Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 3]

“It’s funny how the colours of the real world only seem really real when you viddy them on the screen.”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

* ‘viddy’ is a Nadsat slang for ‘see’, Nadsat is a false language spoken by teenager in A Clockwork Orange

Kami menyebutnya sebagai “Minuman Kemenangan”. Tak ada yang spesial sesungguhnya. Biasanya yang disebut sebagai Minuman Kemenangan berupa minuman sereal, susu, bandrek, atau beberapa teman saya memilih kopi sachetan. Adapun penyebutan yang terkesan norak, alay, dan eksesif tersebut disebabkan karena kami meminumnya hanya saat mendaki gunung, tepatnya di pos terakhir perkemahan sebelum menaklukan puncak. Dengan segala kepayahan setelah pendakian seharian, istirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian esok dini harinya sangat diperlukan. Saat istirahat rileks dipenuhi canda tawa (atau caci maki meledek teman) itulah Minuman Kemenangan disajikan. Meski tak ada kesepakatan tegas di antara kami, tetapi gelar Minuman Kemenangan hanya disematkan untuk minuman di momen itu saja. Di saat-saat lain, misal berkumpul biasa di pos-pos pendakian lain, tak ada yang menyebut-nyebut “Minuman Kemenangan” meski yang disajikan sama saja. Minuman Kemenangan hanya disajikan saat kami sudah berjuang susah payah, menikmati setiap tetes keringat pendakian seharian, melepas segala kelelahan dengan kegembiraan, meresapi setiap kenikmatan kebersamaan sekecil-kecilnya, dan mensyukuri setiap anugerah keselamatan hidup yang mengiringi. Di Ambon, untuk pertama kalinya, setelah berjuang dan menikmati snorkeling seharian di Pantai Ora, kami harus mematahkan “kesepakatan” tersebut. Kami menegak “Minuman Kemenangan” lain, dalam bentuk yang… well… tak saya duga sebelumnya.

*****

Ketika malam sudah datang, setelah kelelahan seharian ber-snorkeling ria, kami makan malam di restoran terapung di bungalo Pantai Ora. Berbeda dengan malam sebelumnya yang lebih bersih dan cerah, udara malam itu seperti dipenuhi mantra yang mendatangkan kantuk, angin datang sesekali dengan gerakan lamban seolah kekenyangan kebanyakan makan. Turis-turis yang kemarin kami jumpai sudah lenyap, kembali pulang ke Ambon untuk melanjutkan tujuan mereka berikutnya. Praktis hanya rombongan kami yang masih bertahan menginap di bungalo Pantai Ora. Karena letaknya yang begitu terpencil, turis datang bergelombang, memadat di musim liburan dan menyurut di hari-hari biasa. Malam itu, kami mendapati saat penyusutan. Namun berdasarkan pengakuan petugas yang berjaga, tak pernah (atau sangat jarang sekali) Pantai Ora kehilangan pengunjung. Selalu ada satu atau dua orang turis yang datang bahkan pada hari-hari tersepi dan laut paling banyak gelombang. Pantai Ora yang sulit diakses dengan lokasi yang jauh dari kota besar, membuat orang-orang memesan tiket jauh-jauh hari sehingga mereka tak sadar mungkin saat itu sedang musim angin kencang. Begitulah, malam itu hanya rombongan kami saja yang makan. Musik di restoran tidak lagi memutar lagu-lagu romantis seperti malam sebelumnya, memutar lagu-lagu pop yang lebih baru dan ceria yang tak bisa saya tebak judul dan penyanyinya. Kami yang masih lelah seharian berenang, menghabiskan makan malam dalam banyak kesenyapan. Hanya berceloteh sesekali, lima belas menit kemudian kami kembali ke bungalo. Dan baru terasalah, bahwa di malam hari saat sepi pengunjung, Pantai Ora memang sedikit menyeramkan.

Dipisahkan dari pemukiman terdekat oleh perairan teluk yang dalam, Pantai Ora semakin terisolir karena bagian belakangnya langsung berupa lereng tajam curang pegunungan yang nyaris mustahil untuk didaki. Di kegelapan malam, siluet rumbaian dedahanan pohon bergerak aneh saat angin lamban menggoyangkannya, bergerak dalam formasi yang nyaris seperti melambai-lambai. Ketika berjalan dari restoran menuju penginapan, mesin generator mati, teman saya menjerit kaget, kami menimpali dengan cekikian mencemooh yang kagok karena sedikit kaget juga. Langit gelap karena mega tebal bertumpuk-tumpuk berjejalan di atas kepala kami, segelap hutan yang tak tertembus di lereng belakang pantai. Laut seolah membeku, hanya kecipakan ikan-ikan yang menandakan bahwa masih ada kehidupan selain kami di sana. Saya bertanya menggoda, ‘sebelum tidur kita cerita horror yuk…’, yang sebelum saya tuntaskan, semua orang menatap saya dengan mata murka siap melempar saya ke laut. ‘Ok, kita langsung tidur.’ Saya tak mau mengakhiri malam dengan tidur bersama ikan dan ranjungan.

Bagaimanapun, meski setelah sampai ke bungalo dan listrik menyala kembali, kami tak segera tidur seperti rencana semula. Sinyal telepon seluler memang terbatas, terlebih dengan cuaca sumuk seperti itu, sinyalnya praktis hilang sehingga satu-satunya hiburan kami adalah membuka-buka koleksi foto yang seharian kami ambil. Ternyata saya yang sedang memegang kamera anti air saat hendak memoto ikan kaka tua itu, secara tak sengaja merekam detik-detik sebelum kami tergulung ombak besar. Hanya sebentar saja kami melihat-lihat foto karena kantuk dan kelelahan menggelantung di kelopak mata kami dengan beban puluhan ton. Setengah jam kemudian, kamar kami sudah senyap terlelap, sesenyap Pantai Ora itu sendiri.

G0574725.JPG

Inilah foto detik-detik sebelum ombak besar datang menggulung kami saat bersnorkeling ria di Pantai Ora, direkam otomatis dan diambil tiap beberapa detik. Teman saya tak menyadari adanya ombak yang datang dari arah belakang dia, yang semakin lama semakin membesar

G0574726.JPG

Foto-foto berikutnya adalah seperti ini, artinya, saat itu saya sedang berguling-guling terhempas di antara koral tajam.

*****

Saya terbangun lebih lambat daripada hari sebelumnya, jam empat pagi. Dengan kaki yang masih terpincang-pincang, saya bangkit dari kasur empuk dan berjalan ke beranda. Mega masih cukup tebal menutupi kaki langit, hanya beberapa bintang pucat mengintip di bagian puncak langit. Karena tertutup sebagian, saya tak yakin bintang apa yang terlihat, Regulus mungkin. Saya yang masih kelelahan dan mengantuk, awalnya ingin melanjutkan membaca buku, tetapi malah berakhir dengan memejamkan mata bersantai dengan memutar Caprice Op. 4-8 dari Paganini* hingga saya melewatkan fajar di hari itu, memejamkan mata menikmati kesenyapan dini hari buta tetapi tidak tertidur. Sangat aneh sebenarnya mendengarkan nada-nada supercepat biola pada kondisi yang super lamban dan malas seperti itu. Ketika teman saya bergabung dengan saya di waktu yang lebih terang kemudian, saya masih dalam posisi serupa.

