Gunung Kirkjufel, Iceland, Mei 2017 [bag. 1]

“The most remarkable thing about a man’s dreams is that they will all come true; this has always been the case, though no one would care to admit it. And a peculiarity of man’s behaviour is that he is not in the least surprised when his dreams come true; it is as if he expected nothing else. The goal to be reached and the determination to reach it are brother and sister, and slumber in the same heart.”
― Halldór Laxness, Independent People

Ketika saya membeli buku Independent People karya Halldór Laxness enam tahun lalu di loakan buku bekas trotoar Jalan Dewi Sartika Bandung* tak pernah terpikirkan sekalipun bahwa saya akan membaca buku ini di negara tempat sang penulisnya lahir, Iceland. Saya membelinya berbarengan dengan buku berbahasa Inggris bekas lainnya seperti Cold Mountain karya Charles Frazier yang dibeli karena bukunya sudah diadaptasi menjadi film yang membuat saya banyak tidak puas dan memutuskan untuk membaca sendiri bukunya, serta dua buah buku terjemahan Agatha Christie. Kecuali buku Agatha Christie, yang buku berbahasa Inggris, Independent People dan Cold Mountain, tentu saja tidak dibaca hingga bertahun-tahun kemudian. Tumpukan buku yang datang semakin menggunung sehingga membuatnya semakin kalah prioritas. Apalagi nama “Halldór Laxness” terasa asing sehingga semakin membuat saya menunda-nunda untuk membacanya alias tedorong semakin ke dasar timbunan buku-entah-dibaca-kapan dalam gunungan tumpukan buku saya. Bagaimanapun, saya pikir, dari 250 juta penduduk Indonesia, tak sampai 1000 orang pernah mendengar nama “Laxness” apalagi membaca sendiri buku karyanya. Saat saya mengkonfrontasikan kepada teman saya yang maniak baca pun apakah dia pernah mendengar nama “Halldór Laxness”, dia kehilangan petunjuk. Pun saat saya membeli bukunya, saya belum mengenal nama Laxness saat itu, hanya embel-embel “Winner of Nobel Prize in Literature” di jilid depannya yang membuat saya tergerak melirik-lirik sekilas isi bukunya dan memutuskan mencoba untuk membeli.

Semakin terdorong ke tumpukan belakang dan terbawah, buku Independent People nyaris terlupakan sampai akhirnya saya memutuskan buku apa yang akan dibaca di Iceland setelah saya membeli tiket perjalanan ke sana. Untungnya meski dulu hanya dilirik sekilas, saya masih ingat samar-samar kalau pernah membeli buku yang berkaitan dengan Iceland. Setelah membongkar-bongkar puluhan kardus akhirnya ditemukanlah buku tsb—baru ditemukan di dua kardus terakhir… arghh!!. Saya memutuskan bahwa buku ini akan saya baca langsung di negara asalnya, sebuah keputusan yang tidak hanya tepat, namun juga sedikit disesali. Mengapa perlu waktu begitu lama bagi saya untuk melewatkan saga personal modern yang fantastis ini? Mungkin ada tujuan khusus dari Semesta mengapa saya harus menunda-nundanya; saya akan membacanya di negara tempat dituliskannya buku tsb. Tentu saja saat menawar bukunya hingga dapat 15 ribu itu, saya tak menyangka akan berpergian ke separuh bola dunia dan membaca bukunya di sana. Karena meski impian untuk bisa pergi ke Iceland memang ada tetapi dulu rasanya terasa mustahil dan hanya impian hampa belaka.

Independet People

Kita lahir sendiri-sendiri. Kita meninggal dalam kesendirian. Mungkinkah kita bisa hidup secara menyendiri, terbebas dari orang lain? Di Iceland, saya menemukan jawaban atas pertanyaan provokatif tersebut dalam pembacaan buku luar biasa ini

Seperti kutipan Laxness di atas, hal paling menakjubkan dari mimpi adalah dia memang bisa (dan selalu bisa) diwujudkan. Namun yang paling aneh adalah reaksi saya. Perasaan yang muncul saat membaca salah satu buku saga modern terdahsyat dengan pesan emosional dan moral terdalam (Laxness layak disebut salah satu penulis terhebat sepanjang masa), langsung di negeri dengan pemandangan paling spektakuler dan paling dramatis yang pernah saya datangi, benar-benar tidak mengejutkan saya sama sekali. Semuanya seolah datang dan terjadi begitu saja dalam mimpi saat tidur yang tak bisa kita tolak dan tapis. Iceland adalah negeri dimana lanskap yang begitu cantik nyaris surealis bertebaran dimana-mana sehingga saking indahnya membuat saya seolah berjalan dalam dunia mimpi. Ketika saya menjejak kembali tanah Jakarta, saya merasa baru bangun dari sebuah mimpi panjang.

*****

Setelah melewatkan penerbangan melelahkan selama 12 jam Singapura-London (dan transit melelahkan tengah malam  karena kurang tidur selama 13 jam di Singapore Changi Airport), saya akhirnya tiba di Heathrow jam 8 malam dalam suasana kelabu dan dingin. Kabut London yang terkenal itu membuat udara menjadi sumuk, menyambut kami begitu keluar pintu bandara. Angin musim semi yang menyerbu kami di luar bandara masih disisipi silet-silet tajam udara musim dingin yang mencabik-cabik. Papan petunjuk cuaca mengabarkan bahwa temperatur terbaca ke 8°C, membuat saya merinding ngeri, bagaimana dengan kondisi Iceland yang berada jauh lebih di utara dekat lingkaran Arktik sementara di Inggris saja sudah membuat saya menggigil? Kami hanya berada semalam di Inggris, karena besoknya harus melanjutkan perjalanan ke Iceland lewat Luton Airport. Hanya setengah jam perjalanan antara Heathrow-Luton menggunakan bis interkoneksi bandara, tetapi temperatur luar turun dengan cepat, aplikasi ramalan cuaca menunjukan angka sekitar 5°C, nafas saya sudah beruap namun segera menghilang karena ada angin kencang langsung mengusirnya yang malah memperburuk kondisi badan yang mulai menggigil. Saya tak mempersiapkan ini sebelumnya. Mengira udara di London sudah cukup hangat, semua baju dan perlengkapan busana hangat saya ditaruh di bagian terdalam tas keril…

Di Luton, papan petunjuk untuk menuju hotel sangat minim, saya dapat melihat hotel yang akan diinapi, tetapi tak bisa ke sana karena terhalang pagar pembatas area parkir yang disusun membingungkan dengan pintu keluar entah dimana. Rombongan turis yang kebingungan tak hanya kami, sementara para petugas tak terlihat karena mencari perlindungan di tempat yang lebih hangat. Berputar-putar mengikuti rombongan turis bingung lain, akhirnya kami mencapai hotel dengan gigi bergemulutuk dan tangan mati rasa terpapar angin dingin selama setengah jam (aplikasi peta menunjukan hanya perlu waktu 5 menit jalan kaki tetapi nyatanya menjadi 5x lipat lebih lama). Yang saya lakukan begitu mencapai kamar hotel adalah langsung mandi shower air panas, makan malam bekal nasi onigiri yang dibeli dari Changi, dan berusaha melanjutkan tidur yang sebetulnya tak mengantuk-antuk amat karena sudah tidur tersela-sela di pesawat. Toh karena kelelahan dan kedinginan, akhirnya saya pun bisa tertidur juga jam 12 malam dan bangun pasang alarm jam 4 pagi mengejar jadwal pesawat ke Reykjavik.

