Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 1]

“Oh, it was wonder of wonders. And then, a bird of like rarest spun heavenmetal, or like silvery wine flowing in a spaceship, gravity all nonsense now, came the violin solo above all the other strings, and those strings were like a cage of silk round my bed. Then flute and oboe bored, like worms of like platinum, into the thick thick toffee gold and silver. I was in such bliss, my brothers.”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

Kamu tahu apa yang dimaksud dengan frasa “intipati keindahan dan kenikmatan dunia”? Setiap orang punya versinya masing-masing tentu saja, tapi saya rasa tak banyak yang bisa mengalahkan ini: membaca buku bagus seperti A Clockwork Orange* karya Anthony Burgess ditemani melodi enigmatik Fantaisie-Impromptu** dari Chopin, duduk di ayunan dengan kaki telanjang di pasir pantai hangat dengan angin mengalir selembut kapas memeluk, air laut jernih semurni embun pertama dini hari dan ombak sejinak bayi yang terlelap tidur. Percayalah, tak ada yang lebih melenakan selain bersantai saat menunggu senja di pantai, well, nama tempatnya memang begitu populer dengan puji-pujian tak berkesudahan tentangnya, Pantai Ora di tepian Taman Nasional Manusela, Pulau Seram.

*****

Kalau tidak keliru, dulu sekali, saya pernah membaca sebuah artikel di majalah New Scientist yang mengulas mengenai memori yang termanipulasi karena kerusakan organ otak. Keseringan mengalami déjà vu, bisa jadi merupakan salah satu gejala kerusakan bagian otak yang menyimpan memori. Ingatan lama dicampuradukkan dengan kejadian sekarang mungkin saja terjadi karena kerusakan anatomis otak yang membaurkan antara pengalaman lampau dan pengalaman saat ini. Dan entah mengapa sepanjang acara liburan tahun ini, saya mengalami banyak sekali déjà vu. Misal saat saya menempuh perjalanan darat di Pulau Sumbawa untuk mendaki Gunung Tambora, itu sangat mirip dengan pengalaman saya saat menempuh perjalanan di pulau Flores menuju Wae Rebo. Pun saat perjalanan saya ke Pulau Seram, saya mendapati diri saya tersesat dalam bancuhan ingatan pengalaman mengunjungi Maluku Utara saat akan mendaki Gunung Gamalama.

Bahkan sejak saya masih di Jakarta, bancuhan ingatan tersebut sudah mulai terjadi. Akhir tahun, kamu mafhum lah, diisi dengan banyak pembuatan laporan dan pelaporan yang sangat menyita tenaga dan waktu. Akibatnya, untuk perjalanan ke Pulau Seram ini, saya nyaris lupa bahwa saya sudah membeli tiket sampai seorang rekan perjalanan saya menanyakan dari Ambon nanti, saya akan kemana saja. Kepanikan dimulai. Awalnya saya membeli tiket ke Ambon dengan tujuan mendaki Gunung Binaiya, gunung tertinggi di kepulauan Maluku. Tetapi karena persiapan mepet, kesibukan bejibun yang bertubi-tubi datang, dan ada banyak teman pendakian yang mengundurkan diri, jadi pendakian gunung tadi dialihkan ke Pantai Ora.

Nah, seperti pada persiapan menuju Gunung Gamalama dulu, perjalanan ke Ambon tersebut, dilakukan tergesa-gesa dan serba mendadak. Tas keril bekas pendakian sebelumnya saja masih belum dibongkar. Jadwal keberangkatan pesawat saya jam 11.45 malam, tetapi jam 9 malam saya belum mengepak barang sama sekali. Akibatnya bisa diduga, pengepakan barang saya serampangan dan kemudian banyak perintilan yang tertinggal. Jika pas ke Gamalama saya secara ‘ceroboh’ membawa buku tentang kritik pandangan atheisme terhadap agama (bukunya berjudul Religion for Atheists karya Alain de Botton yang kemudian malah tak terbaca), pas persiapan ke Pulau Seram itu, saya sembarang mengambil dua buku dari tumpukan–sebagai antisipasi supaya tidak bosan satu bacaan saja, yang ternyata terbukti bermanfaat besar. Satu buku berupa buku sosiologi jadul berjudul The Time of Tribes: The Decline of Individualism in Postmodern Society karya Michel Maffesoli yang sudah pasti akan saya skip untuk tidak dibaca saat liburan, haha. Satu judul buku lagi, untunglah sebagai penyelamat, adalah buku Burgess tadi. Dengan persiapan serba mendadak dan durasi yang makin mendesak tadi, maka saya sulit untuk menolerir sesuatu yang bersifat overthinking dan overreacting.

