Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3]

IN the midway of this our mortal life,
I found me in a gloomy wood, astray
Gone from the path direct: and e’en to tell,
It were no easy task, how savage wild
That forest, how robust and rough its growth,
Which to remember only, my dismay
Renews, in bitterness not far from death.
― Dante Alighieri, Inferno: Canto I

Ketika turun dari puncak Tambora, ketika menelusuri dan menapaki kembali jejak-jejak pendakian hari sebelumnya, entah mengapa saya teringat pada bait-bait pembuka puisi Inferno*-nya Dante. Kalimat-kalimat pembuka prosa liris terdahsyat di dunia ini dibuka dalam kalimat-kalimat yang mengandung ketakutan, kebingungan, dan kecemasan. Di paruh usia kehidupan fana ini, kudapati diriku berada di hutan gelap, tersesat. Meninggalkan jalan yang telah ditunjuk dan diarahkan. Bukan perkara yang mudah, oh betapa liar dan buasnya. Hutan itu, yang tegap dan gabas tumbuhnya. Yang kuingat hanyalah kecemasan. Terbaharui, dalam kegetiran yang tak jauh dari kematian.

*****

Jaket gunung yang awalnya dikenakan dengan tujuan untuk melindungi saya dari dinginnya udara gunung, telah beralih fungsi untuk melindungi tubuh dari panas. Matahari sudah hampir ada di puncak langit, tetapi bulan masih terlihat, sehingga kami tak tergesa-gesa untuk turun. Karenanya sengatan matahari semakin terasa kuat dan garang. Meski gerah mulai terasa, kami tak berniat melepaskan jaket ketimbang kulit terbakar. Toh semakin siang, semakin jelas tampak pemandangan jauh di kaki gunung. Pulau Satonda yang ada di utara semenanjung Sanggar, terlihat bak mangkuk hijau yang terapung di barat laut Sumbawa. Karena lokasi dan bentuknya yang unik, di sebelah barat seolah terlihat ada danau raksasa, teluk Saleh yang membentuk semenanjung Sanggar, terkurung oleh pulau Sumbawa di barat-selatan-timur dan Pulau Moyo di utara, sehingga saat dilihat dari Puncak Tambora, seolah terlihat membentuk ceruk danau raksasa.

In Memoriam
Prof Ir. Widjajono Partowidagdo M.Sc., MSOR, MA, Ph.D.

Puncak Tambora, Gn. Tambora 16 September 1951-21 April 2012

Keluarga Besar Teknik Perminyakan ITB

Sosokmu sederhana, sikapmu jujur dan polos,
tekadmu keras.
Dalam kerasmu tergores cita-cita luhur bangsamu
Gunung Kelud, Rinjani, Semeru, Tambora,
dan Lawu saksi semua itu

Memegang amanah, kau daki gunung-gunung amarah,
Tebing terjal penuh onak duri kau lalui, santun
dengan senyummu,
Kau bahkan mampu tentramkan gemuruh,
padamkan magma membara,
Tak kenal lelah kau terus mendaki tuk temui batu-batu
gunung,

DI ketinggian Tambora, kala keindahan cakrawala
nalar mulai membentang
dan kemarahan pun sirna, kau bahkan teruskan mendaki
dengan santun damai serta ikhlas,
Innalillahi wa Inna Ilaihi rojiun….
Seakan menyadarkan dan mengajak semua agar terus
melangkah,
menuju cita-cita luhur kemandirian bangsa,
kemandirian energi suatu saat kelak.

Mas Widja…
akan kusimpan batu gunung yang indah itu,
dan kujaga selalu hangat di hatiku….
Puisi kolaborasi ITB-70
1 November 2014

Di titik tertinggi Puncak Tambora terdapat sebuah plakat epigraf untuk mengenang almarhum Widjajono Partowidagdo, wakil mentri ESDM yang meninggal saat melakukan pendakian ke sana. Sebelum menjadi wakil mentri, beliau menjadi guru besar di salah satu perguruan tinggi dimana saya pernah mengambil mata kuliah yang beliau ajar. Mas Wid, demikian kami para mahasiswanya dulu memanggilnya, benar-benar sosok dosen yang ‘mengejutkan’. Dari tampilannya yang semenjana dan tak bertampang pendaki, beliau ternyata seorang ‘maestro’ pendakian gunung-gunung di Indonesia. Di sela-sela penjelasan kuliah, beliau menyisipkan pesan-pesannya untuk mencintai negara Indonesia, juga tentang kesan-kesannya akan kedahsyatan gunung-gunung di Indonesia. Salah seorang paling nasionalis yang pernah saya jumpai. Dengan kapasitas dan kompetensinya yang seharusnya membuat beliau gampang untuk meninggalkan negara ini, malah justru membuatnya jatuh cinta sepenuhnya terhadap Indonesia. Deskripsi naratifnya tentang pendakian (dan kecintaan terbesarnya pada gunung) begitu menggebu dan menghipnotis. Kelak saya sadari bahwa kecintaan saya pada gunung, sedikit banyak terinspirasi oleh cerita-cerita almarhum.

