Terbaik dan Terburuk di 2016

Fools have a habit of believing that everything written by a famous author is admirable. For my part I read only to please myself and like only what suits my taste.
― Voltaire, Candide

Betul, kamu sudah saya peringatkan sejak sekarang. Tulisan berikut pada dasarnya hanya berupa rangkuman daftar-daftar bacaan dan tontonan yang sudah saya saksikan sepanjang tahun 2016 kemarin. Tetapi tentu saja, akan diselingi oleh banyak omong kosong dan lanturan tak jelas. Kamu, sudah saya peringatkan. Haha.

Karena alasan-alasan mengapa saya membaca lambat dan menonton sedikit sama persis dengan tahun 2015, jadi saya pikir tak perlu menuliskan ulang kembali, haha. Tahun-tahun yang ditempuh memang terasa bagai sebuah siklus yang berulang. Penuh pengharapan di awal tahun, lalu diisi banyak kekecewaan di akhir tahun. Selalu begitu. Namun, ada beberapa hal berbeda yang saya alami di tahun 2016 ketimbang tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2016, saya pikir saya telah banyak mengambil keputusan penting dan drastis dalam hidup saya. Keputusan-keputusan yang sebenarnya sepele bagi orang lain, namun bagi saya keputusan tersebut tak hanya berkonsekuensi sesaat tetapi mengubah juga cara pandang terhadap kehidupan dan cara ambil keputusan saya yang berikutnya.

Misal, awal tahun ini saya memutuskan untuk berhenti makan daging terutama dari jenis unggas dan mamalia. Tentu saja sebelumnya saya banyak menonton film dokumenter tentang kekejaman terhadap ternak dan keburukan kinerja peternakan, atau buku-buku yang menganjurkan hidup vegan dengan alasan norma dan moral, baik itu buku biografi tokoh-tokoh vegan seperti Tolstoy maupun buku-buku nonfiksi tentang sains dan etika pilihan hidup menjadi seorang vegan. Saya telah membaca/menonton bacaan/tayangan ini sejak lama, sejak SMP malah, tetapi keinginan berhenti mengkonsumsi daging hanya muncul sesaat lalu lupa karena melihat ayam original KFC dan steak T-Bone. Siapa yang tak tahan dengan kegurihan dua kenikmatan dunia ini? Lalu, ketika tahun ini keinginan berhenti makan daging kembali datang, keputusan berhenti makan daging saya ambil dengan seketika. Begitu saja.

Ya, di literatur, akan banyak sekali ditemui alasan-alasan seseorang untuk menjadi vegetarian. Mulai dari alasan moral, kesehatan, lingkungan, etika, menipisnya sumber pangan*, kehigienisan, agama, filosofis, hingga motif ekonomi adalah sebagian dari alasan-alasan umum yang jika dirinci bisa menjadi sebuah ensiklopedi panjang dan tak berkesudahan dengan volume yang bisa terus diperbaharui seiring terungkapnya fakta-fakta hasil penelitian baru. Meski saya sudah mengetahui sebagian besar alasan ini, sesungguhnya keputusan saya untuk berhenti makan daging malah didorong oleh alasan yang tak spesifik alias diambil begitu saja tanpa paksaan siapapun atau ajakan siapapun. Awalnya saya pikir memulai upaya seorang vegetarian akan menjadi upaya yang payah dan susah. Yang saya alami malah sebaliknya, begitu mudah dan… murah… hehe.

Mayoritas warteg dan rumah makan yang jualan di manapun hampir selalu menyertakan daging sebagai menunya. Bahkan menu sayur biasanya minoritas, ditempatkan di lembar halaman terakhir daftar menu di pojokan. Sekilas akan sangat susah dan banyak godaan untuk memulai. Tetapi saat saya menjalaninya, saya merasa tak ada kesulitan sama sekali. Saya bisa makan menu sayuran apapun. Pernah di sebuah tempat makan saat menu sayuran begitu kering kerontang, saya makan hanya rebusan daun singkong diguyur bumbu dan sambel saja. Saya tak mengeluh atau bersedih hati, tetap bisa menikmati makan tersebut dengan hati riang gembira. Pesan sponsor: kalau mau menraktir saya, jangan ragu, saya anaknya muraaah banget. Haha.

Karena tak merasakan adanya dorongan, tarikan, dan keterpaksaan, saya juga tidak menjadikan pilihan untuk tidak memakan daging sebagai sebuah kemutlakan yang dijunjung di atas darah dan moral kemanusiaan—halah, haha. Saat benar-benar tak ada pilihan lain, atau kadung tersaji di atas piring, saya tetap mengkonsumsi daging, kok. Tetapi selama masih ada alternatif menu sayur, saya ambil menu sayur terlebih dahulu. Bagaimanapun harus saya akui bahwa saya pernah makan daging dalam jumlah banyak di tahun ini, meski itu sekali. Gegara seseorang yang ingin merayakan ulang tahun di restoran steak dengan memaksa, saya akhirnya makan steak padahal baru sebulan memutuskan berhenti makan daging. Dan dengan sedikit jurus aji mumpung, tak tanggung-tanggung menu yang dipesan adalah daging ukuran 250 gr alias seperempat kilogram untuk satu orang. Saya habiskan semuanya tentu saja karena sayang kan jika dibuang apalagi harganya juga tak bisa dibilang murah, haha. Namun akibatnya, saat proses mengunyah, durasinya membengkak menjadi lebih dari dua jam dan menghabiskan minuman 3 gelas—diselingi dengan saling berbagi cerita dan bergosip (baca: menggunjingkan orang) tentu saja, haha. Pada saat mengunyah itulah, di sela-sela menyimak cerita-cerita, saya memperhatikan setiap detail cabikan dan irisan daging yang akan saya telan. Tetiba saya bak seorang suci yang menerima wahyu saat mengunyah daging tersebut: dunia terlihat lebih terang, waktu menjadi melambat sehingga saya bisa mengamati gerakan kedipan kelopak mata teman saya, dan hal-hal besar seperti tujuan penciptaan alam semesta terpikirkan begitu saja. Lebay sih tentu saja, haha. Cuman saya pikir, sejak saat itu saya sudah putuskan bahwa saya tak akan pernah bisa menikmati keempukan dan kegurihan daging dengan cara yang sama lagi seperti dulu. Setiap kunyahan dan tetesan rasa daging yang mengenai lidah terasa asing dan bisa dikatakan tak ada kenikmatan lagi. Semenggoda apapun daging rendang dengan aromanya yang menggoda, saya lebih memilih rebusan daun singkong terlebih dahulu.

