Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 2]

“Shortly afterwards it started raining, very innocently at first, but the sky was packed tight with cloud and gradually the drops grew bigger and heavier, until it was autumn’s dismal rain that was falling—rain that seemed to fill the entire world with its leaden beat, rain suggestive in its dreariness of everlasting waterfalls between the planets, rain that thatched the heavens with drabness and brooded oppressively over the whole countryside, like a disease, strong in the power of its flat, unvarying monotony, its smothering heaviness, its cold, unrelenting cruelty. Smoothly, smoothly it fell, over the whole shire, over the fallen marsh grass, over the troubled lake, the iron-grey gravel flats, the sombre mountain above the croft, smudging out every prospect. And the heavy, hopeless, interminable beat wormed its way into every crevice in the house, lay like a pad of cotton wool over the ears, and embraced everything, both near and far, in its compass, like an unromantic story from life itself that has no rhythm and no crescendo, no climax, but which is nevertheless overwhelming in its scope, terrifying in its significance. And at the bottom of this unfathomed ocean of teeming rain sat the little house and its one neurotic woman.”
― Halldór Laxness, Independent People

Saya terbangun dari tidur dalam kondisi ganar. Dan ini pasti disebabkan oleh langitnya. Ketika saya tanpa sadar mulai tertidur, mungkin antara pukul 10 dan 11 malam, langit yang melingkupi kota Grundarfjörður masih terlihat calak. Saya tak sempat melihat warna jingga senja atau keremangan gelap malam. Pun saat saya terbangun jam 2 pagi, langit sudah terang dengan awan kelabu pucat berjejalan di tiap penjurunya. Membuat saya bertanya-tanya, apakah memang langit pernah mengalami kegelapan malam selama saya tertidur atau tetap dalam kondisi serupa, karena terang langit tak ada bedanya antara sebelum dan sesudah saya tertidur. Sedikit riset di internet, memberitahukan bahwa memang sempat ada kegelapan malam meski itu sesaat hanya sekitar 3 jam saja.

Jendela kamar yang besar tidak bertirai sehingga cahaya terang langit membuat kamar juga terang tanpa perlu menyalakan lampu meski masih jam 2 “malam”. Saya memutuskan bahwa saya tak bisa melanjutkan tidur malam lagi. Jet-lag penerbangan lama membuat saya tak bisa tidur nyenyak, membuat badan selalu lelah tanpa bisa dilelapkan. Kelak ketika saya kembali ke Indonesia, saya masih mengalami jet-lag serupa, selalu tertidur jam 11 malam dan terbangun lagi jam 2 pagi tanpa bisa ditidurkan lagi sehingga di tempat kerja selalu terantuk-antuk. Perlu waktu sekitar 3 mingguan sejak menjejak kembali tanah Jakarta agar jam biologis tidur saya kembali normal. Hari kedua saya di Iceland dimulai dengan terbangun jam 2 pagi dalam kondisi ganar dan lelah yang aneh.

Teman-teman saya yang lain yang ada di kamar berbeda tentu saja masih tertidur pada saat itu. Saya berjalan ke dapur tanpa perlu berjinjit kedinginan, karena pemanas ruangan dari air panas geothermal dan lantai yang terbuat dari kayu membuat suasananya menjadi hangat nyaman meski penunjuk cuaca menunjukan angka 2°C. Di dapur saya menyeduh minuman sereal rasa jagung dan membuka biskuit cokelat, dilanjutkan dengan mencoba menonton TV yang menayangkan berita politik dalam bahasa Icelandic yang tak dimengerti sehingga saya matikan dalam kurang 5 menit. Saya melanjutkan pembacaan buku Independent People di sofa ruang tamu sambil mendengarkan Brandenburg Concertos No 4-5 dari Bach. Sekitar jam 3, kembali masuk ke kamar untuk membaca di atas kasur bergelungkan selimut tebal, sambil diselingi membaca pesan instan untuk mengecek kabar kawan dan keluarga di tanah air. Dari jendela kamar yang terbuka, terlihat suasana kota Grundarfjörður yang tenang sesenyap beruang kutub yang berhibernasi, menggoda untuk dijelajahi. Tetapi karena kemarinnya saya mengalami gluggaveður, saya memutuskan lebih baik tetap bergelung di atas kasur hangat. Setiap celah rumah yang terisolasi sempurna tidak hanya mencegah udara hangat dari dalam rumah agar tidak kabur berhambur keluar, tetapi juga menjaga agar suasana bising dari luar tak masuk ke dalam. Begitulah, di awal hari itu, kedamaian kota di waktu pagi dan ketenangan yang menyertai dini hari, adalah milik saya sendiri.

IMG_0841.JPG

Kota Grundarfjörður pada jam 2 dini hari. Cukup terang untuk bisa berkeliling tanpa perlu membawa penerangan, dengan ada banyak keheningan

*****

Sekitar pukul setengah lima pagi, mulai terdengar aktivitas dari kamar sebelah tempat teman-teman saya yang lain berada. Terdengar suara kucuran air keran dan beberapa kali pintu kamar mandi dibuka-tutup. Ketika suasana di luar lebih ramai, saya memutuskan untuk keluar kamar dan bergabung dengan mereka di ruang tengah. Awalnya kami memang sengaja ingin bangun jam 5 pagi karena berencana untuk menyaksikan sunrise di Gunung Kirkjufell yang tersohor dan menjadi rekomendasi sangat gencar di internet. Tapi awan kelabu ada di mana-mana menyungkupi kota sehingga tak mungkin melihat sunrise. Rencana untuk menikmati sunrise di Kirkjufell pun dibatalkan. Tak ada aktivitas lain yang bisa dilakukan, saya dan satu orang teman memutuskan untuk jalan-jalan di kota mati Grundarfjörður untuk menikmati kembali suasana sepi kota sementara yang lainnya tetap tinggal di penginapan.

Berdua, kami berkeliling kota berjalan ke setiap gang dan jalan-jalan yang memisahkan blok-blok rumah, yang jumlahnya tak banyak. Ada 6 baris deret jalan blok yang berjajar dari timur ke barat dengan 10-15 bangunan di tiap deretnya. Tak banyak area yang bisa kami jelajahi. Kami berjalan menuju gereja yang ada di bagian deretan paling belakang kota, yang menyambung langsung dengan pegunungan bersalju di belakangnya. Jam 5 pagi dimana hampir seluruh penghuni kota masih terlelap tidur, kami berdua berpose jungkir balik di area taman bermain kota, di tengah-tengah jalan, di depan pintu rumah-rumah yang dirasa desainnya unik dan berbeda, di hampir semua tiang nama jalan yang ada di perempatan, di bawah papan nama bangunan publik yang terlalu panjang dan sulit dilafalkan. Saya tak bisa membayangkan bagaimana jika ada warga kota yang sudah terbangun lalu ketika melihat jendela, mereka melihat dua orang turis berpose akrobatik di depan pintu rumah mereka.  Kami memang mati gaya tak ada kerjaan, haha.