Ada celetukan tak serius untuk mengajak snorkeling yang dibalas keriuhan keluhan badan masih pegal-pegal. Laut Pantai Ora masih sejernih dan sebening kemarin, tetapi tenaga kami sudah terhisap sepenuhnya tanpa ada tanda-tanda pulih meski tidur lelap sebelumnya. Tak lama kemudian kami langsung mandi, sarapan, dan berkemas. Itu adalah hari terakhir kami di Pantai Ora. Sialnya, begitu membawa tas untuk keluar kamar, ikan kepe-kepe yang berwarna mencolok muncul dalam jumlah banyak di bawah bungalo, memanggil kami untuk segera terjun berenang menghampirinya. Kami hanya bisa menggigit jari menyaksikan kawanan ikan yang bak taburan kembang gula aneka warna tersebut berseliweran di bawah bungalo. Setelah memuaskan diri dengan berfoto-foto untuk terakhir kali dengan pose-pose yang nyaris tak senonoh, kami berpamitan dengan petugas sambil menyerahkan kunci kamar. Saat itulah terdengar kapal turis baru menghampiri Pantai Ora. Benarlah kata petugas yang berjaga, bahwa pengunjung Pantai Ora memang tak pernah sampai kosong sepanjang tahun, selalu ada yang datang silih menggantikan. Dan akhirnya, kapal yang akan mengantarkan kami ke Desa Saleman sudah datang, artinya kami harus meninggalkan Pantai Ora. Pada saat perpisahan itu, setiap pelosok pantai terasa asing meminta untuk dijelajahi, ada banyak ceruk terumbu yang menggoda dan seolah terlewatkan di hari sebelumnya. Ada godaan kuat untuk semakin lama menghabiskan waktu di sana, atau keinginan untuk mengunjungi kembali. Aduh.

wp_20161107_09_12_45_panorama

Pantai Ora pagi hari sebelum kami pergi, senyap. Tak ada pengunjung lain.

*****

Supir yang akan mengantar kami kembali ke Pelabuhan Masohi di kota Amahai berbeda dengan supir yang mengantar kami ke arah sebaliknya dua hari yang lalu. Berbeda dengan sopir sebelumnya yang lebih berhati-hati dalam bercerita—terutama cerita politik yang sedang menghangat di sana atau cerita mistik di hutan-hutan yang akan kami lewati, supir yang baru berbicara dengan lebih bebas. Yang tentu saja tak saya sia-siakan untuk mengorek banyak keterangan darinya. Sudah bisa ditebak, perjalanan 3 jam diisi banyak lanturan kemana-mana. Kondisi politik, fenomena makhluk mistik, kebiasaan adat dan budaya klenik masyarakat Pulau Seram hingga keheranan saya mengapa masyarakat Pulau Seram yang lahannya sedikit diisi pesawahan tetapi mayoritas masyarakatnya mengkonsumsi nasi, bukan sagu. Di Pulau Seram yang beriklim lembap panas, hanya menyisakan lahan tandus yang terlalu kering untuk ditanami padi—ada beberapa sungai lebar dengan jembatan panjang yang kami lewati, tetapi sungai-sungai ini hanya berair dangkal dan sedikit, tipe sungai musiman yang hanya penuh saat musim hujan lebat, pun itu sesaat**. Tetapi bukan berarti tak ada sawah sama sekali, di daerah Kobisonta di Seram Utara, Gemba di Seram Barat, dan Banggoi di Seram Selatan, ada beberapa area pesawahan tetapi jumlahnya terbatas dan tak cukup memenuhi kebutuhan padi seluruh pulau, padi tetap diimpor dari Jawa. Sementara sagu, yang kalah pamor oleh padi, semakin lama semakin tersisih. Cukup ironis sebenarnya, sementara pemerintah menggalakan program pangan alternatif non-nasi, opsi seperti sagu semakin terdesak karena kalah gengsi. Karenanya cukup sulit bagi kami untuk mencari restoran yang menjual papeda (tepung sagu yang direbus air panas sehingga menjadi tepung kanji tawar) atau sinole (tepung sagu dicampur parutan kelapa dan direbus, rasanya sedikit manis karena tambahan kelapa tadi). Saya baru bisa mencicipi papeda saat kembali di Ambon, itupun setelah mengubek-ubek pasar tradisionalnya.

Dalam perjalanan bermobil itu pula, saya diceritakan mengenai peristiwa berdarah yang pernah menimpa Desa Saleman. Sekitar tahun 2005 dan 2009, warga Desa Saleman yang beragama Islam, berkonflik dengan warga Desa Harole yang beragama Nasrani. Tak jelas pemicunya apa, namun untuk dikotomi sosio-religi seperti itu, sudah pasti motif agama yang dijadikan alasan untuk saling membunuh selalu merupakan pembenaran. Menurut cerita supir yang mengantar, malam sebelum terjadi penyerangan, makhluk mistis Lusiala yang dianggap menjadi pelindung desa tidak muncul terbang seperti biasanya di saat senja. Meski konfliknya sudah terjadi hampir 10 tahun lalu, jejak konflik ini masih terlihat jelas; jalan menuju Desa Saleman masih berupa jalan berbatu menembus bukit curam tajam. Sebelum konflik, akses menuju Desa Saleman adalah melalui Desa Harole, namun sejak konflik meletus, warga Desa Saleman membuat jalur terpisah yang lebih memutar dan menanjak. Baru beberapa bulan belakangan saja jalannya diberi aspal, itupun karena tuntutan pariwisata, bagaimana mungkin jalan menuju Pantai Ora yang terkenal indah malah melewati jalanan berbatu rusak? Semoga kehermonisan antara dua desa ini tetap terjaga seterusnya. Sangat disayangkan jika tempat seindah surga seperti itu dihantui konflik dan kekerasan.

Sesampainya di pelabuhan Masohi, kami langsung naik kapal lintas pulau yang disesaki penumpang. Saya tak menyangka kapalnya akan sedemikian sesak padahal pelabuhannya begitu lengang. Untungnya sudah dipesankan tiket VIP sehingga bisa duduk nyaman. Saya tadinya berniat berjalan-jalan ke kelas yang lebih rendah, tetapi asap rokok yang mengepul banyak membuat saya memutuskan lebih baik duduk di kursi saja. Ketimbang saat berangkat yang berisik dengan musik Jamaika, perjalanan pulang lebih sepi karena yang diputarkan adalah film silat lama. Adegan silatnya yang kaku dan dialog-dialognya yang corny memang terasa menggelikan dan klise saat ditonton sekarang, tetapi entahlah ketika dulu saya menontonnya zaman SD malah terlihat seru dan keren. Haha. Duduk di sebelah saya seorang anggota TNI yang memasang tampang tegang sepanjang perjalanan sehingga membuat saya semakin malas untuk mengajaknya bercakap-cakap. Maka saya pun tersedot dalam kisah menggelisahkan A Clockwork Orange.