Keputusan sepele lainnya adalah berhenti menonton TV. Sebelumnya saya memang sudah jarang menonton TV terutama media nasional. Maaf ya, bukannya bermaksud men-generalisir, tetapi saya merasa tak pernah cocok saat menonton tayangan TV nasional bahkan acara yang lebih positif seperti berita dan acara bincang diskusi. Saya mencabut kabel colokan TV, dan sampai sekarang berbulan-bulan kemudian, tak pernah dipasang lagi. Kalau ada teman dan kerabat yang main, kadang dinyalakan sih buat menghibur mereka. Cuman sisanya selalu dalam posisi kabel tercabut. Makanya saya termasuk yang jarang update berita politik (toh semakin memuakkan) apalagi berita kriminal (saya juga sudah berhenti membuka portal berita yang berisik dalam memblow-up isu-isu tertentu yang seolah menjadi isu terpenting di abad ini). Hanya dari timeline media sosial teman (atau diskusi heboh di grup WA) saya mendapatkan pencerahan apa yang sedang orang hangat diperbicarakan. Kalau kebetulan terlewatkan update-an timeline media sosial kawan, ya sudah pasti saya tertinggal kabar panas—yang anehnya cepat pula mendingin, paling lama isu yang didebatkan begitu panas tiada henti seharian hanya bertahan seminggu. Oh, selamat tinggal kontes dangdut dan acara komedi yang suka disetel emak jika saya pulang ke rumah, sekarang kita tak akan pernah bertemu kembali. Haha.

Saya juga mulai berani meminum kopi pahit. Saya punya pengalaman buruk (atau malah berkah ya?) terkait kopi ini. Di kereta api malam, saya memesan cokelat panas. Karena dikemas dalam bentuk gelas berpenutup, saya langsung meminumnya tanpa mengecek isinya. Semalaman saya tak bisa tidur karena kepala berdenyut dan jantung berdebar hebat sehingga menghabiskan malam tersebut dengan membaca buku. Besoknya mata saya teler pusing kurang tidur padahal tujuan saya ke luar kota tsb adalah untuk acara jalan-jalan bersama rekan. Itu adalah untuk pertama kalinya saya mengkonsumsi kopi (kemungkinan kopi sachetan) setelah 12 tahun berlalu sejak saya masih suka nebeng minum kopi dari cangkir ayah yang rasanya manis. Adalah saat di Flores, akhirnya saya memberanikan minum kopi lagi. Menyesap kopi wae rebo segar yang langsung digiling di penggilingan batu tanpa olahan pabrik, saya menikmati kopi asli manggarai ditemani cerita-cerita tetua adat. Dan anehnya saya bisa tidur nyenyak, tidak melek begadang seperti yang dicemaskan sebelumnya. Lebih anehnya lagi, saya minum kopi tanpa gula padahal sebelumnya saya tak suka kopi karena terasa ketir di lidah dan jantung berdebar kuat. Sejak saat itu, kala mendaki gunung-gunung dan menginap di rumah warga setempat, jika disajikan kopi segar tradisional, saya tak ragu meminumnya meski tanpa gula. Tak ada lagi debaran jantung berlebihan meski minum kopi sampai dua gelas. Untunglah di tempat saya sekarang, banyak sekali teman saya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia entah karena asli daerah atau pulang liburan dan membawa oleh-oleh kopi daerah setempat. Jadi selalu tersedia kopi baru segar tradisional bukan sachetan yang siap diseduh. Datang silih berganti, kopi aceh, kopi toraja, hingga kopi wamena siap diseduh di pagi hari meski tak rutin saya lakukan dan saya sangat menikmatinya. Selalu tanpa gula karena ketika saya mencoba dengan gula, saya merasakan bahwa rasa asli bahkan aroma kopinya hancur musnah dimatikan oleh rasa manis gula. Meminum kopi-kopi lokal dan tradisional ini tak membuat saya kewalahan. Pernah sekali nekat meminum kopi sachetan pas naik gunung karena kedinginan. Besoknya saya mencret dan memutuskan bahwa kopi sachetan selain rasanya hambar juga membuat perut tak enak. Di rumah, saya membeli satu kemasan gula pasir, hanya sesendok baru terambil, sisanya hampir 6 bulan tak tersentuh. Hidup saya memang menjadi lebih getir dan pahit. Secara harfiah maupun kiasan. Haha.