DSCF0034.JPG

Saya bisa bebas-bebas saja mengambil foto dari tengah jalan seperti ini, karena meski sudah terang, tetapi tak ada makhluk hidup yang berjalan di kota Grundarfjörður pada pukul 5 pagi

Seperti penginapan kami, semua jendela di Grundarfjörður tak bertirai, sehingga kesan kota matinya semakin terasa. Rasa ingin tahu dan kepenasaran (alias kekepoan akut), membuat kami sangat tergoda untuk mengintip-intip isi rumah lain dari jendelanya yang tentu saja tak kami lakukan. Sisanya, kami berjalan dalam kesunyian, melarut dalam kedamaian kota kecil ini. Selain pose-pose yoga kikuk gagal saat hendak difoto, rasanya saya berjalan seperti pencuri di film-film, berjalan sesenyap mungkin, takut jika kebisingan sepelan apapun akan membangunkan kota ini dari tidur lelapnya. Secara mengejutkan, perjalanan keliling kota yang kecil tsb ternyata tak cukup dilakukan dalam 10 menit saja. Kami berjalan dengan sangat lambat, menyisir setiap jalanan dan blok perumahan, menghirup udara aromatik unik campuran salju dari gunung, kabut dari langit, dan garam dari laut.

Berjalan menuju pelabuhan dan pantainya memakan waktu 40 menit padahal jaraknya tak sampai 100 meter. Kapal-kapal yang sedianya mengantarkan turis-turis untuk tur melihat paus, bersandar pulas di dermaga. Kecuali rombongan kami, hanya deburan ombak samudera Atlantis yang sudah terbangun. Bahkan burung-burung camar pun tampak masih bertengger tertidur di karang-karang lepas pantai seolah kebisingan gelombang samudera adalah lagu nina bobo yang melenakan. Senandung pasir hitam vulkanis di pantai-pantai yang bergemerisik saat gelombang samudera terhempas menciptakan nada-nada ritmis yang tak kalah merdunya dengan alunan bassoon dan biola dalam Brandenburg Concertos. Saya pikir, kami bisa seharian sendiri berkeliling menjelajahi dan menikmati kota kecil yang kurang dari satu kilometer persegi luasnya itu. Ada sesuatu yang indah, nikmat, mencandu, misterius, namun elusif yang tak bisa diurai dalam kalimat-kalimat, untuk mengungkapkan betapa asyiknya menjelajah kota Grundarfjörður.

DSCF0017.JPG

Grundarfjördur Kirkja atau Gereja Grundarfjördur, yang ukurannya tidak terlalu besar karena jumlah jemaahnya juga mungkin tak banyak. Gunung Kirkjufell tampak di belakang

Saya sedang duduk dalam durasi yang tak bisa diperkirakan sudah berapa lama di sebuah karang pinggir pantai dengan ujung sepatu sibuk menggores-gores pasir hitam berupa garis-garis acak dalam bentuk-bentuk abstrak, ketika dengan terpaksa harus mengakhiri penjelajahan dan perenungan pikiran saya secara tiba-tiba. Jam 6 pagi lebih seperempat, seiring waktu, sesuatu telah bangun mendahului penduduk kota. Dengan senyap dan tanpa peringatan, rerintik hujan tetiba turun, yang awalnya turun secara ringan dan jenaka, menjadi rapat dan tak terkendali dengan cepat sehingga memaksa saya pontang-panting berlari kembali menuju penginapan. Sementara itu, warga kota dan apapun yang disebut sebagai kehidupan, malah semakin terbuai dalam lelap ketika hujan pagi tiba.

DSCF0042.JPG

Pasir vulkanik hitam, menutupi area pesisir kota Grundarfjördur dan membatasi kotanya dengan samudera Atlantik mahaluas. Rasanya saya betah sekali berada duduk-duduk di sana tanpa ada apapun yang perlu dikhawatirkan dan dicemaskan

*****

Setelah sarapan dan menyiapkan bekal siang, kami berkemas untuk meninggalkan penginapan dan juga kota Grundarfjörður. Ada kehampaan dan mungkin kesedihan aneh yang menyusup ke dalam perasaan bahwa saya harus meninggalkan keindahan kota itu mungkin untuk selamanya. Ada banyak bagian dunia lain yang harus saya injak dan datangi, mengunjungi Grundarfjörður dan Gunung Kirkujufell kembali pasti bukan priotitas utama lagi. Di bawah guyuran semarak hujan, kami memindahkan barang-barang ke dalam mobil sewaan kemudian mengarahkan mobil ke arah timur bagian kota. Proses check-out begitu sederhana, hanya memasukan kunci ke dalam kotak kaleng di pintu keluar penginapan tanpa ada basa-basi pamit atau menandatangani apapun. Tak ada kekhawatiran jika ada tamu jahat yang mencuri barang penginapan. Toh penjaganya sendiri masih tertidur. Kurang dari 2 menit sejak masuk mobil, kami sudah meninggalkan kota. Waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi, tetapi ketidakhadiran manusia dan kekosongan yang mengisi kota tetap sama seperti saat saya bangun jam dua dini hari. Pun suasana langitnya, masih dalam terang dan kelabu yang sama.

Saya pikir hujan akan berlangsung dalam tempo lama mengingat tebalnya awan yang ada di langit, tetapi baru satu kilometer di jalan raya Snæfellsnesvegur meninggalkan kota Grundarfjörður menuju arah Bjarnarhöfn Shark Museum hujan langsung berhenti begitu saja. Datang dan pergi tanpa peringatan, muncul dan menghilang dalam kesenyapan, hujan datang dengan begitu lugu*. Sejengkal di atas cakrawala timur, sejumput garis jingga muncul di sela-sela tumpukan awan, menandakan bahwa memang hari baru sudah datang, tetapi segera menghilang tidak sampai lima menit kemudian.

20170430_192545.jpg

Padang lumut dan lava beku Berserkjahraun yang nyaris tak berbatas sejauh mata memandang, bukti bahwa amarah alam di masa lampau bisa begitu mengerikan

Selama 3 jam berikutnya, kami meninggalkan semenanjung Snæfellsnes menuju jantung tengah pulau Iceland. Semakin ke tengah, pemukiman-pemukiman semakin langka dan jaraknya semakin berjauhan. Di Iceland, nama rumah pertanian (mungkin diambil dari nama pemiliknya) biasanya dipasang di pinggir jalan, sedangkan rumah pertaniannya bisa berada jauh masuk dahulu melewati jalan kecil yang tak terlihat saking menjoroknya. Rumah-rumah pertanian yang tak pernah saya temukan orang yang sedang di ladang-ladang selama berada di sana. Selalu berupa padang hampa tanpa ada tanda-tanda kehidupan kecuali beberapa ternak seperti kuda jika pertaniannya menyediakan jasa sewa naik kuda. Dari total luas tanah hampir sebesar pulau Jawa itu, hanya 1% area di Iceland yang memang bisa ditanami. Tanahnya terlalu dingin. Tiap tahun, angka statistik bagi profesi petani semakin menurun hanya menyisakan 5% total penduduk. Apalagi dengan “kerja keras” agar bisa berhasil menanam di tanah dingin, membuat penduduk setempat semakin segan untuk memilih petani sebagai pilihan profesi. Adapun ladang-ladang yang kami temui tercukur gersang bersih karena baru melewati musim dingin 6 bulan sebelumnya, sementara tumpukan hay (rumput kering yang digulung/ditumpuk untuk dijadikan cadangan makanan ternak) tampak menumpuk ditutupi plastik-plastik agar tak diterbangkan angin di pojokan ladang. Hanya rumput liar yang bisa ditanam dengan cukup bebas dan bisa tahan iklim dingin, petani-petani Iceland kebanyakan memilih bercocok tanam rumput untuk pakan ternak alih-alih bercocok tanam tanaman pangan seperti di negara lain, haha. Sementara tanaman pangan seperti sayuran ditanam di rumah-rumah kaca yang harus disinari cahaya lampu terus menerus sepanjang tahun.

