun Seljalandsfoss yang ada di sebelah kanan, perhatikan bentuk air terjun yang jatuh tidak lurus; angin yang saking kuatnya membuat jalur air jatuh membelok padahal debit airnya sangat besar.

Saya selalu menyukai air terjun, kesan gagahnya selalu memesona saya tanpa pernah membuat jemu. Suara gemuruhnya secara paradoks justru selalu membawa ketenangan. Tetapi yang paling utama, air terjun selalu membawa nostalgia. Segera sesaat cipratan-cipratan butiran halus air terjun yang terbawa angin menerpa kulit muka saya, saya langsung mengalami proustian memory yang tak terelakan, melempar saya ke masa-masa sekolah dasar ketika acara liburan sekolah mengunjungi paman**. Pun saat saya berdiri di depan Seljalandsfoss, berdiri di depan air terjun yang begitu besar dan gagah, saya menyerah sepenuhnya pada kenangan masa lampau.

Seperti dikatakan sebelumnya, di kaki Seljalandsfoss terdapat gua yang bisa dimasuki sedemikian rupa sehingga turis bisa memutari air terjun dan kolam besar di kaki air terjun. Awal saya datang ke Seljalandsfoss, angin datang sepoi-sepoi lembut, sehingga saya dengan semangat membara ingin masuk ke dalam guanya (ada jalan kecil mengitari kolam untuk masuk ke dalam dan keluar gua). Namun, saat saya sudah di dalam gua, tiba-tiba angin bertiup dengan semangat menggelora, alias airnya jadi terciprat kemana-mana dan ‘menyiram’ semua turis yang ada di dalam gua. Tak ada jalan keluar dari gua selain siap berbasah-basah ria (akhirnya saya menyadari mengapa ada turis yang masuk ke gua dengan jas hujan, padahal awalnya saya nyaris menertawakan warna kostum jas hujannya yang ‘norak’). Namun untungnya saya mengenakan jaket gunung waterproof, sehingga ketimbang terjebak di dalam gua dalam waktu yang tak bisa dipastikan, saya nekat menerobos cipratan air terjunnya. Saking besar debit air dan kencang anginnya, cipratan air terjunnya menciptakan efek yang unik, seolah hujan lebat badai datang menerjang. Perlu usaha ekstra ngos-ngosan dan cekikikan pasrah kedinginan agar bisa keluar dari gua. Begitu akhirnya bisa keluar, semua baju dan sepatu saya basah kuyup.

Pemandangan di sekitar Seljalandsfoss sendiri sangat indah. Tebing-tebing curam yang konon tercipta saat seorang troll wanita (raksasa dalam saga nordik) lari tergesa-gesa takut dengan bunyi lonceng gereja sehingga jurangnya disebut Tröllkonugil (jurang troll wanita), mempunyai pemandangan mengesankan dengan aneka tirai air terjun di sekujur lerengnya, sementara dataran hijau membentang tanpa batas di bawahnya. Saya tak bisa lama-lama karena kedinginan dan basah kuyup, dan juga kelaparan, haha. Selama setengah jam lebih, pengatur temperatur di mobil disetel pada posisi maksimum agar kami tak kedinginan dan kebasahan.

G0955584.JPG

Seorang turis terpesona melihat Seljalandsfoss, dlihat dari dalam gua di kaki air terjunnya. Jangan tertipu seolah air terjunnya kecil seperti di foto, ukuran tampak mini ini karena jarak bibir tebing gua cukup jauh dari air terjun