Hal lain yang saya masih pegang teguh dalah keputusan untuk tidak (atau setidaknya menunda) membeli kendaraan pribadi. Jika ditotalkan, sepertinya ada lebih dari 30 orang yang sudah menyarankan, menawarkan, bahkan memaksa saya untuk segera membeli kendaraan pribadi. Ada motif utama ekonomi karena keterbatasan tabungan sih, haha, tetapi faktor lain yang paling saya rasakan adalah saya masih menikmati kegiatan jalan kaki. Saat berjalan kaki, saya masih bisa menatap langit, menikmati fenomena perubahan atmosfer. Kehujanan mendadak, kepanasan oleh terik matahari, merasakan angin menerjang mendadak menghajar muka, menikmati udara sejuk sehabis hujan, saya rasa tak banyak orang menikmati lagi hal-hal sederhana seperti itu sekarang ini. Melihat secara langsung dan secara dekat realita sosial masyarakat saat dilewati–saya pernah melewati rumah yang penghuninya berkelahi karena jajanan anak yang dianggap tak sesuai, atau melewati pekarangan yang penuh orang karena hajatan dan duka kematian. Untuk tujuan jarak jauh tentu saja saya mengandalkan kendaraan umum. Persaingan lapangan pekerjaan dan kondisi ekonomi yang sulit membuat saya tak tega untuk tidak menggunakan jasa pengemudi kendaraan umum. Pernah di satu daerah, saya naik kendaraan umum yang sepi, dan saat saya turun saya memberikan ongkos berlebih (serius, cuma ribuan rupiah, bukan ratusan ribu apalagi jutaan). Dan si bapak supir menatap dan mengucapkan rasa terima kasih yang bagi saya terasa sangat berlebihan dan tak sepadan dengan nominal tadi. Sejak saat itu saya lebih tersadarkan bahwa apa yang kita rasa sepele dan tak berarti, bagi orang lain belum tentu begitu dan mungkin bisa saja sangat berharga.

*****

Duh, ngelanturnya kejauhan padahal masih banyak curhatan yang ingin saya sampaikan. Haha. Di tahun ini, saya membaca 210 buku dan menonton 320 film. Jumlah yang tak jauh berbeda dengan tahun lalu. Saya yakin ada yang bertanya, apa sih tujuan ngelantur panjang lebar di atas? Masa buat ceritakan film/buku aja panjang banget prolognya? Haha. Prolog panjang di atas sebenernya menjadi kunci utama apa yang akan saya tuliskan berikutnya: Saya mudah terpukau oleh hal yang sederhana, sepi, tak tergesa-gesa, semenjana, tanpa riasan, tanpa gegap gempita, tanpa keributan, dan hal-hal artifisial. Itu artinya, mestinya dapat ditebak dengan mudah: buku/film yang bersifat pop dan blockbuster sudah pasti tidak masuk dalam daftar favorit saya. Definisi saya tentang “hal-hal membosankan” sepertinya sudah bergeser, bukan lagi sesuatu yang lambat dan sunyi, tetapi segala yang tergesa-gesa dan berisik. Jadi, mari kita memulai dari hal berikut,

5 Film Terburuk di tahun 2016

Seperti tahun 2015 lalu, daftar untuk film-film terburuk saya sengaja dibuat sesedikit mungkin. Jadi film-film yang sudah jelas buruk seperti Dirty Grandpa (Dan Mazer), Independence Day: Resurgence (Roland Emerich), dan hal-hal mengenaskan lainnya tak perlu saya tuliskan lagi. Toh sejak awal dibuat, film-film tsb memang sudah diniatkan dibuat sebagai film jelek. Jadi, untuk lima film di bawah bukan hanya jelek tetapi juga mengecewakan.

5. Captain America: Civil War (Joe Russo, Anthony Russo)
Narsistik dan dangkal. Saya masih takjub kekuatan marketing dan iklan supermassif sehingga film ini mendapatkan puja-puji sebagai film dengan kedalaman emosional dan humor cerdas yang berlimpah ruah. Film X-Men: Apocalypse (Bryan Singer) saja lebih menghibur ketimbang ini. I swear this will be the last Marvel film I see at a theatre #crossfinger

4. Nina (Cynthia Mort) + I Saw The Light (Marc Abraham)
Nina Simone, penyanyi wanita jazz paling berbakat sepanjang masa, dan Hank Williams, penyanyi pria country-western-folk paling revolusioner dan produktif, dibuatkan film biografinya dengan gaya FTV yang ada di stasiun TV nasional buat isi slot habis makan siang yang bikin ngantuk. Penistaan memang. Dedemit.

3. Juste la Fin du Monde / It’s Only the End of the World (Xavier Dolan)
Xavier Dolan sering dipuji sebagai sutradara muda paling menjanjikan di abad ini. Laurence Anyways dan Mommy sudah cukup membuat namanya ada dalam billboard raksasa penuh gemerlap sebagai iklan sutradara hebat di dekade ini. It’s Only the End of the World membuat Dolan memasang iklan baris hitam putih di surat kabar kriminal murahan yang dijual di perempatan lampu merah karena tak ada kios yang mau menampungnya.

2. La Fille Inconnue / The Unknown Girl (Dardanne Brothers)
Mungkin ini tahun terburuk dalam dunia sinema. Sampai-sampai Dardanne Bersaudara yang namanya sudah menjadi jaminan film-film berkualitas, malah membuat film sentimental yang bahkan beberapa sinetron pun bisa lebih baik.

1. The Sea of Trees (Gus van Sant)
Separuh horror separuh thriller psikologis. Atau lebih tepatnya, film yang dibuat separuh hati. Saya menontonnya separuh sebelum makan dan merasa filmnya jelek lalu kehilangan selera makan. Besoknya, saya menonton separuh sisanya setelah makan, tapi malah ketiduran.

