Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 2]

“Welly, welly, welly, welly, welly, welly, well. To what do I owe the extreme pleasure of this surprising visit?”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

Sekawanan ikan kakak tua—saya belum pernah melihat kawanan ikan kakak tua sebanyak ini sebelumnya—berenang melintasi sampan yang kami tumpangi. Warna hijau kebiruan cemerlang mereka semakin tertegaskan dalam kejernihan air yang bening bak gelas kualitas terbaik. Kurang dari sepuluh detik, saya langsung menyambar snorkel, kamera kedap air dan lompat ke laut untuk mengabadikan penampakan langka ini. Teman-teman saya melakukan hal serupa. Setelah melompat ke air, saya menengok kiri kanan untuk melihat kemana kawanan ikan tersebut pergi, suara deburan lompatan kami pasti mengagetkan mereka. Saat menengok kiri kanan itulah saya menyadari sesuatu yang buruk akan datang. Seketika saya menyadari kesalahan fatal yang telah kami lakukan. Bahkan sebelum saya sempat berteriak memperingatkan teman-teman saya, sesuatu yang amat saya takutkan datang menyambar mereka dalam tempo nyaris sekejap saking cepatnya. Saya bahkan tak sempat memikirkan nasib teman-teman saya, karena tepat pada detik berikutnya hal yang sama terjadi pada saya. Detik-detik berikutnya hanya ada kegelapan yang pekat, rasa ngeri yang mencengkeram amat erat, dan bayangan tentang hal-hal buruk yang amat sangat dekat… Dan penyesalan… selalu datang terlambat…

*****

Sepertinya hal ini sudah dituliskan di semua brosur promosi wisata dimana-mana, tetapi akan saya ulangi lagi; bahkan dari jarak jauh, bungalo terapung di Pantai Ora memang tampak seperti bungalo-bungalo yang ada di Pulau Bora Bora kepulauan Polynesia Perancis, nun jauh di tengah Samudera Pasifik sana. Sejak dari kejauhan, dari sampan bermesin yang mengantarkan kami dari Desa Saleman, bungalo-bungalo laut Pantai Ora sudah membuat kami terpaku langsung ke depan, mata berbinar dan nyaris meloncat keluar sudah tak sabar untuk segera sampai ke sana.

Kami sampai di Pantai Ora saat sudah sore, artinya  arus pasang sudah datang. Pemandangan bawah laut Pantai Ora terlihat keruh karena air pasang membawa dan mengaduk remah-remah pasir di lantai samudera untuk hanyut ke mana-mana. Tidak sepenuhnya keruh seperti air bah banjir tentu saja—dan bagaimanapun sekeruh-keruhnya Pantai Ora, masih lebih jernih dibandingkan pesisir manapun di Jawa—tetapi ada garis-garis kekecewaan menggerus di kerutan bibir teman-teman saya. Tak butuh waktu lama sampai terdengar celutukan ‘kayaknya pantai-pantai yang kita lewati tadi lebih bagus ya?’ atau dalam nada pesimistis yang dipadukan dengan kondisi badan lelah menempuh perjalanan jauh, seseorang berkata ‘kayaknya pantai Ora sama saja dengan pantai lainnya ya?’ Sekilas, memang terlihat bahwa Pantai Ora di sore hari membuat Pantai Ora terlihat sama seperti pemandangan pantai-pantai lainnya di Maluku. Lalu, buat apa kami jauh-jauh ke sana mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan biaya jika pemandangan serupa dan tak jauh beda bisa ditemukan di tempat lain yang lebih dekat dan murah?