Udara London yang sudah dingin itu, ternyata tetap kalah saat dibandingkan dengan udara Iceland begitu saya turun mendarat di Iceland, setelah 2 jam perjalanan di pesawat yang tak bisa ditidurkan karena pramugari yang cekikikan dan mengobrol berisik secara berlantasan selama penerbangan. Saya dan teman saya langsung berikrar untuk protes dan mengomel sepanjang mungkin di aplikasi daring maskapainya begitu mendapat sinyal wifi nanti. Bayangkan saja, sejak lepas landas sampai mendarat kembali, si pramugari terus saja cekikikan sehingga membuat saya berpikir untuk melemparkan buku yang sedang dibaca, tetapi diurungkan ketimbang berurusan dengan hukum di negara orang. Earplug dan hal-hal penting lainnya seperti biasa… tertinggal di dalam tas keril. Tapi kejengkelan tersebut sedikit teredam ketika daratan Iceland mulai terlihat di balik jendela pesawat. Ada puncak-puncak salju nun di kejauhan sana (yang sudah pasti dari sanalah nama pulau ini berasal). Ada sesuatu yang menggetarkan hati saya, sebuah perasaan aneh antara takjub dan tak percaya bahwa akhirnya saya akhirnya bisa mencapai tanah Nordic ini.

Sensasi pertama yang saya rasakan saat keluar pintu Keflavík International Airport selain dingin adalah perasaan kuat dan tajam bahwa udara Iceland itu terkesan aneh, mistis, dan purba.  Di daerah tropis, dimana siklus hujan bergerak sangat aktif dan pepohonan hijau raya memperbaharui daur oksigen setiap saat, udara terasa segar dan remaja. Di Iceland, dimana pepohonan hijau nyaris tak bisa ditemukan kecuali beberapa pinus kerdil yang amat langka ditanam di pinggir jalan,  udaranya terasa renta. Udara yang telah mengalir berulang melalui alveoli beruang dan rusa kutub**, sepertinya jarang melewati jalur fotosintesis. Sementara abu vulkanis yang menutupi seluruh areal pulau membawa kesan berat karena ada aroma sulfur samar-samar di antara sirat-siratnya. Angin dingin yang mengalir deras dari kutub utara langsung menuju tengah Samudera Atlantik lah yang satu-satunya ‘penyelamat’ agar udara Iceland tetap selalu segar.

Meski dibilangnya bahwa 96% pesawat keluar masuk Iceland lewat Keflavík tetapi bandara tsb terasa sepi. Rombongan yang menunggu untuk dijemput mobil sangat sedikit. Bandaranya sih memang terlihat besar, tetapi ada banyak ruang kosong di mana-mana. Mungkin saat itu masih awal musim semi, sehingga jumlah wisatawan tak sebanyak yang saya kira sebelumnya. Sambil menunggu mobil yang akan menjemput ke tempat rental mobil, kami mengambil uang di ATM masing-masing 10 ribu ISK karena optimis bahwa jumlah sebesar itu cukup untuk seminggu, yang terbukti salah dan tak cukup. Sebelumnya kami memang mendengar bahwa harga-harga di Iceland serba mahal, tetapi selalu dikejutkan bahwa selalu lebih mahal daripada yang kami duga. Sebagaimana rombongan turis dana terbatas lainnya, sebetulnya kami sudah mempersiapkan beberapa bekal seperti roti-rotian dan makanan instan dari Indonesia. Tapi kan tidak mungkin kami terus-terusan makan bekal dari luar Iceland (lagi pula bagasi kami terbatas). Jadi untuk membuktikan seberapa mahal biaya hidup di Iceland, kami makan siang di restoran cepat saji Subway yang ada di pinggiran kota Reykjavik. Kami hanya makan sandwich namun uang yang kami tarik dari ATM sebelumnya berkurang hampir seperlimanya, atau kalau dirupiahkan sekitar 200 ribu rupiah untuk sepotong sandwich siap saji. Sedikit timbul kegoyahan apakah kami akan mengambil uang tunai lagi di ATM atau mengandalkan kartu kredit. Tetapi demi efisiensi dan juga tak menemukan ATM lagi, kami memutuskan bahwa kartu kredit akan menjadi alat transaksi utama. Setelah makan siang dan sebelumnya menambah stok bekal semakin banyak (harga makan siang yang di luar dugaan, membuat kami harus menambah bekal yang dari Indonesia), mobil kami arahkan ke arah barat Reykjavik menuju kota pesisir Akraneskaupstaður (sudah sudah, jangan memaksakan diri untuk melafalkannya. Saya sudah menyerah untuk belajar melafalkan nama-nama tempat di Iceland, haha), petualangan sesungguhnya baru saja dimulai.

*****

Hal lain yang kami sadari begitu sampai di Iceland adalah bahwa tempat wisata di Iceland itu tidak hanya berupa titik-titik (spot) wisata terlokalisasi saja, tetapi bertebaran dimana-mana di setiap lekuk, setiap tikungan, dan setiap jengkal jalannya. Memang ada banyak tempat-tempat tertentu yang ramai menjadi pusat atraksi, tetapi hampir setiap 500 meter di jalan, selalu ada tanda rambu petunjuk yang menandakan bahwa kami bisa berhenti dan berfoto-foto karena pemandangan kerennya ada di mana-mana. Begitu kami keluar bandara dan mengambil mobil sewaan, kami segera terpesona oleh pemandangan lanskap Iceland yang bercauk-cauk. Salju belum mencair sepenuhnya, puncak-puncak gunung masih ditutupi es sisa musim dingin tampak bergerigi tajam dan mustahil untuk didaki, batu-batu hitam vulkanis yang liar menutupi tanah dan membentuk formasi dramatis dan bertumpukan dalam posisi yang tampaknya musykil dan menentang hukum gravitasi. Dan terutama, yang memesona kami adalah air dan udaranya. Air lelehan salju yang dingin mengalir kasar mengiris bebatuan terkeras sekalipun sehingga tercipta formasi geologis yang memesona. Pun angin yang membawa udara tua yang dihirup para beruang, mengalir deras dan tak kenal ampun menyayat gunung-gunung dan bebatuan. Hasilnya adalah penampakan lanskap yang aneh dan belum pernah saya temuka di Indonesia sebelumnya. Liar namun membius.

Begitu keluar Reykjavik di kota nelayan kecil Mosfellsbær, kami sudah dibuat sibuk dengan kamera kami. Air lelehan es telah mengubah wajah pesisir Iceland sedemikian rupa sehingga bergerigi dengan teluk-teluk dalam dan sempit (atau disebut juga sebagai fjord) di mana-mana. Hasilnya adalah pantai-pantai berteluk-teluk yang sangat fotogenic sehingga tanpa perlu dikomando kami segera mengeluarkan ponsel dan kamera masing-masing. Coba saja buka peta Iceland di peta daring, akan terlihat bahwa pesisir Barat dan Utara Iceland seolah tercacah oleh teluk-teluk yang sempit dan menjorok jauh ke dalam pulau. Padahal belum seperempat jam kami berkendara, kami sudah menemukan air terjun pertama sekaligus tertinggi se-Iceland, air terjun Glymurfoss (foss = air terjun, dalam bahasa Iceland). Kami segera bersorak berteriak “Wow! Lihat! Lihat! Ada air tejun!” dan saling berbebut siapa yang paling pertama menemukan air terjun itu dan menunjuk-nunjuk orang lain untuk melihatnya (yang padahal tentu saja semuanya juga melihatnya dalam waktu hampir bersamaan). Perjalanan kami masih panjang jadi kami tak berhenti dan cukup puas berfoto-foto di dalam mobil saja. Tak sampai dua menit berkendara, terjadi lagi kegaduhan “Hey, lihat ada air terjun lagi”. Lima menit kemudian terdengar seruan “Lihat di sebelah kanan ada air terjun loh!” Enam menit kemudian, “Eh, ada air terjun lagi”. Dan dalam setengah jam kemudian, dengan antusiasme yang jauh berkurang dari yang pertama “yaahh… air terjunnya dimana-mana…

Begitulah. Air, angin, dan api vulkanik telah membentuk lanskap pesisir Iceland menjadi gunung-gunung berlereng curam dengan hiasan mahkota es di puncak dan air terjun menjulur di lerengnya menyerupai tirai. Hampir setiap lereng memiliki air terjunnya sendiri. Saya belum pernah menemukan tempat yang memiliki air terjun sebanyak ini sebelumnya. Meski antusiasme kami sedikit berkurang karena “terlalu banyak” air terjun, toh hampir semua kamera dan ponsel kami selalu dalam posisi menyala. Siap merekam pemandangan yang selalu mengejutkan kami di tiap tikungan jalan. Selalu membuat kami berpikir bahwa sudut pengambilan gambar di tikungan berikutnya akan lebih bagus dari sebelumnya. Meskipun tentu saja karena kami tak ada fotografer profesional, hasilnya tak berbeda jauh. Haha.