Karenanya, saya mengalami sensasi bahagia sekaligus haru yang berbaur saat berdiri di puncak Tambora. Di samping, saya kutipkan secara lengkap tulisan di epitaph ditanam di puncak Tambora. Epitaph apapun di puncak gunung selalu membuat saya gampang terharu. Di puncak Merbabu, di gunung Burangrang, saya saksikan epitaph semacam itu, dan selalu sukses membuat saya merinding. Di Tambora, perasaan haru semakin membuncah, sangat aneh rasanya melihat pada baris-baris epigramnya, nama orang yang tercantum di  sana adalah orang yang saya kenal sebelumnya. Terlebih nama di sana adalah seorang guru yang tak hanya memberi ilmu namun juga pelajaran kearifan tentang kehidupan.

Kami akhirnya turun dari puncak menuju pos 5 tempat kami berkemah, hari sudah hampir siang. Bekal cemilan yang kami bawa tidak lagi cukup untuk mengganjal perut sehingga keroncongan, sehingga diputuskan kami turun sebelum matahari sampai di pucuk langit benar. Jalan berpasir curam dengan kerakal tajam dan urat-urat jurang tajam, membuat saya harus berhati-hati saat menuruni lereng gunung. Saya yang menjadi penyisir tim di posisi paling belakang, berjalan tanpa tergesa-gesa karena bagaimanapun, energi bekal sarapan terlalu cepat menguap, jadi tak mau membuang energi dengan turun sambil berlari meski gemuk pasirnya tampak menggoda.

wp_20160526_09_42_26_pro

Untuk seseorang yang dikuburkan di lereng gunung, cerita tentang almarhum membuat pikiran saya melesak ke dalam

Di salah satu akhir turunan, saya menemukan kembali sebuah epitaph. Berbeda dengan epitaph yang ada di puncak, epitaph ini hanya tulisan sederhana, tanpa kata-kata berbunga-bunga seperti epitaph di puncak. Hanya ada nama dan penanda waktu lahir dan meninggal sang tokoh. Mae Tafa Gumbilo, demikian nama yang tertulis. Dan sesuatu yang membuat saya terenyuh kembali muncul. Dari kejauhan, salah seorang pemandu kami yang juga merupakan warga setempat tampak berdoa khusyu di depan epitaph. Setangkai bunga edelweiss, si bunga abadi itu, diletakkan di samping epitaph. Tiga puluh enam tahun waktu yang memisahkan antara almarhum dan doa singkat sang pemandu, tetapi cara dia meletakan bunga dan gerakan memberikan penghormatan menandakan bahwa tokoh yang meninggal adalah tokoh yang dihormati meski sudah lama meninggal. Di sisa perjalanan menuju tenda, kami saling bercerita. Kata sang pemandu, Pak Gumbilo bisa dikatakan salah seorang tokoh pertama yang menjadi pemandu orang-orang yang ingin mendaki puncak Tambora dan membuat jalan-jalan rintisan agar para pendaki tak tersesat. Kematiannya yang mendadak saat turun dari puncak, membuat dia dimakamkan di lereng gunun bukan di puncak, makanya epitaph tersebut dibuat di lereng, tempat beliau meninggal. Karena itulah, di kalangan pemandu dan porter setempat, namanya begitu melegenda dan dihormati. Tak heran setiap pemandu yang turun dari puncak Tambora selalu berdoa singkat pada almarhum. Lalu, saya ceritakan juga bahwa epitaph yang ada di puncak, juga penanda kematian seorang guru, guru bagi saya. Kami saling bertukar kenangan tentang guru kami masing-masing yang sama-sama meninggal di Tambora. Kesamaan yang membuat saya dan sang pemandu, menjadi semacam ironi dan tragedi diantara kami. Tambora, dengan cerita bencana masa lalunya yang melegenda, juga menyimpan cerita dan kenangan akan orang-orang yang kami panuti.