Dengan diiringi rapalan doa dan ketegangan yang sama banyaknya khawatir terlambat naik pesawat, akhirnya saya bisa sampai ke bandara cuma setengah jam sebelum pesawat lepas landas. Untunglah urusan check-in sudah diselesaikan secara daring sebelumnya.

*****

Karena lokasinya yang sangat-sangat terpencil, perjalanan menuju Pantai Ora tidak bisa atau sulit sekali dilakukan dengan sistem mengeteng kendaraan umum. Rute yang saya tempuh kurang lebih begini: Bandara Pattimura di Ambon – Pelabuhan Tulehu pulau Ambon – Pelabuhan Amahai di selatan Pulau Seram- Desa Saleman di utara Pulau Seram – Pantai Ora. Tidak ada transportasi umum yang khusus mencapai Ora secara langsung–sebenarnya ada semacam mobil plat hitam untuk mengangkut penduduk setempat yang pulang pergi dari desa Saleman, desa terakhir sebelum Pantai Ora ke Plaza Masohi di pusat kota Masohi sebagai ibukota Kabupaten Maluku Tengah. Tetapi jadwalnya tak menentu dan hanya berangkat sekali sehari, lagian karena jumlahnya amat sangat terbatas, lebih baik sebagai turis, kita mendahulukan kebutuhan penduduk setempat dahulu untuk mobilisasi. Dengan kata lain, sebagai turis kita mending menyewa mobil saja.

Saking jauhnya perjalanan Ambon- Pantai Ora, kami berangkat dari Bandar Udara Internasional Pattimura jam 7 pagi dan sampai Pantai Ora nyaris jam 4 sore dengan pergantian moda transportasi darat dan laut berkali-kali dan berselang-seling. Perjalanan selama hampir 9 jam tersebut tentu saja sangat menguras energi dan waktu. Tanpa pemesanan sebelumnya, akan ada banyak waktu tambahan yang terbuang apalagi jadwal berangkat ferry penyeberangan antar pulau dan mobil plat hitam benar-benar sangat terbatas (ferry sehari normalnya dua kali, kecuali hari Minggu hanya sekali). Jadi, lebih baik sebelum datang ke Ambon sudah mengontak agen wisata terpercaya untuk mengatur jadwal perjalanan ke Pantai Ora. Waktu 9 jam mungkin terkesan lama, melelahkan, dan membosankan. Tetapi tentu saja saya yang jarang bisa tidur lelap di jalan, tidak bisa begitu saja melewatkan banyak momen sepanjang perjalanan. Untuk mengusir kantuk, saya mengajak ngobrol sang supir dan rekan perjalanan, atau membaca buku.

Dimulai dari perjalanan dari bandara ke pelabuhan Tulehu, saya mendapati ternyata sang supir penjemput dulunya pas masih SMA terlibat aktif di kegiatan Pramuka dan kegiatan pecinta alam. Saya yang awalnya iseng bertanya kepada dia tentang jalur pendakian Gunung Binaiya, malah berakhir saling berbagi kisah mengenang saat-saat awal tiap-tiap kami terlibat kegiatan pecinta alam. Sang supir yang bersekolah SMA di Sulawesi Selatan, menceritakan pendakiannya ke Gunung Latimojong, yang segera saya timpali dengan kisah pendakian saya ke sana yang penuh kepayahan. Dia juga bercerita bagaimana dulu dia dilatih bertahan hidup di hutan sendiri dengan mendirikan bivak darurat dan memakan hewan melata, yang segera saya timpali dengan kisah saya bertahan dengan memakan pucuk tanaman pakis. Singkatnya, kami berbagi banyak kisah tentang banyak hal sehingga sensasi jetlag karena kurang tidur di pesawat dan perbedaan waktu tak terasa sama sekali. Kami masih seru memperdebatkan apakah mendirikan bivak mending dalam posisi rebah di lereng atau di pohon, ketika tak terasa sudah hampir sejam dan sudah sampai pelabuhan Tulehu. Karena tugas dia mengantar hanya sampai pelabuhan dan kami melanjutkan pelayaran ferry, kami harus berpisah dan saling berjanji untuk melanjutkan perdebatan tadi saat dia menjemput kembali jika kami pulang ke Ambon lagi. Saat salaman, si supir memberi salam pramuka yang sebetulnya sedikit norak saat diucapkan cukup keras di pelabuhan yang ramai dan dilihat banyak orang. Haha.