Tapi saya rasa (dan kemudian menjadi kredo kami selama di Iceland), kamera dan teknik memotret sebagus apapun tak akan bisa mengambil dan merekam gambar pemandangan di Iceland secara mumpuni. Penglihatan mata selalu lebih mengejutkan ketika dibandingkan dengan foto yang tak seolah tak ada apa-apanya. Gelombang-gelombang puncak gunung yang menciptakan perspektif jarak pandang, formasi awan putih yang melindap dengan puncak-puncak salju sehingga membuat batas kabur mana awan mana salju, lanskap tanah lava hitam luas menghampar sejauh mata memandang, apapun, semuanya, tak bisa tertangkap dengan baik oleh lensa kamera. Mata dan kenangan adalah alat terbaik yang bisa menangkap keindahan sejatinya.

DSCF3248.JPG

Pemandangan “tipikal” Iceland di musim semi; rerumputan kecoklatan yang baru bangkit setelah lama terkubur salju setengah tahun dan bercak-bercak salju yang perlahan meleleh menciptakan begitu banyak sungai, tanah basah, dan ribuan air terjun

Pemandangan dan penampakan di Iceland selalu membuat kami norak dan alay, seolah baru pertama kali melihatnya. Belum sejam meninggalkan Reykjavik, kami sudah dibuat heboh saat melewati teluk Hvalfjörður sebelum kota Akraneskaupstaður. Terlalu terpesona oleh pemandangan sebelumnya, tak ada dari kami yang menyadari bahwa kami sudah masuk ke terowongan bawah laut Hvalfjarðargöng. Pemandangan terowongannya remang-remang (kalau tak dikatakan gelap), tetapi desain dalam terowongan yang kolom betonnya dibuat berupa cincin-cincin setengah lingkaran, membuat kami berteriak heboh untuk meminta penumpang paling depan agar merekam video melewati terowongannya. Hampir bermenit-menit merekam video, tak ada tanda-tanda bahwa terowongan itu akan memiliki ujung. Kami sebelumnya terlalu asyik melihat pemandangan sehingga tak ada yang membaca papan keterangan kalau terowongan ini memiliki panjang 5 km lebih, dan terutama, harus membayar! Di pintu masuk terowongan, ada mesin untuk menempelkan kartu kredit sebagai bea masuk terowongan, tapi kami yang terlalu keasyikan melihat-lihat pemandangan tak menyadarinya, alias kami menerobos masuk tanpa membayar. Ketika akhirnya ujung lorong terowongan terlihat (lubang cahaya putih menyilaukan yang kontras dengan kegelapan terowongan), kami melihat orang-orang membayar bea masuk terowongan dari arah sebaliknya. Bea masuk terowongan hanya dikenakan saat masuk, sementara kami telanjur keluar. Tak mungkin kan kami memutar balik. Selanjutnya terjadi perdebatan hampir 20 menit bagaimana cara kami yang merupakan turis taat dan berperilaku baik terpuji (hehe) akan membayar bea masuk terowongan yang sebelumnya dilewati. Menelepon perusahaan rental mobil sebagai satu-satunya nomor kontak yang kami kenal, jelas tak mungkin karena kami tak membeli nomor telepon seluler lokal. Setelah diskusi hampir setengah jam, diputuskan bahwa jika kami melewati terowongan itu dua hari lagi saat kembali, kami akan membayar double. Sebetulnya saat dicek kembali di kemudian hari, jika tak membayar pun kami tak akan dikenakan denda. Namun kan akan memalukan sekali jika kemudian kami terkena denda di pintu imigrasi bandara saat pulang. Selain merusak nama baik dengan catatan kriminal di negara orang, bisa juga merusak nama baik negara dan tanah air kan? Haha. Ya, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

*****

Ketika kami mengambil mobil sewaan di tempat rental, kami diamanatkan agar berhati-hati terhadap angin, terutama saat membuka pintu mobil. Kata si petugas, pintu mobil bisa terbang dibawa angin. Mimik si petugas rental begitu serius dengan penekanan nada tajam saat mengucapkannya, yang malah mengundang derai tawa kami. Memangnya anginnya sekencang apa sih sampai-sampai kami harus sangat hati-hati agar pintu mobil tidak terbang tertiup angin? Apalagi mobil yang kami sewa kan tipe Toyota Land Cruiser yang tampak kokoh (dan dari plat nomornya dimana ada kode tahun pajak, terlihat masih sangat baru). Jadi kami hanya mengangguk-angguk saja saat si petugasnya menasehati berulang-ulang mengenai angin. Begitu kami mencapai tempat wisata pertama, baru disadari bahwa ucapan yang diwanti-wanti sebelumnya oleh si petugas punya konsekuensi sangat serius!

Tujuan pertama kami di Iceland adalah semenanjung Snæfellsnes di sebelah barat Iceland. Kami tadinya mau menuju taman nasional Þjóðgarðurinn Snæfellsjökull, tetapi karena salah belok, malah langsung menuju Gunung Kirkjufell. Gunung Kirkjufel sebetulnya adalah sebuah gunung kecil di tepi laut yang tingginya kurang dari 500 meter, satu diantara sekian ratus bukit lain yang ada di sepanjang pesisir Iceland. Gelombang laut, angin, lelehan salju, dan waktu telah menatah rupa gunung ini sedemikian rupa sehingga berbentuk trapesium di sisi kiri kanan, dan sisi melengkung kerucut ala tumpeng di sisi yang menghadap dan membelakangi laut. Dari sisi kiri-kanan, Kirkjufel terlihat sebagai bukit biasa saja, dan memang kami tak sengaja melewatinya sehingga harus memutar balik karena terlewati. Tetapi jika dilihat dari sisi depan/belakang, harus saya akui pemandangannya memang fantastis apalagi dilihat dari sisi yang ada air terjunnya. Padahal air terjunnya tak setinggi air terjun lainnya yang telah kami lewati sebelumnya. Membuat saya berfikir bahwa bukit d Iceland manapun akan setenar Kirkjufel, jika dilihat dari sisi yang tepat. Berjarak tak sampai lima menit dari kota Grundarfjörður, Kirkjufel harus dilihat dari sisi air terjunnya agar menciptakan kesan dramatis dimana batu pasir membentuk lapisan-lapisan bergaris-garis, sebuah jejak yang terjadi karena aliran angin dan gelombang kuat yang menciptakan ilusi seolah bertumpuk, mirip lapisan-lapisan sedimentasi Grand Canyon.

DSCF3246

Gunung Kirkjufell dilihat dari arah kota Grundarfjörður. Kirkjufell adalah trapesium cokelat yang ada di sisi kanan foto

Ketika kami menepi di tempat parkir tepat di depan air terjun Kirkjufelfoss, baru kami rasakan betapa peringatan si pemilik rental mobil memang tak main-main. Teman saya baru membuka pintu samping mobil kurang dari 5 cm, tetapi segera terdengar deru angin bising, hentakan keras pada pintu yang mungkin akan mematahkan engsel kalau tak ditahan sementara udara dingin langsung mengisi kabin mobil seketika mengalahkan pemanas. Teman saya langsung menutup pintu buru-buru dan memberi peringatan kepada yang lain agar berhati-hati, selalu memegang pegangan pintu mobil saat membuka dan menutup pintu. Barometer pada aplikasi ramalan cuaca di telepon seluler menunjukan angka 30 mph, meski saya yakin angka sesungguhnya jauh lebih tinggi. Saking kencangnya angin, kami harus berteriak kencang untuk berkomunikasi, bahkan tubuh saya terhunyung berkali-kali karena terdorong angin. Saat mendaki menuju puncak air terjun, beberapa orang dari kami nyaris terjatuh dan berjalan tersaruk-saruk. Ini bahkan lebih kencang daripada angin puncak Merbabu yang sebelumnya pernah saya nobatkan sebagai angin terkencang yang pernah saya alami.