Sip, lima dulu sajalah. Memang tahun yang aneh. 3 film terakhir yang saya sebutkan dibuat oleh sutradara yang biasaanya terkenal sebagai pembuat film-film serius dengan kualitas bagus. Eh, sekarang mereka malah membuat film yang bahkan beberapa mahasiswa film pun bisa membuat film yang lebih baik. Sementara itu, film-film blockbuster yang tayang di bioskop juga semakin terasa hambar. Tak ada film superhero yang berkesan, pun film-film horror/fantasi/aksi yang saya tunggu sekuel-sekuelnya. Saya menonton karena dipaksa ikut menemani, atau karena saat mau pulang terjebak hujan sehingga mampir dulu di bioskop murah untuk menonton sambil menunggu hujan reda.

20 Film Terbaik di Tahun 2016

Sebenarnya masih banyak film yang berkesan dan bagus yang saya tonton. Tetapi supaya tak terlalu panjang, saya terpaksa memilih 20 saja, itu pun terpaksa banyak mencoret film favorit lainnya.

20. The Beatles: Eight Days a Week (Ron Howard, UK/USA)
Iya, iya. Saya tahu. Kalian menuduh saya memasukan film ini karena mentang-mentang tentang The Beatles, kan? Tapi coba deh tonton. Nostalgis banget.

19. Voyage of Time (Terrence Malick, USA)
Pause di detik berapapun. Cetak di kertas ukuran minimal A3, maka kamu akan punya poster keren buat hiasan rumah.

18. La Tortue Rouge / The Red Turtle (Michaël Dudok de Wit, France/Belgium/Japan)
Menggabungkan kisah Robinson Crusoe dan alusi penciptaan Adam-Hawa dalam animasi sederhana namun mengena.

17. The Neon Demon (Nicolas Winding Refn, France/Denmark/USA)
Refn adalah jenis sutradara yang suka menggambarkan segalanya dalam lampu serba semarak, silau, dan berwarna, tentang sisi tergelap seorang manusia.

16. Hunt for the Wilderpeople (Taika Waititi, New Zealand)
Hal-hal bijak dan berat seperti filosofi kehidupan bisa disampaikan dengan cara yang membuat kita terpingkal-pingkal. Pembuat film ini pasti sangat jenius, kan?

15. Everybody Wants Some!! (Richard Linklater, USA)
Betapa nostalgisnya film ini, khas Linklater.

14. Umimachi Diary / Our Little Sister + Umi yori mo Mada Fukaku / After the Storm (Hirokazu Koreeda, Japan)
Koreeda adalah ‘dewa’ dari sutradara drama keluarga yang menggabungkan hal-hal getir dan manis dalam konflik keluarga secara bersamaan.

13. Moonlight (Barry Jenkins, USA)
It shines like the moonlight itself, but reminds me of a quote from Dicken’s A Tale of Two Cities, “In the moonlight which is always sad, as the light of the sun itself is–as the light called human life is–at its coming and its going.”

12. Nocturama (Bertrand Bonello, France/Belgium/Germany)
Tak banyak orang yang bisa mengangkat isu paling meresahkan di dekade ini dengan cara seelegan ini.

11. El Abrazo de La Serpiente / Embrace of the Serpent (Ciro Guerra, Colombia/Venezuela/Argentina)
Dalam hidup ini, tak pernah dualitas yang begitu kontras hitam-putih, baik-jahat, modern-primitif, namun anehnya—dan justru keunikannya, film ini menghadirkan hal abu-abu tersebut dalam tayangan hitam putih yang amat indah.

10. Cameraperson (Kirsten Johnson, USA)
Film ini mengingatkan saya pada The Gleamers and I (Agnes Varda). Dengan kamera seadanya, Johnson merekam hal-hal sepele dan keseharian yang saking sederhananya luput dari pengamatan kita. Dan saat itulah kita merasakan betapa indah dan berharganya hal-hal tersebut.

9. Elle (Paul Verhoeven, France/Belgium/Germany)
Sangat Verhoeven sekali—mungkin karya terbaiknya, sensual dan menggoda, dengan akhir yang menusuk-nusuk.

8. Fuocoammare / Fire at Sea (Gianfranco Rosi, Italy)
Di akhir tahun 2015 lalu, dunia dibuat menangis saat mayat seorang anak imigran gelap Suriah terdampar di pantai. Rosi, membuat film dokumenter atas fenomena imigran gelap yang mempertaruhkan segalanya untuk bisa bertahan hidup meski harus ditebus dengan kematian juga, dengan—anehnya—begitu indah dan puitis. Hanya Rosi yang bisa merekam tragedi kemanusiaan ini dengan sangat syahdu, nyaris agung.

7. L’Avenir / Things to Come (Mia Hansen-Løve, France)
Bagaimana jika iman yang kita yakini (dan kita sebarkan pada orang lain) malah mengkhianati kita sendiri?

6. I, Daniel Blake (Ken Loach, UK)
Ken Loach kembali menunjukan kelasnya sebagai tuhan bagi orang-orang yang terlupakan.

5. Gokseong / The Wailing (Na Hong-jin, South Korea)
Salah satu film horror terkeren dan paling imajinatif yang pernah saya saksikan. Endingnya benar-benar liar dan membuat saya mengutuk-ngutuk diri sendiri karena begitu… ah… lebih baik saksikan sendiri.

4. Sieranevada (Cristi Puiu, Romania)
Film ini mengajak kita untuk berspekulasi tentang banyak hal dalam kehidupan kita, yang hampir semuanya terlalu takut untuk kita bayangkan, namun sangat mungkin terjadi.