Dan ini menimbulkan kebingungan saya yang lain, di mana hewan ternaknya? Rumah-rumah pertanian di Iceland sangat khas; Ada satu rumah utama tempat tinggal, gudang untuk traktor dan mesin-mesin, garasi mobil yang menampung 3-5 mobil, dan gudang untuk hewan berlindung di musim dingin. Pada saat saya ke sana, musim semi sudah berlangsung, hewan-hewan mestinya sudah dilepas. Kuda-kuda pertanian memang kadang terlihat berada di tengah padang pertanian, terutama rumah pertanian yang menyediakan jasa naik kuda bagi turis. Sementara itu, saat saya membaca buku Independent People, isi bukunya menceritakan tokoh utama si Guðbjartur Jónsson yang berjuang mati-matian berjuang sekuat tenaga untuk berternak domba. Bisa dikatakan ¼ isi bukunya menceritakan tentang kehidupan domba dengan begitu intens dan detail sehingga saya pikir saya bisa menjadikan novel itu sebagai buku panduan penyuluhan berternak domba. Nah, bayangan pertanian domba itu yang selalu ada di benak saya saat melihat rumah pertanian di Iceland. Saya pikir seperti New Zealand atau Australia, kawanan domba di Iceland bakal banyak sekali bahkan mungkin mengalahkan jumlah penduduknya. Anehnya, meski banyak hay menumpuk untuk pakan ternak, kawanan domba tak terlihat. Di hari-hari kemudian, saya memang melihat rumah pertanian yang ada kawanan ternak dombanya, tetapi sangat langka dan jumlah dombanya juga tidak banyak, kurang dari 20 ekor saja. Sangat berbeda dengan deskripsi yang ada di novel Independent People. Setiap menemukan rumah pertanian, saya suka bertanya kepada teman-teman saya, apakah diantara mereka ada yang melihat kawanan domba. Pertanyaan yang begitu sering dilontarkan sehingga saking bosannya, teman-teman saya yang jengah sampai membentak saya, “Dasar bawel, dari tadi menanyakan domba terus!”, haha. Kemana domba-dombanya?**

20170430_122947.jpg

Panorama pertanian di Iceland; papan biru pinggir jalan menuliskan nama pemilik pertanian, sementara rumahnya sendiri ada jauh di belakang, di kaki gunung bersalju yang membuat saya khawatir jika salju dan batu tiba-tiba bisa longsor terutama di saat hujan

*****

Rute perjalanan kami hari itu adalah untuk memulai rute kesohor dalam iklan pariwisata Iceland yang menjadi daya tarik dan kebanggaan utama negara ini, berupa sekumpulan tempat-tempat berpemandangan terbaik yang dinamakan Gullni Hringurinn alias The Golden Circle. Golden Circle sebetulnya adalah sebutan untuk rute jalan yang ada di kawasan Iceland selatan sekitar Þingvellir National Park yang melingkari danau Þingvallavatn dan melewati tempat-tempat wisata terkenal. Hari itu kami berencana menghabiskan satu paruhnya. Bahkan sebelum kami memasuki rute Golden Circle-nya sendiri, kami sudah mendapat firasat bahwa perjalanan dan pemandangannya akan sangat-sangat menarik dan luar biasa indah. Dan seharusnya hari itu akan tercatat dalam sejarah hidup saya sebagai hari jalan-jalan terbaik sepanjang hayat, andai alam Iceland tidak memberikan kejutan tambahan yang membuat rombongan piknik kami babak belur. Hari sebelumnya, perjalanan saya menikmati keindahan alam Iceland terganggu oleh fenomena angin super kencang dan hawa super dingin. Hari itu, kami mendapat kejutan lain yang nyaris membuat rencana kami berpesai-pesai. Angin kencang dan hawa dingin bersua dengan kawan ‘terkaribnya’ yang bernama hujan.

Tujuan pertama kami adalah rangkaian riam deras yang bernama Hraunfossar. Riam ini berupa kumpulan jenjang-jenjang riam yang terjadi karena sungai Hvítá yang berasal dari lelehan salju glacier Langjökull menerjang dan membelah kawasan lava Hallmundarhraun yang mengalir 1200 tahun lalu. Kombinasi amukan air lelehan es dan batuan beku tak beraturan lelehan gunung oleh api lava menciptakan kesan yang mengerikan dan membuat bulu kuduk saya meremang. Ada banyak sekali tanda peringatan agar turis jalan berhari-hati dan tali pembatas agar jangan sampai mereka nekat mendekat hanya demi mendapatkan foto terbaik. Kawasan aliran sungai sepenuhnya berupa tepian batu-batu tajam dan berupa jurang dalam, sementara gejolak air menciptakan amukan tak berkesudahan yang semakin membuat bentuk air terjunnya semakin tak beraturan dan mengancam. Suara gelegar karena air es dan api lava. The song of ice and fire.

Ketidakadaan pepohonan di Iceland membuat kami tak bisa memperkirakan apakah kondisi di luar mobil sebetulnya hangat dan nyaman, atau dingin dan berangin. Sesemakan di Iceland tumbuh sedemikian rupa sehingga ‘otot-otot’ rantingnya tumbuh kokoh dan liat sehingga ketika angin kencang datang, mereka nyaris tak tergoyahkan. Saat dilihat dari dalam mobil terlihat menipu, tenang seolah tak ada angin. Jadi, begitu kami membuka pintu mobil, bummm, angin dingin kencang yang tak terduga langsung menghajar. Dengan angin kuat menyerbu, jelas sulit bagi kami untuk bisa berfoto-foto di Hraunfossar dengan pose yang beradab dan sopan. Kamera selalu bergoyang sehingga sulit mendapatkan sudut yang dianggap bagus, tongkat selfi tak berani diulurkan jauh karena takut kameranya terbang terbawa angin. Kami tak bisa mendekati riam Hraunfossar terlalu dekat selain karena ancaman keselamatan juga keamanan peralatan elektronik ditakutkan terbang. Dan ketika hujan mulai turun datang menghajar, kami putuskan kami tak bisa berlama-lama di sana. Hujan yang awalnya datang dengan lunak bak jejaring laba-laba yang lembut, lalu berlanjut menjadi ribuan jarum tajam menghujam. Bahkan dibalik jaket berlapis, saya masih merasakan perasaan ‘pedas’ saat tetesan hujan menghajar tubuh.