Saat itu sudah jam 3, tetapi matahari masih di pucuk langit dan bersinar terik, kondisi angin yang langsung turun dari puncak gunung salju di belakang air terjun membuat panas matahari tak terasa sama sekali. Temperatur jatuh terjun bebas ke 2°C, tangan saya dengan seketika mati rasa kaku saat mencoba memijit tombol kamera di telepon seluler. Jari-jari dan hidung memerah seketika dan kulit yang tak merasakan apa-apa selain hawa dingin tak tertahankan yang menyayat. Kami belum membongkar apapun sejak turun dari pesawat, sementara sarung tangan saya terletak di bagian tengah tas keril. Terlalu malas untuk membongkar-bongkar dan juga terlalu bernafsu untuk segera berfoto-foto di udara bebas setelah 2 jam lebih tererangkap di dalam mobil. Meski sedikit menyesal karena angin dingin yang kencang sekali lagi di luar dugaan. Gemelutuk gigi yang menggigil sama banyaknya dengan senyum sumringah yang kadang berbaur dengan senyum kecut memperhatikan orang lain yang jalan terseok-seok. Toh nyatanya antusiasme kami sama sekali tak berkurang sedetik pun, hampir setengah jam kami berada di luar untuk berfoto-foto. Perlu waktu 10 menit setelah pemanas dinyalakan pada posisi maksimum saat kembali masuk ke dalam mobil agar tangan saya tidak lagi kebas dan darah hangat mulai mengalir lancar. Kirkjufel mungkin gunung pendek dan sederhana, kalah jauh dibandingkan bukit sekitar apalagi gunung-gunung bersalju di belakangnya. Tetapi ada daya tarik tersendiri mengapa gunung kecil ini menarik perhatian bagi banyak turis dari berbagai penjuru dunia. Jika kata “sensual” dapat disematkan kepada sebuah gunung, maka selain Kirkjufel tak banyak gunung lain di dunia ini yang bisa disebut sebagai gunung yang sensual.

DSCF3253.JPG

Papan informasi mengenai Kirkjufell dan air terjunnya, dilihat dari sisi yang paling dramatis dan paling sering masuk banyak iklan wisata di internet. Keterangan di sisi kanan menceritakan saga tragedi tentang seorang ibu yang kehilangan dua anaknya saat memancing di air terjun. Duka yang memaksanya mengeluarkan kutukan agar tragedi yang sama tak terulang; tak akan ada ikan yang bisa dipancing dan ditangkap di Kirkjufellfoss

*****

Ingatan saya tentang Iceland sebelumnya sangat samar-samar. Pelajaran geografi di SD-SMA tentang pengenalan benua-benua dan negara pasti melewatkan pembahasan Iceland, pun pelajaran sejarah dunia. Meski visa yang digunakan adalah visa negara Uni Eropa Schengen, tetapi toh dia bukan bagian anggota negara Uni Eropa sehingga mata uang yang digunakan berbeda dengan negara Uni Eropa lain. Itu mengapa saya dan teman saya tak sempat mencari-cari dimana tempat yang menyediakan penukaran mata uang krona (ISK) di Indonesia dan mengandalkan ATM di sana dan kartu kredit. Nama Iceland seingat saya baru bisa saya kenali saat saya membaca buku Journey to the Center of the Earth-nya Jules Verne, saat tokoh utama Professor Lidenbrock dan keponakannya si Axel bertualang di dunia bawah tanah setelah berhasil menemukan pintu menuju perut bumi melalui kawah gunung api Snæfellsjökull di Iceland—sudahlah, jangan dipaksakan. Rasanya saya sendiri sudah keblinger untuk melafalkan nama-nama tempat di Iceland saat membaca peta untuk mencari penginapan yang akan dipesan dan tempat wisata yang akan dikunjungi pada penyusunan itinerary, terlalu banyak huruf konsonan dan varian huruf vocal yang ditulis aneh sehingga membuat bingung bagaimana cara melafalkannya. Haha.—Ketika akhirnya saya bisa berdiri di kaki gunung Snæfellsjökull yang ada di belakang Kirkjufel, saya dibuat merinding, entah karena angin super dingin yang menembus semua lapisan baju hangat yang saya kenakan atau juga karena sangat penasaran, apakah memang ada pintu menuju dunia lain di gunung itu seperti buku yang saya baca pada saat saya masih kecil tersebut?

Kawasan tanah Iceland yang beriak-riak oleh kontur perbukitan dan gunung-gunung di mana-mana rasanya membuat kaki gatal untuk bisa mendaki beberapa puncaknya. Tapi puncak salju jelas terlalu sulit untuk ditaklukan karena kami tak membawa peralatan memadai. Pun puncak bukit-bukitnya yang menggoda untuk didaki, terlalu tajam untuk dipanjat tanpa peralatan khusus. Ada banyak sisi vertikal Kirkjufel yang bahkan Spider-Man pun akan kesulitan memanjatnya karena jaring lelabanya akan terbang terbawa angin.

Setelah puas befoto-foto di Kirkjufelfoss (atau lebih tepatnya setelah tidak kuat diterpa angin dingin yang superkencang), kami melanjutkan menuju Þjóðgarðurinn Snæfellsjökull. Namun setelah 30 menit berkendara diputuskan bahwa kami sepertinya harus membatalkan niat berpergian ke tempat itu. Selain karena alasan kondisi badan yang masih lelah berpesawat dan belum tidur dengan benar, juga karena kondisi jalan yang ternyata belum semuanya kering. Musim semi baru saja dimulai di Iceland, salju belum semuanya meleleh di bagian barat Iceland, masih banyak es di lereng-lereng sehingga gunung-gunung terlihat seperti sapi belang-belang berlumuran salju. Jalanan yang belum diaspal terasa licin dan basah sementara jurang-jurang curam menganga di pinggirnya. Setiap maju beberapa meter, kerikil lepas dan mengelinding jatuh ke jurang. Setelah maju beberapa ratus meter mencoba, jalanan makin sukar dilewati, kami memutar balik menuju kota Grundarfjörður dimana kami akan menginap yang tak jauh dari Kirkjufel. Sebelum ke penginapan, kami menepi di sebuah tebing pinggir pantai yang tersedia bangku piknik. Hanya demi berpose ala-ala ‘piknik di bangku pinggir pantai dalam kondisi ceria dengan bekal istimewa buatan mama‘ untuk dipajang di media sosial. Kami menyempatkan menepikan mobil, makan bekal dan berfoto-foto di sana, yang tak berlangsung lama karena angin yang terlalu kencang bahkan membuat apel yang ada di meja menggelinding terbawa angin. Pose yang diinginkan gagal tercipta. Haha.

