Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 2]

Perhaps in the world’s destruction it would be possible at last to see how it was made. Oceans, mountains. The ponderous counterspectacle of things ceasing to be. The sweeping waste, hydroptic and coldly secular. The silence.
― Cormac McCarthy, The Road

Saya berdiri di puncak yang sekaligus tepi sebuah jurang tajam. Di antara bayang-bayang sisa dini hari, bagian-bagian dataran di kaki gunung terlihat memantulkan cahaya sisa purnama dan lampu jalanan di kejauhan, dan segerombol pepohonan di tepi lereng selatan gunung membentuk kerumunan formasi bergerombol yang aneh. Pepohonan berbatang kecoklatan dengan bintik-bintik putih bagai penderita kusta mengintip di tepian jalur pendakian yang kami lewati. Jamur dan lumut berjurai-jurai di bebatuan bagaikan juluran lengan gurita yang murka. Udara menggelegak mengalir deras di antara bebatuan di puncak jurang yang berlumut dan beraroma amis seperti laut. Ada bau tipis abu purba yang terserak diantara sela bebatuan, sisa dan saksi amarah gunung di masa lampau, terlarut oleh embun yang berkerumun di pucuk dedaunan berbentuk jarum dan ada aroma sulfur yang tercium berselang-seling saat angin lewat dengan silih berganti. Di antara lipatan-lipatan angin yang datang bergulung-gulung, tercium aroma laut samar yang dibawa angin lembah dan diperangkap hutan beserta aroma semua ikannya, semua karangnya, semua pasirnya, semua arusnya, semua kedalamannya, semua gemuruhnya, semua kesunyiannya, dan semua misterinya. Aroma eksotik yang memabukkan ini membuat saya mencium udara dengan sangat perlahan seolah kesempatan seperti ini tak bisa terulang.

*****

Ketika saya bangun jam dua dini hari, tubuh masih terasa remuk redam bekas pendakian kemarin. Andai gunung biasa seperti di Jawa, rasanya ingin membatalkan niat untuk mendaki sampai puncak, karena pemandangan puncak yang nyaris tipikal kadang bisa dibayangkan tanpa perlu berdiri di atasnya langsung. Tapi ini Tambora, gunung yang hanya menyebut namanya saja sudah menebar teror dan mengungkap sejarah mengerikan bagi dunia di masa lampau dan sekarang. Dan ini juga mungkin kesempatan sekali seumur hidup. Jadi dengan perasaan enggan, saya memaksakan untuk bergegas mempersiapkan perlengkapan summit attack seperti obat-obatan P3K, air minum, dan cemilan energy bar. Tetapi setidaknya kondisi saya tidak semengenaskan kawan setenda saya. Gegara terlalu lelah saat sampai di pos 5, kami mendirikan tenda nyaris asal-asalan. Saat tenda selesai didirikan baru disadari jika ada gundukan batu besar di bawah tenda. Akan tetapi saya dan teman setenda saya terlalu malas dan lejar untuk membongkar dan memindahkan tenda. Dengan adanya gundukan sebesar bantal menyembul di tengah tenda, membuat posisi rebahan istirahat tidur tidak bisa lurus. Ketika terbangun di dini hari buta, saya bisa membayangkan sakitnya seperti apa dengan melihat teman saya meringis ngilu setiap menggerakkan pinggangnya. Antara bersyukur dan merasa bersalah, saya meminta maaf kepada teman saya karena dia kalah undian sehingga mendapat tempat tidur yang berlegok.