Jauh dari kesan jelek tentu saja, namun untuk tempat semahal dan sejauh Pantai Ora, pemandangan yang tampak biasa membuat perjalanan menuju sana terasa tak impas. Apalagi kami menyewa bungalo terapungnya yang harganya lumayan mahal ketimbang bungalo darat atau penginapan-penginapan yang ada di Desa Saleman. Beberapa wisatawan yang sampai ke Desa Saleman saat sudah sore, memang lebih memilih menginap dulu di desa ketimbang langsung menginap di Ora. Di saat pasang, deburan ombak membuat suasana bungalo menjadi berisik sehingga badan lelah yang membutuhkan istirahat setelah menempuh perjalanan panjang terasa terganggu. Meski banyak ikan berseliweran di bawah bungalo dan menggoda kami untuk segera terjun snorkeling, tetapi badan lelah tak membuat kami berselera. Toh sejam lagi akan masuk senja. Jadi kami lebih memilih beristirahat sambil mendengar keluhan teman yang masih menyangsikan apakah Pantai Ora yang foto-foto cemerlangnya banyak beredar di internet adalah hasil rekayasa—atau setidaknya difoto saat momen dan diambil dari sudut yang langka. Tetapi tentu saja saya tak percaya konspirasi manipulasi seperti itu. Saya pikir, jika promosi wisata Pantai Ora mengandalkan trik murahan seperti itu, Pantai Ora tak akan seterkenal ini. Beberapa pengunjung lain yang kami jumpai adalah warga-warga asing yang tak berbahasa Inggris, artinya wisata Ora sudah terkenal kemana-mana. Jadi saya memotivasi mereka dengan menganalogikan perjalanan ke Ora dengan pendakian gunung-gunung yang telah kami tempuh sebelumnya, tampak biasa di awal dan malah terlihat menyusahkan, tetapi saat sampai puncak, selalu sukses membuat kami takjub dan terpesona sehingga ketagihan terus untuk mendaki. Maka, secara berulang saya selalu mengatakan ini, ‘Hey, hiking experiences have taught us to be patient when waiting for the magic. And I promise you, tomorrow morning will be great’. Besok paginya, ramalan saya terbukti benar.

20161105_142556.jpg

Pantai Ora ketika kami datang, air sedang pasang sehingga sedikit keruh. Gunung-gunungnya di belakang, sangat menggoda untuk didaki

*****

Pantai Ora memang sangat cocok untuk menyepi menenangkan pikiran dari hiruk pikuk keseharian bagi mereka yang tak bisa mendaki gunung. Atau bisa juga untuk liburan romantis seperti bulan madu—kebanyakan tamu lain yang kami jumpai adalah golongan terakhir. Untuk rombongan liburan hore-hore seperti kami, jumlahnya sangat jarang. Kebanyakan rombongan hanya datang mampir sebentar tetapi tak sampai menginap di bungalo terapungnya. Jadi saat menikmati makan malam di restoran terapungnya yang kebanyakan mejanya diatur berdua dan berempat, sangat jarang meja yang diisi lebih dari dua orang seperti gerombolan kami. Apalagi saat itu bulan mati baru lewat beberapa hari, langit malam sedang pesta bintang gemintang sehingga kesan romantisnya makin terasa kuat. Di restoran, musik-musik yang diputar pun kebanyakan lagu-lagu duet romantis yang biasa dinyanyikan di pesta-pesta pernikahan sehingga rombongan kami yang terbiasa cekikikan sedikit kagok menikmati makan malamnya, haha. Kelelahan menempuh perjalanan panjang, kami tidur cepat lebih awal. Tidur tanpa mimpi tetapi penuh harapan agar pemandangan dahsyat akan menyambut kami keesokan harinya.

Terbangun pada pukul 3 dini hari, saya membawa buku bacaan untuk dinikmati di beranda bungalo terapung yang langsung menghadap laut lepas. Hanya sejam saja saya sanggup membaca, karena ketika semburat lembayung dini hari mulai muncul di langit, detik-detik keajaiban mulai terjadi, atraksi pamer keindahan Pantai Ora yang selama ini dijanjikan iklan-iklan wisata mulai muncul di sekeliling saya. Ah, andai tega membangunkan teman-teman saya yang masih lelap kelelahan, ingin sekali saya membangunkan mereka. Tetapi saya yang oportunistis memilih menikmati keajaiban dini hari sunyi seorang diri.

Udara berasa seperti jagung letup yang dijual di bioskop, terasa manis gurih karena aroma garam laut beraduk dengan udara gunung di belakang Pantai Ora yang membawa kesegaran dan aroma manis hutan lebat. Angin dini hari yang masih kencang, membawa gulungan-gulungan kesegaran dan semangat hari baru dari tempat-tempat jauh nan hampa di tengah samudera sana. Rasa kantuk dan kelahan melucut dari tubuh saya seketika sejak saya membuka pintu dan melangkahkan kaki ke beranda.  Bunyi kecipakan ikan terdengar dimana-mana, menandakan bahwa tak ada istilah istirahat malam di lautan. Ketika mata saya mulai bisa membiasakan dengan kegelapan dan seiring garis-garis lembayung fajar pertama muncul tipis dari arah timur, tampak rombongan ikan dalam jumlah yang tak bisa saya perkirakan jumlahnya berseliweran di tiap senti celah air lautan. Bunyi lenguhan ikan-ikan karnivora berukuran raksasa yang tak bisa saya tebak datangnya dari arah mana, kekenyangan memangsa ikan-ikan kecil yang pada masa hari masih gelap pun tetap berlarian menyelamatkan diri dari kejaran pemangsa. Bunyi pasir dan koral bergemerisik tergerus arus laut surut. Ombak-ombak yang memecah dan berteriak ketika terbentur, menjilat-jilat karang-karang tajam dalam ketekunan anak kecil yang terus menjilati es krimnya takut ada tetesan yang terbuang. Angin-angin ribut mengeluarkan siulan asing saat menyelusupi ke lubang-lubang sarang burung pada tebing curam di belakang bungalo, dan di langit dalam jumlah yang tak bisa saya bayangkan, ribuan gemintang merayakan pesta terakhirnya sebelum kedatangan sang raja siang beberapa menit berikutnya. Dedaunan, ranting pohon, cangkang kerang yang telah ditinggalkan penghuninya, hanyut melarung meliuk-liuk dalam gerakan sentrifugal anggun ke tengah samudera untuk tenggelam bergabung bersama kegelapan pekatnya. Lapisan-lapisan awan tipis menggantung di kaki cakrawala menjanjikan akan ada pemandangan sunrise spektakuler yang akan saya jumpai beberapa jeda ke depan.