*****

IMG_1162.MOV_snapshot_00.13_[2017.08.29_11.52.15].jpg

Air terjun ini baru akan benar-benar ‘terjun’ saat angin berhenti bertiup

Begitulah, Seljalandsfoss adalah awal “Hari Air Terjun Sedunia” saya. Jurang Tröllkonugil tempat Seljalandsfoss berada, merupakan tebing yang dihiasi puluhan air terjun. Jumlahnya tiap tahun berubah tergantung pasokan dan arah aliran lelehan es bergabung di puncak jurang. Di salah satu sisi jurang Tröllkonugil terdapat fenomena unik yang kami jumpai. Dari kejauhan, tebing-tebing di sana berasap putih yang menimbulkan perdebatan diantara kami bahwa di tebing itu ada fenomena geothermal berupa uap panas yang merembes dari dalam tanah seperti yang ada di lembah Haukadalur. Namun begitu mendekat dan melewatinya, baru kami sadari bahwa apa yang disangka uap panas itu ternyata air terjun! Angin super kencang sudah cukup untuk mengalahkan hukum gravitasi. Jika angin kencang saja bisa membelokan air terjun Seljalandsfoss yang begitu massif, maka air terjun yang lebih kecil akan hilang tak akan sampai ke tanah. Terbang terbawa angin.

Setengah jam bermobil dari Tröllkonugil, ada air terjun yang juga kesohor, bahkan lebih dahsyat daripada Seljalandsfoss. Skógafoss adalah raksasa Iceland berikutnya. Menjulang setinggi 60 meter dengan lebar 15 meter, Skógafoss termasuk salah satu air terjun terbesar di Iceland dalam hal debit dan ukuran. Letaknya memang dikelilingi oleh bebukitan sehingga tidak tampak dari kejauhan seperti Seljalandsfoss. Awalnya kami berfikir bahwa sudah cukup air terjun yang kami datangi. Apalagi kami yang basah kuyup dan kedinginan rasanya enggan untuk berbasah-basahan lagi. Ingat, air terjun di Iceland berasal dari lelehan es, sehingga basah oleh air terjun membuat badan menggigil membeku. Tetapi, saat dilihat dari pinggir jalan, ukuran dan gemuruh Skógafoss yang menggetarkan tak bisa menyembunyikan pesonanya, dan sangat genit menggoda. Maka begitu melihat air terjun yang begitu megahnya, dengan mudah kami berujar, ‘oke, kita turun lagi dari mobil‘. Haha.

Meski hujan turun berupa rerintik, tetapi saat sampai Skógafoss angin sudah cukup tenang. Melihat adanya turi-turis yang mendaki bukit, kami memutuskan untuk makan siang dahulu. Kami perlu tenaga untuk bisa mendaki bukit itu (yang di luar dugaan ternyata treknya lumayan curam dan panjang), apalagi kebasahan di Seljalandsfoss membuat kami butuh banyak asupan kalori untuk menghangatkan badan. Sambil menunggu hujan reda, kami makan siang di dalam mobil. Setelah selesai makan, tak perlu menunggu hujan betul-betul berhenti, kami langsung bergegas turun menerobos rerinai hujan untuk melihat Skógafoss dari dekat dan mendaki bukitnya.

20170502_132209.jpg

Skógafoss dari arah parkir, perhatikan asap yang mengepul di kakinya serta jalur trekking di bukit sebelah kanan dimana sebuah platform dibangun untuk melihat pemandangan dari pinggir kepala air terjun. Sebuah saga kuno menyatakan bahwa di belakang air terjun tersimpan harta karun. Namun siapa yang berani menerobos air terjun sebesar itu?

Air terjun Skógafoss menerobos bukit bebatuan vulkanik raksasa yang dulunya adalah jalur aliran magma dari gunung api Eyjafjallajökull (pada tahun 2010, gunung ini meletus dan abunya menutupi daratan Eropa dan termasuk salah satu ledakan gunung terdahsyat dalam satu dekade terakhir). Adapun kegenturan airnya didapat dari lelehan es glasier Eyjafjallajökull dan Mýrdalsjökull. Di samping air terjun, ada jalur trekking yang terus bisa dijejalahi hingga ke tepi glasiernya yang ada di kawasan pegunungan Þórsmörk yang membentuk jalur trekking Laugavegur yang legendaris dan kesohor karena pemandangan dahsyatnya. Iceland punya banyak jalur trekking dengan pemandangan dahsyat seperti itu.