20170501_101715.jpg

Gejolak dahsyat riam Hraunfossar dapat terlihat dari buih-buih air sungai Hvítá yang mengiris batu-batu tajam sisa lava hitam

Begitu kembali ke mobil, dengan nafas ngos-ngosan kedinginan dan kelelahan (padahal kami tak sampai dua puluh menit di luar mobil), kami memperhatikan mobil lain yang baru datang ke lokasi sementara wajah para turisnya cemberut terperangkap di mobil tak bisa keluar karena terperangkap hujan dan angin. Mobil kecil yang ada di parkiran bahkan terlihat bergoyang-goyang dahsyat karena terdorong angin, yang membuat kami tertawa lucu sekaligus prihatin. Begitu kerasnya tetesan hujan yang jatuh membuat saya berpikir bahwa apakah air hujannya sudah berubah menjadi kerikil es batu. Teman saya yang membawa payung pun lebih memilih basah-basahan ketimbang payungnya rusak karena derasnya air dan kencangnya angin.

Dan tentu saja bukan Iceland jika lokasi wisatanya tak memiliki saga yang berkaitan dengan tempatnya. Pada salah satu air terjun kecil bernama Barnafoss, konon dulunya ada jembatan batu alam yang melintasi air terjun. Di malam perayaan natal, ada pasangan suami istri pergi ke gereja sementara anak-anaknya di tinggal di rumah. Kebosanan di rumah, dua anak mereka berniat menyusul ibunya namun tak pernah kesampaian. Penelusuran jejak kaki di salju mengarahkan jejak pada jembatan batu yang melintasi salah satu jeram di Hraunfossar dan berakhir di sana. Supaya tragedi tak dialami warga lain, jembatan alami batu tersebut dirubuhkan, dan untuk pengingat air terjun tadi dinamakan Barnafoss, yang secara harfiah bermakna ‘air terjun anak-anak’.

IMG_0889.JPG

Saya pikir, apapun benda hidup yang jatuh dan terseret ke sini, sangat kecil kemungkinannya bertahan hidup. Barnafoss dirundung saga menyedihkan yang dengan mendengar gemuruh airnya saja sudah cukup membuat saya merinding

*****

Tak perlu menunggu waktu lama bagi kami untuk segera meninggalkan Hraunfossar dan melanjutkan petualangan menuju tujuan berikutnya. Lanskap yang kami lewati sepertinya telah ditaburi dan dilapisi cokelat dimana-mana sejauh mata memandang. Tak ada warna hijau atau yang lainnya; tanah, semak, bebatuan, semuanya berwarna cokelat. Ada hampir 2 jam kami terus menerus melintasi lanskap cokelat ini sehingga membuat saya bertanya-tanya apakah tanah di sana pernah mengalami hijau. Hanya sisa-sisa salju nun jauh di puncak-puncak gunung sana yang menambahkan variasi warna putih pada lanskap monoton tersebut.

Þingvellir National Park yang menjadi tujuan kami berikutnya bisa dikatakan sebagai salah satu tujuan wisata paling saya idamkan saat di Iceland. Tempat ini punya segalanya; sejarah nasional bangsa Iceland yang unik dan berbeda dengan negara lain, tempat lahirnya saga-saga epik dan kolosal, tempat berkerumunnya pemandangan terbaik dengan aneka air terjun dan formasi bebatuan. Namun yang paling membuat saya tertarik adalah Þingvellir National Park adalah lokasi salah satu penampakan geologi paling mengagumkan yang bisa bercerita tentang sejarah planet bumi dan bisa dilihat dengan mata kepala langsung; Almannagjá Fault.

Begitu kami keluar dari mobil di parkiran, kami langsung disambut angin kencang lagi yang tak kami hiraukan karena di depan mata kami bertumpuk formasi bebatuan lava dengan banyak sekali air terjun mengalir yang mengalihkan perhatian. Meski rerintik hujan masih turun, kami nekat berlari menembusnya untuk segera melihat keajaiban alam apa saja yang bisa kami saksikan. Tadinya kami akan menuju Alþingi, sebuah gedung parlemen yang didirikan sejak tahun 930 (mungkin gedung parlemen tertua di dunia yang masih bertahan), namun karena parkir menuju sana penuh, kami lewatkan Alþingi, hal yang saya sesali kemudian. Pendirian Alþingi melewati sejarah unik. Ketika para pendatang pertama datang ke Iceland, mereka lari ke Iceland agar terbebas dari otoritas raja Norwegia, para pendatang berikrar bahwa mereka tidak akan mendirikan sistem kerajaan seperti di negeri asalnya. Tiap klan dan keluarga hidup terpisah tanpa ada sistem sosial yang menyatukan, yang tentu saja lambat laun menimbulkan perselisihan dan konflik sehingga akhirnya para tetua klan bersepakat mendirikan bangunan tempat berkumpul di Þingvellir tempat mereka bermusyawarah bersama jika ada konflik antarklan. Ketidakadaannya pemerintahan pusat atau raja tersebut bertahan selama 300 tahun lebih sampai akhirnya Iceland direbut kembali oleh raja Norwegia.

Air terjun Öxaráfoss memang tidak tinggi-tinggi amat, tetapi cara “lahirnya” yang brutal, menerobos bebatuan beku lava kokoh begitu saja, menciptakan kesan garang dan liar yang memesona. Bebatuan lava di kiri kanannya yang kokoh membuatnya terlihat semakin gagah dan berwibawa. Saya pikir, keberadaan air terjun inilah yang membuat orang-orang Iceland zaman dulu jauh-jauh dan repot-repot berkumpul di Þingvellir karena ada air terjun Öxaráfoss yang gagah tercurah. Setengah jam sendiri, kami berfoto-foto di sana. Haha.

IMG_0915.JPG

Dikelilingi bebatuan beku lava yang gagah, Öxaráfoss  terlihat seperti singgasana yang megah, dan memang demikian lah sebuah saga bercerita tentangnya

Bersisian dengan Öxaráfoss, terdapat sebuah jurang sempit yang dapit oleh bebatuan lava massif yang tinggi bernama jurang Almannagjá. Sesungguhnya jurang ini punya sejarah geologi yang amat mengagumkan, karena keberadaan jurang inilah pulau Iceland terbentuk. 18 juta tahun lalu, lempeng tektonik benua Amerika dan Eurasia berpisah, yang menciptakan rekahan kulit bumi raksasa yang memanjang sepanjang Samudera Atlantik. Titik tempat berpisahnya itu kemudian menjadi ‘titik lemah’ sehingga lava dari dalam bumi merembes muncul ke permukaan membentuk daratan, dan setelah terakumulasi 18 juta tahun terbentuklah pulau Iceland.