Perjalanan kami dilanjutkan dengan kapal ferry Ambon-Seram. Karena pemesanan sudah dilakukan lewat agen, kami dipilihkan tiket kelas VIP–demikian kata si supir sesaat sebelum berpisah. Kecuali tempat duduk berbahan dasar busa dan ruangan ber-AC, sebenarnya tak ada hal istimewa lain. Ruangan VIP tertutup rapat untuk menutup sirkulasi udara AC, karenanya tak banyak hal yang bisa saya lihat. Saya pun mulai membuka buku bacaan, sementara teman-teman saya sudah mulai bergelimpangan tertidur. Laut sedatar dan seempuk permadani. Saya rasa tak ada penumpang yang mengalami vertigo karena mabuk laut, saya bisa membaca dengan tenang dan khusyu. Begitulah harapan mulanya.

Tiga puluh menit setelah sauh diangkat, terdengar musik stereo yang mengisi seantero kapal dengan musik apa-yah-namanya. Saya kira saya mendengar lagu pop/dangdut berbahasa Melayu-Ambon, tetapi setelah menyimak dengan seksama saya tak menangkap kosakata “beta”, “nona”, “kaka”, dan kosakata khas bahasa Melayu-Ambon lainnya. Perlu waktu beberapa menit untuk menyadari kalau kata-kata yang diucapkan adalah berbahasa Inggris, dengan dialek aneh yang belum pernah didengar sebelumnya. Ketika saya melirik layar TV LCD di bagian pinggir kapal, barulah saya sadar bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris-Spanyol, karena lagu dan penyanyinya berasal dari kawasan Karibia… Dari latar bendera yang berkibar di mana dua penyanyi berduet, sudah dipastikan keduanya adalah warga negara Jamaika. Dan ini membuat saya tertegun sesaat. Bagaimana bisa sebuah album lagu dari Jamaika menyasar ke kapal di Selat Seram? Lagu dangdut pantura atau pop melayu mungkin tak akan mengejutkan saya. Tetapi pop-dangdut Jamaika yang terpisah separuh bola bumi oleh samudera Pasifik dan benua Amerika, jelas terasa gasal ada di kapal ferry kami. Dua jam perjalanan, dua jam pula kami ditemani lagu-lagu Jamaika yang semacam hybrid antara lagu pop berlirik melankolis dengan alunan musik beat dan irama tetabuhan tambur yang terasa berlebihan dan di luar irama dan lirik lagunya. Sang penyanyi, dengan pakaian khas daerah tropis berwarna cerah dan motif bunga-bunga sebesar telapak tangan di sekujur tubuhnya berlenggok di latar pantai luas berpasir putih, menari secara kikuk antara menyesuaikan lirik sendu dalam lagunya dan mengimbangi nada terlampau ceria dalam irama musiknya. Kegabiran si penyanyi nyaris membuat saya terkesima dengan menatap takjub tayangan video di TV sampai orang di pinggir saya menepuk tangan saya dan mengajak ngobrol.

Dengan musik seperti itu, semangat membaca saya terkuras habis. Saya yang terkesima dengan tingkah si penyanyi, tak bisa mengajak ngobrol teman-teman saya yang terlelap. Tak tega saya mati gaya, seorang bapak mengajak ngobrol. Berasal dari pulau Haruku, demikian dia memperkenalkan asal-usulnya, si bapak malah berpromosi habis-habisan tentang wisata bahari Pulau Banda. Andai si bapak berpromosi sehari sebelumnya, mungkin saya akan langsung pergi ke sana. Bagaimanapun, saya pernah membaca majalah National Geographic asing dahulu, dan deskripsinya tentang Pulau Banda memang sudah berhasil membujuk saya untuk memasukan Pulau Banda dalam daftar wajib kunjung saya di masa mendatang. Tahun depan mungkin?

*****

Supir yang menjemput kami di Pelabuhan Amahai adalah seorang warga asli pulau Seram yang berbicara dengan perlahan untuk menyesuaikan logat Melayu-Ambonnya agar tidak kentara dan membingungkan kami sebagai pendatang. Kadang dia berpikir beberapa saat sebelum menjawab, untuk memastikan kata-kata yang digunakan adalah sesuai EYD. Saya tentu saja meminta dia untuk berbicara lebih bebas. Toh meski dialek Melayu-Ambon terasa aneh dan kadang membuat pendengar dari Jakarta tersesat saat menyimak, masih bisa ditangkap garis besarnya. Untuk menghilangkan kekagokan dia itu, saya terus memberondongnya dengan berbagai pertanyaan, bahkan sejak masuk ke mobil sampai turun dari mobil dua jam berikutnya. Sampai-sampai saat berpisah, dia berujar secara berkelakar, ‘abang ini senang bertanya, ya?’ Haha.