Sambil menunggu teman-teman lain mempersiapkan bekal, mata saya menjelajahi hamparan langit dini hari. Pemandangan langit sudah berubah drastis ketimbang sebelum saya tinggalkan untuk tidur. Bulan berada di area zenit langit—tidak tepat di tengah, bintang Altair sedang tepat di tengah sehingga saya harus menengadah tegak lurus untuk melihatnya—memancarkan cahaya dalam kelimpahan yang boros sisa purnama hari-hari sebelumnya, membuat bintang-bintang lainnya menjadi redup dan kalah sehingga saya sulit mengenali pola-pola rasi karena bintang-bintang kecil menjadi tersisih dan sukar menentukan garis-garis batas konstelasi. Bahkan untuk rasi setegas Scorpius saja, saya hanya bisa menebak dari bentuk capitnya, ekornya hilang dalam semburan cahaya silau rembulan. Hanya rasi Cygnus yang bisa saya kenali karena bentangan sayap angsanya yang khas dan terutama ekor Deneb-nya yang cemerlang. Di barat daya, menggantung rendah di atas cakrawala, duet bintang Alfa Centaurus dan Beta Centaurus (Hadar) berusaha mencuri perhatian untuk bisa melawan dominasi bulan. Limpahan cahaya rembulan yang semarak, melanjutkan pesta pora langit malam sebelum matahari pagi tiba. Saya bahkan merasa tidak perlu menyalakan headlamp ketika memulai summit attack.

Udaranya tidak dingin menggigil meski angin kemarau datang dalam bentuk tamparan-tamparan lembut di pipi. Kelembapan hutan telah mengurung dan menghangatkan arus angin lembah yang dingin. Doa sederhana dipanjatkan agar kami diberikan kekuatan untuk mendaki puncak—kami butuh banyak sekali doa yang menguatkan. Pukul 2.30 dini hari selang beberapa detik, kami mulai meninggalkan area tenda, menyongsong dan menggapai dinding-dinging curam punggungan gunung, untuk menyaksikan dan membuktikan keajaiban dan mukjizat alam terbesar di bumi Sumbawa.

*****

Berbeda dengan medan yang kami tempuh sebelumnya, perjalanan dari pos 5 menuju puncak sudah sama persis dengan medan puncak yang kami tempuh seperti di gunung-gunung lain; daerah berpasir dengan gerombolan edelweiss yang tumbuh secara sporadis diantara kerakal berujung tajam yang dipanaskan perut bumi, dikikis angin kencang, diterjang air hujan, digerogoti embun pagi membekukan, dan dipanggang matahari siang yang kejam karena oksigen yang tipis. Karena utang ketinggian yang harus ditempuh masih banyak, pendakian menuju puncak terasa memeras banyak keringat karena medan terjalnya tanpa ada bonus area datar untuk memulihkan tenaga. Angin datang bergelombang-gelombang yang mendorong punggung untuk terus membuat mata tetap awas pada tempat pijakan. Bulan raksasa yang melayang rendah (setiap menemui tonjolan batu, saya merasa saya bisa menggapai bulan dengan telapak tangan), berjalan perlahan bak piring terbang yang tak hanya menjadi senter raksasa tetapi juga kamera pengawas mahabesar yang menemani kami selama pendakian. Lanskap mulai terlihat dramatis dan berubah drastis dengan terlihatnya ratusan jurang curam dan tak terukur dalamnya bekas retakan purba ratusan tahun silam. Perlu tiga jam untuk akhirnya agar saya bisa sampai bisa sampai di tepi dinding kaldera, yang membuat saya berjam-jam sisanya tertegun oleh ketakjuban dan kekaguman. Dan juga ketakutan.

Sambil mengatur nafas kelelahan, menunggu detik-detik pertama matahari terbit keluar, pupil mata saya sibuk menyesuaikan cahaya lemah remang-remang subuh. Sesuatu yang besar, amat sangat besar, menganga tepat di depan saya. Saya bahkan merasa sesuatu ini mengaum keras, suara aumannya diwakili gemuruh angin kencang yang dari tadi berusaha keras untuk menghisap saya ke dalamnya; Kaldera Tambora yang menjadi buah bibir manusia sepanjang zaman. Maharaksasa, kolosal, dan mengancam, saya tak pernah melihat sesuatu yang semenakutkan seperti ini sebelumnya. Kulit tengkuk saya meremang entah karena takjub, kedinginan, atau malah ketakutan.