20170501_135558

Patahan Almannagjá sesungguhnya merupakan titik berpisahnya dua lempeng maharaksasa. Tebing sebelah kiri adalah bagian dari benua Amerika, sedangkan tebing sebelah kanan bagian dari benua Eurasia (Eropa-Asia)

Iceland_Mid-Atlantic_Ridge_map

Bayangkan dirimu berdiri tepat di titik tengah pertemuan lempeng-lempeng bumi. Di Iceland, hal itu sangat dimungkinkan

Berdiri di tengah-tengah jurang Almannagjá membuat saya merinding, membayangkan bagaimana belasan juta tahun lalu, api lava tumbuh merembes lewat lempeng-lempeng benua yang terpisah untuk membentuk pulau yang sekarang disebut Iceland, mengimajinasikan bagaimana rupa bumi di masa lalu sangat menggetarkan hati saya. Hingga detik ini, ‘perpisahan’ kedua lempeng benua terus terjadi dengan kecepatan 2.5 cm/tahun dan menyebabkan Þingvellir dilanda gempa tiada henti setiap harinya, kebanyakan cukup kecil sehingga tak dirasakan tubuh manusia, meski saya lebih yakin jika angin kencang dan hujan lebat yang melanda membuat kesadaran untuk merasakan gempa kalah oleh upaya berdiri tetap tegar agar tak terjungkalkan oleh angin. Jalur jurang Almannagjá juga punya sejarah unik, papan wisata di sana menyebutkan bahwa jalur jurang sempit ini dijuluki sebagai “Dead Man Walking” karena pada zaman dahulu para penjahat setelah disidang di Alþingi akan disuruh berjalan melewati jalur jurang ini untuk menjalani hukuman mengerikan. Banyak area di kawasan Þingvellir diberi nama dengan nama-nama mengerikan karena dulunya menjadi tempat hukuman. Salah satu tempat yang kami lewati bernama Gálgaklettur (batu gantung) karena dulunya dijadikan tempat menggantung para pencuri, pun tempat-tempat yang disebut “Kolam Penenggelaman”, “Lereng Pembakaran”, hingga “Lapangan Penguburan” tempat orang yang dianggap penjahat dikubur hidup-hidup. Almannagjá bukan hanya menceritakan sejarah dahsyat bumi di masa lampau, tetapi juga sejarah pedih manusia di masa lalu.

Sebetulnya masih banyak tempat di sekitar Þingvellir yang menarik untuk dikunjungi seperti lembah Silfra, kolam alami yang terbentuk karena celah patahan dua benua terisi air es yang amat sangat jernih. Diving bisa dilakukan sampai kedalaman 80 meter lebih karena saking jernihnya cahaya matahari tetap tembus ke tempat sedalam itu, menjadikannya sebagai salah satu lokasi penyelaman terbaik di dunia. Tetapi tentu saja karena dana terbatas, kami melewatkan kesempatan diving tersebut, hehe.

*****

Setelah memakan bekal makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju tujuan populer lainnya yang ada di Golden Circle yakni geyser (air mancur geothermal yang menyembur secara periodik) di kawasan lembah Haukadalur dan air terjun Gullfoss. Kedua lokasi ini berdekatan, dengan berkendara mobil tidak sampai 10 menit sehingga bisa ditempuh sekali jalan. Karena menjadi primadona dan atraksi utama Iceland, air terjun Gulfoss lebih ramai oleh turis ketimbang tempat wisata lainnya yang kami datangi sebelumnya. Bus-bus raksasa dan aneka mobil sewaan memenuhi tempat parkirnya. Toko souvenir yang ada di sana dipenuhi turis dan café-nya nyaris membludak oleh turis-turis yang mencari kehangatan. Temperatur saat itu drop jatuh bebas ke angka 4°C. Hujan untungnya sudah berhenti ketika kami sampai di sana, tetapi angin kencang malah semakin menggila. Saya pikir angin di Kirkjufell sudah menjadi angin terkencang yang pernah saya alami, tetapi di Gulfoss anginnya lebih dahsyat lagi. Seorang turis yang sedang membaca tabloid wisata berteriak saat tabloidnya diterbangkan oleh angin. Hanya kurang dari 5 detik, tabloidnya langsung menghilang entah dibawa kemana oleh angin. Saya benar-benar harus berjalan dengan sangat pelan-pelan agar bisa berjalan lurus.  Saat berjalan menuju air terjun, saya dibuat takjub sekaligus ngeri. Seorang anak (mungkin usianya 4 tahun) yang sedang berlari-lari ‘diterbangkan’ saat sedang berlompat-lompat, terlihat posisinya bergeser beberapa centimeter dari tempat dia seharusnya mendarat yang membuat kedua orang tuanya berteriak panik melihat anaknya dibawa angin. Ya, sekuat itu angin pada hari itu, nyaris menerbangkan anak kecil.

Riam Hraunfossar saya pikir sudah cukup mengerikan dan dahsyat dalam hal debit dan suara air, tapi tak ada apa-apanya saat dibandingkan dengan air terjun Gulfoss. Air terjun Gulfoss yang terdiri dari 3 tingkatan air terjun mengalir begitu kencang dan deras. Gemuruh airnya terdengar dari jarak 200 meter lebih padahal saat itu angin sedang dahsyat-dahsyatnya menderu. Kami dan para turis lain harus berteriak-teriak untuk berkomunikasi. Kerennya lagi, dilihat dari tebing tempat kami datang, air terjunnya jatuh sedemikian rupa sehingga tampak menghilang tertelan begitu saja ke dalam bumi. Ada bagian tebing menjorok sehingga menciptakan kesan jika air terjunnya lenyap ke dalam perut bumi. Beesarnya debit air tentu saja menggoda para investor untuk memasang turbin pembangkit listrik di sana namun ditolak penduduk setempat. Kegigihan penduduk di sana untuk mempertahankan kealamian Gulfoss diabadikan dalam sebuah plakat di sana yang bertuliskan “Ég sel ekki vin minn!” yang berarti “Aku tak akan menjual sahabatku!

IMG_0945_edit.JPG

Air terjun Gulfoss dilihat dari arah parkir, tingkat kedua terlihat seolah menghilang ditelan bumi

*****

Angin masih saja kencang sehingga kami tak bisa berlama-lama di Gulfoss. Foto-foto diambil seadanya dengan hasil yang penuh dengan ekspresi kagok karena kamera selalu bergoyang dan tak akan ditampilkan di media sosial, haha. Setelah berfoto ala kadarnya, kami segera ke toko souvenir untuk menghangatkan diri dan berlindung dari angin ribut. Toko souvenir itu adalah toko oleh-oleh pertama yang kami datangi dan langsung memberikan peringatan keras bahwa oleh-oleh apapun tak akan bisa didapatkan secara murah di Iceland, harga satu tempelan magnet kulkas saja bisa 250 ribu rupiah yang termurah. Sambil menghibur diri jika nanti di Reykjavik berharap lebih murah, kami menunggu kondisi tubuh agak hangat dahulu lalu melanjutkan perjalanan ke Haukadalur. 

Lembah Haukadalur tanahnya lebih hangat dibandingkan kawasan lain di Iceland karena menghampar di atas kawasan geothermal aktif. Banyak sekali hotel-hotel yang beriklan mengenai pemandian air panas alami di sana. Tetapi tentu saja atraksi utama di tempat itu tak lain dan tak bukan adalah keberadaan geysernya yang kesohor itu. Ada sekitar 40 kolam lumpur panas, mata air panas, semburan uap panas, dan geyser-geyser di Haukadalur. Yang paling terkenal tentu saja Geysir, air mancur panas yang menyembur secara periodik pertama yang dikenal oleh peradaban Eropa (istilah geyser sendiri berasal dari nama Geysir). Sekali menyembur, Geysir bisa mencapai tinggi 70 meter lebih. Sayang sekarang aktivitas Geysir sedang menurun, dia menyembur tidak dalam periode pasti sehingga saat kami ke sana Geysir masih dalam posisi tertidur. Untungnya sebagai penghiburan, masih ada geyser Strokkur yang menyembur setiap 6-10 menit sekali dengan tinggi rata-rata 20 meter (kadang bisa sampai 40 meter). Nah, biasanya sikap jahil saya suka kumat kalau sudah ketemu fenomena begini, hehe.