*****

Ketika kami sampai di perkemahan, tanpa buang waktu, langsung segera memasak makan siang. Karena perlu cepat, spaghetti keju andalan, langsung dimasak dalam tempo kurang dari seperempat jam dan segera habis dalam tempo lima menit. Setelah itu, baru terasa, energi kami sudah habis untuk mendaki puncak dini hari dan makan siang. Serempak, kami pergi ke tenda masing-masing untuk ‘tidur siang’, yang seperti diduga, pasti akan gagal. Saya kira, saya baru terlelap kurang dari semenit ketika terdengar teriakan brutal dari tenda sebelah. Seorang teman saya yang hendak buang air kecil di semak-semak, berteriak histeris dan lari tunggang langgang ketika dua ekor babi masuk ke area perkemahan, mungkin tergoda aroma ayam yang kami bawa sebagai bekal. Sementara yang satu masih bocah ingusan yang sebenarnya imut untuk dijadikan peliharaan, yang satu lagi benar-benar berukuran raksasa emak-emak. Mungkin salah satu babi hutan terbesar yang pernah saya saksikan saking besarnya. Antara takjub dan takut, saya larut dalam teriakan barbar ala Tarzan untuk mengusir babi hutan kembali ke sarangnya. Tak adanya pemangsa karnivora di Tambora, menjadikan ukuran babi hutan berlipat ganda daripada saudaranya di Jawa. Setelah hampir lima menit teriak sampai serak, akhirnya babi hutan kembali ke rimba raya. Dan keinginan untuk tidur siang, punahlah sudah.

Sambil berleha-leha istirahat, kami berdiskusi apakah kami akan menginap semalam lagi di Tambora, atau langsung turun ke Desa Pancasila. Sebenarnya Pos 5 merupakan tempat paling ideal, tetapi terlalu jauh untuk jalan pulang. Pos 4 sama juga, terlalu jauh dan tak ada area luas untuk mendirikan tenda. Pos 3 adalah surga pacet, kami tentu tak mau tidur di sana jika tak ingin bangun dengan pacet gemuk yang menggelayut besar dan basah menempel di hidung ala tokoh kartun Squidwards, sementara pos 2 tak ada sumber air dan masih tempat berkerumunnya pacet. Pos 1 terlalu jauh sehingga bisa jadi sudah terlalu malam sampai sana. Setelah debat dan ngotot-ngototan, akhirnya diputuskan kami akan mencoba jalan dulu sejauh mana kami sampai. Sampai manapun kami sampai dan sudah malam, maka kami stop di pos terdekat dan mendirikan tenda.

Kami baru sampai di pos 4 ketika rerintik hujan mulai turun. Dengan kondisi basah, licin, dan rembesan air yang membuat reaksi kimia makin reaktif, terdengar erangan seseorang terkena jelatang seperti saat naik hari sebelumnya, yang berbaur dengan suara cekikikan tertahan menertawakan kawan seperjuangan yang kesakitan. Berkaca pengalaman hari kemarin, saya turun dengan peralatan lengkap, jas hujan menutup seluruh permukaan kulit tangan dan balaclava untuk menutupi muka. Di pos 3, seperti diduga sebelumnya, masih ada saja pacet yang menempel di kaki, meski hanya sebuah padahal saya sudah yakin mengikat ujung celana agar tidak ada pacet yang memanjat betis. Untungnya ukuran pacet yang menempel masih kecil dan seekor saja.

Ketika sampai pos 3, jam sudah menunjukan angka 4. Kami menghadapi sedikit dilema. Sesuai rencana sebelumnya, mestinya kami tidur di pos 3 atau memaksakan tidur mendirikan tenda di pos 2 yang bisa jadi selepas maghrib. Dengan melihat banyaknya pacet bergeliat di permukaan tanah pos 3, kami langsung mencoret opsi pertama, lanjut ke pos 2. Dan dimulailah salah satu pengalaman paling intim saya dengan kesunyian rimba. Dalam kegelapan dan keheningan rimba padat Tambora, saya sekarang mengerti, mengapa si penyair besar Dante, membuka epos raksasanya, sebuah perjalanan menuju neraka yang membara, justru dimulai dari rimba yang gelap dan senyap.