Asap sulfur tipis merambat dan memanjat lambat dari dasar kawah yang gelap, menciptakan efek ilusi bahwa gunung ini seperti butakala yang sedang menguap di udara musim dingin yang membekukan. Tercerai berai oleh angin yang bergolak, asap sulfur meruak seperti adukan susu putih di mangkuk raksasa kaldera, menutup dasar kaldera yang dalam sehingga kaldera raksasa Tambora terlihat semakin menakutkan dan mengancam karena saya tak bisa melihat dasarnya dengan jelas. Bulan kuarsa, menggantung rendah tiga meter dari permukaan tanah di bagian dinding kaldera tertinggi yang menjadi tujuan utama pendakian kami. Seperti setingan dalam cerita horror absurdnya H. P. Lovecraft ketimbang pemandangan puncak sebuah gunung. Saya mungkin tak akan berteriak kaget jika ada seekor monster raksasa merangkak keluar dari dasar kaldera.

Setiap terdengar rompalan batu yang jatuh dari dinding kaldera, selalu diiringi suara pekikan ketakutan dan kekagetan anggota tim pendakian kami. Gema jatuhan bebatuannya mengisi seluruh kaldera secara bersahut-sahutan, sehingga seolah terdengar seperti auman monster raksasa. Kami bahkan tak berani berdiri terlalu dekat dengan dinding kaldera karena terlalu banyak retakan di tanahnya sehingga dikhawatirkan longsor. Jatuh ke dinding vertikal ribuan meter ke bawah, jelas bukan cita-cita kami, maka kami tak terlalu bernafsu untuk bisa berfoto dari tepi dinding kaldera meski pemandangan dramatisnya sangat menggoda. Bentuk kaldera yang bulat sempurna seperti kuali raksasa yang sedang dipersiapkan untuk memasak oleh para makhluk-makhluk raksasa kasat mata. Berasap karena terlalu lama dipanaskan, kosong melompong karena belum ada yang mengisi—semoga tidak ada. Berdiri di tepi tebing kaldera (setelah dua setengah jam mendaki) bukanlah akhir pendakian kami, karena puncak target utama masih ada setengah jam pendakain. “Puncak” yang dimaksud tentu saja bukan puncak gunung sejati. Ledakan dahsyat Tambora dua abad yang lalu, telah melenyapkan separuh tinggi gunungnya dan menciptakan gerowong raksasa. Titik “pucak” tujuan kami adalah bagian dinding kaldera yang paling tinggi dibandingkan tepian dinding kaldera lainnya.

MIP_479.JPG

Bagian tinggi sebelah kanan adalah titik dinding kaldera tertinggi yang kemudian dijadikan sebagai “puncak” dan dipasangnya plakat ketinggian. Meski terlihat landai di foto, menuju ke sana memakan waktu satu jam sendiri

Sebenarnya saya merasa sudah cukup ketika sampai tepi tebing kaldera, kepayahan pun sudah semakin menjadi-jadi. Tetapi melihat ada bagian tanah yang lebih tinggi membuat rasa penasaran malah semakin meninggi. Maka saya pun memaksakan diri, dan saya tak menyesalinya. Ketika detik-detik pertama matahari muncul di seberang sisi kaldera timur… ah… bahkan saya tak mau buang-buang waktu dengan sibuk mengurusi foto-foto. Saya sepenuhnya mematung dia menikmati atraksi alam paling mendebarkan hari itu. Saya berdiri di puncak yang sekaligus tepi sebuah jurang tajam. Di antara bayang-bayang sisa dini hari, bagian-bagian dataran di kaki gunung terlihat memantulkan cahaya sisa purnama dan lampu jalanan di kejauhan, dan segerombol pepohonan di tepi lereng selatan gunung membentuk kerumunan formasi bergerombol yang aneh. Pepohonan berbatang kecoklatan dengan bintik-bintik putih bagai penderita kusta mengintip di tepian jalur pendakian yang kami lewati. Jamur dan lumut berjurai-jurai di bebatuan bagaikan juluran lengan gurita yang murka. Udara menggelegak mengalir deras di antara bebatuan di puncak jurang yang berlumut dan beraroma amis seperti laut. Ada bau tipis abu purba yang terserak diantara sela bebatuan, sisa dan saksi amarah gunung di masa lampau, terlarut oleh embun yang berkerumun di pucuk dedaunan berbentuk jarum dan ada aroma sulfur yang tercium berselang-seling saat angin lewat dengan silih berganti. Di antara lipatan-lipatan angin yang datang bergulung-gulung, tercium aroma laut samar yang dibawa angin lembah dan diperangkap hutan beserta aroma semua ikannya, semua karangnya, semua pasirnya, semua arusnya, semua kedalamannya, semua gemuruhnya, semua kesunyiannya, dan semua misterinya. Aroma eksotik yang memabukkan ini membuat saya mencium udara dengan sangat perlahan seolah kesempatan seperti ini tak bisa terulang. Hamparan luas langit biru menjadi tenda tak terbatas nun jauh di atas sana. Bulan bahkan bertahan hingga pukul sepuluh pagi seolah ikut tertegun menyaksikan kaldera Tambora, masih setia mengiringi dan mengawasi kami meski terik sudah merajai. Inilah saya, akhirnya saya menyaksikan dengan mata sendiri, dari tempat yang cukup tinggi, sebuah lubang maharaksasa sisa ledakan lampau yang melegenda itu.