3. Evolution (Lucile Hadzihalilovic, France/Belgium/Spain)
Beberapa film, sebaiknya memang tidak boleh diberi tahu bocoran sinopsis ceritanya.

2. Toni Erdmann (Maren Ade, Germany/Austria)
Saya menontonnya sendirian pada dini hari buta. Dan bertepuk tangan hampir 10 menit sendirian setelah ending credit keluar. Bravo! Bravo! Bravo! Jam 2 malam, saya terpingkal-pingkal dalam kegelapan.

1. Ang Babaeng Humayo / The Woman Who Left + Hele sa Hiwagang Hapis / A Lullaby to the Sorrowful Mystery (Lav Diaz, Philippines)
Durasi The Woman Who Left hampir 4 jam. Salah satu 4 jam terbaik saya di tahun ini. Dan asal tahu saja, di tahun ini Diaz membuat film lain juga yang bahkan jauh lebih panjang dan lebih dahsyat, A Lullaby to the Sorrowful Mystery yang berdurasi 8 jam. Apa yang bisa ditawarkan oleh sebuah film dengan durasi 8 jam? Seni, kreativitas, petualangan, cinta, dan kehidupan. Saat saya menontonnya di sebuah festival film (untungnya panitianya berbaik hati dengan memberikan jeda istirahat pada jam ke-4 sehingga bisa ke toilet). Tapi seharian itu, saya tak merasa sudah menonton 8 jam. Begitu singkat dan tak terasa.

 

mv5byju2odyzyzctmwfjns00mtjkltk3mjytmzzizjy5mdhhnwexxkeyxkfqcgdeqxvymtqxnzmzndi-_v1_ux182_cr00182268_al_

Cantik namun penuh dendam kesumat. Lanskap putih salju dinodai genangan darah

Dan ya, tentu saja selain film-film baru di atas, saya juga menonton film-film lama. Beberapa hal yang harus saya sebut adalah menonton ulang film Stalker (Andrei Tarkovsky, 1979) yang visioner, Multiple Maniacs (John Waters, 1970) yang absurd nyentrik namun unik, Lady Snowblood (Toshiya Fujita, 1973) yang selalu ingin ditiru oleh Tarantino tetapi selalu gagal, dan L’Atalante (Jean Vigo, 1934) yang tampaknya mengabaikan semua aturan pembuatan film, namun justru itu poin terbaiknya.

 

*****

Untuk buku, syukurlah tahun ini jumlah buku yang terbaca bertambah. Jika tahun 2015 jumlah buku terbaca ada 200 buah, maka tahun 2016 menjadi 210. Haha, beda tipis dan tak signifikan tentu saja. Tetapi jelas ada kemajuan. Perbaikan sekecil apapun tetap patut disyukuri, kan? Seperti halnya film, buku-buku yang telah saya baca akan saya pilihkan yang paling asyik dan meninggalkan jejak bagus dalam memori saya—buku-buku yang berniat untuk dibaca ulang tetapi jelas merupakan sebuah janji hampa, yang penting koleksi dulu. Juga beberapa buku yang well… katakanlah tak sesuai harapan,

Buku-buku Paling Berkesan di Tahun 2016

Pertengahan tahun ini kepala saya dibuat cenat-cenut karena membaca ratusan halaman dari Critique of Pure Reason (Immanuel Kant) yang penuh istilah rumit, namun sangat mencerahkan karena Kant mendedah proses berfikir manusia sampai jauh ke dalam dan ke dasar. Saya rasa siapapun memang akan seterkenal Kant jika bisa menulis buku sejernih, sekompleks, dan sepenting ini. Lalu, suatu dini hari, saya terbangun jam 1 pagi oleh suara hujan dan petir. Karena merasa masih lama menuju pagi, saya mencari buku bacaan yang kira-kira bisa membuat cepat mengantuk kembali. Tentu saja saya memilih buku filsafat, haha. Saya memilih buku The Will to Power karya Friedrich Nietzsche, yang terbukti malah menjadi sebuah kesalahan fatal. Tulisan Nietzsche yang begitu jernih dan bernas mengenai motif-motif kebuasan manusia untuk merebut kekuasaan, terasa terang benderang dibaca di dini hari buta. Akhirnya saya malah begadang sampai jam 6 pagi menyelesaikan buku tersebut. Duh. Berbeda dengan Kant, bahasa Nietzsche lebih mudah diikuti. Selain Descartes dan Camus, Nietzsche adalah filsuf yang tulisan-tulisannya paling enak untuk dibaca tanpa perlu cepat menyerah di halaman pertama.

Ngomong-ngomong tentang Camus, saya membaca ulang karyanya yang berjudul The Fall tepat saat gerhana matahari total 9 Maret 2016, sambil melakukan pengamatan gerhana di atap sebuah gedung perkantoran yang lumayan tinggi. Sementara bumi menggelap oleh bayangan bulan, pikiran saya pada saat yang sama serasa mendapat pencerahan—kalimat-kalimat efisien Camus yang dituangkan dalam monolog-monolog penuh sesal, menggambarkan betapa pragmatisnya seorang manusia ketika dalam hidupnya ditawarkan kesempatan-kesempatan untuk berbuat jahat, yang semakin menegaskan ‘tuduhan’ Sartre paling termasyhur, “neraka adalah orang lain”. Pada ketinggian gedung yang cukup tinggi, saat melihat bayangan gelap bulan perlahan datang merangkak di tanah menyelimuti bumi, pesan dan ramalan Camus terasa begitu dekat dan kuat.