Masih bergulungkan selimut duduk di kursi beranda, buku setengah terbuka yang tak jadi dilanjutkan dibaca, teh yang sudah mendingin padahal baru diminum seperempatnya, saya seperti makhluk troll yang menatap linglung dalam posisi tubuh membeku saat terkena cahaya matahari, terhipnotis dalam keriuhan sekaligus kesenyapan dini hari Pantai Ora. Ketika teman saya menyapa saya saat fajar sudah terang benar, saya masih duduk dalam posisi duduk serupa. Saya bayangkan, ternyata tidak sulit bagi para pertapa dan begawan zaman dahulu kala, yang sanggup duduk bermeditasi dalam tempo lama di alam liar tanpa menggerakan tubuh. Dan apa yang saya deskripsikan di atas baru saja awal dari mukijat alam sesungguhnya. Ketika teman saya sudah bergabung bersama saya ketika pagi sudah terang, mereka terus berujar ‘wow’ bersahut-sahutan sehingga saya harus memperingatkan mereka agar cuci muka dulu sebelum sibuk mengurusi kameranya. Deskripsi saya akan memakan belasan paragraf putus asa jika saya berusaha menjabarkan keindahan laut di Pantai Ora seperti apa. Tapi saya akan merangkum menjadi ini saja: bayangkan laut sejernih dan setransparan udara—bahkan kaca dan perabotan kristal termahal pun tak bisa mengalahkan kejernihan air laut Pantai Ora pagi hari, di saat seperti itu kamu akan mudah percaya bahwa mukjizat alam itu beneran ada.

Hanya sedetik setelah teman saya berteriak histeris “bukannya itu kura-kura?”, saya langsung segera menyambar snorkel dan terjun dari beranda. Untuk pertama kalinya, ini memecahkan rekor snorkeling sepagi mungkin di Pantai Merah di Pulau Komodo sebelumnya, saya loncat ke air laut untuk snorkeling pada pukul 5.30 pagi hari. Tak memerdulikan air yang masih dingin, saya berkecipuk mengelilingi area sekitar bungalo untuk mengejar ikan-ikan berwarna semarak dengan sia-sia. Saya baru berhenti snorkeling setelah teman saya berteriak mengingatkan bahwa sarapan bisa dimulai, dan barulah terasa betapa snorkeling pagi hari dengan mudah membuat saya lapar sehingga saya makan pagi sampai menambah dua kali. Untungnya sarapan disajikan secara prasmanan sehingga tak sampai menimbulkan perhatian pramusaji karena saya mengambil porsi tambahan.

20161107_091152.jpg

Terlihat dangkal, sesungguhnya terumbu karang ini lumayan dalam, kejernihan airnya lah yang membuatnya seolah permukaan air laut merendah