WP_20161107_13_04_06_Pro.jpg

Pelabuhan Amahai di pinggir kota Masohi yang lenggang dengan jadwal kapal yang terbatas tiap harinya mengejutkan saya karena upacara penyambutan tak terduganya

Ketika turun dari ferry di Amahai, kami disambut segera oleh bunyi tetabuhan alat musik khas Maluku seperti arababu, totoboang, idiokordo, jukulele, dan tentu saja yang menjadi ciri khas maluku paling terkenal, tifa. Para penari cilik bersemangat menarikan tari lenso di tengah guyuran terik siang hari pelabuhan yang memanggang. Saya awalnya mengira mereka sebagai artis pertunjukan yang meminta bayaran, dan karena saya termasuk yang pertama duluan keluar, sedikit geer dan tersanjung saat langsung disambut musik dan tarian meriah. Lalu segerombolan polisi datang dan meminta saya dan teman saya yang keluar duluan untuk minggir. Ternyata ada tamu lebih penting yang sekapal dengan kami, haha.

Dari baligo raksasa di kantor pelabuhan, tahulah saya bahwa tamu penting tersebut adalah ketua divisi-sekian KPU Pusat Jakarta. Tak dinyana jika orang yang tepat duduk di belakang kursi saya di ferry ternyata tamu yang dianggap penting sehingga diadakan penyambutan meriah. Sedikit aneh rasanya, soalnya ketika di pesawat menuju Ambon, orang yang duduk di kursi samping saya juga seorang yang dianggap populer. Karena check-in di nyaris injury-time, saya terpisah duduknya  dari rombongan saya. Sesaat saya memasang sabuk keselamatan dan membaca buku, terjadi keriuhan karena rombongan ibu-ibu tetiba menyerbu kursi sebelah saya. Ada artis dangdut-kontes-bakat-juara-sekian yang duduk di pinggir saya. Saya yang tak pernah berminat menonton acara seperti itu, tak mengenali siapa dia tentu saja, hanya sekilas informasi yang keluar dari rombongan ibu-ibu itu saat sibuk meminta foto bersama. Ya, tentu saja saya duduk manis di latar belakang foto mereka…

Saat saya menanyakan kepada supir jemputan kami di Amahai mengenai siapa orang KPU tadi dan apa maksud dia datang ke Seram, jawabannya menegaskan kegelisahan saya tentang pulau ini. Maluku memang pulau surga, setiap jengkal pesisirnya adalah pantai-pantai terbaik di negeri ini. Masyarakat kepulauan yang heterogen (para pelaut zaman dulu dan pendatang masa kini dari berbagai pulau datang silih berganti, menetap dengan membawa nilai sosial budaya baru serta kadang mendesak masyarakat yang datang lebih dahulu dari segi politik dan ekonomi), sangat rawan dengan konflik horizontal. Dan siapa sangka jika penampilan kesenian tadi sejatinya bukan untuk merayakan kebahagiaan, tetapi sebuah harapan untuk menghindari potensi kerusuhan dan kejadian berdarah yang berkelindan dalam diam dan meresahkan masyarakat Pulau Seram beberapa waktu belakangan.

****

Sepanjang perjalanan menuju Desa Saleman, saya memancing sang supir untuk banyak bercerita. Pertanyaan pertama saya tentu saja mengenai upacara penyambutan di dermaga. Sebagaimana bisa diduga, kunjungan orang KPU tersebut berkaitan dengan rencana pelaksanaan Pilkada Serentak 2017. Pilkada, yang semestinya menjadi pesta demokrasi rakyat seringkali berubah menjadi pesta pejabat untuk meraih kekuasaan. Karenanya konflik berujung kekerasan oleh pendukung calon bisa saja terjadi. Di Maluku, konflik ini bisa berpotensi merembet luas karena dapat memicu konflik sosial keagamaan. Dengan jumlah penganut Kristen-Islam yang hampir berimbang, isu SARA bisa dengan mudah membakar dan memicu pertikaian yang lebih luas. Di Kabupaten Maluku Tengah, pertanda kecemasan tersebut muncul bahkan sejak saat pendaftaran bakal calon peserta pilkada. Salah seorang bakal calon, begitu mendominasi kursi partai pengusung sehingga tidak memungkinkan bakal calon lain untuk sekedar lolos seleksi pendaftaran. Sementara itu, jalur independen yang menjadi harapan bakal calon lain untuk bertarung, dipersulit aturan yang serba mendadak dan menghambat sehingga berguguran juga. Sebelum konflik benar-benar meletus, perwakilan KPU tadi datang ke Pulau Seram. Semoga berakhir baik.