Untuk buku biografi, ada buku memoir keren Born to Run (Bruce Springsteen) yang sangat inspiratif. Ah andai Bob Dylan yang menuliskannya, mungkin kontroversi pemenangan dia sebagai nobelis sastra tidak akan sekencang itu. Buku biografi lain yang sangat saya rekomendasikan untuk dibaca adalah When Breath Becomes Air (Paul Kalanithi) yang mengeksplorasi ketakutan kita pada kematian—Kalanithi akhirnya meninggal di usia 38 tahun setelah berjuang dengan segalanya melawan kanker paru-paru. Memoir ini yang menceritakan ketakutan dan harapannya, begitu menyentuh dan personal sehingga ketika kita menutup buku, kita tak bisa memutuskan apakah Kalanithi sesungguhnya kalah oleh penyakitnya, atau justru menang?

Ada beberapa buku sains yang asyik untuk dibaca yang harus saya rekomendasikan. Randall Munroe mengeluarkan buku What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions dan buku keren Thing Explainer: Complicated Stuff in Simple Words, keduanya bisa menjelaskan dengan amat sangat sederhana tentang konsep-konsep terumit sains dengan bahasa dan ilustrasi yang asyik. Sebagai pelengkap, patut dicoba buku A Short History of Nearly Everything (Bill Bryson) yang bisa membuat kita berpikir bahwa “saya sangat jenius dan tahu banyak hal” setelah membaca bukunya.

Dalam topik sejarah, saya membaca Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 – Esai-esai Sejarah Lisan (John Roosa, ed.) yang merupakan kumpulan tulisan sejarah lisan mengenai kesaksian pengalaman korban G30S yang benar-benar membuat saya merinding dan menyesali untuk hal-hal yang tak bisa saya jangkau dan perbaiki. Ada banyak hal yang harus disesali karena saya tinggal di negara yang punya sejarah kelam di masa lalunya.

 

candide1

Diceritakan dengan penuh lelucon, Candide menggambarkan tragedi-tragedi yang dialami manusia dengan cara jenius.

Sementara itu, beberapa novel klasik seperti The Woman in Dunes dari Kobo Abe yang penuh perlambang bisa begitu memikat saya sampai saya menonton ulang filmnya yang sama-sama bagusnya. Oh, tentu saja novel Candide dari Voltaire sangat asyik untuk dibaca. Kesialan dan tragedi yang dialami tokohnya memang menggelikan dan tak meyakinkan, tetapi kalimat-kalimat tajam dan satirnya menjadikan novel ini bisa memberikan saya perenungan mendalam tiap membaca beberapa baris kalimatnya. Beberapa novel juga akhirnya bisa dibaca ulang ketika berhasil mendapatkan kopiannya—sebelumnya adalah membaca versi pinjaman. Ramalan masa depan kelam di novel The Road (Cormac McCarthy) terasa begitu mengancam saat dibaca ulang di hadapan kaldera raksasa Tambora. Sementara novel A Clockwork Orange (Anthony Burgess) yang meski dibaca dalam kondisi santai saat berleha-leha di Pantai Ora, tetap membuat saya merinding membayangkan moral masyarakat yang runtuh karena masyarakat yang fanatik, keras kepala, dan menghakimi—sangat dekat dengan kondisi masyarakat sekarang, kan?

Untuk novel-novel yang relatif baru, saya harus menyebutkan novel Fingersmith (Sarah Waters) yang nakal dan sensual dengan plot berlapis-lapis, alurnya sangat menipu dan membuat saya terkecoh di tiap babnya. Novel-novel baru yang terkenal kadang memang sering hiperbolis dalam hal ulasan, tetapi untuk novel A Brief History of Seven Killings (Marlon James) tak ada istilah berlebihan untuk setiap pujian yang dia berhak dapatkan. Dan salah satu novel terbaik saya tahun ini adalah The Brief Wondrous Life of Oscar Wao (Junot Díaz) yang meramu segala ikon “nerd” seperti dunia Tolkien dan serial TV scifi klasik tahun ‘80-an, menjadi sesuatu yang keren dan bermakna. Membaca buku ini serasa menemukan teman diskusi yang asyik. Akhirnya, ada orang yang bisa mengawinkan Tolkien, Starwars, H.P. Lovecraft, Ultraman, Shakespeare, Fidel Castro, film Planet of the Apes, dunia komik DC/Marvel, dengan kisah pilu pembantaian pemerintahan diktatorian, lengkap dengan mistisme voodoo dan keterpurukan ekonomi (dan kelamnya kriminal) kehidupan urban dunia ketiga. Novel ini punya segalanya.