Selepas sarapan, kami langsung bersampan ke Tebing Batu Sawai. Di sini, terumbu karangnya tumbuh lebih indah dan lebih banyak lagi. Sarapan yang kami kunyah mungkin masih ada di kerongkongan, tetapi kami sudah langsung terjun lagi untuk melanjutkan snorkeling. Saya rasa air sejernih itu akan mampu memaksa orang yang yang paling tak bisa berenang pun nekat untuk snorkeling. Jangan khawatir, beberapa area sangat dangkal tak sampai seleher sehingga aman, asal perhatikan jejak kaki, jangan sampai menginjak karang lunak atau koral tajam. Dan untuk pertama kalinya setelah menyaksikan parade ikan manta di perairan Komodo, saya menyaksikan ikan pari berkeliaran di lantai lautan. Tenang saja, rombongan ikan pari hanya ada di lantai lautan yang dalam. Formasi morfologi pesisir sekitar Ora memang unik. Dangkal di beberapa tempat, lalu tanpa aba-aba, langsung terjun menghujam amat sangat dalam berupa tebing curam*. Ikan pari ditemui di dasar lembah curam tadi. Saya tak ingat seberapa lama kami bersnorkeling ria ketika mulai terasa kayuhan tangan saya membelah air mulai melemah, kaki mulai terasa kaku untuk digerakan. Tubuh saya kehabisan tenaga kebanyakan berenang. Porsi sarapan ganda terasa kurang, haha. Dengan sisa-sisa tenaga, saya menyeret tubuh ke kapal. Oh, di Tebing Batu Sawai ada banyak ceruk alami, batuan keras karang yang kalah oleh alunan lembut ombak selama ribuan tahun secara terus-menerus, membentuk lubang-lubang menyerupai gua. Seberapa banyak kami mengambil foto di gerbang ceruk itu, saya tak sanggup menghitungnya.

Sambil memangsa cemilan apapun yang ada di perahu sebagai bekal, hanya 5 menit dari titik snorkeling tadi, kami diberitahu bahwa ada gua bawah air yang indah untuk dicoba. Meski tenaga sudah hampir habis, begitu perahu berhenti, saya langsung terjun ke bawah air. Formasi guanya memang unik. Pintu gua terletak di bawah permukaan air. Jadi untuk masuk ke dalam gua, kami harus free dive dulu. Dan karena atap gua tertutup rapat, keadaan gua nyaris gelap total. Hanya dari pembiasan air seadanya dari pintu gua di dasar, ada cukup keremangan untuk menebak-nebak letak dinding gua, tetapi gagal untuk menghitung seberapa luas gua itu. Saya menduga-duga bertanya, mungkinkah Orang-bati pernah tinggal di gua ini? Karena kelelahan sudah tak tertahankan dan tak banyak yang bisa diamati, tak sampai 5 menit kami di sana. Sebelum benar-benar nyaris pingsan, kami kembali ke kapal untuk selanjutnya kembali ke penginapan. Tak disangka, begitu lamanya kami berenang sehingga waktu makan siang sudah datang. Dan ya, sudah bisa kalian duga, bagaimana porsi makan siang saya saat itu.

Selepas makan siang, sambil memulihkan tenaga, saya tidur-tiduran di kursi ayunan pinggir pantai. Air laut yang tampak jernih jika dilihat dari atas, terlihat sangat biru dilihat dari samping. Setelah satu jam-an istirahat, kami langsung berangkat ke Mata Air Belanda, dan tentu saja tetap membawa peralatan snorkel karena sudah pasti pemandangan bawah lautnya akan menggoda kami untuk berenang segera. Saat itu tengah hari dan pasir pantai sepanas abu di tungku yang menyala. Tetapi kami masih bersemangat untuk menempuh apapun demi menikmati setiap jengkal keindahan surgawi Pantai Ora.

WP_20161106_07_50_15_Pro.jpg

Pantai di belakang bungalo yang saking jernihnya, langsung membiaskan cahaya biru pada kedalaman dangkal

Mata Air Belanda mendapatkan namanya karena dulunya di mata air ini orang Belanda membasuh tubuh mereka di sana. Mata airnya sangat dingin, langsung keluar dari kaki Gunung Roulessy di belakang Pantai Ora. Sangat kontras dengan permukaan pasir yang diinjak sebelumnya sehingga yang awalnya gembira menemukan air sejuk, menggigil kedinginan beberapa saat kemudian. Ada lubuk-lubuk berupa lumpur dalam dan melesak di bagian tengah, jadi harap hati-hati jika berjalan menelusuri bagian tengah sungainya, yang awalnya sepaha, ambles sampai sedada sehingga saat teman saya mengalaminya terjadi kepanikan yang malah kami timpali dengan cemoohan. Ada area pantai pasir luas di sekitar Mata Air Belanda yang sangat cocok untuk dijadikan area perkemahan yang harus kami sesali karena tak bisa kami lakukan. Setelah jajan keripik pisang di pondok-pondok warung yang ada di sana, kami melanjutkan snorkeling di area yang tak jauh dari sana. Di sana, kami mendapatkan pelajaran yang amat berharga dan berbahaya.