*****

Hal yang paling terasa di Iceland selain dinginnya adalah betapa sepinya negara ini. Total penduduknya hanya 300 ribuan (bandingkan dengan jumlah penduduk di satu kecamatan di Jakarta yang rata-rata berkisar pada nilai tsb), dimana ¾ penduduk Iceland terkonsentrasi di ibukota negara Reykjavik. Artinya, tidak sampai 100 ribu orang tinggal tersebar di seantero Iceland, padahal ukuran pulau Iceland  tidak jauh berbeda dengan luas area pulau Jawa. Artinya, ada banyak tempat tak berpenghuni di sana (Iceland termasuk negara yang paling rendah tingkat kepadatan penduduknya di dunia). Jangan terkecoh dengan peta Iceland yang seolah penuh nama kota, padahal selain Reykjavik, semuanya hanya pantas disebut desa atau malah dusun. Jumlah rumahnya tiap kota selain kota Reykjavik tak sampai 100 rumah. Bahkan selama di sana selalu menjadi lelucon kami semua karena saat kami melihat papan gerbang selamat datang di sebuah kota, tak sampai 5 menit kemudian sudah menemukan papan selamat tinggal meninggalkan kota. Begitu kecil dan sepi. Karenanya mobil rental kami selalu diisi full tankinya, selalu panik begitu tankmeter menunjuk angka setengah full. Langsung mencari SPBU terdekat ketimbang mobil mogok kehabisan bensin dan terdampar entah di mana yang belum tentu ada mobil lainnya lewat. Untungnya jumlah turis ke Iceland tiap tahunnya hampir 4x lipat jumlah penduduknya, jadi selama kami menempuh jalur standar, dalam periode tertentu sering berpapasan dengan mobil sewaan turis lain di jalan yang kebanyakan lenggang dan sangat menggoda untuk mengebut. Sadar bahwa jalan-jalannya sepi, pemerintah Iceland menerapkan aturan lalu lintas ketat terutama batas kecepatan maksimum 100 km/jam dengan denda besar jika ketahuan melanggarnya. Petugas rental sangat menekankan hal ini yang setelah ramalannya tentang angin terbukti, membuat kami tak berani melanggar karena di beberapa tempat tertentu terutama sekitaran pemukiman, dipasang kamera pengawas.

Kota Grundarfjörður yang akan kami singgahi untuk bermalam, sebetulnya termasuk salah satu kota besar di Iceland, bahkan mungkin termasuk kota terbesar yang kami jumpai pada hari itu selain ibukota Reykjavik—terlihat dari keberadaan gedung sekolah, sebuah toko swalayan, pusat informasi turis, dan gereja. Di pelabuhannya terlihat beberapa perahu bersandar tapi tak terlihat ada aktivitas kehidupan. Jumlah rumahnya tetap terasa sedikit sekali untuk bisa disebut sebuah kota dalam standar di Indonesia. Di taman bermain yang dekat dengan penginapan kami di jalan Hamrahlíð, hanya ada satu anak kecil (mungkin umurnya sekitar 5 tahun saking kecilnya), bermain skuter sendirian sehingga membuat kami sedikit iba. Dua orang akamsi (anak-kampung-sini) alias remaja tanggung terlihat baru keluar dari sebuah café (hanya ada dua buah café untuk melayani turis) berjalan santai dengan mimik suntuk tak tahu harus bagaimana menghabiskan waktu sore mereka. Saat itu sudah menunjukan jam 6, padahal petang baru jatuh pada pukul 11 sore, masih banyak waktu terang sebelum langit gelap untuk dihabiskan sementara satu-satunya area publik dan tempat bersosialisasi yakni café- café tadi tutup jam 7 sore (petunjuk dari petugas penginapan mengatakan bahwa café tutup jam 8 sore, tetapi saat teman saya mau mampir membeli makan malam, pemilik café sudah menutup pesanan terakhir jam 7). Kota yang begitu kecil dan senyap.

Karena merasa waktu menjelang malam masih sangat panjang, setelah check-in kami memutuskan jalan-jalan dulu. Tempat wisata non-alam “terdekat” adalah Bjarnarhöfn Shark Museum, yang terletak di pinggir jalan raya Snæfellsnesvegur antara kota Grundarfjörður dan Stykkishólmur. Petugas penginapan bilang “dekat”, nyatanya kami harus setengah jam berkendara menuju museum (yang sebetulnya rumah pertanian) yang benar-benar di tengah antah berantah. Tak ada rumah lain selain ‘museum’ itu dalam radius 30 km (yang sebetulnya tak mengejutkan kami karena di Iceland jarak antara rumah pertanian bisa saling berjauhan sehingga rerata pemilik rumah pertanian memiliki 5 mobil sebagai cadangan jika satu mobil mogok).

Museum Hiu Bjarnarhöfn terletak di kaki sebuah gunung api purba yang sudah tak aktif bernama Bjarnarhafnarfjall. Ledakan terakhirnya 4000 tahun silam membuat area sekitar museum ditutupi lapisan batu vulkanik hitam berongga-rongga dan tajam, yang permukaannya dilapisi lumut tebal, seolah permadani empuk raksasa menutupi kawasan tersebut (kami bermain-main bahkan berloncat-loncatan di lapisan lumut tersebut setelah pulang dari museum). Kawasan lava beku tersebut yang dinamakan Berserkjahraun punya sejarah dan mitologi menarik. Sebuah saga*** dari abad ke-10, menceritakan seorang petani di daerah itu memperkerjakan dua orang pendatang dari Swedia yang punya ukuran tubuh raksasa. Seorang pekerja jatuh cinta kepada putri petani dan melamar. Tak ingin putrinya dilamar orang asing yang tubuhnya raksasa, di petani membuat syarat lamaran yang terasa musykil; meminta si pekerja membuat jalan raya melintasi Berserkjahraun, ala kisah Sangkuriang. Tak dinyana, kegigihan si pekerja asing ternyata berbuah hasil. Si petani harus menyerahkan putrinya kepada si pekerja. Namun si petani tak terima begitu saja, sehingga dia membuat tipu muslihat. Dimintalah dua pekerja tersebut untuk beristirahat di sauna air panas, saat keduanya lengah dan mabuk si petani mengubur hidup-hidup kedua pekerja asing itu. Seperti kebanyakan saga lain di Iceland, saga Berserkjahraun adalah saga setengah fakta dan setengah fiksi. Penggalian modern ternyata menemukan kerangka dua orang yang bertubuh besar (kondisi tanah Iceland yang dingin dan kebanyakan membeku membuat pembusukan melambat), serta jalan yang dibuat oleh sang pekerja itu masih ada dan menjadi jalan yang luar biasa indah, jalan kerikil yang melintasi padang lava berlapis lumut tebal dan menghubungkan museum hiu dengan kota Grundarfjörður.

Kami sampai di pintu museum sekitam pukul 6.30 sore. Kami tak menemukan satu pun mobil selama perjalanan dari Grundarfjörður menuju museum. Pun saat kami sampai di museum. Hanya ada satu rumah saja yang kami duga sebagai pemilik museum itu. Saking sepinya, saya sempat berspekulasi dan mengeluarkan lelucon, alih-alih kami sebagai turis datang ke museum untuk mendapat hiburan, pada kenyataannya justru si pemilik rumah pertanian dan penjaga museum lah yang terhibur karena kedatangan kami. Begitu terpencilnya lokasi museum ini, membuat saya diterpa keraguan, apakah memang ada turis yang sempat mampir ke museum setidaknya pada hari itu?

Bangunan Museum Hiu Bjarnarhöfn terletak sekitar 20 meter dari rumah pertanian satu-satunya di daerah itu. Begitu kami mengintip dari jendela ke dalam museum, timbul keraguan dan ketidakpercayaan. Hanya ada satu ruangan tunggal yang saya duga dulunya adalah gedung gudang perbaikan kapal. Isi koleksi di dalamnya memang membuatnya lebih pantas disebut gudang ketimbang museum. Awetan burung camar, bangau, puffin, angsa, bebek, elang, dan burung-burung arktik ditumpuk dari lantai sampai langit-langit. Sementara kulit hewan ternak seperti kuda dan domba berserta rusa hingga singa laut bertebaran di setiap penjuru dinding dan aneka tanduk rusa mencuat di atas lemari. Sementara di bagian tengah ruangan ada perahu kayu tradisional berebut tempat di lantai dengan awetan singa laut dan setumpuk peralatan menangkap ikan seperti kail dan jala. Di lemarinya sendiri sudah penuh hampir tak tertampung aneka kostum dan kerajinan ukiran yang banyak dijual di toko cenderamata. Yang penting ‘museum’-nya terlihat penuh. Sementara kulit dan kerangka ikan hiu yang menjadi jualan primadona dan menjadi nama resmi museumnya terlihat digantung di dinding samping kapal dan meja pajangan. Museum pribadi ini berisi barang-barang koleksi pribadi sang nelayan, bukan barang-barang koleksi yang hasil kurasi dan penelitian sebagaimana kami duga sebelumnya, membuat kami sedikit kecele. Papan pengumuman di pintu masuk memberitahukan bahwa museum akan tutup jam 8 malam dan biaya masuk 1100 krona (atau sekitar 150 ribu rupiah), tetapi dilihat dari tak ada pengunjung, kami duga museumnya sudah tutup berjam-jam sebelumnya.