Saya tentu saja tergoda sekali untuk menjelajah jalur Laugavegur. Tetapi jalur trekking menuju puncak bukit saja ternyata cukup panjang dan terjal (ditambah angin dingin kencang yang merontokkan semangat) sehingga perjalanan kami tak dilanjutkan jauh, cukup sampai puncak air terjun saja. Tak dinyana jika perjalanan ke puncak bukit saja sudah membuat saya ngos-ngosan, namun tak ada keringat keluar saking dinginnya. Saya sudah cukup puas dengan pemandangan di puncak bukitnya yang sangat elok.

Air sungai yang tajam mengiris begitu saja bebatuan kasar yang menciptakan gemuruh liar seperti di Hraunfossar yang saya jumpai hari sebelumnya, hanya saja sungainya lebih lebar dan dalam. Sementara gunung-gunung berpuncak kerucut tajam seperti puncak Gunung Kirkjufell menandakan proses geologis yang masih muda ditutupi bebatuan hitam magma yang bereaksi dengan oksigen saat muncul ke bumi. Dari ketinggian seperti itu, apapun, semuanya terlihat indah dan menghanyutkan. Di puncak air terjun, terdapat platform dari baja untuk mengamati pemandangan ke bawah sehingga dapat mengamati air terjun jatuh dari dekat. Kaki saya sedikit gemetar karena ngeri oleh gemuruh dan ketinggian sehingga perlu waktu beberapa menit agar pijakan kaki agak mantap. Penderita altophobia akan merasakan intimidasi dan vertigo hebat melihat air sebanyak itu jatuh dari ketinggian 60 meter (setara gedung bertingkat 20) tepat di bawah kaki, hanya kawat seadanya yang menjadi bahan pijakan. Tapi bagi saya pemandangan dahsyatnya mengalahkan ketakutan dan kecemasan. Nyatanya, saya sendiri menghabiskan waktu setengah jam lebih untuk berfoto-foto dan sekedar bengong di sana. Haha.

DSCF0223.JPG

Pemandangan dari puncak air terjun Skógafoss, mobil yang kami parkir terasa jauh dan kecil sekali sehingga membuat betah berlama-lama dan malas turun ke bawah

*****

Teman saya baru mengatakan ‘yuk turun, lapar!‘ yang mengingatkan saya bahwa makan siang kami belum dua jam, tetapi saya merasakan hal serupa dan setuju dengannya. Pun perjalanan kami menuju hotel masih jauh. Dan gerimis yang awalnya lembut datang semakin cepat dan rapat sehingga sudah saatnya bagi kami untuk kembali ke mobil. Begitu sampai ke mobil, kami sudah basah berbasah-basahan lagi meski tak sekuyup dari air terjun Seljalandsfoss. Pemanas mobil seperti biasa, kami pasang pada posisi maksimum.

Karena sudah lelah dan badan langsung capek diguyur hujan dan air terjun terus, kami memutuskan untuk langsung ke hotel. Kami sampai hotel jam 5 sore dalam kondisi berhujan dan berkabut. Saya tidak kebagian tugas memesan hotel untuk kawasan itu, sehingga sangat terkejut ketika teman saya mengantarkan saya pada hotel yang bernama Hótel Laki di kawasan Kirkjubæjarklaustur. Nama yang begitu familiar bagi saya, juga nama yang menggetarkan dan mengguncang sejarah manusia sampai titik nadir, salah satu gucangan terbengis dalam lima ribu tahun terakhir. Tapi untuk ini saya ceritakan di postingan berikutnya saja deh, haha.