*****

Meski sepagian dan sesiangan kami bersnorkeling ria, tetapi kami selalu tergoda untuk tetap melakukannya. Pun saat pulang dari Mata Air Belanda menuju penginapan. Menyaksikan hutan koral lebat di bawah permukaan air, kami tak kuasa untuk tidak terjun ke air saat itu juga. Sekawanan ikan kakak tua—saya belum pernah melihat kawanan ikan kakak tua sebanyak ini sebelumnya—berenang melintasi sampan yang kami tumpangi. Warna hijau kebiruan cemerlang mereka semakin tertegaskan dalam kejernihan air yang bening bak gelas kualitas terbaik. Kurang dari sepuluh detik, saya langsung menyambar snorkel, kamera kedap air dan lompat ke laut untuk mengabadikan penampakan langka ini. Beberapa teman saya melakukan hal serupa. Setelah melompat ke air, saya menengok kiri kanan untuk melihat kemana kawanan ikan tersebut pergi, suara deburan lompatan kami pasti mengagetkan mereka. Saat menengok kiri kanan itulah saya menyadari sesuatu yang buruk akan datang. Seketika saya menyadari kesalahan fatal yang telah kami lakukan. Bahkan sebelum saya sempat berteriak memperingatkan teman-teman saya, sesuatu yang amat saya takutkan datang menyambar mereka dalam tempo nyaris sekejap saking cepatnya. Saya bahkan tak sempat memikirkan nasib teman-teman saya, karena tepat pada detik berikutnya hal yang sama terjadi pada saya. Detik-detik berikutnya hanya ada kegelapan yang pekat, rasa ngeri yang mencengkeram amat erat, dan bayangan tentang hal-hal buruk yang amat sangat dekat… Dan penyesalan… selalu datang terlambat…

Saat itu waktu sudah menjelang sore, artinya arus pasang sudah naik. Kontur pantai yang dari tempat ngarai laut dalam langsung berubah menjadi pantai koral dangkal, membuat arus pasang pecah menjadi energi ombak yang kuat di permukaan dangkal. Itu mengapa ketika sebelum melompat dari kapal, kami tidak melihat adanya gelombang laut tinggi, tetapi saat berenang di area koral yang dangkal, ombak setinggi semeter lebih tiba-tiba muncul secara mengerikan datang menerjang, menubruk, dan mengubur kami tanpa ampun sebelum kami sempat berpikir. Menghadapi ombak setinggi itu, kami sama sekali tak berdaya, secara kilat terseret, tergulung, dan terkubur oleh kekuatan ombak yang tak kami duga kemunculanya yang begitu datang cepat dan mendadak. Bak dedaunan, kami terombang-ambing dan terhempas secara tak berdaya oleh ombak. Keadaan menjadi lebih buruk karena meski dasar lantai pesisir dangkal sedada, tetapi penuh dengan koral-koral setajam pisau siap menyayat-nyayat bagian kulit yang tak terlindungi. Betis saya tersayat beberapa kali selama terseret tanpa daya untuk menghindar, melawan atau bertahan. Pengemudi sampan yang kaget dengan kemunculan ombak mendadak terus berteriak-teriak memperingatkan panik, yang tak bisa kami dengarkan karena sibuk membayangkan setiap kengerian saat ombak muncul. Sampan tak bisa mendekat dan membantu kami karena area yang dangkal dapat membuat sampan karam. Keindahan surgawi bawah laut serasa berubah menjadi neraka yang mematikan dan mengancam tiap detiknya.

Setelah dua kali hantaman ombak, saya mulai mempelajari ritme kedatangan ombak. Ketika ombak raksasa akan datang, saya langsung memasang kuda-kuda di area karang datar tak tajam, berdiri menyamping membuat area tubuh seminim mungkin agar hantaman ombak mengenai area tubuh sekecil mungkin, sehingga tak terlalu kuat saat menerjang tubuh. Begitu ombak mereda mengumpulkan energi untuk hantaman berikutnya, nyaris terbang putus asa saya langsung melompat berenang sekuat tenaga menjauh area terumbu pesisir menuju tengah laut yang ombaknya relatif tenang tempat sampan menunggu. Saya hitung ada 12 kali saya melakukan strategi serupa sampai akhirnya saya berhasil naik ke sampan dengan betis dan lengan penuh baret-baret luka tergores koral tajam. Teman saya yang berada di bagian lebih tengah daripada saya, membutuhkan waktu dan percobaan lebih singkat. Untungnya saya memakai pelampung saat snorkeling—antisipasi jika kelelahan karena sudah snorkeling seharian—sehingga saat serangan ombak datang bertubi-tubi, sebagian besar tubuh saya masih mengapung, tidak terhajar sepenuhnya ke dasar lantai pesisir yang penuh koral-koral tajam mengancam.