*****

Saat saya sampai kembali ke pulau Ambon, matahari sudah hampir turun ke cakrawala barat. Supir yang mengantar kami sebelumnya sudah menunggu di parkir pelabuhan, kami yang kelelahan langsung meminta untuk diantar ke hotel yag sudah dipesan sebelumnya. Saya dan si supir menuntaskan janji kami untuk meneruskan cerita petualangan kami dalam mendaki gunung-gunung di Sulawesi. Dalam perjalanan menuju hotel, si supir sengaja memilih jalur jalan yang melintasi Jembatan Merah Putih yang diucapkan si supir dengan nada kebanggan yang tak bisa ditutup-tutupi. Pulau Ambon bisa dikatakan berbentuk huruf “V” dengan Teluk Ambon yang menjorok jauh ke dalam. Jembatan Merah Putih memotong leher hurufnya sehingga Pulau Ambon menjadi huruf “A”. Jembatan yang baru diresmikan pertengahan tahun 2016 ini—tiang-tiang penyangganya masih terlihat sangat baru—mendapatkan namanya dari tali-tali baja penyangganya dicat merah sedangkan tiang-tiang penyangganya dicat putih. Menurut pengakuan si supir, saat itu sedang dipasang lampu sorot untuk tiang-tiang utamanya agar berwarna bianglala di malam hari. Cara si supir yang begitu amat semangat menceritakan (dan membanggakan) jembatannya mau tak mau menulari kami. Saya memang telah melihat jembatan lain yang tak kalah mengesankan seperti Ampera di Palembang, Suramadu di  Selat Madura atau tol atas air di Denpasar, tetapi tak ada keinginan untuk berfoto berlatar jembatan-jembatan tsb saat melaluinya. Sedangkan saat di Ambon, dengan memasang muka tebal, saya meminta supir untuk menepikan kendaraan di pinggir jembatan dan berfoto ria di pinggir jalan. Norak dan tidak aman tentu saja, tetapi toh kami bukan satu-satunya yang bersemangat berfoto. Bahkan warga setempat pun mengular sepanjang jembatan untuk berfoto. Tempat ini adalah ikon terbaru di Ambon, dan sedang ngehits. Haha.

Saya sampai di hotel hanya untuk menaruh barang, sementara teman-teman saya yang kelelahan di ferry dan di mobil memutuskan untuk beristirahat di hotel dan berjalan-jalan sekitar hotel, saya memutuskan untuk memulai petualangan berkeliling kota Ambon di malam hari. Kami memang berencana berkeliling Ambon esok hari, tetapi saya memutuskan untuk memulainya lebih awal. Petualangan malam hari akan berbeda sensasinya ketimbang siang hari, kan? Tujuan pertama saya tentu saja ikon ‘lama’ kota Ambon yakni Gong Perdamaian yang ternyata gelap total di malam hari sehingga tak ada yang bisa untuk difoto dengan cukup jelas, serta Lapangan Merdeka yang meski penerangannya seadanya ternyata sangat ramai. Di tengah lapangan bola yang mendominasi porsi lapangan, separuh lapangan digunakan tim sepakbola SMA untuk latihan sementara separuhnya lagi digunakan tim sepakbola sebuah kampus. Ada juga lapangan basket yang tak kalah ramai, sementara bagian pendopo diisi rombongan latihan tari anak-anak SD yang membuat suasana lapangan semakin semarak antara teriakan supporter olahraga dan tetabuhan pengiring tari-tarian. Sementara di bagian selatan lapangan, berdiri megah bangunan kegubernuran yang memasang tulisan display lampu raksasa yang bertuliskan ‘orang Maluku harus selalu senyum’ yang mau tak mau membuat saya tersenyum juga saat membacanya. Tulisan ‘Ambon Manise‘ berwarna jingga memisahkan lapangan sepakbola dan basket. Di sebelah timur Lapangan Merdeka berdiri dengan gagah Patung Pattimura yang dalam kondisi lampu temaram menciptakan sebuah siluet raksasa yang gagah, sedikit menyeramkan, namun melindungi. Sementara taman-tamannya yang remang-remang diisi anak-anak muda yang sedang bersama-sama mengisi malam dengan berbagai obrolan atau seperti saya yang sekedar bengong menikmati kemeriahan dengan makan cemilan rebusan kacang.

Ada sekitar sejam saya duduk-duduk di sana sambil membaca buku, namun ketika ada rombongan remaja putri yang cekikikan sambil menunjuk-nunjuk saya, akhirnya saya berkemas, toh perut sudah lapar. Di area dekat pasar di Jalan Sam Ratulangi, sepanjang jalan dipenuhi penjual makanan ikan/ayam goreng/bakar yang aromanya menjejali udara sepanjang jalan itu yang kesemarakan penjualnya mengingatkan saya pada Jalan Malioboro di Yogya. Saya datang dan menemukan jalan itu murni mengikuti insting lambung dan tuntunan indera penciuman belaka. Satu porsi besar ikan samadar (penduduk Jawa lebih mengenalnya sebagai ‘ikan baronang’), tandas dalam tempo kurang dari setengah jam. Mengandalkan peta digital, saya berjalan menuju Benteng Victoria yang berada tak jauh darinya. Saya berusaha mengais-ngais dalam memori saya, apa yang saya ingat dari nama tempat ini di pelajaran sekolah dasar. Tak banyak yang bisa saya ingat selain bahwa benteng ini dibangun oleh orang Portugis dan pahlawan Pattimura digantung di sana. Sisanya, ingatan saya rompal seperti halnya dinding-dinding benteng Victoria bagian depan. Sayang tak ada upaya renovasi untuk bangunan bersejarah itu. Setelah berkeliling 3 kali putaran, saya memutuskan kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Angin laut hangat berhembus ringan membawa uap yang cukup membantu mendinginkan kota beraspal yang masih terasa panas meski sudah malam hari. Di belokan menuju pelabuhan, tampak kerumunan bapak-bapak bermain catur dengan gaduh karena diisi banyak cemoohan bagi yang kalah sehingga saya tergoda untuk mendatangi dan menontonnya. Tampang saya terlihat asing dan tampak seperti orang tersasar, lantas diajak berduel catur oleh bapak-bapak di sana. Setelah dipaksa dan tak enak karena sudah ikut menertawakan pihak yang kalah pada ronde sebelumnya, saya akhirnya turun serta ke gelanggang. Kalah dalam kurang dari 20 langkah. Haha.