*****

Hutan Raya terhampar di seluruh pulau, dari tepi pantai tempat ombak-ombak samudera yang terentang hingga ke Kutub Selatan menghempaskan diri setelah perjalanan yang amat jauhnya hingga ke puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi dan setiap hari diselimuti awan tebal. Hutan raya berubah-ubah wajahnya. Yang dekat pantai merupakan hutan-hutan kayu bakau, dan semakin jauh ke darat dan semakin tinggi letaknya, berubah pula kayu-kayu dan tanaman di dalamnya, hingga tiba pada pohon-pohon besar dan tinggi, sepanjang masa ditutup lumut, yang merupakan renda-renda terurai dari cabang dan dahan. Sebagian terbesar bagian hutan raya tak pernah dijejak manusia dan di dalam hutan raya hidup bernapas dengan kuatnya. Berbagai margasatwa dan serangga penghuninya mempertahankan hidup di dalamnya. Demikian pula tanaman dan bunga-bunga anggrek, yang banyak merupakan mahkota di puncak-puncak pohon tinggi. Di bahagian atas hutan raya hidup siamang, beruk dan sebangsanya dan burung-burung; dan di bawah, di atas tanah, hidup harimau kumbang, gajah dan beruang; di sepanjang sungai tapir, badak, ular, buaya, rusa, kancil dan ratusan makhluk lain. Dan di dalam tanah serangga berkembang biak. Banyak bagian hutan raya yang menakutkan, yang penuh dengan paya yang mengandung bahaya maut dan hutan-hutan gelap yang basah senantiasa dari abad ke abad.**

*****

Selepas pos 3, saya yang awalnya berjalan di posisi terbelakang sebagai tim penyisir, beralih posisi sebagai tim pembuka rintis di paling depan karena saya dianggap ‘terlalu ceria dan optimis, suka menertawakan orang yang kesusahan jadi daripada buat jengkel, mending disuruh jalan duluan‘. Ok.

Sebagai orang yang berjalan paling depan, dan kebiasaan saya kalau sedang mendaki gunung, saya jarang berhenti untuk beristirahat. Semakin sering berhenti, artinya start-up kembali untuk berjalan yang perlu energi lebih besar malah akan semakin membuat tenaga cepat terkuras. Jalan pelan dengan kecepatan konstan justru bisa menghemat energi dan waktu lebih efisien. Karena itu, saya sering terpisah jauh berada di depan dari rombongan. Hanya sesekali saja saya bergabung dengan rombongan besar, misal saat ada teman yang terkilir karena terpeleset di rintis licin, saya sebagai petugas first aider, melakukan pembebatan untuk menopang persendian yang terkilir. Sisanya, saya berjalan sendirian menembus rimba raya.

Saat itu sudah menjelang senja, jejak rintis semakin membuyar dari pandangan. Mestinya saya merapat dengan rombongan. Anehnya, saya malah terbius oleh keheningan rimba untuk berjalan semakin menjauh dari tim rombongan. Hutan yang kelelahan di siang hari, terasa sedang mengendur santai menjelang tidur malamnya, namun juga sedang bersiap memasuki fase aktif malamnya. Beberapa makhluk krepuskular (hewan yang mulai aktif saat senja, seperti serangga dan burung hantu) muncul di semak dan kedalaman hutan, bersahut-sahutan menyanyikan kidung senja yang anehnya malah semakin memperkuat aura heningnya. Mata saya beradaptasi dengan keremangan yang perlahan meningkat, tak menyalakan headlamp (sangat berbahaya, jangan ditiru!). Saya berjalan terus dalam kesenyapan. Semakin jauh terpisah dari anggota rombongan.

Tak ada rasa takut. Tak ada rasa cemas. Tak ada rasa khawatir. Saya sepenuhnya mabuk oleh aura magis hutan Tambora nan senyap. Saya baru memakai headlamp ketika jalan mulai terantuk-antuk membentur akar pepohonan yang menonjol. Jam menunjukan setengah 7 saat itu. Hutan sudah sepenuhnya gelap oleh dedaunan rapat yang mengurung.