Untuk buku-buku yang paling mengecewakan, saya rasa saya harus mengucapkan permintaan maaf dahulu sebelumnya. Seperti tahun kemarin, kebanyakan buku paling mengecewakan datang dari penulis-penulis nasional. Padahal tahun 2016 ini saya berniat ingin banyak membaca buku-buku lokal. Akhirnya, saya hanya bisa membaca 5 buku karya penulis lokal (iya, 5 dari 210 memang sangat tak adil). Kecuali buku kumpulan puisi Wiji Thukul yang berjudul Nyanyian Akar Rumput, keempat sisanya terasa mengecewakan. Untuk novel pamungkas Supernova Inteligensi Embun Pagi tak perlu saya ulas lagi. Novel Maya dari seri Bilangan Fu-nya Ayu Utami benar-benar terasa sangat membosankan padahal novelnya tipis, sehingga perlu dua mingguan saya menamatkannya. Buku puisi Tidak Ada New York Hari Ini (M. Aan Mansyur) yang saya baca setelah menonton-film-itu, bisa saya tuntaskan kurang dari 10 menit karena tema galaunya terasa artifisial (saya harus menolak tawaran hadiah buku ini dari seseorang, hehe, maaf ya). Buku terakhir yang paling mengecewakan adalah…ehemm.. Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan. Ok, ini adalah karya pertama Eka yang saya baca, dan memang menarik. Tetapi bagi saya, tak mengesankan. Untuk standar karya lokal, novel ini terlihat revolusioner, tetapi bagi yang sudah membaca novel-novel dari Asturias dan terutama Marquez, novelnya Eka terasa hambar. Plot ceritanya yang membulat mengingatkan saya pada buku buku manapun karya Marquez dengan tingkat kesusateraan yang terlihat tak imbang jika dibandingkan. Membaca ulasan-ulasan bejibun yang dicantumkan di covernya untuk membanding-bandingkannya dengan Marquez terasa sebagai strategi pemasaran yang putus asa dan memaksa. Membandingkannya dengan Marquez terasa kejauhan, Isabel Allende mungkin lebih dekat untuk disandingkan meski Allende lebih unggul. Jadi, berbeda dengan 3 buku sebelumnya, Lelaki Harimau memang tidak bisa dikatakan buruk, hanya saja mengecewakan tak sesuai ekspektasi. Pengharapan memang bisa membunuh. Tetapi bagaimanapun, untuk Eka saya masih memberikan kesempatan kedua—bukunya yang lain lacur dibeli juga sih, haha. Semoga membuat saya lebih terkesan.

41PQ8A9TMVL._SX279_BO1,204,203,200_.jpg

Barbellion adalah sahabat dan pahlawan baru saya

Jika disuruh memilih, buku apa yang paling mengesankan di antara yang paling dianggap bagus dibaca tahun 2016 ini, maka tanpa ragu saya akan memilih memoir The Journal of a Disappointed Man karya W.N.P. Barbellion. Pernah kah kamu memiliki sahabat yang amat sangat dekat, yang menceritakan setiap harapan, ketakutan, dan mimpi-mimpinya yang dibagikan denganmu? Membaca buku Barbellion, kamu akan mendapatkan sensasi serupa. Begitu saya menutup halaman terakhirnya, saya merasa ditinggalkan oleh sahabat terdekat saya, dengan cara yang amat menyedihkan. Sebenarnya The Journal of a Disappointed Man secara tema mirip dengan When Breath Becomes Air, namun bagi saya versi Barbellion terasa lebih jujur, lebih blak-blakan, dan lebih intim. Ada unsur nostalgia kuat juga di bukunya.

Tahun ini saya sedang membaca pelan novel Infinite Jest, selain karena bahasanya yang rumit dan plot membelit, bukunya yang sangat tebal sehingga repot untuk dibawa kemana-mana. Hanya bisa dibaca di rumah dengan kecepatan 10 halaman per minggu. Bagaimanapun, saya tak ingin menamatkan buku ini secara tergesa-gesa. Kandidat buku yang akan masuk dalam kategori super-duper-suka. Dan oh, tentu saja membaca ulang kumpulan puisi The Wasteland-nya TS Eliot, yang tampaknya akan menjadi bacaan rutin saya setiap bulan April.

*****

Film dan buku yang saya sukai memang belum tentu disukai juga orang lain, pun sebaliknya. Dan di sinilah opsi-opsi yang saya ambil seperti pilihan membatasi konsumsi daging, berperan besar. Membaca buku bukan lagi sekedar mencari hiburan, menonton film bukan sekedar perintang mengisi waktu luang. Seperti halnya makanan yang saya telan tak lagi ditujukan hanya agar membuat kenyang di perut dan nikmat di lidah. Semuanya adalah mengenai bagaimana saya bisa berdamai dengan diri sendiri. Bagaimana saya belajar untuk sabar, tetap konsisten bertahan meski banyak pilihan lain yang lebih cepat selesai dan penampilan menggoda. Membaca buku 900 halaman atau menonton film berdurasi 8 jam, sudah pasti membutuhkan keberanian, dan perdamaian serta pengampunan kepada diri sendiri.

Pilihan-pilihan tersebut memang terkesan membuang-buang waktu, persis seperti saat senior saya menanyakan kepada saya, apa sih asyiknya mendaki gunung. Toh mendaki gunung adalah proses yang lambat, melelahkan, dan menghamburkan tenaga dan waktu. Dan ketimbang saya menuliskan ulang jawabannya, saya biarkan Barbellion yang menjawabnya,

“I waste much time gaping and wondering. During a walk or in a book or in the middle of an embrace, suddenly I awake to a stark amazement at everything. The bare fact of existence paralyses me–holds my mind in mortmain. To be alive is so incredible that all I do is to lie still and merely breathe–like an infant on its back in a cot. It is impossible to be interested in anything in particular while overhead the sun shines or underneath my feet grows a single blade of grass.”
― W.N.P. Barbellion, The Journal of a Disappointed Man

 

Catatan Tambahan:

*        = Sepanjang tahun 2014, majalah National Geographic mengeluarkan rubrik spesial di setiap bulannya yang membahas mengenai segala hal tentang pangan global, mulai dari sejarah, sumber asal, budidaya, pengolahan, pengemasan, distribusi hingga krisis yang disajikan dengan begitu sistematis dan grafis menawan namun juga menakutkan. Untuk setiap piring makanan yang kita cicipi, begitu komplek melibatkan banyak kisah, energi, hingga pengorbanan darah-air mata-termasuk nyawa. Bacalah, akan membuka mata dengan banyak kebenaran yang begitu membuat tak nyaman. Jika tak berlangganan majalahnya, bisa membacanya di sini. Karena bersifat edisi khusus untuk majalah, meski dijejali banyak fakta dan informatif, mungkin masih terasa terlalu dipadatkan. Maka bacalah serial buku-buku Michael Pollan, terutama The Omnivore’s Dilemma: A Natural History of Four Meals yang akan membuatmu menjadi seorang pemikir ketika melihat sesendok  makanan. Tenang saja, sesuai judulnya, buku ini ditujukan buat kaum karnivora, bukan sebuah kampanye vegetarian.