Ketika akhirnya saya berhasil naik sampan sebagai yang anggota terakhir, ada jeda-jeda hening diantara nafas-nafas memburu yang campur aduk antara ketegangan, ketakutan, kelelahan, dan kelegaan akhirnya terbebas dari kengerian yang bisa saja menjadi lebih buruk. Sang pengemudi sampan diam tak berkomentar, mungkin merasa bersalah mengijinkan kami berenang di sana, meski dia tak bisa saya salahkan. Toh keputusan melompat langsung itu murni inisiatif saya. Datangnya ombak yang mendadak, murni keteledoran saya yang gagal mempelajari kondisi sebelumnya dengan seksama. Memeriksa luka memar dan gores karena terkena karang-karang tajam, sambil nyengir antara menertawakan kekonyolan kami dan rasa perih karena luka terkena air garam. Tak ada peralatan P3K sehingga tak ada yang bisa saya lakukan lebih lanjut untuk merawat luka. Kami tertawa sumbang menertawakan kekonyolan kami sendiri sambil membayangkan bahwa situasinya bisa saja lebih buruk lagi. Misal bagaimana jika saat tergulung ombak bagian kepala terbentur ke bagian karang tajamnya? Ketika semua kepanikan telah berlalu, kami tertawa untuk mengendurkan ketegangan dan mencairkan suasana. Masih terekam dalam ingatan dengan jelas, saya yang pertama kali menyadari situasi bahaya kami, juga yang pertama kali melihat dengan ngeri betapa teman saya terangkat gelombang sangat tinggi (saya sampai harus mendongkak untuk melihatnya) terombang-ambing dan terhempas secara tak berdaya oleh gulungan gelombang dahsyat yang datang secara mendadak. Setelah kengerian berlalu, saya malah menjadi merasa lucu melihat teman saya terangkat gelombang tinggi seperti balon karet yang begitu mudahnya terombang-ambing, lalu dalam sekejap tanpa ampun dihantamkan ke dasar karang.

Sensasi aneh menjalar serupa semut di nadi-nadi tubuh yang hangat dan merembes sampai ke seluruh tubuh, ketika adrenalin terlepas ada semacam perasaan bahagia—mungkin rasa histeris yang tersalurkan sebagai kelanjutan dari kelegaan**. Kami nyaris tertawa-tawa histeris merayakan tubuh kami yang selamat utuh. Sementara itu, dari tengah lautan, terlihat dengan jelas gelombang masih mengamuk yang menghajar kami barusan. Betapa besar dan kencangnya. Dan secara paradoks, dibalik dunia transparan air laut, ikan kepe-kepe yang berwarna mencolok bak gula-gula berseliweran dimana-mana, tak terpengaruh gelora dan amukan ombak di atasnya. Warna-warna terang mereka menggoda seperti rumah permen dalam cerita Grimms Bersaudara yang indah namun mengancam. Meski pemandangan bawah lautnya masih menggoda, akhirnya diputuskan kami tak akan melanjutkan snorkeling lagi dan kembali ke penginapan. Begitulah rencana awalnya.

Lima menit sampan melaju menuju arah ke bungalo, kami melewati teluk yang lebih tenang, ombak tak sebesar tadi. Saya melirik teman saya, saling mengangguk, dan meledak dalam tawa konyol. Kami sepakat untuk mencoba snorkeling lagi. Sang pengemudi sampan geleng-geleng kepala tak percaya namun akhirnya luluh oleh permintaan kami untuk berhenti. Dengan sedikit komentar pasrah, dia berpesan singkat dan tegas, meminta kami berenang dalam radius dekat dari sampan. Permintaan yang tidak kami jalani tentu saja, kemudian. Nah, saya tak akan menggambarkan lagi keindahan macam apa di terumbu karang di sana. Tapi coba pertimbangkan ini: kurang dari 10 menit sebelumnya, kami sudah berjuang habis-habisan menyelamatkan diri dari situasi buruk yang mengancam keselamatan kami. Kecelakaan yang lebih fatal bisa saja terjadi, tetapi akhirnya kami mengambil resiko tersebut. Jadi, kebayangkan seindah apa hutan terumbu karangnya sehingga kami tak jera dan malah tertantang untuk berenang ulang?

Maka terjadilah, sejak pagi hingga petang, setengah harian, saya benerang-renang di laut menjelajahi kehindahan hutan terumbu karang di Pantai Ora, tak jera meski sudah mengalami marabahaya. Memecahkan rekor snorkeling seharian terlama saya di manapun sebelumnya.