Dalam karya Inferno, Dante memulai petualangannya di hutan gelap, menjelang subuh, sementara saya menjelang malam. Keduanya menghasilkan sensasi sama. Rintis yang saya jejak membius dan memesona di tiap langkahnya. Sementara Dante tercerahkan karena kehadiran mentor Virgil, saya semakin larut dan membaur seolah tersesat. Saya sadar saat itu saya sendirian, jauh dari tim rombongan. Tapi tak ada keinginan untuk berteriak memanggil teman, menunggu kedatangan rombongan, beristirahat saat menemukan batu atau pohon tumbang. Saya baru berhenti ketika sampai di pos 1. Terpaksa berhenti karena harus mendiskusikan apakah kami akan mendirikan tenda di sana atau melanjutkan perjalanan ke Desa Pancasila. Segeralah saya sadar betapa jauhnya saya terpisah dari anggota rombongan. Setengah jam lebih saya menunggu, belum ada teman yang datang menyusul. Dalam keheningan dan kegelapan itu, saya mestinya takut. Anehnya, saya malah menikmati setiap detik-detiknya. Senyap yang menyegarkan, gelap yang menyadarkan. Saya tak memutar musik atau memasang lampu. Sepenuhnya luruh dalam misteri rimba malam Tambora.

Ah, di dunia urban modern yang serba bingar, tergesa, dan silau, datangnya suasana hening, diam, dan gelap semakin terasa mahal dan nikmat di tiap detiknya.

*****

Saat semua anggota tim sudah berkumpul di pos 1, kami sepakat untuk melanjutkan pulang turun ke Desa Pancasila, tak jadi menginap di pos 1 seperti rencana semula karena dirasa tanggung. Jadi perjalanan turun pun dilanjutkan. Saya mestinya berjalan sebagai perintis lagi paling depan. Tetapi karena teman saya banyak yang mulai kelelahan dan terkuras energinya, saya menahan diri jalan sendiri dan memilih berjalan beriringan, siapa tau jasa first aid saya dibutuhkan.

Berjalan beriringan dengan pemandu pendakian, saya diceritakan mengenai berbagai hal seputar kehidupan warga lokal sekitar kaki Tambora. Mengenai perkebunan kopinya yang saya cicipi sebelum pendakian, dan terutama keluhan panjang mengenai pembalakan liar. Meski sudah ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional Tambora tahun lalu yang membuatnya menjadi terlarang untuk dijarah, tetapi kenyataan di lapangan, tak menghentikan pembalakan liar. Sang pemandu mengeluhkan bekingan aparat kepada pengusaha kayu. Bahkan meski saat itu sudah malam, saya masih mendengar suara gergaji mesin di kejauhan, datang dari beberapa tempat sekaligus. Rimba Tambora yang padat memang menyimpan kekayaan alam luar biasa. Sepanjang pendakian antara pos 1-4, saya melihat banyak sekali pohon benuang laki berukuran raksasa, yang sudah pasti akan jadi primadona bagi penjarah. Antara pos 1 dan Desa Pancasila, terdapat beberapa truk mogok di jalan yang melesak terendam dalam kubangan lumpur yang tercipta karena beban berat, atau mogok karena as roda yang patah. Melihat tumpukan kayu yang keluar dari bak truk, bisa saya bayangkan betapa beratnya beban kayu di truk–betapa banyaknya kayu yang ditebang, setiap harinya.

MIP_656.JPG

Di tangan, kepala, hati, dan mimpi-mimpi merekalah masa depan Tambora berada. Ya, termasuk si sapinya.

Ketika menjelang gerbang batas desa, seorang pemandu mendekati saya sambil berbisik-bisik, menawari saya sisa gerabah pemukiman kuno yang tertimbun lava Tambora 200 tahun lalu***. Sebelumnya kami membicarakan tentang penemuan situs purbakala bekas pemukiman yang kemudian tertutup lava Tambora. Saya yang terlihat paling antusias mendengar cerita, satu-satunya yang ditawari sisa peninggalan purbakala, dan saya sangat tergoda untuk menawar dan membeli. Tetapi saya harus menahan godaan ini. Bagaimanapun, benda purbakala mestinya bisa dinikmati banyak orang, tak hanya masa kini tetapi juga di masa mendatang. Koleksi pribadi hanya akan menutup akses informasi ini. Dengan sesopan mungkin, saya menolak tawaran tersebut, dan sempat memancing dia apakah peninggalan purbakala tersebut sebaiknya diserahkan ke dinas purbakala atau museum, yang dia jawab dengan senyum pahit dan perkataan tajam, ‘ah, nantinya mereka juga akan jual lagi ke orang asing dan kolektor’. Jawaban yang tidak bisa saya sanggah dan menimbulkan kecemasan lain, selain cerita pembalakan pohon yang semakin liar.