WP_20161107_19_14_50_Pro.jpg

Gedung Kegubernuran di depan Lapangan Merdeka. Sisa pemandangan lainnya terlalu gelap untuk ditangkap kamera telepon genggam biasa, haha

*****

Besok harinya, saya bangun lebih lambat daripada biasanya. Bangun jam 6 pagi waktu Ambon (artinya masih pukul 4 waktu Jakarta, sepertinya jam biologis saya masih menggunakan standar WIB *mencari pembenaran untuk bangun telat), jelas saya telah melewatkan sunrise yang rencananya akan disaksikan di Pantai Honipopu yang berada tak jauh dari Benteng Victoria. Setelah sarapan pagi bersama teman-teman saya, dengan sikap sok tahu dan belagu, saya mengajak mereka menelusuri pusat kota Ambon dengan laga bak pemandu wisata profesional dan seolah warga setempat yang sudah hafal lokasi sekitar. Sesungguhnya yang saya lakukan adalah menapak tilas perjalanan saya malam sebelumnya, dengan tambahan sikap sok tahu mengenai sejarah kota Ambon baik masa kolonial maupun pada masa konflik sekitaran era reformasi—alasan mengapa sampai didirikan Gong Perdamaian di pusat kota Ambon yang penuh cerita berdarah-darah. Pada pagi yang supercerah itu, Lapangan Merdeka masih tetap seramai malam sebelumnya sehingga membuat saya penasaran apakah lapangan ini pernah sepi mengingat itu adalah hari kerja biasa yang mestinya banyak orang bekerja atau sekolah.

Setelah menemani teman-teman saya berfoto di area sekeliling Lapangan Merdeka, kami segera berjalan kaki menuju Terminal Merdeka yang berdampingan dengan pasar tradisional dan pelabuhan. Jadi bayangkan betapa sesaknya arus manusia saling bersilangan dengan banyak kepentingan. Dengan semangat bertualang—atau juga karena menghemat karena kantong cukup terkuras setelah menuju Pantai Ora—kami hendak menuju Pantai Hunimua atau lebih terkenal sebagai Pantai Liang dengan menggunakan angkot. Pulau Ambon dengan bentuknya yang berlenggok-lenggok memiliki banyak pemandangan pantai mengesankan di sekujur garis pantainya. Berhenti di manapun di pasir pesisirnya, akan membuat kita punya foto cantik untuk dipajang di media sosial. Dan menurut rekomendasi petugas hotel, Pantai Liang adalah salah satu yang tercantik. Terminal Merdeka sepertinya menjadi terminal paling membingungkan yang pernah saya datangi. Setidaknya ada lebih dari 8 gang di sekeliling terminal yang menjadi tempat pemberangkatan tiap rute angkot tersendiri, padahal di dalam terminalnya sendiri angkot-angkot (penduduk setempat menyebutnya ‘oto’) terbagi dalam dua area besar dengan rute angkot berbeda-beda pula. Sangat mengejutkan saya bahwa untuk kota “sekecil” Ambon, rute angkotnya sangat banyak melebihi terminal-terminal angkot di Bandung bahkan Jakarta sekalipun. Jadilah kami sering sekali tersesat dan harus bertanya ke pedagang atau petugas terminal angkot mana yang melewati rute Pantai Liang.

Kami sadar wajah dan tingkah laku kami menunjukan dengan nyata bahwa kami adalah pelancong dan pendatang. Bertekad untuk menghindari scam yang menjengkelkan, saya mati-matian menyusun kata-kata dalam bahasa Melayu Ambon agar dikira orang lokal, saya mengganti setiap kata berakhiran ‘-n’ seperti pada kata ‘jembatan’ menjadi ‘jembatang’, atau membiasakan diri menyebut ‘beta’, dll. Dan tentu saja gagal. Saat bertanya ke petugas dengan bahasa Melayu Ambon yang menurut saya cukup meyakinkan, malah dijawab oleh petugasnya dengan bahasa Indonesia fasih, padahal sebelumnya dia bercakap-cakap dengan temannya dalam bahasa Melayu Ambon. Tampang kami memang tidak bisa ‘mengecoh’ mereka. Haha. Karena keramaiannya dan minim petunjuk, kami harus bertanya lebih dari 5x, dan selama 5x itu pula saya dikasih petuah tambahan, ‘Dek, tasnya taruh di depan dada saja, hati-hati, banyak pencopet’. Kesemrawutan dan desak-desakannya memang gampang mengundang kesempatan berbuat tindak kejahatan, apalagi tampang kami yang selalu pasang muka bingung. Ketika akhirnya kami keluar dari area pasar dan menemukan angkot menuju Pantai Liang, saya menanyakan kepada teman-teman saya tentang sesuatu yang mengganjal sejak pertama kali masuk area terminal, ‘Saya heran deh… Kok kalau saya yang bertanya, orang yang menjawab selalu menambahkan pesan khusus agar berhati-hati pada pencopet, sedangkan jika kalian yang bertanya, peringatan itu tidak pernah muncul…” Saya berusaha berbicara dengan nada sedatar dan senetral mungkin tentu saja. Tetapi bahkan sebelum saya sempat bereaksi, terdengar bunyi ‘plak’ bersahutan. Kepala dan tangan saya kena keplakan botol air mineral beruntun. Sial. Sial. Sial. Sial.

WP_20161108_08_22_13_Pro.jpg

Diambil secara diam-diam agar tak mencolok perhatian karena mengeluarkan gawai, banyak pedagang di Pasar Merdeka yang menjual hasil bumi dan rempah selain barang plastik massal buatan China

*****

Pantai Liang adalah jenis pantai yang akan muncul dalam iklan pariwisata daerah tropis dengan gambaran khas; pasir putih menghampar sejauh mata bisa menjelajah, langit biru dengan hiasan awan gemawan super putih di kaki cakrawala, sementaranya airnya luar biasa jernih seolah air berubah menjadi udara yang mencair dengan ombak-ombak lembut yang menjilat karang-karang di pesisirnya yang ramah. Benar-benar sangat cantik. Konon pantai ini pernah dinobatkan sebagai pantai terindah di Indonesia oleh United Nation Development Program (UNDP) di tahun 1990. Setengah jam kami habiskan untuk berfoto-foto di setiap langkah karena merasa pemandangannya selalu terasa semakin cantik. Kami datang saat hari kerja, sehingga pengunjung sepi, lagian rinai gerimis lunak belum lama berselang ketika kami sampai. Sepanjang pantai yang ditanami pepohonan teduh, bertebaran warung-warung tenda menjual rujak dan mie instan. Ada empat warung tenda yang buka sedangkan pengunjung hanya dua rombongan, rombongan kami dan seorang keluarga turis yang melihat logatnya saya tebak dari Jerman. Di akhir pekan, pantainya pasti lebih ramai karena banyak sekali warung tenda yang tutup. Kami tak bisa memutuskan warung tenda mana yang harus kami dekati karena masing-masing pemilik warung tenda memasang tampang memohon dan berteriak memanggil kami agar mampir ke warungnya. Setelah saya menanyakan kepada teman-teman saya apa bekal minum dan cemilan masih tersedia di tas masing-masing, saya mengambil keputusan untuk tidak mampir ke salah satu warung atas nama keadilan sosial dan kesetaraan kesempatan pemerataan ekonomi. Dasar kejam. Hehe. Sampai lewat tengah hari kami berselonjoran ria di kaki-kaki pepohonannya, menikmati angin dan suasana hening Pantai Liang hingga seseorang terantuk ketiduran dan dokumentasi saya untuknya sangat lengkap dan jelas di detik-detik lelapnya. Haha.