Hal yang menarik lainnya adalah, karena proporsi demografi penduduk yang beragama Muslim-Kristen di Maluku bisa dikatakan hampir seimbang, calon dan pemimpin yang menjabat di Maluku selalu menempatkan ketua dan wakil ketuanya dari agama berbeda. Tergantung agama mana yang lebih banyak (meski tidak dominan), maka ketua yang berasal dari mayoritas, wakil dari agama yang lebih sedikit. Pada kasus pulau Seram, selalu ketua yang berasal dari agama Islam, sedangkan wakilnya selalu beragama Kristen. Strategi ini tidak hanya efektif menjaring suara dari kedua belah pihak, tetapi juga efektif meredam konflik karena tiap umat agama merasa menempatkan perwakilannya di kursi pemerintahan.

Seperti pada saat kunjungan saya ke Halmahera, saya menjumpai bahwa area kota lebih didominasi mesjid-mesjid besar, sementara area pinggiran lebih banyak gerejanya. Gereja dalam ukuran besar tumbuh subur dalam jumlah fantastis saat dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Gereja dengan ukuran besar dapat menampung ratusan jemaah sekaligus, terserak di area pemukiman yang sangat jarang penduduknya. Bahkan sering kali kami jumpai dua buah gereja berukuran raksasa berdiri saling berdampingan, padahal rumah yang ada di kiri-kanannya tak lebih dari sepuluh rumah. Siapa saja jemaat dan pendetanya, selalu mengundang pertanyaan penasaran saya. Sementara di seberangnya, ada mesjid yang tak kalah besar ukurannya berdiri. Saya tak dapat memutuskan, apakah ini merupakan wujud keharmonisan, atau malah semacam bentuk kompetisi. Dengan rekam jejak kekerasan dan konflik di sana, saya mengharapkan yang pertama lah yang benar.

Pulau Seram sebagai pulau terbesar di Maluku, bukanlah pulau terpadat. Selain area pesisirnya, pulau ini nyaris kosong terlebih di bagian tengahnya yang bergunung-gunung. Ibu kota kabupatennya hanya berupa kota kecil yang seluruh aktivitas sosial-ekonominya bergabung semua dalam satu jalan utama. Keluar kota Masohi, saya langsung mendapati pemandangan khas berupa tegalan luas berisi kebun kakao, umbi-umbian, dan cengkih yang tumbuh dalam jumlah tak banyak. Menuju Pantai Ora di Teluk Sawai di utara Seram, artinya dari kota Masohi di selatan, kami harus memutari separuh pulau yang jauh mengelilingi Pulau Seram atau mengambil jalur pintas melalui jalanan bergunung-gunung ke tengah Pulau Seram, menembus langsung jantung Taman Nasional Manusela. Kami memilih opsi terakhir karena durasi yang lebih singkat.

Mengertilah sekarang mengapa Seram mendapatkan namanya seperti itu. Pulau ini memang terkesan angker. Absennya kehadiran pemukiman di banyak bagian pulau, membuat perjalanan kami menembus jalan yang berkelok, menanjak, menurun, dengan banyak sekali jurang gelap dan hening mengikuti. Ada banyak daerah di sana yang belum pernah diinjak manusia sejak ribuan tahun lampau, kecuali beberapa lembah terpencil tempat persembunyian simpatisan RMS di masa lampau. Tak akan mengejutkan saya jika saya menemukan Orang-bati*** sepanjang perjalanan–untungnya perjalanan saya dilakukan saat siang.

Untuk mengisi keheningan saat melewati hutan, sang supir memutar lagu-lagu pop/rock era 1990-an seperti Bryan Adams-MLTR-Bon Jovi (saya kadang tak dapat membedakan lagu-lagu ketiganya), atau Celine Dion-Mariah Carey-Whitney Huston (yang juga sama-sama tak bisa membedakan siapa menyanyi yang mana kecuali untuk lagu-lagu terpopulernya). Kadang diselipi juga lagu-lagu boyband semacam Westlife-Backstreet Boys-dan-entah-apalagi. Terus kenapa saya bisa hafal nama-nama mereka? Haha. Saya punya kakak perempuan yang rutin membeli majalah dan selalu menjerit histeris jika mendapatkan poster mereka di bonus majalahnya, saya kadang menumpang baca juga. Saat saya menanyakan ke sang supir mengapa dia memutar lagu-lagu ini, dengan malu (menandakan dia juga mungkin tak terlalu tertarik lagu jenis ini sebetulnya) mengakui bahwa biasanya orang-orang Jakarta yang sering dia antar, selalu suka dan meminta lagu-lagu tersebut diputarkan. Well