Advertisements

6 thoughts on “Terbaik dan Terburuk di 2016

  1. Sebagai mantan penggemar berat KFC, di Mei tahun ini saya memutuskan untuk melakukan hal sama kayak kamu, tiba-tiba berhenti makan daging hewan darat. Empat bulan kemudian saya mencoba memasukkan menu daging tersebut di dalam daftar makanan saya selama sekitar sebulan lebih sampai akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya sudah nggak doyan lagi. Walaupun sempat makan di beberapa kesempatan, saya nggak nyangka ternyata sedemikian mudah untuk sukses melewatkan dua hari raya, godaan steak di hari ultah, dan makan-makan akhir kantor tanpa menu daging.

    Udah cuma mau curhat itu aja 😀

    Like

    • Great news!

      Terima kasih untuk berbagi ceritanya. Untuk beberapa hal yang berkonsekuensi “mengurangi” kenikmatan duniawi, memang hal pertama yang harus dilakukan adalah berkompromi dengan diri sendiri. Sekalinya bisa, maka apapun yang terasa berat dan menghambat akan terlalui dengan begitu saja, bahkan menemukan “kenikmatan” lain yang sepadan.

      Salam,

      Qui

      Liked by 1 person

  2. Walau panjang..curhatanmu menarik kok Qui :P. Aku melihatmu sebagai orang yang menikmati hidup (banget) dan beberapa kalimat di “curhat”mu bikin aku ingat pas liburan ke Ubud kemaren. Saat itu aku main ke Museum Blanco, semata karena direkomendasikan teman dan walau aku sadari aku bukan orang yang suka seni (apalagi mengapresiasinya), aku tetap kesana. Well, tetap ga bisa mengapresiasi karya Blanco yang penuh dengan dada dimana – mana (lucu, karena Blanco punya koreksi erotis, tapi aku ga menganggapnya erotis, malah terlalu berlebihan), ada satu lukisan yang menggelitik. Di lukisan itu ada tulisan dari Antonio Blanco sendiri saat dia ditanya “what’s the meaning of life?”. Jawabannya cukup menggelitik, melibatkan buah mangga dan dada model wanita yang dia pegang. Membaca postinganmu, bikin aku ingat hal itu. Both of you enjoy your life with your own way. Bisa aku bilang kalau aku cukup iri? 🙂

    Eniwei..aku juga ga menikmati Captain America: Civil War kok. Rasanya bosen lihat superhero terus nih.

    Liked by 1 person

    • Wow… Menarik… Untuk seorang pembaca dengan jenis bacaan seeksploratif dirimu masih menganggap lukisan Don Blanco sebagai karya erotis (dan berlebihan), saya merasa tak percaya. Haha *dilempar kompresor

      Beberapa film, terutama film-film blockbuster, memang sangat-sangat formulaic, terlebih film superhero. Kita tahu dengan pasti bagaimana film ini akan dimulai, diisi, dan diakhiri. Pada kasus Marvel, demi menjaring audiens baru, mereka men-downgrade-nya menjadi film semi komedi yang-penting-semua-hepi, tanpa memperdulikan perkembangan karakter. Kasus terburuk adalah Spiderman. Sudah ada trilogi awal, lalu mentok pengembanagn karakternya, reboot lagi menjadi film berseri dari awal, dan setelah mentok lagi, direboot lagi dari awal lagi. Begitu terus. X-Men, (dan sangat mungkin Iron-Man dan Hulk) akan mengalami reboot tiada akhir tanpa perkembangan cerita berarti. Jika durasi reboot puluhan tahun, mungkin masih bisa dimaklumi, tetapi jika hanya dalam jeda 1-5 tahun… Duh.

      Terkait “enjoying your life”, ya setiap orang punya versinya masing-masing. Bagi saya, syaratnya lebih simpel saja: how to deal with your ego/desire. Nafsu itu tak bisa dihilangkan atau dilenyapkan, diatur malah cape sendiri menghabiskan waktu dengan “susun strategi” dan “rencana”. Jadi, lebih baik ajak dia untuk berdamai dan berteman. Kita harus bisa mengalah pada batas yang masih tolerable, pun sebaliknya, dia sendiri kita ajak berdamai dengan “visi” kita. Hal lainnya adalah, kita harus bersyukur untuk semuanya, untuk setiap hal terkecil pada momen-momen hidup kita. Kita jalan kaki, harus beryukur karena banyak orang yang sakit, kita kehujanan harus beryukur karena bisa merasakan segarnya air hujan ketimbang mereka yang menggerutu terjebak, upah yang tak memadai harus disyukuri karena ribuan orang rela mengantri untuk bisa mendapatkan posisi yang sedang kita duduki, and so on. Ya, bukan berarti saya menganut faham fatalis yang serba pasrah. Pengupayaan ke hal-hal yang lebih baik harus terus dilakukan, tetapi membuat “menikmati” hal-hal buruk ika dilihat dari perspektif lain akan membuat kita jauh lebih hidup ketimbang mereka yang diberikan segala kemudahan.

      -Qui

      Like

  3. Pingback: Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 3] | melquiadescaravan

  4. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiadescaravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s