G0644988.JPG

Air Patai Liang luar biasa jernih, bahkan pada kedalaman dua meter lebih, kilau matahari masih sampai ke dasar lantai laut

Lewat tengah hari, pengunjung pantai masih dua rombongan saja, sehingga akhirnya rombongan kami menyerah dan menyebar di tiap-tiap warung untuk masing-masing membeli air mineral atau sekedar cemilan tambahan (meski bekal yang kami bawa belum habis benar). Dan karena di sana tak ada tempat makan—kami tak berniat makan siang dengan mie rebus—kami pun beranjak dari sana, menuju kembali ke kota Ambon. Kami harus menunggu sekitar satu jam menunggu ada angkot lewat yang akan menuju kota Ambon, Pantai Liang berada di daerah sepi pemukiman. Sepanjang jalan kembali, saya mengamati betapa sepinya pinggiran kota Ambon, bahkan di area yang dekat dengan tempat publik seperti sekolah. Kemana angkot-angkot yang berdesak-desakan di terminal itu? Kami terpaksa harus menahan lapar lebih lama karena tak menemukan satu pun tempat makan sepanjang jalan. Baru saat mencapai Pantai Natsepa terlihat beberapa tenda warung. Lokasi Natsepa yang lebih dekat ke kota Ambon, membuat pemukiman di sana lebih padat. Kami segera merapat, dan harus menelan kekecewaan karena tetap tak ada warung nasi seperti yang diperkirakan semula. Telanjur sudah menepi, kami merapat ke sebuah warung tenda di Pantai Natsepa. Ah, seperti saya tulis di atas sebelumnya, sekujur pesisir Pulau Ambon adalah surga pantai-pantai cantik dan fotogenik. Pun Pantai Natsepa, meski airnya tidak sejernih Pantai Liang, tetapi pantai ini tetap amat sangat mengesankan. Pesisir pasirnya lebih lebar dengan teluk dangkal menghampar jauh ke depan. Di puncak siang itu, anak-anak berseliweran berenang di pantai yang saking putih pasirnya tampak menyilaukan. Saya bayangkan telapak kaki akan melepuh saking panasnya pasir, yang membuat saya segan untuk merapat menuju air lautnya.

Seorang penjaga warung tenda langsung memasang senyum lebar ketika kami merapat menuju warungnya. Hampir semua gigi depanya tanggal, hanya menyisakan dua yang dulunya tempat taring, pun itu tinggal separuh terkikis. Hitam, tanda-tanda bahwa rokok yang terlalu banyak dia hisap membuat geliginya berkarat dan rapuh. “Tanta, kitorang hendak pesan rujak. Tanpa lombok, hanya gula saja.” Si ibu terkejut beberapa saat, entah karena logat kami yang tak meyakinkan sebagai orang Ambon atau heran karena memesan rujak tanpa bumbu lain selain gula. Padahal saat tengah hari yang terik itu, berkeringat karena rujak sudah pasti akan membuat badan segar karena peluh dingin dan angin pantai saling mendinginkan tubuh. Tetapi saya tak mau mengambil resiko perut sakit karena tak makan siang dengan benar malah mengkonsumsi makanan pedas. Si Ibu langsung terkekeh dan menyatakan keheranannya karena seumur hidup berjualan rujak di Natsepa, katanya baru kami saja yang pesan rujak hanya berupa gula tumbuk saja. “Saule,” dia mengucapkan kata tsb saat menyajikan rujaknya kepada kami. Gantian saya yang terkekeh dipanggil ‘saule’, hehe. Karena tak ada pelanggan lain, kami mengajak si Ibu mengobrol sambil menikmati rujak dan es kelapa muda. Saya langsung menggebrak percakapan dengan pertanyaan pembuka, “Tanta, sudah delapan tahun ya berhenti merokok?” Si Ibu langsung terkesiap kaget karena pertanyaan tak terduga ini, buru-buru menghitung dengan ruas jari tangan kanannya dan mengangguk tak percaya, “Kok tahu?” Saya kembali nyengir lebar karena dugaan saya tepat, tetapi dengan alasan sok misterius langsung mengalihkan topik pembicaraan. Tak ada alasan mistis tentu saja, semua murni dugaan deduksi dari pengamatan sekitar. Kelak, bahkan saat sampai Jakarta, teman-teman saya tetap gigih menanyakan bagaimana saya bisa menebak dengan benar hal tsb. Tenang, kalian juga tak akan beri tahu alasannya, haha. #dilempar bakiak massal.

WP_20161108_12_33_01_Pro.jpg

Rujak, atau lebih tepatnya manisan gula merah dan buah, yang dinikmati di Pantai Natsepa

*****

Kami menghabiskan waktu di Natsepa cukup lama, setelah tandas menghabiskan rujak, disusul minum satu butir kelapa hijau utuh—yang diluar dugaan sari airnya amat banyak dengan daging buah yang tebal sehingga membuat kami kenyang dan tak jadi melanjutkan mencari makan siang. Rasanya ingin tidur di balai-balai warung di sana sambil menikmati semilir angin laut, tetapi mengingat di Pantai Liang saya sudah mendokumentasikan foto teman saya yang terkantuk-kantuk, saya tak mau ambil resiko kena candid serupa. Jadilah saya mengobrol banyak hal dengan si pemilik warung yang ternyata sampai sore pun tak kedatangan pembeli lain. Kami tadinya mau menghabiskan senja di sana, tetapi mengingat banyak blog-blog yang menulis tentang keindahan senja di Bukit Karang Panjang di kaki Patung Martha Christina Tiahahu—pejuang  wanita paling terkenal dari Maluku—kami pun menyudahi percapakan dan pamit kepada si ibu penjaga warung menuju kota Ambon.

Di angkot menuju kota Ambon, berdesak-desakan dengan anak SMA yang baru pulang sekolah, saya berjumpa dengan seorang penjual kacamata. Tanpa diduga, ternyata si penjual berasal dari kota Tasikmalaya, nun jauh di Jawa Barat sana. Saya menyapa dia terlebih dahulu setelah menangkap dialek Sunda kental saat dia meminta izin duduk bergeser pada teman saya. Maka, tak peduli dilihat penumpang lain yang keheranan, kami langsung bercakap-cakap seru dalam dialek Sunda. Ayolah, penumpang lain kadang berbincang dalam dialek Melayu-Ambon yang kadang tak saya mengerti, maka sudah saatnya kami membalas dengan berbincang dalam dialek Sunda yang tak mereka mengerti. Haha. Obrolan kebanyakan berkisar tentang upaya saya mengorek informasi bagaimana orang Tasik bisa sampai berkelana jauh ke Ambon hanya untuk menjual kacamata keliling. Karena bagaimanapun, ongkos menuju Ambon amat sangat mahal, bahkan melalui kapal ferry antarpulau paling ekonomis pun, harga tiketnya pasti tetap ratusan ribu. Menurut si bapak penjual, dia sudah menjalani profesi tersebut sudah puluhan tahun—usianya saya taksir mencapai angka lima puluhan ke atas—setelah beralih berbagai profesi dengan mayoritas berdagang dan berganti komoditi. Pilihan berjualan kacamata di tempat nun jauh dari kampung halaman beliau jabani setelah melihat bahwa berjualan kacamata ke pulau-pulau terpencil di Indonesia sangat sepi dari kompetisi, toko optik tentu saja sangat terbatas ada di daerah. Dan juga, tak semua orang punya cukup keberanian untuk berniaga merantau jauh dari tanah kelahiran. Tiga sampai lima bulan sekali, si bapak akan menjelajah berbagai desa terpencil di Indonesia Timur, lalu dua mingguan kembali ke rumahnya di Tasik—ceritanya pernah mengunjungi banyak pulau-pulau eksotik yang hanya pernah saya dengar namanya dari peta saja atau malah belum terdengar sama sekali sukses membuat saya iri sehingga saya mempertimbangkan bahwa opsi pilihan karir penjual kacamata ke pelosok-pelosok tampaknya bukan ide yang buruk jika pilihan karir saya mentok nanti. Bulan depan laginya, dia bercerita bahwa dia akan pergi ke Sorong, yang juga membuat saya iri betapa dia bisa berpergian dengan mudahnya sementara saya selalu membutuhkan banyak pertimbangan.