museum2.JPG

Perahu berusia satu setengah abad ini sebetulnya masih laik berlayar, tetapi karena tak bermesin ketinggalan zaman maka berakhir jadi pajangan museum

Tak perlu menunggu lama agar celetukan ‘kayaknya gak usah masuk kalau isinya cuma begituan saja, mahal lagi‘ keluar. Dan kami semua setuju. Begitu hendak berbalik badan kembali ke mobil, dari arah rumah tampak seorang ibu-ibu gemuk yang tampaknya pemilik museum dengan nafas terengah-engah menghampiri kami. Dengan senyuman ramah dan sapaan hangat, si ibu menawarkan apakah kami akan masuk ke dalam museum. Meleleh oleh keramahan dan kehangatan yang dipancarkan oleh si ibu, kami akhirnya luluh dan setuju masuk ke dalam museum dengan alasan sudah tanggung jalan jauh, sekali seumur hidup, dan kasian kepada petugasnya. Memang semudah itu kelompok kami tergoda dan berubah pikiran, haha. Dan ya, sesuai yang bisa kami intip dari luar, sebanyak itulah yang bisa kami lihat di dalam. Tak adanya label keterangan hewan apa atau benda apa yang dipajang membuat kami hanya menebak-nebak saja apa nama dan fungsinya. Sebelum kami benar-benar merasa bosan dan berawai, si ibu mengajak kami menonton video 10 menit mengenai profil museum dan penangkapan ikan hiu. Dan hal menarik yang kemudian diikuti oleh hal-hal yang tak akan kami lupakan selamanya, ternyata baru saja dimulai.

museum.JPG

Salah satu penghuni dan koleksi museum hiu yang ‘unyu-unyu’. Saya tak menyangka jika hewan ini bulunya tebal dan amat hangat

Selama 10 menit, kami menonton proses penangkapan dan pengolahan ikan hiu secara tradisional dimana hiu yang ditangkap kebanyakan jenis hiu Greenland (Somniosus microcephalus) yang sebetulnya menjadi kontroversi isu lingkungan karena sudah langkanya hiu tersebut. Ketika kami mengkonfirmasikan isu sensitif ini, si penjaga museum menanggapinya secara terbuka tanpa tersinggung sama sekali. Dia bercerita bahwa jumlah yang ditangkap sangat dibatasi tiap tahunnya agar menjaga populasinya tidak punah namun juga tidak sampai overpopulasi. Selama 800 tahun, keluarga kecil ini menangkap dan mengolah ikan hiu secara tradisional, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari yang memang tidak banyak. Untuk isu-isu sensitif seperti ini memang kadang kita harus melihat satu hal dari dua sisi, pro dan kontra, agar bisa memutuskan tanpa menghakimi.

Selama pemutaran video dan sesudahnya, dalam keramahtamahan yang tak pernah surut, si petugas menjawab semua rasa penasaran kami terhadap praktik penangkapan ikan hiu. Bahkan tanpa aba-aba dia langsung meminta saya mengenakan baju tradisional nelayan lengkap dengan topi, sarung tangan, dan jasnya sehingga menjadi olok-olok teman saya lainnya. Dan sebelum pulang, si petugas membawa dua buah piring kecil contoh makanan olahan ikan hiu awetan yang dalam bahasa setempat dinamakan kæstur hákarl dan roti khas Iceland cokelat yang dipotong dadu.  Hákarl adalah mimpi buruk saya hari itu.

Atas nama jiwa petualangan, saya mencoba mencicipi hákarl tanpa disertai rotinya. Begitu saya menggigitnya langsung saya menyesalinya. Dari aromanya memang tidak mengindikasikan hákarl bakal jadi makanan enak, tapi saya sama sekali tak menduga kalau rasanya lebih buruk daripada rasa makanan terburuk yang pernah saya cicipi sekalipun. Hákarl bisa jadi makanan paling eksotis dalam hal rasa yang pernah saya cicipi. Teksturnya kenyal seperti nata de coco, sementara rasanya sekilas mirip blue cheese yang sudah apek busuk dengan tambahan aroma dan rasa amoniak berlimpah sehingga berbau dan berasa pesing orang yang kebanyakan makan jengkol. Saya terbatuk-batuk hebat hampir semenit.

DSCF3322.JPG

Hákarl (daging hiu fermentasi berwarna putih) dan roti gandum manis yang disajikan petugas museum. Saya tak ingin menggunakan kata ‘terburuk’ pada makanan, tetapi saya nyaris muntah saat mencicipi hákarl

Aroma dan rasa dahsyat hákarl memang berasal dari kandungan pekat amoniak, hasil fermentasi ikan hiu Greenland yang dikeringkan selama 3 bulan dan diasap agar menghilangkan zat urea dan trimethylamine oxide yang beracun dari daging mentahnya (ikan hiunya tidak bisa langsung dikonsumsi setelah ditangkap). Saya harusnya sudah trauma pada percobaan pertama, tetapi masih penasaran dan kali kedua mencicipinya dengan roti gandumnya yang manis seperti wajik. Ternyata jika dimakan berbarengan rasanya tidak seburuk jika dimakan polosan (meski tetap saya tak akan mau memakannya dalam porsi besar). Ada gudang pengasapan dan pengawetan ikan hiu sejauh 50 meter di belakang museum dimana si petugas mengizinkan kami berfoto-foto di sana. Tetapi dari jarak sejauh itu saja aromanya sudah menyengat tercium dan kami tak ada yang punya keberanian untuk menghampirinya. Saya sendiri tak mau mempertaruhkan makan malam saya yang kehilangan selera jika mampir ke sana.

Begitulah, meski museum hiu Bjarnarhöfn terlihat kecil dan bersahaja, tetapi ada banyak kejutan di dalamnya yang mengajari saya banyak hal. Pemandangan sekitarnya yang dramatis dengan mitos dan saga menariknya, pelajaran singkat mengenai tradisi keluarga tua dan isu lingkungan kontemporer yang mengancam keberlangsungan mata pencahariannya, hingga pengalaman-pengalaman kecil seperti hákarl. Sesungguhnya saya akan merekomendasikan tempat ini kepada siapapun yang akan mengunjungi Iceland untuk sebuah pengalaman sederhana dan tak terlupakan.

DSCF3334.JPG

Gudang pengasapan dan fermentasi hákarl yang cukup puas difoto dari jauh saja. Di latar belakang, di puncak bukit terlihat volcanic neck yang menandakan bahwa dulunya tempat ini adalah kawasan kawah gunung api aktif

*****

Ketika kami kembali ke penginapan di Grundarfjörður, jam sudah menunjukan pukul 7 sore. Hari masih sangat terang meski kabut yang datang dari laut mulai merayap dan membawa rintik-rintik hujan. Semua toko dan aktivitas kehidupan sudah sepenuhnya lenyap dari kota itu. Tak ada yang bisa kami lakukan lagi, kami segera ke penginapan untuk memasak bekal pasta dan membuat sandwich. Setelah makan, otomatis kami kembali ke kamar masing-masing. Meski sudah ‘malam’ dan waktunya tidur, tetapi langit masih benderang. Semua jendela di Grundarfjörður tidak ditutupi gorden. Uap air panas geothermal yang menghangatkan kamar kadang terlalu panas sehingga jendela yang terbuka membuat transfer panas ke luar rumah berlangsung untuk membuatnya tetap selalu sejuk dan nyaman. Dan mungkin di saat yang tepat, jendela kamar yang terbuka bisa membuat penghuninya langsung melihat keindahan tarian aurora di langit (kunjungan saya ke Iceland adalah musim semi sehingga langit terlalu terang untuk bisa melihat aurora).