Saya sampai di Desa Pancasila sekitar jam 10 malam. Dengan banyaknya kecemasan dan keprihatinan pada alam dan penduduk di kaki Tambora di masa kini dan masa mendatang yang saya dapatkan melalui cerita penduduk setempat saat turun gunung, meninggalkan pikiran yang penat dan berkecamuk saat sampai penginapan. Anehnya saya tidur tanpa mimpi dan seketika.

*****

Setelah pendakian Tambora, saya mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitar pulau Sumbawa; Pulau Satonda eksotik tak jauh dari kaki pantai Tambora, pulau bekas gunung api ini memiliki danau air asin di kawahnya yang salah satu hipotesis menjelaskan bahwa danau asin ini terbentuk karena tsunami raksasa ledakan Tambora naik ke pulau kecil ini dan bersemayam di sana hingga saat ini. Kami juga mengunjungi pulau Moyo dan pulau Kanawa, yang benar-benar asri dan lovable yang sayangnya dikunjungi lebih banyak wisatawan asing ketimbang wisatawan nasional.

DSC_8379.jpg

Danau kawah Satonda yang tenang, hening, misterius, mengancam, dan juga indah

Di pulau Satonda, kami bermalam semalam. Meski terumbu karang tumbuh dalam jumlah terbatas, tetapi saya  snorkeling hampir dua jam karena lanskap lantai lautnya yang unik dan dangkal membuat rumput laut tumbuh merangsek sampai jauh ke tengah laut. Setelah ditantang kawan-kawan, akhirnya saya nekat juga snorkeling di tengah danau kawah. Berenang di danau kawah Satonda (temperaturnya normal, kok), perlu nyali ekstra. Hanya selangkah dari tepi air, kedalaman danau menukik tajam. Dinding kawah yang jadi batas danau, berkontur vertikal. Selepas semeter dari tepi danau, saya tak bisa lagi melihat dasar danau. Begitu dalam dan gelap. Saat berenang (saya hanya berani berenang sejauh 5 meter dari tepi) saya membayangkan pikiran yang aneh-aneh, takut ada monster gurita atau hiu raksasa yang menarik kaki saya dari bawah danau seperti di film-film monster yang saya tonton saat SD, haha. Lagian, karena dasar danau yang tak terlihat saking dalamnya, tak banyak juga yang bisa dilihat di dalam air. Danau ini cantik, misterius, dan mengancam.

Malamnya, di pasir pantai pulau Satonda, dengan api unggun, gitar, marshmallow, dan popcorn keju, kami berkumpul dan saling bertukar cerita tentang banyak hal. Pengalaman selama pendakian (termasuk pengalaman mistis) hingga hal-hal remeh seperti mempergunjingkan makna lirik lagu dangdut dengan begitu terlalu serius seolah lagu tsb menyimpan pesan konspirasi freemason atau sabda multitafsir dengan kandungan filosofis (padahal liriknya sejauh yang saya tangkap, sedikit mesum dan menceritakan tentang kehidupan seorang janda ditinggal selingkuh). Begitulah, kami membalas kelelahan dengan cara-cara yang seolah serius namun diiringi banyak sekali canda tawa dan celaan kepada kawan.

Kami baru beranjak sesudah berganti hari, dini hari berikutnya. Suara sudah serak, perut sudah kenyang dan sakit terpingkal-pingkal, tenaga sudah menguap, dan kelopak mata sudah digelayuti seekor badak raksasa. Dengan kaki telanjang di atas pasir, kami menyeret badan lelah ke tempat penginapan (kami sengaja tak mendirikan tenda dan memilih tidur di penginapan pulau Satonda, semacam hadiah kecil bagi jerih pendakian). Setelah saling mengucapkan salam dan doa kepada kawan yang akan tidur, saya menyempatkan diri menatap langit. Cakrawala legam. Langit kelam. Laut hitam. Ribuan gemintang berpestapora, tak terjangkau.

Jika kita diberi kekuatan untuk menciptakan sebuah dunia lain, dunia macam apakah yang akan kita bentuk? Lebih terang dan semarak? Atau sama saja seperti sekarang?