Ketika saya tanyakan bagaimana metode si bapak menjual kacamata di desa-desa terpencil, dia menceritakan bahwa dia biasanya datang ke sekolah. Melakukan demonstrasi di kelas-kelas selama dua sampai tiga hari lalu menyediakan kacamata yang mereka butuhkan.Ketika saya tanyakan bagaimana si bapak mengetes kondisi mata minus/plus calon pembeli, dia tertawa terbahak-bahak sehingga membuat penghuni angkot menoleh padanya dan saya mengamati bahwa gigi geraham belakang kiri bawahnya sudah tanggal dua buah. Katanya, tentu saja sangat mustahil mengetes akurasi kondisi seseorang minus berapa di mata kanan dan minus berapa di kiri, serta silindrisnya berapa. Dia hanya mengetes seseorang membaca sebuah tulisan dengan berbagai jenis kacamata berlensa fixed dan jika si pembeli menyatakan bahwa itu yang paling nyaman menurutnya, berarti kacamata itu yang cocok. Saya menanyakan juga, bagaimana jika minus mata kiri dan kanan berbeda, si bapak kembali terbahak-bahak bahkan lebih keras menganggap pertanyaan saya lebih lucu lagi dari sebelumnya sehingga untuk beberapa saat saya melongo bingung memikirkan mana bagian pertanyaan saya yang lucu, haha. Jenis kacamata yang dia jual sebetulnya adalah jenis kacamata baca murah yang kadang kita lihat dijual di pasar kaget atau di tepi jalan raya digelar di meja pajangan dadakan di jalan-jalan kabupaten di Jawa. Lensa dan framenya berbahan plastik atau yang sedikit lebih mahal berupa logam yang disepuh cat warna emas yang gampang terkelupas—kata dia jenis ini banyak diminati orang-orang tua di desa-desa terpencil. Dan entah mengapa secara spontan, sesaat sebelum saya pamit turun dari angkot, dengan nyaris mata berkaca-kaca terharu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada si bapak, karena keberaniannya untuk menjual kacamata kepada masyarakat terpencil yang jauh dari akses medis memadai membantu ribuan orang untuk melihat dunia dalam garis-garis yang lebih tegas, lebih jelas, dan lebih indah. Sangat mungkin sekali jika ada anak sekolah yang selama ini terhambat membaca dengan nyaman, terbantu olehnya. Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Giliran si bapak yang melongo cukup lama, hehe.

Sebelum saya benar-benar turun dari angkot, si bapak penjual kacamata bersalaman dengan kami satu per satu. Saat bagian salaman dengan saya, dia menambahkan pesan agar kami berhati-hati dengan barang bawaan jika di sekitar pasar dan terminal Merdeka, dengan berbisik dia menambahkan pelan takut terdengar penumpang angkot lain, ‘banyak copet’. Dan ketika saya menjejak tanah pinggir jalan, saya berkata kepada teman-teman saya, ‘Tuh kan, saya saja yang diwanti-wanti untuk hati-hati jika ada copet, bukan kalian…’ yang segera ditimpali serempak oleh mereka ‘Diam kamu!!!’—saya tentu saja sudah langsung mengeluarkan jurus berkelit menghindari keprukan yang mungkin terjadi. Kita harus belajar dari pengalaman, kan? Haha.

*****

Karena masih ada tiga jam lagi menuju waktu senja, kami memutuskan untuk ‘nongkrong-nongkrong’ dahulu sebelum pergi ke bukit Karang Panjang. Awalnya kami hendak pergi ke café Rumah Kopi Sibu-sibu yang namanya cukup terkenal di kalangan warga Ambon sebagai café tempat nongkrong—banyak wisatawan asing dan bahkan kadang artis-artis dari Jawa nongkrong di sana. Tetapi ternyata kami harus naik angkot lagi, artinya harus jalan ke terminal lagi, sementara di depan hotel kami tampak beberapa café tersedia sehingga kami memutuskan bahwa café yang lebih kecil itulah yang akan kami coba. Kami sedang melihat café-café mana yang akan disinggahi—yang secara mengejutkan, meski hampir semuanya sepi pengunjung, tetapi jumlah cafénya ada tiga buah di jalan yang sama. Kami hampir masuk ke café yang ada di pinggir sebuah tempat makan soto makassar ketika saya melihat tempat itu…

Tak ada papan nama khusus untuk kedainya selain tulisan sederhana ‘warung kopi’, namun berbeda dengan tiga café sebelumnya yang tempatnya kecil, resik, sepi, dan tampak nyaman seperti café-café di kota besar Jawa, kedai yang saya lihat berbeda 180 derajat. Tempat tersebut penuh asap rokok—dari kejauhan seolah sedang ada kebakaran. Ramai oleh pengunjung bapak-bapak yang bercengkerama dan bermain catur di meja-mejanya, isi kedainya berupa meja-meja terpisah seperti rumah makan biasa, meja-mejanya yang terpisah memuat sekitar 4 orang meski ada beberapa yang digabung, membedakannya dari bentuk meja papan panjang ala warteg biasa. Dari daftar menu yang menggantung dekat kasir, kedai ini hanya menjual minuman aneka kopi, penganan khas Maluku, dan makanan berupa nasi goreng dan indomie rebus. Menu kopi yang dijual adalah varian dari kopi hitam, kopi susu, dan aneka kopi campur rempah khas Maluku.