*****

Keletihan dan kepuasan melingkupi diri saya ketika di keremangan senja, berbaring di kursi malas di beranda bungalo yang menghadap laut. Entah mengapa, berbeda dengan segala ombak besar yang tadi menghajar kami, arus di sekitar penginapan terasa begitu tenang dan jinak. Teman-teman saya bergelimpangan di kasur melampiaskan kelelahan dan ketegangan. Saya lebih memilih melanjutkan pembacaan buku A Clockwork Orange ditemani teh hangat dan goreng ubi panas yang diantarkan petugas langsung ke kamar yang prihatin melihat kami yang pulang ke bungalo dengan jalan terpincang-pincang.

Selepas maghrib, saat gelap mulai menjalar di kaki cakrawala namun pucuk langit masih bercahaya keemasan oleh mataharai senja, dari arah Gunung Roulessy di pinggir Desa Saleman, dalam jumlah ratusan (atau ribuan?), segerombolan kelalawar terbang keluar dari gua yang menggantung di tengah tebing. Jadi inilah makhluk legendaris Lusiala yang terkenal mistis itu… Dalam perjalanan menuju Desa Saleman, sang supir menceritakan kepada kami bahwa menggantung di tebing belakang Desa Saleman, terdapat sebuah gua yang tak bisa dijangkau manusia tanpa peralatan pemanjatan khusus. Gua ini dihuni makhluk serupa kelalawar dan dianggap keramat oleh masyarakat desa. Berdasarkan pengakuan sang supir, syahdan ada seorang ilmuwan asal Jerman yang nekat mendaki tebing dan memasuki gua itu. Alangkah anehnya saat masuk kedalam gua, dia tak menemukan jejak makhluk apapun yang tinggal di sana, bahkan tidak kotorannya. Padahal makhluk ini jelas-jelas sering terlihat terbang sehabis maghrib dan pulang menjelang subuh dalam jumlah fantastis. Penemuan si ilmuwan Jerman itu (atau lebih tepatnya tidak-ada-penemuan) itu menegaskan bahwa makhluk sejenis kelalawar itu memang mistis dan keramat. Oleh penduduk Desa Saleman, makhluk yang dinamakan Lusiala itu kemudian disakralkan dan dijadikan sebagai makhluk pelindung desa. Aneh rasanya jika senja kemarin dan dini hari tadinya, saya tak menjumpai gerombolan makhluk ini padahal saya ada di beranda bungalo yang menghadap Desa Saleman. Tetiba, di petang setelah kami berjibaku dengan ombak itu, makhluk itu muncul di hadapan saya. Terbang bergerombol dalam formasi acak menyemburat begitu saja dari lereng curam, bergumpal-gumpal seperti asap jelaga hitam yang keluar dari batu, menutupi sinar keemasan mega senja.

Berdasarkan pengakuan si supir tadi, ada detail menarik dan mengapa Lusiala dianggap sebagai manifestasi mahluk mistis. Saat si ilmuwan Jerman konon masuk ke dalam gua, dia tak menemukan jejak dan kehadiran ribuan Lusiala, karena hewan mistis ini hanya bisa dilihat saja saat keluar/masuk gua. Tak bisa disaksikan saat ada di dalam gua bahkan tak juga bisa didokumentasikan oleh kamera saat dia terbang. Menurut kepercayaan masyarakat Desa Saleman, kamera apapun tak bisa merekam gambar Lusiala. Tentu saja ketika saya menyaksikan langsung makhluk ini dengan mata kepala sendiri, saya menjadi tertantang untuk membuktikan kepercayaan ini. Tanpa ragu saya mengambil kamera telepon seluler dan mengarahkannya pada kawanan makhluk terbang tersebut. Ketika saya menatap layar telepon seluler untuk melihat tangkapan kamera… well… Foto pertama membuat saya sedikit tak yakin. Segera saya mengambil kamera saku digital sebagai bahan pembanding dan mengambil foto beberapa kali sebagai penegas. Hasilnya? Saya akan selalu mengingat momen senja itu. Welly, welly, welly, welly, welly, welly, well. To what do I owe the extreme pleasure of this surprising visit?

WP_20161106_18_08_17_Pro.jpg

Setelah seharian berenang ke sana-kemari dengan segala kesenangan dan ketegangannya, saya beristirahat dengan membaca A Clockwork Orange, foto ini diambil setengah jam tepat sebelum kemunculan makhluk magis Pantai Ora.