Setelah puas mendatangi spot-spot fenomena geothermal di sana, teman saya ingin merekam video menyemburnya geyser Strokkur (saya sih memilih tak merekam, mending duduk manis dan menonton saja, nanti video rekaman minta temen saja, haha). Teman saya ingin mengatur-atur posisi kamera yang dianggap pas untuk merekam semburan geyser tapi cukup stabil agar tidak tergulingkan angin. Lalu dia menempatkan kamera di sandaran bangku yang tersedia. Sambil melirik jam tangan menandai dan menghitung periode semburan Strokkur, saya berujar kepada dia, “lebih baik kamu pindahkan ke depan deh. Kalau ambil video dari bangku nanti pagar dan trotoarnya kerekam juga, bakal jelek“. Dia awalnya tetap bersikukuh, tetapi bujukan saya semakin kuat sehingga akhirnya dia menyerah dan mulai menggeser kamera ke posisi yang saya sarankan, di pinggir pagar pembatas. Saat dia sedang menggeser-geser kamera ke posisi baru itulah Strokkur menyembur, alias dia gagal merekam videonya. Sebelum tepuk tangan turis berhenti ketika semburan Strokkur akhirnya keluar, saya buru-buru kabur minggat daripada kena sembur amarah dan kejengkelan teman saya. Haha.

IMG_0972.JPG

Batu nama dan pagar pembatas yang harus dipatuhi turis agar tetap aman saat geyser mulai menyemburkan air panas dari perut bumi

*****

Dinginnya udara, derasnya hujan, dan kencangnya angin membuat perjalanan kami hari itu babak belur dan kepayahan sepanjang hari. Seharian itu rasanya ingin sekali kami makan makanan hangat. Saya bukan penggemar indomie, tetapi salah satu yang paling kami idam-idamkan adalah indomie rebus dengan telur rebus setengah matang dan cabe rawit ditambah kerupuk udang. Aduh, menuliskan ini saja sudah menerbitkan air liur saya, haha. Sayangnya di Iceland tidak ada menu seperti itu sehingga kami mencari alternatif lainnya. Di sekitar Geysir ada toko souvenir besar yang merangkap restoran tempat bernaung dari hawa dingin. Karena sudah masuk jadwal makan malam (jam 6 sore), kami memesan makananan hangat. Menu termurah saat itu adalah apa yang disebut “soup of the day” yang berupa pilihan sup aparagus atau sup tomat dengan tambahan roti kering sebesar perkedel dua buah, harganya sedikit membuat kecut, rasanya sedikit tak ikhlas saat membayarnya tetapi karena tak ada pilihan lain kami tetap membelinya juga. 200 ribu rupiah lebih untuk secangkir sup tomat rasanya terasa berlebihan, haha.

Selepas makan, kami segera berkemas mencari penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya. Hujan kembali turun saat kami baru bermobil setengah jam. Lokasi penginapan yang akan kami cari adalah sebuah rumah pertanian. Mengandalkan aplikasi peta offline yang sebelumnya sudah kami unduh sejak di Indonesia, kami mencari penginapan tersebut yang ternyata baru disadari lokasinya jauh dari mana-mana. Bahkan jalan raya menuju penginapan terpotong begitu saja di aplikasi peta sehingga selama setengah jam kami harus melewati jalan yang tak ada dalam indeks GPS, hanya mengandalkan intuisi dan papan petunjuk saja kami menerka-nerka rumah mana yang akan kami inapi. Ketika kami menuju sebuah bangunan bobrok, timbul prasangka dan kekhawatiran apakah bangunan itu yang akan kami inapi, tetapi setelah membaca papan namanya yang ternyata bukan kami bersorak norak. Ada hampir 4x kami melakukan hal tersebut, sebuah perasaan lega karena terhindar dari penginapan jauh antah berantah dan bobrok namun juga perasaan khawatir jika yang akan kami dapatkan lebih bobrok lagi. Dan benar-benar menjadi sebuah kejutan menyenangkan saat papan nama penginapan yang akan kami inapi sudah muncul dan menunjukan sebuah rumah pertanian yang resik dan nyaman. Petugas yang menyambut sangat ramah dan bersimpati karena perjalanan kami terganggu cuaca buruk sepanjang hari terutama oleh angin dan hujannya.

*****

Meski langit masih terang, kami sudah meringkuk dalam kasur masing-masing untuk beristirahat tidur. Perjalanan seharian itu benar-benar menguras tenaga. Dari jendela kamar yang tak bertirai, saya menyaksikan kawasan sekitar rumah pertanian yang berbukit-bukit hampa tanpa ada satupun pepohonan di atasnya, sementara kawanan kuda berkerumun di tengah padang berdiri melawan arah angin (tidak ada kuda yang duduk di tanah karena permukaan tanah terlalu dingin sehingga akan membuat mereka beku, membuat saya kasihan karena kudanya bakal jarang sekali duduk). Meski pemandangannya sepi dan tampak tenang, tetapi keindahannya terasa bergejolak. Seperti pemandangan yang ada di Hraunfossar, Þingvellir, Gulfoss, dan Haukadalur, terdapat keindahan yang luar biasa memabukkan namun ada gejolak yang tak bisa ditutupi. Saya tak dapat mendeskripsikan secara akurat ‘gejolak’ apa yang ada di alam liar Iceland, tetapi saya rasa deskripsi dari penyanyi asli Iceland yang mendunia, Björk, memberikan deksripsi yang akurat saat dia menyebut alam Iceland dalam lirik lagunya sebagai “emotional landscapes***. Sementara itu, selama kami bersiap-siap untuk tertidur, hujan perlahan tercurah…

Sejurus kemudian, hujan mulai turun. Tampak lugu pada mulanya, tetapi langit yang dijejali awan, secara bertahap menumbuhkan tetesan air yang menggemuk dan semakin berat, dan diakhiri dengan hujan musim gugur yang lusuh dan memadati dunia dengan irama ketukannya yang lantang. Hujan yang mengalunkan nada-nada keresahan mengisi riam-riam di bumi, hujan yang menggetarkan langit dengan hingar bingar, dan hujan yang memerami pedesaan dengan himpitannya yang bak hawar. Hujan yang begitu perkasa dan ajek dalam kejemuannya, mencekik karena curahan deras dan hawa dinginnya, kebengisannya yang tak kunjung usai. Dengan lihai, hujan jatuh di atas padang-padang, di atas paya-paya, di atas danau-danau berlumpur, di atas dataran kerikil berkarat, di atas pertanian di kaki pegunungan muram, menghalangi pemandangan atasnya. Dan dengung yang berat dan putus asa, menyusup masuk ke setiap celah rumah, memekak menjejali telinga seperti dicocoki kapas, dan mencengkeram semuanya baik yang jauh maupun yang dekat, seperti cerita menjemukan yang tak menggairahkan, yang tak memiliki irama, monoton tak melengkingkan nada-nada tinggi, serta tak ada kemelut. Namun tak ada yang memungkirinya bahwa dibalik kejemuannya, hujan menyimpan kekuatan yang mengancam.