Berbeda dengan tiga café sebelumnya yang terlampau cozy dan sudah pasti harga yang dijual adalah harga yang tak jauh berbeda dengan café-café di Jawa, kedai kopi ini menjual minumannya dengan harga murah khas warung-warung kopi dekat terminal. Dan itu penyebab mengapa kedai kopi ini ramai pengunjung berbeda dengan tiga café lainnya. Saya mengalami kesulitan untuk menjelaskan, tetapi ya tuhan, inilah warung kopi sesungguhnya. Di kota-kota besar Jawa, warung-warung kopi terbagi menjadi dua jenis; warung kopi yang merangkap warteg atau pangkalan ojek dengan menu kopi sachetan yang karena saya anti-kopi-sachetan membuat saya tak pernah mampir, satunya lagi adalah warung kopi yang beralih nama menjadi café (banyak yang berlokasi di mall) yang memang menjual kopi hitam murni, namun harganya mahal sehingga tak terakses masyarakat bawah. Kadang warung-warung kopi mahal itu memiliki nama dan dekorasi sok jadul dan vintage, makin rumit dekorasi dan desainnya, lebih mahal harga kopi yang dijual. Entah mengapa saya tak pernah dibuat terkesan oleh warung-warung kopi tersebut seenak apapun kopi yang disajikan—aneh kan di tempat dengan nama dan desain antik tetapi baristanya membuat kopi dengan mesin kopi canggih terbaru berharga puluhan bahkan mungkin ratusan juta? Terasa artifisial, sehingga kadang saya membatasi noongkrong di warung-warung kopi mahal itu, lebih baik nongkrong di tempat makan biasa saja, kalau mau kopi enak, beli kopi hitam asli dan seduh sendiri di rumah. Bahkan kadang saya merasa warung-warung kopi mahal itu malah menjauhkan kekerabatan diantara pengunjungnya—apalagi kalau ada wifi-nya, aduh. Yang bisa mengakses dan minum kopi pun hanya masyarakat menengah ke atas, yang semakin membuat saya terisolir jika minum kopi di tempat seperti itu.

Jadi bayangkan betapa terkesimanya saya, untuk pertama kalinya, akhirnya menemukan warung kopi betulan yang merakyat, dan itu lokasinya di Ambon. Maka dengan sekuat tenaga saya menyeret teman-teman saya untuk datang ke kedai kopi itu alih-alih ke café yang lain, mereka segan dan malas karena asap rokoknya. Dengan alasan ‘sekali seumur hidup’ dan ‘kalau cuma mau café biasa sih mending di Jawa saja nanti’ saya terus membujuk mereka sehingga akhirnya mereka luluh oleh hasutan saya. Haha. Ada hampir seperempat jam mereka memasang wajah jengah dikelilingi gurauan kasar dan tawa terbahak-bahak keras pengunjung lain serta asap rokok yang mengepul tiada henti. Tetapi begitu menu pesanan datang, akhirnya mereka bersinkronisasi dengan suasana sekitar. Tak terasa kami menghabiskan waktu dua setengah jam di sana.

Sebagai penikmat kopi dadakan, saya tergolong militan dan konservatif, hanya menikmati kopi hitam murni saja tanpa riasan seperti gula apalagi susu, apapun menu yang berakhiran –ccino dan –latte langsung skip. Namun karena Maluku bukan daerah yang terkenal sebagai penghasil kopi dan tak ada kopi khas Maluku, saya tidak jadi memesan kopi hitam di kedai kopi tersebut. Saya memesan kopi rarobang yang menjadi ciri khas Ambon—kopi robusta yang dicampur bubuk cengkeh, parutan jahe, dan taburan kacang kenari. Si penjual menanyakan apakah akan diberikan susu tetapi setelah melihat bahwa susunya berupa susu kental manis, saya menolaknya. Untuk cemilan, kami memesan juadah khas Maluku yang merakyat; kue kasbi dan koyabu yang terbuat dari tepung sagu.

Ah, terlepas dari asap rokoknya yang cukup mengganggu, yang akan membuat warung kopi ini tidak akan masuk acara ulasan kuliner di acara jalan-jalan yang-ngehits-itu, namun warung kopi ini menawarkan sesuatu yang sudah lama hilang dalam masyarakat urban; keakraban dan kedekatan. Meski meja kami terpisah dari meja lainnya, banyaknya senda tawa yang terdengar dari meja sebelah membuat jarak kami dan pengunjung lain semakin menipis. Teman saya yang paling antiasap rokok pun bisa berdamai dan menikmati suasana di sana. Begitu merakyat, melepas semua sekat, dan kami semua di sana merasa dekat dengan kopi sebagai pemersatu kami semua (teman saya yang bukan peminum kopi memilih teh manis biasa). Ah, andai warung kopi semacam ini ada di Jawa.

Maka, untuk pertama kalinya, meski bukan diminum di sebuah gunung, minuman kopi rarobang yang kami pesan dinobatkan sebagai ‘Minuman Kemenangan’. Kepayahan dan marabahaya yang kami hadapi di Pantai Ora dua hari berselang yang telah dilewati layak kami syukuri dan rayakan dengan minum kopi pahit-pedas di sebuah warung kopi sesak di penghujung siang.

*****

Bukit Karang Panjang terletak persis di depan gedung DPRD Provinsi Maluku, di tepian kota Ambon yang menanjak di sisi timur kota. Berada di teluk Ambon, kota Ambon tumbuh menjalar di sepanjang pesisirnya yang berarea datar sementara area perbukitannya dijadikan rumah-rumah mewah milik orang kaya atau rumah sederhana milik orang tak berpunya yang tak sanggup membeli lahan di tengah kota, tetapi kebanyakan dibiarkan tetap berupa bukit berhutan. Ada banyak bukit rimbun sekeliling teluk Ambon yang menggoda kami untuk mendaki dan menikmati matahari tenggelam dari puncaknya. Namun kami tak berniat mendaki susah-suah kemudian memilih area yang lebih mudah seperti Bukit Karang Panjang. Seperti Patung Pattimura di Lapangan Merdeka yang melindungi pusat kota Ambon, di Bukit Karang Panjang berdiri menjulang tinggi ke langit patung perunggu raksasa pahlawan yang seolah mengawasi kota Ambon jika ada musuh yang akan menyerang Ambon dari laut. Patung Martha Christina Tiahahu langsung menghadap langsung ke teluk Ambon dari ketinggian yang cukup untuk mengawasi seluruh kota. Sepertinya dia berbagi tugas, semenara patung Pattimura berada untuk melindungi dan mengayomi masyarakat kota, maka Christina Tiahahu mengawasi kota jika ada serangan musuh. Sebuah pembagian tugas yang efisien. Di kaki patung terdapat plakat singkat biografi Martha Christina Tiahahu. Area tamannya yang ditata dengan nyaman menyediakan beberapa bangku yang langsung masing-masing dari kami memilih satu orang satu, senja itu hanya rombongan kami yang datang—warga kotanya sendiri sepertinya lebih memilih menghabiskan senja di rumah atau keramaian.

Setelah mendapatkan masing-masing satu bangku, ada yang langsung membuka gawai mengecek pesan masuk, atau sekedar bengong menikmati matahari terbenam. Saya memilih opsi kedua sambil mendengarkan musik Caprice dari Paganini dan sesekali melanjutkan bacaan buku sambil menikmati kehangatan terakhir sinar matahari dan tetesan terang terakhir cahaya surya hari itu. Kebanyakan, saya malah bengong dan merenung. Pengalaman hari itu berkelebat membentuk kaledioskop yang memenuhi benak saya dalam pengajaran akan pengalaman hidup. Kehidupan pasar dan terminal yang semrawut, mengundang niat jahat bagi yang tak bertanggung jawab namun di sisi lain yang jauh lebih besar menunjukan sebuah gairah dan semangat hidup yang begitu deras dan menggairahkan. Orang-orang yang bersemangat untuk berjualan meski barang sederhana dengan laba yang tak seberapa atau teriakan semangat supir-supir yang sudah setengah jam teriak namun angkotnya belum terisi sampai setengah. Ada banyak orang yang masih berjuang dan mempertahankan hidup dengan cara-cara baik dan bermanfaat bagi sesama, semangat yang selalu membuat saya merinding dan membuat haru; tak pernah masuk di logika saya, mengapa tetap saja ada para pejabat bisa tega merampas hak-hak mereka yang memeras keringat tiap harinya?