Begitu sampai hotel dan setelah mandi, kami memutuskan untuk segera makan malam. Melihat harga menu makan malam di hotel terasa digertak oleh nominal yang dicantumkan, sehingga diputuskan kami makan malam di luar saja, ada restoran yang dilewati saat menuju hotel. Kami ingin merasakan masakan Iceland yang baik dan benar. Nyatanya, meski harganya sedikit lebih murah dibandingkan di hotel, tetapi harga seloyang cheese pizza dengan harga termurah 400 ribu rupiah lebih, rasanya sedikit sayang. Haha. Melihat bule di meja sebelah yang tidak habis pizza-nya hanya dimakan sekerat, ingin rasanya mengomeli dia karena buang-buang duit dan makanan, haha. Tak ada opsi restoran lain, terpaksa makan di sana. Saya yang memesan menu salad, sedikit mencelos saat melihat harganya yang bahkan lebih mahal ketimbang menu daging. Tanah Iceland yang miskin pertanian meski gampang menemukan menu vegetarian, tetapi tak ramah dalam hal harga karena kelangkaan komoditi.  Haha.

Sekembalinya ke hotel, saya sudah kehabisan tenaga sehingga memutuskan tidur lebih cepat. Namun tentu saja hal itu tak kesampaian. Pola tidur saya yang kacau membuat saya tertidur jam 11 malam lebih. Saya menghabiskan waktu dengan membaca buku sampai jatuh tertidur. Buku Independent People pun menjadi sahabat dan pendongeng andalan saat akhirnya saya tertidur tanpa sengaja. Sayangnya, entah karena terlalu lelah atau bisa juga karena jendela kamar yang saya buka lebar-lebar membuat saya masih bisa melihat langit terang (jam sepuluh malam, langit masih terang seperti jam 5 sore), atau mungkin juga karena saya yang tidur di kamar sendirian (ada sedikit kekeliruan saat kami memesan kamar terlalu banyak, sehingga saya harus tidur di kamar besar sendirian dengan 3 kasur ekstra), saya tidur di malam itu dengan gelisah. Malam yang aneh yang membuat saya terbangun beberapa kali di tengah malam dan dini hari buta… Saya merasa ada sesuatu di belakang pintu… Sesuatu yang memaksa saya melakukan eksperimen jam 2 pagi, untuk sebuah pembuktian dan intuisi. Cerita detailnya di postingan berikutnya saja, haha.

*****

Jika ada satu judul lagu yang menjadi soundtrack perjalanan saya ke Iceland, maka itu sudah pasti, tidak mungkin yang lainnya, dan mestinya kalian sudah bisa menebaknya, adalah lagu Imigrant Song dari Led Zeppelin. Salah satu lagu trademark dari Led Zeppelin ini memang terinspirasi saat personelnya berliburan ke Iceland. Hentakan ritmis nada-nada pembuka gitar dari Jimmy Page dan tabuhan drum enerjik dari John Bonham yang begitu bersemangat benar-benar membuat para pendengarnya ingin ikut serta berteriak dan bernyanyi ala rocker. Di hari-hari biasa saya, lagu ini biasanya menjadi salah satu lagu ‘mood booster’ harian saya. Pun perjalanan saya di Iceland menjelajahi ratusan air terjun di hari itu. Dentuman drum dari Bonham di lagu Immigrant Song sepertinya terinspirasi dari gemuruh air terjun raksasa, nada-nada cepat raungan gitar Page adalah perwakilan dari gerungan angin superkencang, suara bas dari Jones mewakili pemandangan batu-batu brutal yang menjadi latar gunung-gunung dan tebing curam, sementara lengkingan high-pitch dari Plant yang legendaris bak memanggil kembali semangat gelora kaum penjelajah primitif, spirit cerita-cerita saga purba yang melegenda, dan juga gairah turis-turis modern yang terpesona pemandangan kuno seperti saya. Di Iceland, biasanya lagu ini saya perdengarkan sesaat sehabis mandi pagi, untuk memulai semangat hari baru, menyiapkan diri bertualang di tanah yang dipenuhi jejak api dan es, yang mataharinya terang bersinar di tengah malam, dan negeri dimana mata air panas meledak

(bersambung)

————-

Catatan tambahan:

*      = Iceland sebagai negara yang terkenal akan keindahan alamnya membuatnya sangat ideal untuk lokasi syuting film-film yang memerlukan latar lanskap yang dramatis dan agung. Mulai dari film Prometheus (Ridley Scott, 2012) yang menjadikan lanskap es utara Iceland untuk menggambarkan kondisi planet es bumi purba hingga syuting serial TV populer Game of Thrones yang memilih Iceland sebagai tempat ideal untuk menggambarkan alam liar dan bengis namun indah. Penggemar film Holywood pasti setidaknya pernah menonton film The Secret Life of Walter Mitty (Ben Stiller, 2013) yang menceritakan seorang pekerja kantoran mengalami kesumukan akhirnya memutuskan bertualang ke Iceland yang fantastis dan liar. Kelak, ketika teman-teman saya mengetahui rencana saya untuk pergi ke sana, mereka selalu menanyakan dan berkomentar ‘wah, yang ada di filmnya Walter Mitty dan Game of Thrones ya?’ berulang-ulang. Namun, bukan film-film itu yang memberikan kesan mendalam pada saya tentang gambaran Iceland sebagai tempat syuting dengan lanskap fantastis yang memabukkan.

Penjelajahan saya pada film-film non-mainstream akhirnya menghantarkan saya pada film Hrútar (Grímur Hákonarson, 2015) yang meramu komedi dan tragedi dalam campuran pas dan sempurna. Sejujurnya, selain buku Independent People, film ini juga yang membat saya bertanya-tanya mengenai kemana para domba yang seharusnya ada di Iceland mlah tak terlihat? Sejak saat itu saya ahirnya berhasil menemukan film-film buatan Iceland lainnya yang sangat menarik. Beberapa film yang sangat saya rekomendasikan adalah film Hross í Oss (Benedikt Erlingsson, 2013), Á köldum Klaka (Friðrik Þór Friðriksson, 1995), Land og Synir (Ágúst Guðmundsson, 1980).  Jika yang kamu cari adalah film dokumenter, maka cobalah menonton film Draumalandið (Þorfinnur Guðnason, Andri Snær Magnason, 2009) yang menyerukan kekhawatiran akan dampak pembangunan pembangkit listrik Kárahnjúkar, pembangkit listrik terbesar di Iceland. Film ini akan mengajarkan banyak hal tentang dilema yang akan dihadapi pemerintahan Iceland. Di satu sisi ingin menyediakan energi ramah lingkungan dan ketaktergantungan terhadap energi fosil serta menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi dari sisi lingkungan ada harga mahal yang harus digadaikan karena lokasinya yang benar-benar di alam liar Iceland yang paling jarang dijamah penduduk. Jika film bertema politik-lingkungan-ekonomi dirasa terlalu berat, coba deh nonton Heima (Dean DeBlois, 2006) yang menceritakan tentang tur band tersohor dan terbesar dari Iceland, Sigur Rós.

**     = Di kelas 4 SD, guru saya memberikan tugas mengarang untuk pelajaran bahasa Indonesia dengan topik pengalaman berlibur panjang. Ketika naskah karangan saya dikembalikan, guru saya menambahkan catatan apakah saya tidak mencoba mengirimkan naskah tersebut pada media, dan tentu saja saya mendapatkan angka tertinggi, ahaha, congkak sekali-kali bolehlah, maaf. Haha. Sebetulnya yang saya tuliskan saat itu sederhana saja, saya menuliskan perjalanan saya jalan-jalan ke Curug Citambur sekalian mengunjungi paman saya di Cianjur. Tetapi karangan saya menjadi sangat panjang (butuh kertas kuarto dua lembar penuh bolak-balik) karena saya sangat detail menuliskan setiap cerita (termasuk cerita tentang 8 kambing yang merumput, hanya 3 ekor yang berwarna hitam) dan terutama satu halaman saya dedikasikan untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan Efek Lenard. Bayangkan dirimu berdiri di kolam yang ada di kaki air terjun. Semilir angin menerpa kulit di lengan yang menimbulkan sensasi segar tak terkira, getaran halus di lumpur halus karena air yang jatuh ketinggian merambat di telapak kaki, suara bergumam dengan nada tunggal dari gemuruh air yang tercurah, percikan-percikan air selembut embun menerpa muka, kamu dengan mudahnya segera melupakan kesusahan dan kejamnya dunia karena terbius oleh kesejukannya yang menentramkan. Namun, pernah kah kamu bertanya, mengapa udara di sekitar air terjun sangat sejuk?