Kecuali beberapa bagian jalan yang terkena longsor (karena bagian lereng yang dikeruk untuk pelebaran jalan masih baru sehingga gampang rumpal), jalanannya memang mulus dengan indikasi jelas: terlalu sedikit penduduk yang menggunakan jalan tersebut selain truk-truk pengangkut barang. Untungnya jalan yang kami tempuh hanya sekitar 3 jam-an saja sehingga membayangkan kemungkinan mobil mogok di tengah hutan malam-malam, tidak sempat muncul. Kami membiacarakan nyaris segala hal: mulai dari kearifan dan budaya setempat, makhluk-makhluk eksotis dan berbau mistis (si supir kadang tampak enggan berbicara terlalu banyak ketika saya korek lebih jauh untuk topik ini), hingga analisis sotoy mengenai peta percaturan politik dan dampak ekonominya dalam pilkada setempat.

WP_20161107_11_45_13_Pro.jpg

Jalanan dari Masohi ke Desa Saleman sebelum masuk hutan Taman Nasional benar-benar lurus dan sangat lenggang, dengan pemukiman jarang di kiri kanan. Saya bahkan harus sering memberi kode kepada supir untuk menurunkan kecepatan yang selalu mendekati angka seratusan.

*****

Gumpalan awan berbaris, menggantung rendah dalam formasi yang mengingatkan saya pada pasukan paskibra berseragam putih. Kami bisa melihat awan di ujung jalan, artinya kami telah keluar dari jalan raya hutan berupa tikungan atau turunan tajam. Sang supir memberitahu kami bahwa dalam sepuluh menit ke depan, kami akan sampai ke Desa Saleman sebagai desa terakhir sebelum menyeberang ke Pantai Ora. Sebelum benar-benar mencapai desa, sang supir menawari kami untuk menepi sejenak di tepi sebuah tebing yang dinamakan Pintu Angin. Berada di tepi sebuah kelokan tajam, jalan di pinggir tebing keluar hutan dan langsung menghadap laut yang terjal dan luas, saya rasa demikian nama Pintu Angin ditemukan. Begitu keluar dari hutan yang lebat nan sepi, langsung menghadap angin laut yang bergemuruh.

Dalam titik-titik kecil di kaki sebuah gunung yang langsung bertemu dengan laut, tampaklah apa yang menjadi tujuan kami, Pantai Ora yang begitu terisolir dan kami rela menempuh ribuan kilometer hanya untuk bisa mencapainya. Timbul pertanyaan di kepala kami, apakah pantai ini seindah dan sedahsyat yang kami duga dan harapkan? Maluku dengan setiap jengkal pesisirnya adalah surga, apa yang membedakan Ora dari pantai-pantai lainnya? Sepanjang perjalanan saat menyusuri pantai-pantai di pesisir selatan Seram, teman-teman saya senantiasa berujar, ‘wah, pantainya indah banget. Kita mantai di sini saja.’ Tentu saja kami ingin berhenti sejenak dan tergoda menikmatinya, tetapi kami tak melakukannya, kami mengorbankan untuk melewatkan semuanya demi Pantai Ora yang begitu tersaku. Muncul kebimbangan apakah yang kami akan songsong akan sesuai harapan dan lebih dahsyat daripada pantai-pantai yang kami lewatkan? Sambil berfoto-foto di tebing Pintu Angin dengan latar Pantai Ora di seberang, teman saya berteriak semangat dengan mata berbinar, Kita selangkah lagi menuju surga…

20161105_131058.jpg

Pemandangan dari Pintu Angin, garis tipis putih di kaki gunung adalah Pantai Ora, yang kami korbankan banyak hal untuk bisa sampai ke sana

*****

Masuk kembali ke dalam mobil selepas berfoto, keinginan kami untuk segera sampai ke Pantai Ora jauh lebih menggebu daripada sebelumnya. Meski sudah dekat dan sebentar lagi tetapi kami ingin segera sampai ke sana saat itu juga. Lagu yang diputar saat itu di tape adalah lagu Season in the Sun**** yang pada mulanya saya kira adalah versi boyband Westlife mengingat lagu-lagu lainnya berasal dari era 90-an. Namun beberapa saat kemudian baru disadari justru yang diputar saat itu adalah versi asli dari Terry Jacks dari era tahun 70-an. Versi Terry Jacks yang lebih tua dan lebih melankolis, membuat lagu ini jauh lebih sedih daripada versi Westlife yang lebih nge-pop dan cenderung genit. Saya duga versi Terry Jacks terputar di tape tersebut karena saat meng-kopi dan mengunduh file bajakannya di internet, lagu Terry Jacks terselip di albumnya Westlife. Sebuah lagu aneh untuk didengar di masa-masa liburan sebenarnya.