Lying under such a myriad of stars. The sea’s black horizon. He rose and walked out and stood barefoot in the sand and watched the pale surf appear all down the shore and roll and crash and darken again. When he went back to the fire he knelt and smoothed her hair as she slept and he said if he were God he would have made the world just so and no different.
― Cormac McCarthy, The Road

DSC_8364.jpg

Catatan Tambahan:

* = Inferno (Neraka) adalah bagian pertama dari tiga bagian prosa liris The Divine Comedy karya Dante Alighieri, penyair Italia terbesar sepanjang masa. Saya teringat ketika pertama kali membaca Inferno, perasaan takjub sekaligus takut mencengkeram saya begitu kuatnya, sensasi yang amat jarang saya temui saat membaca buku lainnya. Dua puluh tahun setelah Dante meninggal, Eropa diserang wabah hitam yang mengerikan (di Eropa saja, wabah mematikan ini membunuh sampai 200 juta orang hanya dalam 7 tahun). Statistik kematian yang mengerikan ini menjadikan wabah hitam dianggap kutukan dan azab Tuhan. Dante seolah meramalkan bencana kengerian ini dalam bukunya. Tak heran jika isi Inferno, tentang gambaran detail neraka begitu merasuk dan efektif menimbulkan rasa ngeri pada umat yang kalah oleh wabah. Inferno adalah buku yang mengubah imaji kita tentang neraka–melebihi alkitab itu sendiri.

Salah satu cerita yang menarik di Inferno adalah neraka yang digambarkan bertingkat-tingkat sampai 9, tiap tingkat artinya semakin naik tingkat kekejaman siksaan sesuai beratnya beban dosa. Uniknya, tingkat paling ‘mudah’ yang disebut Limbo justru diperuntukan buat mereka yang tak pernah berbuat dosa dalam hidupnya. Tidak pernah berbuat kejahatan tetapi hanya diam saat kejahatan terjadi, menurut Dante, adalah sebuah kejahatan juga dan layak dimasukan ke dalam neraka. Deskripsi neraka Inferno begitu detail, rinci, menakutkan, sekaligus memesona. Dan inilah yang membuat Dante menjadi penyair luar biasa: Dante bisa menggubah sesuatu yang mengerikan dengan narasi yang menggugah dan indah. Paradoks yang sulit dicari tandingannya bahkan hingga sekarang.

** = Kalimat di atas dikutip secara utuh dari paragraf pembuka novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis. Salah satu novel sastra Indonesia pertama yang saya baca dan langsung mendapat sensasi jeri. Guru bahasa Indonesia saya mempromosikan buku ini agar dibaca siswa karena ‘cerita yang seru di hutan’, saya malah menemukannya sebagai novel thriller psikologis yang mengintimidasi. Lubis, dalam bahasa yang singkat dan efisien (novel ini sangat tipis dan singkat) berhasil meneror pembaca melalui sosok harimau yang memakan satu per satu para penyadap damar di hutan. Sebuah metafora dan alegori yang dia elaborasi jauh ke dalam bahwa dalam setiap jiwa manusia, juga ada ‘harimau’ lain yang sama buasnya dengan hewan buas di rimba raya.

*** = Pada tahun 2004, Haraldur Sigurdsson dari Islandia yang terkenal dengan kajian purbakalanya di gunung Vesuvius, dan Igan Supriatman Sutawidjaja dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melakukan penggalian di sekitar Desa Oibura yang tak jauh dari Desa Pancasila. Mereka menemukan jejak pemukiman yang terkubur beserta aneka gerabah proselen yang tertimbun, penemuan ini mengkonfirmasikan cerita setempat bahwa dulu di lereng Tambora pernah ada beberapa kerajaan kecil sebelum ledakan dahsyat. Penemuan ini segera disandingkan dengan penggalian kota kuno Pompeii yang tertimbun letusan gunung Vesuvius tahun 79. Pada tahun 2007, penggalian lanjutan memberikan hasil yang lebih mengagumkan, penemuan mayat hewan dan manusia yang menjadi arang diterjang lava panas seketika. Posisi mayat mengindikasikan kematian cepat akibat thermal shock yang mendadak.

Advertisements

10 thoughts on “Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3]

  1. Selepas pos 3, saya yang awalnya berjalan di posisi terbelakang sebagai tim penyisir, beralih posisi sebagai tim pembuka rintis di paling depan karena saya dianggap ‘terlalu ceria dan optimis, suka menertawakan orang yang kesusahan jadi daripada buat jengkel, mending disuruh jalan duluan‘. Ok….

    Emang suka ngeselin 😂😂😂😂…..

    Like

  2. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s