G0089817.JPG

Kaldera raksasa Tambora menjadi denai tak terbantahkan bahwa sesuatu yang dahsyat dan memusnahkan pernah terjadi di masa lampau

*****

Dulu, ketika saya masih sekolah dasar, saya membaca buku vulkanologi dasar mengenai gunung-gunung api terdahsyat di dunia. Karena alasan kedekatan geografis dengan tempat saya tinggal, saat itu saya percaya bahwa ledakan terdahsyat yang pernah tercatat dalam tulisan sejarah adalah ledakan Gunung Krakatau tahun 1883. Bagaimana tidak, suara ledakannya terdengar sampai jauh ke Srilanka dan Australia, yang saking kencangnya, gema dari suara ledakannya mengitari bumi sampai 4 kali. Meledak dengan dahsyat sehingga hampir semua kaca rumahan (yang kualitasnya belum sebaik sekarang) di daerah Batavia pecah semua. Ini baru suaranya saja. Tinggi gelombang tsunaminya, goncangan gempa mahadahsyatnya, lontaran debu muntahannnya, perubahan cuaca global, sudah menjadi buah bibir dan menjadi deretan fakta panjang dan mencengangkan untuk bisa memberikan detail mengerikan dari definisi kata “kiamat”.

Dalam buku Krakatoa: The Day the World Exploded, Simon Winchester berargumen bahwa ledakan Krakatau tak hanya menggoncang bumi saja, tetapi juga kehidupan sosial ekonomi kolonialisme Belanda. Ledakan Krakatau menyebabkan gonjang-ganjing besar dalam pemerintahan Hindia Belanda, memicu kelaparan dan pergolakan sosial di tanah Jawa, yang pada efek dominonya, turut serta mempercepat kemerdekaan negara Indonesia. Sistem tanam paksa, politik etis, dan pergerakan intelektual nasional pra kemerdekaan, dipicu oleh ledakan Krakatau.

Seiring waktu, dengan referensi bacaan yang semakin bertambah, saya akhirnya menyadari bahwa ada ledakan gunung yang lebih mengerikan ketimbang Krakatau. Dalam skala Volcanic Explosivity Index (VEI) yang mengukur tingkat kedahsyatan erupsi sebuah gunung–kurang lebih mirip skala richter untuk mengukur intensitas gempa, Krakatau ada di skala 6 dari 8. Namun Tambora, ada satu tingkat di atas Krakatau, skala 7 dengan volume perut bumi yang dimuntahkan hampir sepuluh kali lipat. Energi yang dilepas Tambora setara 8x ledakan Krakatau. Seberapa dahsyat arti skala 7 dalam kasus Tambora? Bayangkan, 10 ribu orang meninggal langsung di sekitar gunung tertimbun batuan pada jam-jam pertama ledakan, disusul 80 ribu orang lagi yang tertimbun batuan panas–angka 90 ribu orang (mungkin lebih lagi) adalah angka kematian terbesar yang pernah disebabkan oleh ledakan sebuah gunung api sepanjang sejarah. Tetapi angka kematian akibat Tambora tidak berhenti di sana. Jutaan orang meninggal di tahun-tahun berikutnya karena efek domino ledakan Tambora–efek global yang jauh lebih mengerikan ketimbang efek ledakan Krakatau.