(bersambung)

Catatan tambahan:

*          = Salah satu hal yang mengasyikan berlibur dengan seorang geologis saat sedang snorkeling kamu tidak hanya melihat ikan berseliweran atau mencari mana “terumbu karang” yang berwarna tetapi juga diberi mata kuliah gratis mengenai penampakan geologi di sekitar sana —ingat, apa yan disebut sebagai terumbu “karang” itu bukan batuan seperti batu kali, tetapi koloni hewan! Hanya saja hewannya tidak bergerak bebas dan memiliki organ gerak seperti burung atau cacing. Secara garis umum, ada 3 jenis koloni terumbu karang; terumbu yang langsung menghampar dari tepi pantai (fringing reef), terumbu yang hidup bergerombol di lepas pantai terpisah jauh dari daratan utama yang dipisahkan oleh laguna/ceruk (barrier reef), dan terumbu yang berbentuk cincin (atoll reef). Sementara fringing reef bisa terbentuk dalam durasi ribuan hingga puluhan ribu tahun, atoll yang jumlahnya jauh lebih langka bisa terbentuk sampai puluhan juta tahun. Karenanya ekosistem terumbu bisa bercerita tentang banyak hal mengenai sejarah planet bumi, juga kaya akan jumlah spesies karena evolusi yang mencengangkan. Karena lokasinya di pesisir yang sangat dekat dengan aktivitas manusia, koral merupakan salah satu ekosistem paling rentan terhadap perubahan seperti polusi dan pemanasan global sekaligus yang paling lama untuk pulih.
Karena letak terumbu karang langsung menghampar dari daratan utama Pulau Seram, maka bisa disimpulkan terumbu kerang di Pantai Ora berkategori fringing reef. Berdasarkan morfologi lantai lautnya yang berupa lereng menghujam, Pantai Ora berkategori non-rimmed shelf—sebutan untuk terumbu karang di laut dangkal miring landai lalu di suatu tempat langsung terjun menghujam dalam. Sepertinya saya harus cukupkan sampai di sini saja sebelum tulisan ini melantur menjadi deskripsi biologis kelautan membahas bentuk-bentuk koral yang berbentuk otak (brain coral), tanduk duri (staghorn coral), jamur (fungi coral), tabung (tabulate coral), dll. Ok, saya berhenti di sini. Haha. Di Ora, hampir semua tipe koral tersebut ada.
**        = Coba tanyakan kepada semua penggemar film horror, mengapa setelah mereka ditakut-takuti mereka malah merasa bahagia? Saat mereka akan menonton film horror yang bagus, tentu saja mereka mengharapkan untuk dibuat tegang, kaget, dan ketakutan. Tetapi saat mereka keluar dari bioskop, mereka menjadi lebih bahagia dan bertekad mencari kandidat film horror bagus lainnya. Sensasi hampir serupa saya alami saat mengalami kejadian mengerikan saat snorkeling di Pantai Ora tersebut. Setelah semua marabahaya dan ketegangan berlalu, kami tertawa lega dan merayakan ‘kemenangan’ dengan kebahagiaan,  nyaris histeris. Apa penyebab munculnya sensasi kontradiksi tersebut? Jawabannya sedikit pelik, setidaknya ada banyak teori yang berusaha menjelaskan fenomena ini. Saat mengalami perasaan tertekan oleh suasana horror membuat kita merasa bertenaga setelah kita selamat darinya, ada juga semacam pelepasan dan pelampiasan dari sifat agresif karena sistem dan kehidupan kemasyarakatan yang mengungkung. Ketika perasaan takut datang, jantung berpompa lebih cepat, nafas terhirup lebih mendesak, otot tubuh menegang adalah respons terhadap bahaya dari noradrenalin (hormon yang terbentuk saat memberikan sinyal pada tubuh untuk waspada karena ada bahaya akan datang). Sementara itu, pikiran menjadi stress karena terlepasnya hormon kortisol (orang yang mengalami depresi berat memiliki kadar hormon kortisol yang tinggi). Dan di saat kritis itulah hormon adrenalin keluar: hormon yang keluar untuk memicu otak apakah lari-atau-hadapi. Ketika adrenalin meledak dalam tubuh, itulah saat-saat ketika tubuh merasa penuh oleh energi, semangat merasa lebih hidup dan tubuh lebih mawas. Kita merasa lebih berbahagia. Ada juga penelitian yang menunjukan bahwa pada saat ketakutan otak melepas hormon dopamine yang dikenal sebagai hormon yang muncul saat bahagia. Itu mengapa banyak orang yang justru merasa tertantang dan mencari lebih banyak lagi kegiatan ekstrem berikutnya ketika dihadapkan pada situasi berbahaya.
Advertisements

3 thoughts on “Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 2]

  1. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

  2. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2016 | melquiades caravan

  3. Pingback: Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 3] | melquiadescaravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s