Pelajaran termodinamika dasar di bangku sekolah menengah dengan segera bisa memberi jawaban ringkas. Air yang memiliki kapasitas panas tinggi dapat menyerap panas dari udara sekita sehingga otomatis udara sekitar air terjun menjadi sejuk. Lalu massa udara di kaki air terjun terdesak oleh massa air yang jatuh menyebabkan adanya pergerakan udara lokal yang kita terjemahkan sebagai angin sejuk sepoi-sepoi yang membawa uap air. Lagipula sesuai kaidah hukum pendinginan Newton, air memang bisa turun temperaturnya dengan cepat saat melewati udara. Faktor lain yang menyebabkan udara di sekitar air terjun menjadi lebih sejuk ketimbang udara sekitar bisa dijawab tuntas ketika kita membahas Efek Lenard. Tahun 1892, fisikawan Jerman bernama Philip Lenard (1862-1947) menjelaskan fenomena bahwa udara di sekitar air terjun memiliki muatan listrik. Menurut Lenard, saat air terjun jatuh dan membentur permukaan di bawah atau saat ada angin kencang, massa air akan terpecah menjadi butiran-butiran. Muatan listrik air yang awalnya netral pun akan berpisah, muatan positif akan dibawa butiran besar, muatan negatif dibawa oleh butiran air yang halus yang gampang dibawa angin sampai jauh. Saat mengenai kulit, muatan listrik yang negatif ini akan menimbulkan efek ‘menggelitik’ yang diterjemahkan sebagai sensasi sejuk. Penjelasan Efek Lenard (yang sebetulnya melewati mekanisme ionisasi rumit) ini menimbulkan gonjang-ganjing di antara guru SD saat saya menuliskannya di lembar karangan liburan sekolah pelajaran bahasa Indonesia. Haha. Ngomong-ngomong, tahun-tahun belakangan ini ada MLM yang menjual produk air botolan yang dilabeli ‘nano spray‘ yang diklaim dapat membuat kulit kencang jika air di botolan tersebut disemprotkan ke muka. Harga per botolnya sampai jutaan rupiah, padahal bahannya adalah air mineral biasa (dan tambahan ramuan ‘rahasia’ yang tak jelas bahan dan faedahnya). Saat disemprotkan ke muka tentu saja membuat kulit terasa kencang dan sejuk ketimbang dibasuh air cuci muka biasa, padahal itu semata-mata karena efek Lenard. Jadi, sebelum terjebak membeli barang-barang yang berbahan tak jelas dengan klaim manfaatnya terlalu besar, ada baiknya belajar fisika lebih mendalam. Haha.

Advertisements

5 thoughts on “Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 3]

  1. * apa kamu tidak begitu tertarik dengan batu, tanah, dan tanaman tempat yang kamu kunjungi? Rasanya kamu membahas tanaman cuma di Tambora yang paku2an itu dan tanah pasir pantai pink. batu rasanya tidak pernah. atau tempatnya ceritanya tidak cukup?

    * kopi enak?

    Like

    • Kalau kamu membaca bagian 1 dan 2, sudah dijelaskan mengenai penampakan jenis batuan dan jenis vegetasi yang ada di Iceland bahkan proses geologinya jutaan tahun lampau. Narasinya saya bedakan dari tulisan lain untuk variasi tulisan saja. Saya menulis tanpa draft biasanya, spontan begitu saja yang ada di kepala saat menghadapi layar, jadi beda tulisan, beda isi ide yang ada. Kebanyakan melantur sesuai ide/memori yg ada di kepala saat itu tanpa ada pola baku.

      Komentar rasa kopi juga sudah saya sertakan di tulisan di atas 😀

      Salam,

      Q

      Like

  2. Pingback: Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 4] | melquiadescaravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s