Perjalanan mencari pantai-pantai terindah yang melewati pemukiman-pemukiman terpencil dan miskin juga mengindikasikan adanya manifestasi dualisme surga-neraka yang begitu erat dan meresahkan. Obrolan dengan si pemilik kedai rujak yang menceritakan sisi-sisi paling menyedihkan sebuah kota kecil yang beranjak dewasa dan semakin tumbuh besar dengan banyak mendirikan proyek-proyek bangunan pusat perbelanjaan mewah dan pemukiman ekslusif meninggalkan para kaum papa dan masyarakat kelas bawah jauh di belakang. Membuat saya gelisah. Sementara itu, obrolan dengan si penjual kacamata telah memberi saya sebuah kacamata baru untuk melihat realita sosial dari sisi yang baru dan tak saya kenal sebelumnya. Dan kunjungan ke kedai kopi yag begitu merakyat, telah menyemangati saya bahwa sementara beberapa pengusaha beralih bisnis ke bentuk-bentuk modern yang lebih mahal namun sepi pengunjung, beberapa masih bertahan dengan laba yang tak banyak namun mereka mendapat keuntungan yang jauh lebih mahal dan semakin langka dewasa ini: keakraban dan kedekatan.

Dalam nuansa monokrom jingga senja, anehnya semua babak kaledioskop tersebut berkelindan di benak saya dalam nuansa hitam-putih yang kontras. Baru saya sadari kebenaran ucapan si tokoh Alex di buku A Clockwork Orange yang saya catut di awal tulisan ini, memang jadinya lucu saat mendapati bahwa ternyata warna asli dunia yang gemerlap nan penuh warna, terjadi di layar-layar cerita belaka. Di kehidupan nyata, dunia hanya diisi dua warna; mereka yang menang dan mereka yang kalah.

WP_20161108_18_15_48_Pro.jpg

Tak ada yang lebih sempurna ketimbang menikmati senja dengan membaca, kan?

Catatan tambahan:

*             = 24 Caprices for Solo Violin adalah 24 karya komposisi biola yang dibuat oleh Niccolò Paganini, musisi spesialis biola klasik paling berbakat dari Italia. Dari ke 24 komposisinya, yang paling terkenal adalah Opus 1 dan 5. Komposisi dari Caprice terkenal sangat sulit untuk dimainkan karena temponya yang amat cepat dengan lompatan nada-nada yang lebar. Hanya sedikit karya klasik terutama dalam biola yang begitu sulit untuk dimainkan selain Caprice. Mungkin Violin Concerto in D major, Op. 35 dari Tchaikovsky bisa menjadi saingan terdekat dalam hal kesulitan teknis—menonton kedua karya ini dimainkan selalu membuat saya takjub karena seolah si pemain biola hampir menusuk-nusuk matanya oleh bow biolanya sendiri saking cepatnya, haha. Baik karya Paginini maupun Tchaikovsky biasanya dijadikan ajang pamer dan ajang pembuktian bahwa seseorang telah mahir bermain biola—yang tentu saja hanya sedikit orang yang berani memainkannya tanpa melihat catatan not baloknya. Untuk menambah kesan ‘horor’ dari Caprice, Paginini membuat klaim dahsyat, Caprice Op. 5 yang terkenal paling sulit, diklaim oleh Paganini bisa dimainkan hanya dengan satu dawai biola saja. Sampai sekarang klaim dan tantangan Paganini ini tak pernah terbukti bisa dimainkan oleh orang lain. Banyak orang skeptis bahwa klaim dahsyat ini hanya klaim sepihak dari Paganini agar dianggap hebat, namun beberapa fans Paganini menyatakan bahwa klaim ini mungkin saja benar terutama karena Paganini kemungkinan menderita sindrom Marfan, kelainan genetis yang membuat penderitanya memiliki jari-jari lebih panjang daripada orang normal sehingga dapat menjangkau rentang nada-nada yang lebih lebar. Bagaimanapun, Paganini baik dengan atau tanpa klaim tersebut, memang sehebat itu—beberapa kritikus menganggap kehadiran Paganini dalam dunia musik sebagai fenomena ‘ledakan kejeniusan’ yang singkat namun bergaung dan berjejak hingga abad sekarang.

**           = Lanskap pulau Seram yang dramatis dengan hutan-hutan rimbun di pegunungan dan tanah-tanah gersang di kakinya memang sangat menawan dan fotogenic untuk diabadikan–memecahkan rekor sebagai perjalanan paling banyak diambil fotonya oleh saya, mengalahkan rekor perjalanan pendakian gunung Rinjani dan Tambora. Pada tahun 2016 kemarin, ada film nasional yang berjudul Salawaku (Pritagita Arianegara, 2016) yang layak disimak. Penuh adegan yang berlatar lanskap eksotis Pulau Seram–beberapa scene sangat familiar dengan saya karena didatangi juga pada kunjungan ke Pantai Ora ini–film tsb akan memanjakan penonton dengan lanskap pemandangan indah-indah (mirip dengan film Pendekar Tongkat Emas [Ifa Isfansyah, 2014] yang berlatar di Pulau Sumba). Coba deh tonton trailer filmnya berikut, siap-siap untuk segera tarik tabungan dan langsung datang ke Pulau Seram karena tergoda. Haha.

Advertisements

5 thoughts on “Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 3]

    • Well… Itu sebenarnya foto termahal dan tersulit haha, soalnya untuk mendapatkannya harus jungkir balik diantara koral² tajam, saking stressnya kami jadi histeris saat berhasil naik kapal (seperti di cerita part 2). Saya aja yang bisa renang panik luar biasa tetiba ada ombak gede tiba² menyeret gitu kayak air bahasa dadakan. Kemampuan renang hampir gak berguna melawan derasnya ombak. Hehe.

      Tapi ya… Yang namanya snorkeling gitu, gampang kegoda liat ikan berwarna lewat langsung terjun gak kapok². Cuman harus lebih hati². Gak perlu mahir renang sih yang penting pake pelampung aja. Saya kalo snorkeling selalu pake pelampung kok, biar gak cepet capek dan antisipasi jika ada arus kuat kekuatan gitu masih ngambang, hehe.

      Like

        • Hehe. Malu ah, Leo. Blog lama saya isinya tulisan-tulisan sok serius ttg teologi/filosofi/sains/dan hal-hal sok rumit lainnya, sementara kamu seorang filsuf betulan. lagian tulisan zaman masih saya labil (sampai sekarang juga sih, haha). Saya sudah melupakan isi blog lama itu sih, gak pernah ditengokin. XD

          Like

  1. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiadescaravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s