Dituliskan dalam buku Tambora: The Eruption That Changed the World karya Gillen D’Arcy Wood, ledakan Tambora melontarkan abu ke atmosfer yang menyebabkan atmosfer lebih pekat sehingga cahaya matahari tertapis dan temperatur planet bumi menurun drastis. Akibatnya, di tahun-tahun berikutnya, temperatur global mengalami apa yang dinamakan Tahun tanpa Musim Panas, dimana musim dingin lebih panjang daripada biasanya di belahan bumi utara. Efeknya sangat panjang dan mengerikan. Kegagalan panen memicu kelaparan besar-besaran di Eropa. Irlandia dilanda kelaparan hebat sehingga tawaran bantuan dari pemerintahan Ottoman yang dianggap kafir pun akhirnya diterima dengan tangan terbuka saat menawarkan bantuan pengiriman kentang, kekalahan Napoleon di Waterloo selain karena kalah dalam aliansi pasukan juga diperburuk musim dingin dahsyat yang menghajar para pasukannya, perbudakan di Amerika juga semakin kokoh karena kegagalan panen memaksa tuan tanah untuk menambah jumlah budak, Amerika mengalami krisis ekonomi pertamanya menyusul anjloknya hasil bumi di mana-mana, wabah kolera di India yang mengganas seiring bencana banjir besar yang tak biasa, munculnya pasar opium di Tionghoa pada masa dinasti Qing menyusul kegagalan panen membuat petani ingin mengeruk keuntungan secepat mungkin, dan sekian juta lagi kematian-kematian massal yang disebabkan Tambora yang mengglobal.

Kematian-kematian baik secara langsung maupun tidak langsung dari ledakan Tambora, kadang tidak sepenuhnya berakhir dalam statistik mengerikan. Banyak karya seni lahir karena Tambora. Genre gothic-horror mulai mendapat tempatnya ketika novel beraura kelam Frankenstein terbit karena sang penulis Mary Shelley mendapat inspirasi aura kelabu yang melingkupi Eropa dalam waktu lama. Lukisan-lukisan JMW Turner yang sangat mengesankan dan dramatis dalam menampilkan suasana langit, tak akan muncul jika tak ada Tambora. Dan salah satu puisi paling mengesankan dari Lord Byron berjudul Darkness* sudah pasti terinspirasi dari kegelapan Eropa yang dikurung langit yang beracun belerang Tambora. Selain itu, teknologi juga berkembang pesat karena dipicu Tambora secara tak langsung. Kematian massal pada ternak menyebabkan kuda-kuda pengangkut banyak yang tewas, sehingga seorang baron dari Jerman bernama Karl von Drais mengembangkan desain sepeda pertama kali—yang tinggal menunggu waktu saja sampai teknologi kendaraan bermesin tercipta.

ida286

Salah satu motivasi saya datang ke Tambora adalah buku ini yang menceritakan bencana tambora dari sudut pandang lokal