(bersambung)

 

Catatan tambahan:
*          = Ketika saya membaca buku Independent People dan sampai pada bagian yang saya kutip di bagian paling atas tulisan ini dan diterjemahkan bebas di atas, saya merasa terusik ketika Laxness memilih diksi ‘lugu’ untuk menggambarkan hujan yang senyap. Semingguan di Iceland, saya akhirnya memahami mengapa Laxness memilih kata tsb. Di Iceland, kecuali saat angin besar datang nyertai, hujan turun dalam keheningan. Tanpa aba-aba dan peringatan, hujan turun diawali dengan rerinai jarum-jarum sehalus benang dan selembut embun pada menit-menit pertama lalu dilanjutkan dengan curahan mata panah yang deras dan keras karena terbawa angin. Ketiadaan peringatan ini disebabkan karena langit Iceland sangat jarang sekali memproduksi petir! Di Indonesia dan di banyak belahan dunia lainnya, biasanya sebelum hujan turun, petir sudah terdengar atau guruh membawa kabar bahwa di kejauhan sedang terjadi hujan. Di Iceland, hal tsb tidak atau jarang sekali terjadi. Jika ada petir terekam di Iceland lalu kamu unggah di media sosial kamu akan terkenal dan akan diberitakan di portal-portal berita. Itu juga mungkin salah satu alasan mengapa Odin dan Thor yang dipuja sebagai dewa di masa lampau di tanah Icelandic dan Nordic, selalu digambarkan membawa kemarahan berupa petir. Petir yang terjadi amat langka namun mengerikan sudah pasti akan menimbulkan penafsiran yang tak biasa di masa lampau. Mengapa petir jarang sekali terjadi di Iceland? Sesungguhnya penjelasannya tidak seajaib dan seaneh yang dikira kok. Di pelajaran mengenai fenomena cuaca atau listrik statis zaman SD dan SMP sudah bisa menjelaskannya dengan baik. Awan yang biasanya menghasilkan petir adalah awan jenis cumulonimbus (cumulus = bertumpuk, nimbus = badai). Awan jenis ini sesuai namanya bertumpuk-tumpuk berupa menara vertikal menggantung rendah di kaki langit, biasanya muncul sebelum hujan. Bentuknya yang vertikal disebabkan karena proses pembentukannya, air dari permukaan tanah/danau/sungai/laut menguap ke atas oleh paparan cahaya matahari. Ketika uap udara mendingin di awan, terbentuk muatan listrik yang berbeda muatannya dengan udara lembap dan hangat yang ada di permukaan tanah. Perbedaan muatan listrik di awan dan udara hangat permukaan tanah inilah yang menyebabkan beda potensial dan sehingga tercipta loncatan bunga api listrik alias petir. Sedangkan untuk bisa menguapkan air, permukaan tanah harus hangat, padahal tanah Iceland dengan lokasinya yang terlalu dekat dengan kutub utara membuatnya selalu dingin untuk bisa menghasilkan awan cumulonimbus. Singkat kata; Iceland terlalu dingin untuk bisa menghasilkan petir. Bukan hal yang terlalu istimewa sebetulnya, di kawasan daerah yang mengalami musim dingin, badai salju juga jarang disertai petir.

**        = Sejak masih kecil sekali, saya sering ‘dikeluhkan’ sebagai anak yang terlalu besar rasa ingin tahunya. Setiap melakukan perjalanan bersama keluarga, saya selalu ribut bertanya-tanya kepada orang tua saya mengapa ini begini mengapa itu begitu. Saya masih ingat sekali saat kami melakukan perjalanan berlibur ke rumah kerabat di luar kota dan bertanya-tanya pada orang tua saya. Pertanyaan saya standar sekali pada mulanya, mengapa langit sering kali berwarna biru, tetapi kadang-kadang bisa berwarna jingga, kelabu, merah, kuning, putih (jika berawan), bahkan pada saat-saat tertentu menjadi ungu. Orang tua saya tentu saja tak mengenal Efek Tyndall dan Hamburan Rayleigh sehingga tidak bisa menjelaskan dengan baik kepada saya, toh kalaupun mereka mengenalnya, giliran saya yang berbalik bakal bingung tak bisa mengerti penjelasannya. Haha. Tapi pertanyaan saya yang paling membuat kakak saya semakin jengah dan mencap saya aneh adalah pertanyaan ‘kita sering kali melihat langit berubah-ubah warnanya, tetapi mengapa kita tidak pernah melihat langit berwarna hijau? Mengapa harus hijau yang tak ada dalam daftar metamorfosis warna langit?‘ Ayah saya yang semakin menyerah dan kewalahan dengan rasa ingin tahu saya kemudian memberikan solusi dan tantangan yang akan mengubah hidup saya selamanya; ‘bagaimana jika kamu (sambil membelai rambut saya) yang mencari tau sendiri jawabannya? Lalu jika sudah ketemu memberi tahu ayah?‘ Saya pikir, sejak saat itulah hidup saya berubah drastis. Saya mulai mengembangkan kebiasaan membaca buku dengan nyaris kalap untuk menjawab segala rasa kepenasaran saya yang terus berlangsung hingga sekarang. Hampir semua buku di perpustakaan SD-SMA saya baca setiap judulnya. Betul-betul setiap judulnya, mulai dari buku sastra hingga buku penataran pelatihan guru di kecamatan, haha. Salah satu prestasi terbesar saya hingga saat ini adalah saya berhasil menamatkan membaca 7 jilid buku Ensiklopedia Indonesia terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve lengkap dengan jilid indeks-nya. Haha. Dibaca tiap entri dan barisnya. Serta 4 buah jilid dari 30 jilid Encyclopædia Britannica (tidak tamat dibaca ke-30 jilidnya karena edisi milik perpustakaan SMA hanya ada 4 jilid saja). Di sekolah, saya tidak pernah lagi bertanya kepada guru saya sejak dari kelas 4 SD sampai 3 SMA (saya selalu merasa apa yang akan saya tanyakan tidak bisa mereka jawab, hehe), dan berbalik berpartisiasi aktif menjawab pertanyaan siswa lain.

Namun, sebesar apapun rasa ingin tahu saya, saya selalu sengaja menyisakan beberapa hal untuk tetap tak terjawab. Misal, ada kantor pos tua di dekat gedung SMP tempat saya bersekolah. Ditilik dari kondisi bangunannya, bangunan ini jelas sangat tua, mungkin dari zaman Belanda. Tetapi kondisi dan suasananya yang sangat kontras dengan bangunan sekitar padahal sama-sama tua selalu membuat saya penasaran terus, kapan bangunan tsb dibangun dan apa fungsi mulanya. Saya bisa saja menemukan jawabannya dengan bertanya langsung kepada petugasnya atau membaca buku sejarah kota saya. Tetapi saya tak melakukannya. Saya ingin pengetahuan saya terhadap hal tsb selalu tetap menjadi misteri, agar ketika saya melewati bangunan kantor posnya, saya selalu dibuat takjub dan penasaran. Kenyataannya, sampai sekarang, saya selalu melihat bangunan kantor pos tsb berbeda dengan melihat bangunan lain sekitarnya. Selalu berhenti sejenak untuk mengagumi dan terpana oleh kemisteriusannya. Pun pengetahuan saya mengenai mengapa ada sedikit sekali domba di Iceland (yang tidak sesuai dengan bayangan awal saya), saya putuskan agar tetap menjadi sebuah misteri saja. Supaya ada alasan untuk datang lagi ke sana dan menanyakan langsung kepada petaninya. Hehe.