Malam baru mulai benar-benar gelap jika sudah jam 11 alias masih 4 jam lagi menuju sana, sehingga untuk mengisi waktu luang saya membaca buku Independent People di kamar sambil sesekali membalas chatting di telepon seluler. Jam 9 malam, seseorang di Indonesia meminta saya memfoto kondisi kota Grundarfjörður sehingga saya keluar sebentar untuk memfoto kota ‘hantu’ ini sejenak di luar penginapan. Dan sekali lagi saya kecele. Ada kata khusus yang hanya muncul dalam bahasa Icelandic namun tak ada terjemahannya dalam bahasa lain selain deskripsi panjang. Kata “Gluggaveður” secara definisi berarti “melihat keluar jendela dimana segala sesuatu terasa tenang tak ada angin sedikitpun bahkan rumput tampak diam membisu sementara sinar matahari terlihat hangat dan nyaman, dan ketika kamu ingin menikmati cuaca yang nyaman tersebut dan berjalan keluar rumah dengan baju tipis, tiba-tiba kamu menyesalinya karena harus membawa jaket tebal“. Gegara ingin mengabulkan permintaan foto di luar rumah itu, saya harus mengalami gluggaveður, keluar masuk penginapan karena awalnya disangka bakal bercuaca hangat dan nyaman, malah harus kembali ambil jaket karena kedinginan begitu membuka pintu penginapan. Kota Grundarfjörður sendiri tampak seperti kota yang muncul dalam cerita-cerita horor. Benar-benar tak ada orang padahal langit masih sangat terang. Suasana terasa hening dan mencekam. Dan juga damai.

Capture5.JPG

Jam 9 malam, sinar matahari masih terlihat calak menyinari puncak-puncak gunung bersalju yang ada di belakang penginapan

Pada saat bermobil menuju Grundarfjörður, salah satu lagu yang diputar di radio FM berbahasa Inggris adalah lagu Donovan**** yang berjudul Deep Peace. Baru kali itu saya merasa bagaimana sebuah lagu bisa begitu cocok dengan setting lingkungannya saat diperdengarkan, dalam kondisi yang sangat intim dan nyata sekali. Sambil melanjutkan pembacaan buku Independent People, saya memutar video lagu Deep Peace secara berulang-ulang. Di malam yang masih terang, sedikit linglung apakah hari sudah malam atau masih sore, saya berbaring di kasur kamar dengan jendela terbuka sambil membaca buku dan mendengarkan musik. Buku yang membius. Lirik lagu yang menghipnotis. Alam yang melenakan. Kota yang syahdu. Saya bahkan tak tahu kapan saya mulai jatuh luruh tertidur. Saya tertidur dengan damai.

Kedamaian yang datang dari gelombang laut yang terhempas, kedamaian dari semilir udara yang berderai, kedamaian dari bumi yang membisu, kedamaian dari bebatuan yang tertidur pulas, kedamaian yang menjemput angin yang merapah, kedamaian ketika kerumunan bintang berpijar, kedamaian yang dibawa hembusan angin dari timur, kedamaian yang datang dari desiran angin dari utara, kedamaian yang menyertai derauan angin yang melaju dari selatan yang membawa nuansa biru, kedamaian saat api menari yang berwarna merah kudrati, kedamaian saat menyaksikan rembulan perak yang bersinar lembut, dan kedamaian yang terpancar dari hijaunya rerumput yang membeku. Kedamaian sejati dan mendalam.

 

 

(bersambung)

Catatan Tambahan

*          = Sejak zaman-zaman susah (yang terus berlangsung hingga sekarang kesusahannya, hehe), saya lebih senang berburu buku bekas ketimbang buku baru. Selain masalah harga, ada alasan utama mengapa berburu buku bekas lebih mengasyikan. Meski tidak selalu, tapi nyaris setiap perburuan menghasilkan buku-buku ‘eksotik dan langka’. Seperti pada kasus buku Halldór Laxness ini, menemukan buku barunya dijual di toko buku biasa mungkin akan sangat sulit atau nyaris mustahil. Hanya dengan mengandalkan orang-orang khilaf yang menjual buku bekasannya untuk akhirnya terdampar di toko buku loakan lah, ada probabilitas untuk mendapatkannya. Ada beberapa tempat buku loakan asyik di Bandung, tetapi jika ditanya paling favorit apa saja, saya akan menjawab dua saja; lapakan buku trotoar Jalan Dewi Sartika dekat alun-alun Bandung dan bookcafé Reading Lights yang cuma tinggal menyeberang jalan saja dari kostan (sayang yang kedua sudah tutup). Sabtu sore, sambil menunggu janjian dengan seseorang, biasanya saya sudah mangkal di salah satu tempat itu dua jam sebelum dari jam yang dijanjikan supaya ada alasan untuk mengubek-ubek buku dulu untuk mencari stok baru (saking seringnya, saya sampai hafal lokasi buku-buku tertentu ada di baris mana di deretan/tumpukan sisi mana, haha). Nyatanya, dua jam mengacak-acak tak pernah cukup. Selalu berakhir dengan kepala saya dikepruk, telinga saya dijewer, atau tangan dicubit karena saya tidak mengangkat puluhan miscall, tak membaca beberapa SMS atau WA karena keasyikan mencari-cari. Meski selalu berakhir dengan penderitaan, saya tidak pernah kapok dan usulan cari tempat lain selalu sukses saya hindari. Beberapa koleksi paling berharga saya seperti karya-karya Leo Tolstoy, Roberto Bolaño, Ayn Rand, James Joyce, Umberto Eco,  Gabriel García Márquez, William Faulkner, George Orwell, Fyodor Dostoyevsky, hingga Salman Rushdie ditemukan di kedua tempat ini. Karena buku-buku tersebut berbahasa Inggris dan jarang peminat, saya bisa mendapatkan buku tsb dengan harga yang sangat murah dengan alasan klasik, ‘ketimbang tak laku, mending jual murah saja ya, Pak, hehe’, yang dengan tampang memelas saya selalu sukses membawa masing-masing buku dengan haga tak melebihi 50 ribu rupiah. Biasanya sambil menggotong buku hasil dari loakan, kami menghabiskan waktu nongkrong depan alun-alun Bandung sambil jajan jajanan cemilan gerobak murah (dan mungkin beracun, haha) atau nonton bioskop murah Galaxy 21 di Kepatihan yang soundsystem suaranya begitu buruk sehingga jika ada musik latar dimainkan meski pelan, dialog dalam film hilang tak terlumat. Tetapi ya dana kami yang terbatas hanya mampu menonton di sana karena jatah uang jajan habis buat membeli buku, hehe. Sayang bioskop murah ini tutup 3 tahun lalu. Ah sudahlah. Nostalgianya segini saja ya (nanti diteruskan di postingan lain saja). Haha.