…When all the birds are singing in the sky. Now that the spring is in the air. With the flowers everywhere…

(bersambung)

Catatan tambahan:

*          = A Clockwork Orange (1962) dianggap sebagai salah satu karya berbahasa Inggris terbaik di abad ke-20, mengundang kontroversi dan pencekalan sejak penerbitan pertamanya. Penuh kata-kata kasar dan adegan kekerasan, sejatinya novel ini, seperti halnya semua karya klasik dan penting, adalah gambaran paling jujur mengenai manusia dan kemanusiaan, beserta segudang kerumitan interaksinya. Memicu pelarangan edar di berbagai kota di Amerika, bahkan penjual bukunya ditangkap polisi, seiring waktu, kekerasan dalam novel ini dipandang sebagai bentuk komedi satir dan sindir. Ketika karya ini diadaptasi ke dalam film oleh sutradara ternama Stanley Kubrick, perhatian kepada novel ini semakin besar sehingga membantu mempromosikannya sebagai karya klasik. Film A Clockwork Orange (1971) karya Kubrick sendiri sekarang dianggap sebagai salah satu karya film terbaik sepanjang masa. Tetapi bagi saya, adaptasi film dari novel ini yang terbaik tetaplah adaptasi dari Andy Warhol yang berjudul Vinyl (1965) yang relatif tak terkenal seperti halnya versi Kubrick, karena lebih ‘nyeni’ dan ‘nyentrik’.

**           = Naskah Fantaisie-Impromptu karya Frédéric Chopin, salah satu melodi piano terfavorit saya, diwasiatkan oleh sang penciptanya untuk segera dibakar setelah kematiannya. Wasiat yang tegas dan jelas, tetapi semua orang yang pernah mendengarkan Fantaisie-Impromptu sudah pasti akan mempertaruhkan apapun untuk menolak wasiat sakral ini. Dan sejarah peradaban manusia berhutang besar pada Julian Fontana, seorang sahabat dekat dari Chopin sekaligus orang yang tega mengkianati keinginan terakhirnya, yang malah menerbitkan melodi ini enam tahun setelah Chopin meninggal. Sesuai namanya, karya ini penuh ‘kelokan mendadak’ yang tak bisa ditebak. Bergerak acak dan berlekuk-lekuk, cobalah untuk mendengarnya sambil menutup mata. Dengan seketika, kita akan terperosok dalam petualangan fantasi yang akan semakin liar dan dalam pada setiap penambahan bar notasinya. Sementara karya klasik melodi lain terdengar ‘lurus’ dalam tempo ‘semakin lama semakin menanjak’ yang gampang ditebak, Fantaisie-Impromptu memiliki banyak kejutan tak terduga yang akan membuat kita menebak-nebak kapan karya ini berakhir (atau dimulai), meski akan selalu berharap agar karya ini tak pernah berakhir.

***         =  Orang-bati adalah cryptid terkenal dari Pulau Seram. Cryptid merupakan sebutan untuk makhluk-makhluk eksotik yang tak dapat didokumentasikan dengan jelas namun diyakini eksis oleh sebagian pihak (deskripsinya berbaur antara salah satu antara wujud hewan berpenampilan aneh, monster setengah manusia, dan dinosaurus). Dibedakan dari makhluk mitologi (seperti naga atau minotaur) atau makhluk klenik (seperti genderuwo dan tuyul), cryptid jauh lebih menarik karena banyak pihak mengklaim pernah menyaksikan penampakan mereka secara langsung. Contoh terkenal cryptid adalah Yeti atau Nessie. Di Indonesia yang masih banyak hutan dan gunung tak terjamah, legenda tentang cryptid dapat ditemui hampir di semua daerah. Yang menarik dari Orang-bati di Pulau Seram ini adalah, pengakuan pernah menyaksikan (bahkan menangkap) tidak hanya datang dari cerita penduduk setempat, tetapi juga dari orang asing, terutama misionaris-misionaris pertama yang datang ke Pulau Seram, yang ditinjau dari integritasnya, rasanya tak mungkin berbohong. Digambarkan seukuran kera dan bersayap seperti kelalawar, bentuk Orang-bati sebenarnya identik dengan cryptid lain yang ada di Gunung Salak Bogor, yang juga sama terkenalnya yakni Ahool. Beberapa peneliti yang skeptis menduga bahwa keduanya adalah sejenis kalong (kelalawar raksasa) yang ukurannya lebih besar daripada ukuran normal. Pengamat antusias, menggambarkan keduanya sebagai keturunan Pterosaurus yang selamat dari kepunahan.