***       = Penjelajahan saya pada dunia musik secara umum berhenti pada tanggal 5 April 1994, hari di mana Kurt Cobain meninggal. Bagi saya, meninggalnya Cobain menjadi hari di mana musik tamat (the day the music died). Saya bisa bercerita banyak tentang musisi tahun 1930-an tapi mati kutu saat membicarakan musisi tahun 2000-an. Bahkan saya sepenuhnya melupakan eksistensi lagu-lagu yang ada di tahun 2000-an sampai sekarang, kecuali beberapa musisi lama era 70-80’an yang masih melanjutkan berkiprah mereka.  Jadi, jangan ajak saya berdiskusi tentang lagu-lagu boy/girlband pasca 1990-an ke sini atau lagu-lagu yang ngehits minggu ini, pasti saya bablas gak hafal. Tetapi tentu saja ada beberapa pengecualian. Bagi musisi-musisi yang unik dan meninggalkan jejak mendalam bagi dunia seni, saya kadang masih meluangkan waktu untuk mencari dan mendengarkan lagu-lagunya, salah satunya Björk.  Sebagai putri asli dan kebanggaan Iceland, Björk menjadi musisi internasional dan salah satu artis paling berpengaruh di abad ini. “Emotional landscapes” yang saya kutip untuk menggambarkan lankap dramatis Iceland, adalah frasa yang diambil dari lagu Björk yang berjudul “Joga”. Lagu “Joga” sendiri merupakan salah satu lagu dari album Homogenic (1997), album yang oleh para kritikus dianggap sebagai album bergenre elektronik-eksperimental-art pop terbaik di dunia (saya hanya mengenal genre ini dari seorang Björk saja). Album Homogenic ini dilahirkan dan didedikasikan oleh Björk untuk negeri tercinta tanah airnya, Iceland. Album yang sangat sempurna sekali menghadirkan alam Iceland yang dramatis, tragis, enigmatis, dan kontemplatif dalam bait-bait lirik dan nada-nada musik harmonis yang kadang kelokannya mengejutkan.

Advertisements

6 thoughts on “Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 2]

  1. Qui,

    Anjriitttt, ini kebangetan kerennya Qui,…. :D, suasana di Islandia itu dari foto-fotomu yang saya lihat berasa banget aura surealismenya ya… air-air terjunnya seperti hidup dalam dunia fiksi saja…

    Belum lagi soal kamu cerita kalau di Islandia, jam 2 pagi sudah agak terang dan bisa jalan2 tanpa penerangan, dan jam 5 paginya udah kaya jam setengah 7 pagi di Indonesia :D…

    Asli Qui, kamu luar biasa banget bisa kesana… XD

    Di akhir-akhir pembacaan catatan perjalanan kamu ini, saya jadi mikir, hah, apalah aku ini dibanding Qui… wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk 😀

    Salam,

    Leo

    Like

    • Leo,

      Ahaha. Seperti yang saya tuliskan di bagian pertama tulisan serial Iceland ini, alam Iceland beneran keren dan surealis. Bertualang di sana udah kayak jalan-jalan di dunia mimpi aja.Pas nyampe Jakarta lagi, kepala saya masih terngiang-ngiang dg alam Iceland kayak keluar dari dunia mimpi aja. Ada daratan pasir vulkanis hitam yang saking luasnya ampe ujungnya gak keliatan, pas mobil kami ada di tengahnya beneran udah kayak entah-kayak-daerah-mana gak kebayang sebelumnya, atau pas lewat daerah pegunungan, air terjun dimana-mana membludak, dll, dll, dll. Jika kamu putar video lagu Björk di atas, ada pemandangan udara Iceland (sayang dicampur visual efek ala kadarnya karena buatan jadul, ahaha), kesan surealisnya beneran kerasa. Kayaknya bakal keren banget kalo ikutan tur udara pake chopper atau paragliding. Tapi ya… harganya gak nguatin… Haha.

      Haha. Iya, jalan-jalan pagi buta di Iceland seru dan tenang bangeeeettttttt. Selama di sana saya selalu bangun pagi buta buat bengong-bngong doang, yang berkonsekuensi pas balik ke Indonesia saya kena jet-lag parah berminggu-minggu terbiasa gitu terus, padahal harus bangn pagi. 😦 Kalau di Indonesia jalan pagi-pagi jam 2 gitu bisa digerebek hansip kali ya, haha.

      Dan yes, kamu harus ke sana. Foto, tulisan, video, dll apapun ttg Iceland gak akan bisa nandingi liat langsung. Saya pikir awalnya tulisan saya ttg Iceland bakal cukup dibuat 2-3 serial aja. Tapi baru dua aja hari aja udah dua tulisan panjang (>6000-7000 kata masing-masing). Saya ingin menuis sedetail mungkin biar kenangan saya ttgnya tetap terjaga. Syukur-syukur bisa ke sana lagi, hehe. Ayo nabung, biar bisa ke sana. Nanti saya pinjemin deh buku “Independent People” biar aura Iceland-nya makin kerasa. Haha.

      Wew… apalah saya dibandingkan kamu Leo. Saya cuma anak sotoy dan suka gak puas aja. Jadi suka nanya-nanya dan penasaran terus. Haha. Ya, setidaknya bagi saya, apa asyiknya hidup jika rasa penasaran sudah gak ada. Hehe.

      Regards,

      Q

      Like

  2. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiadescaravan

  3. jurang Almannagjá itu cerita dari tinjauan geologisnya dapet dari mana? keknya pas kita kesana ga ada deh atau gue terlau terpana ama alamnya ajah. As always really enjoy your writings 🙂

    Like

    • Masih ingat cerita saya yang karena terbangun jam 2 malam terus-terusan, bikin saya berselancar ttg Iceland kemana-mana, termasuk nyasar ke sekian paper online ttg sejarah geologis Iceland. Haha. Tapi di lokasinya sendiri ada sih. Dari tempat parkir kan naik tangga. Dari puncak tangga, ada cabang ke kiri menuju air terjun Öxaráfoss dan cabang kanan menuju jurang Almannagjá. Nah, di dekat persimpangan itu ada papan informasinya. Tapi kan kita ke sana pas lagi mulai hujan lebat dan angin kencang juga. Lari-lari kecil dan pengen cepat buru-buru sehingga banyak hal bisa terlewatkan, apalagi yang lokasinya nanggung untuk berhenti seperti itu.

      Tunggu cerita-cerita berikutnya ya. Haha.

      Like

  4. Pingback: Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 3] | melquiadescaravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s