**         = Dengan mengabaikan partikel-partikel hidrogen yang kabur ke luar angkasa sesuai mekanisme kelolosan Jeans sehingga mengurangi jumlah atom hidrogen di atmosfer terluar planet bumi (alias mengurangi bobot bumi) serta meteorit-meteorit yang jatuh terperangkap gravitasi sehingga menambah massa bumi, kedua peristiwa ini secara umum tidak mengurangi/menambah massa planet bumi secara signifikan. Alias, bisa dikatakan massa planet bumi relatif stabil. Artinya, partikel-partikel atom di bumi yang digunakan makhluk hidup di zaman dinosaurus sama dengan atom-atom yang digunakan zaman telepon seluler layar sentuh, begitupun atom-atom oksigen yang kita hirup. Molekul-molekul oksigen tentu saja mengalami perubahan bentuk tidak melulu berupa gas, melalui reaksi biokimia dan geokimia, oksigen yang kita hirup pas bayi bisa saja terperangkap dalam batuan atau jaringan kutil pada tumit seekor sapi ratusan tahun ke depan. Tetapi jumlah oksigen yang relatif konstan di bumi memungkinkan untuk atom-atom oksigen yang saya hirup di Iceland adalah atom oksigen yang sama yang sebelumnya dihirup juga oleh beruang kutub. Kita berbagi oksigen yang sama dengan hewan, tumbuhan, dan bakteri-bakteri. Dua puluh ribu kali sehari kita bertukar udara yang sama yang bisa saja minggu lalu masuk ke dalam paru-paru presiden dan dua minggu sebelumnya masuk ke paru-paru pengemis jalanan. Setiap nafas yang kita hirup, setiap air yang kita teguk, setiap makanan yang kita telan, semuanya pernah melewati lubang pernafasan dan pencernaan makhluk lain. Atom-atom ini sudah hadir sejak lama di bumi untuk memberi berkah dan kesempatan bertahan hidup bagi para makhluk-makhluknya.

***        = Saga atau kisah kepahlawanan tokoh masa lalu (atau bisa juga kisah mengenai asal-usul suatu tempat) menjadi salah satu harta karun nasional Iceland yang amat mereka banggakan. Jumlah saga yang ada di Iceland memang sangat mencengangkan, hampir setiap keluarga punya kisah masing-masing mengenai asal-usul keluarga mereka yang berkaitan dengan dewa-dewa dan makhluk mitologi, hampir setiap tempat punya cerita legenda masing-masing mengenai asal-usul kejadiannya. Kebanyakan cerita saga ini dibuat sekitar 500 hingga 1000 tahun lalu dan ditulis dalam perkamen dari kulit domba. Saking banyaknya jumlah saga yang ditulis bangsa Iceland, membuat para sejarawan dan budayawan bingung, bagaimana bisa negara dengan penduduk sesedikit itu bisa menghasilkan begitu banyak karya saga? Ada begitu banyak teori yang diajukan, seperti teori populer yang bilang bahwa leluhur bangsa Iceland yang datang dari suku Nordic di Eropa Utara, ketika menetap di Iceland dan terpisah dari daratan utama kemudian mengembangkan cerita-cerita agar mengingatkan mereka kepada tanah dan dewa-dewa leluhur. Saga dianggap sebagai tali komunikasi yang menegaskan dan menguatkan identitas mereka agar generasi berikutnya tidak lupa. Teori yang lebih realistis, dan menjadi favorit saya, mengatakan bahwa kondisi iklim keras di Iceland lah yang memacu orang-orang sana menulis cerita saga. Bayangkan dirimu terperangkap tak bisa keluar rumah di musim salju selama 6 bulan setiap tahun. Ada banyaaaakkk waktu yang harus dihabiskan. Satu-satunya hiburan dan pelampiasan yah menulis cerita di kulit domba. Haha.

****       = Donovan, yang bernama lengkap Donovan Philips Leitch, bisa dikatakan sebagai Bob Dylan-nya orang Inggris. Sudah aktif sejak zaman The Beatles mulai berkarir (dialah yang mengajari John Lennon teknik gitar ‘cubit’ sehingga Lennon keranjingan menerapkan teknik tsb di lagu-lagu The Beatles seperti Dear Prudence), Donovan juga membuat dunia berutang, karena kontribusi dialah kita mengenal nama band Led Zeppelin. Donovan terkenal sebagai penulis lagu yang berlirik lugas, bersahaja, jujur, namun ‘bertenaga’. Hanya sedikit penyanyi pria solo yang membuat saya bisa kagum dan menaruh hormat begitu tinggi selain Donovan. Pada awal karirnya, Donovan sering dibandingkan dengan Dylan (pun sebaliknya) sehingga membuat keduanya menjadi rival bagi yang lainnya. Satu dari 50 lagu terbaik sepanjang masa versi saya adalah Catch the Wind dari Donovan. Lagu yang selalu membuat saya merasa sendu saat mendengarnya namun selalu bersemangat setelah mendengarnya. Melodis, melankolis, puitis, bahkan ada jejak patriotis di dalamnya. Kombinasi langka yang tak bisa kita temukan dalam setiap lagu. Jenis lagu-lagu yang hadir dalam sejarah karena kita sebagai manusia, memang membutuhkannya.

Advertisements

5 thoughts on “Gunung Kirkjufel, Iceland, Mei 2017 [bag. 1]

  1. Halo Qui,

    Kalau di kawasan Depok dan Jakarta untuk cari-cari buku berkualitas bisa kasih rekomendasi ke gue enggak? Gue paling maennya ke UI di tempatnya Cak Tarno, tapi Cak Tarno gak jual buku bekas…malah gue yang jual buku bekas ke dia… 😀 hihihihi…

    Like

      • Halo Leo,

        Untuk Depok, dulu sebelum ada reformasi besar²an di stasiun² kereta, di dekat² stasiun kereta UI dan Pondok Cina ada banyak sekali lapak buku bekas. Kebanyakan novel² dan buku pelajaran. Kalau rajin menyisir satu² kadang menemukan buku unik. Tapi setelah penggusuran besar²an lapak²nya pada pindah. Sayangnya saya tak tahu pindah kemana. Soalnya di mal² yg ada di Depok, saya tak menemukan satupun lapak buku bekas. Entah pada pindah ke mana. Satu²nya kios buku bekas yg pernah saya temui sekarang di Depok adalah yg di jalan Juanda. Tapi koleksinya sepertinya tak bisa diandalkan, stok lama dan kondisinya mengenaskan. Tapi sebagai bahan nostalgia mencari buku bekas, tak ada salahnya untuk dicoba.

        Untuk nasib kota sebesar Jakarta juga tak jauh lebih baik. Pencarian romantisme dari lapak buku² bekas semakin susah setelah dibubarkannya kawasan Kwitang dan Senen. Masih ada sebagian kios di Senen yang bertahan, tapi kebanyakan mencetak buku² repro dari Pram atau terbitan² buku baru yg dianggap best seller zaman sekarang. Di sana kamu bisa menemukan buku² repro Pram 30-50 ribu saja.

        Bagaimana pun, satu²nya tempat di Jakarta untuk berburu bekas yang saya rekomendasikan cuma satu, yakni kawasan lantai dasar Blok M Plaza. Awalnya mereka pedagang² asal Kwitang dan Senen juga. Tapi ya zaman sekarang ini… Peredaran buku² sangat cepat sekali. Jangankan toko buku bekas, toko buku baru aja terseok-seok terus. Pun yang di Blok M, jumlah dan ukuran kiosnya selalu semakin menyusut tiap kali saya ke sana. Tapi kalo ulet ya tetep saja bisa menemukan satu dua judul buku² bekas menarik. Seperti halnya kawasan Senen, yg blok M juga banyak dijual buku² repro. Kadang tersempit buku² berbahasa Inggris bekas di sana yg menarik². Tapi perlu gigih dan kebal telinga ditawari dan ditanya²i oleh pedagang sana yang putus asa belum mendapatkan konsumen di hari itu seharian. 😦

        Begitulah. Apalagi sejak zaman demam batu akik, pedagang² blok M banyak yg nyambi juga jualan batu akik. Sekarang demam batu akik habis, makin habislah modal mereka. Sejujurnya saya juga makin malas datang ke sana. Terlalu kasian kepada pelapak sehingga kalau sudah ubek² lama terus gak nemu jadi gak tega. Dulu saya bisa seharian sendiri ubek² lapak buku bekas. Sekarang sih sejam saja sudah masuk rekor. Sekarang saya lebih mengandalkan internet; lapak² jualan buku bekas di grup² Facebook (satu²nya alasan masih main FB) atau Goodreads, situs² jualan dari dalam maupun luar negeri. Cuman ya itu… Keseruan, keasyikan, dan terutama romantisme serta nostalgia cari buku² bekasnya sudah hilang. 😦

        Salam,

        Q

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s