****         = Pada masa-masa dimana saya masih memajang poster Ksatria Baja Hitam dan skuad klub bola Juventus di dinding kamar, kakak perempuan saya memajang segala poster boyband di kamarnya, hadiah dari bonus majalah yang dia beli. Kadang dia memutar lagu-lagunya begitu kencang sehingga mau tak mau saya ikut mendengarkan lagu-lagunya Westlife sebagai salah satu diantara lagu-lagu boyband lain yang diputar olehnya. Seiring waktu, setelah saya mulai menemukan referensi musik-musik yang lebih sesuai dengan selera, saya hampir melupakan semua lagu-lagu mereka kecuali ada momen unik yang memicu memori saya pada lagu-lagu tersebut. Lagu Season in the Sun hampir lenyap dalam khazanah pengetahuan musik saya sampai suatu ketika, saat saya makan malam di sebuah café di Senggigi Lombok dimana empat per lima pengunjungnya adalah orang asing, live band di sana memutar lagu tsb dengan nada yang sangat sedih. Saya mengira dia meng-cover lagu Westlife, tetapi mengingat semua lagu yang dia putar adalah lagu-lagu era ’60-’80an, rasanya tak mungkin lagu Westlife yang diputar (kebanyakan lagu-lagu lainnya adalah lagu-lagu The Beatles, The Rolling Stones, dan Pink Floyd). Itu juga alasan kenapa saya betah nongkrong di sana, dan mayoritas pengunjungnya adalah bule-bule berumur yang ingin bernostalgia. Selanjutnya, setiap kali ke Senggigi, saya selalu makan malam di café tersebut, bahkan pernah 3 malam berturut-turut saya makan di sana. Saya akan memberitahu nama café keren ini (pasta seafood dan pizzanya sangat enak!) jika ditraktir sekalian makan juga di sana. Haha.

Jarang ada yang menyadari bahwa ketika Westlife mempopulerkan lagu Season in the Sun di era ’90an, sebenarnya lagu ini sudah jauh lebih populer sebelumnya ketika Terry Jacks membawa badai melankolis dalam lagu ini ke khalayak di tahun ’70an. Dan sesungguhnya, versi Terry Jacks ini versi tafsir (dan terjemahan) dari lagu berbahasa Perancis lain yang berjudul Le Moribond (The Dying Man) yang dibawakan oleh Jacques Brel. Sementara versi Jacks sering dikritik karena terlalu sentimental, depresif dengan nada penyesalan kuat (versi Jacks sering ditafsirkan sebagai lagu perpisahan untuk bunuh diri), versi Brel justru secara mengejutkan penuh dengan suasana ironi bahkan sarkastik. Coba saja dengarkan lagunya, ada semacam kesan olok-olok dalam lagunya. Kesedihan, ironi, dan kejenakaan membuat versi Brel lebih menarik. 

Advertisements

7 thoughts on “Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 1]

  1. dengerin Fantaisie – Impromptu tuh harus dalam keadaan tenang banget. kalo lagi bad mood, kok, rasanya ikut naik turun dan berkelok, ya, emosiku. hahahaha…

    trus Season in the Sun (saya denger versi Westlife, tentu) sempet jadi sontrek pas putus pertemanan, karena dikhianati XD dalem emang lirik lagu ini 😀
    salah satunya yang bikin jleb jleb:
    “We had joy, we had fun, we had seasons in the sun
    But the hills that we climbed were just seasons out of time”

    Like

    • Sebenernya, setidaknya bagi saya, Impromptu cocok didengarkan di segala suasana. Sedih, cocok. Senang apalagi. Lagi semangat apalagi. Lg males-malesan juga. Haha.

      Lirik yg bahasa Perancis lebih keren lagi loh. Haha. *ngecek di google translate

      Like

    • Hi W!n,

      Terima kasih untuk komentarnya. Haha, Thank you for nice words. Minggu depan deh saya lanjutkan tulisannya. Kebanyakan ide malah bikin males buat nulis, hehe.

      Ada banyak tempat yang saya kunjungi saat kunjungan ini. Jadi ceritanya bakal sedikit panjang dan bersambung banyak… (PS: sedikit panjang artinya >4000 kata, haha).

      -Qui

      Like

  2. Pingback: Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 2] | melquiades caravan

  3. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

  4. Pingback: Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 3] | melquiadescaravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s