Mengapa ledakan Tambora kalah tenar oleh Krakatau? Jawabannya sebenarnya hampir mudah. Krakatau meledak di era yang lebih baru ketimbang Tambora. Pada masa Tambora meledak, teknologi transportasi dan komunikasi masih terbatas sehingga kabar ledakan tentang Tambora tersebar di kalangan terbatas saja dan dampak buruk yang dirasakannya seperti musim dingin yang panjang hanya bisa ditebak-tebak asalnya. Sedangkan pada saat Krakatau meledak, teknologi yang telah berkembang membuat kabarnya cepat sampai ke mana-mana sehingga catatan dan dokumentasi baik catatan lokal maupun asing sangat berlimpah. Saya sendiri baru membaca teks lama tentang Tambora hanya sebatas dari The History of Java-nya Thomas Stamford Raffles (di sana diceritakan bahwa Keraton Yogya langsung siaga saat mendengar ledakan Tambora karena disangka serangan meriam tetara asing, namun karena tidak ada yang datang dipercaya kalau ledakan tsb adalah meriamnya Nyi Roro Kidul). Raffles bahkan mencatat turunnya salju di Bengkulu karena udaranya yang dingin mendadak! Karya lokal klasik yang saya baca mengenai rekaman kejadian mengerikan ledakan Tambora adalah Syair Kerajaan Bima karya Khatib Lukman—meski saya membaca versi terjemahannya dalam senarai Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah** dari Henri Chambert-Loir.

Dengan segala kedahsyatan dan efek panjang bergulir karenanya, tak mengherankan jika ledakan Tambora sering disebut-sebut sebagai ledakan gunung terdahsyat dalam catatan sejarah dan ingatan manusia. Menyaksikan kaldera menganga Tambora yang berbentuk bundar bak kuali raksasa, saya langsung yakin bahwa ledakan Tambora memang sedahsyat itu. Sebenarnya ada gunung lain yang meledak dahsyat melebihi Tambora, yakni ledakan Gunung Samalas yang menjadi cikal gunung Rinjani sekarang. Ukuran kaldera Rinjani lebih besar ketimbang kaldera Tambora (kaldera Rinjani tidak berbentuk mangkuk sempurna seperti Tambora, dan diisi danau kawah bernama Segara Anak berdiameter 8.5 km sementara Tambora 7 km). Ledakan Samalas yang lima setengah abad lebih dahulu ketimbang Tambora, menjadikan catatan kesaksian Samalas menjadi lebih langka sehingga masih menjadi bahan perdebatan di kalangan ilmuwan mengenai dampak Samalas bagi lingkungan global. Dan saya sangat bersyukur bisa menyaksikan langsung kedua bukti sejarah ini ketika pendakian ke Rinjani dan Tambora.

*****

Biasanya saya menghabiskan waktu hanya sejam dua jam saat di puncak gunung selepas summit attack. Setelah menyaksikan sunrise, saya biasanya tak berlama-lama berdiri di sana selain karena hawa berubah cepat dari dingin menjadi panas memanggang, juga biasanya cepat kelaparan ingin segera sarapan di tenda. Tetapi Tambora adalah sebuah pengecualian. Bulan di atas kepala masih tampak jelas bahkan saat arloji memberitahu saya bahwa waktu sudah begulir ke jam 10 pagi. Keringat sudah muncul di sela-sela pori-pori, tetapi saya dan teman saya saling menunggu untuk mendengar ajakan kapan turun ke tenda di lereng barat gunung yang tak ada yang memulai. Kami tak pernah jemu untuk mengabadikan pemandangan di puncak Tambora. Meski tanpa berfoto pun sebenarnya kami yakin bahwa pengalaman yang kami rasakan (pendakian dengan segala kepayahannya) tak mungkin bisa dilupakan.

MIP_384.JPG

Tumbuh tepat di bibir kaldera, saya tak tau seberapa lama bunga “abadi” edelweiss ini akan bertahan, sebelum tanah tempat dia tumbuh rompal ke dasar kaldera

Sambil menunggu teman-teman saya yang berfoto ria, saya melanjutkan pembacaan buku The Road-nya Cormac McCarthy. Dibaca sambil menyaksikan langsung bukti pemusnahan dan pembangkitan kembali kehidupan di masa lampau, saya merinding pada bagian ini, perhaps in the world’s destruction it would be possible at last to see how it was made. Oceans, mountains. The ponderous counterspectacle of things ceasing to be. The sweeping waste, hydroptic and coldly secular. The silence. Barangkali dibalik penghancuran dunia, sebetulnya juga bisa dilihat bagaimana ia diciptakan. Lautan, pegunungan. Pertunjukan menjemukan tentang hal-hal yang telah berakhir. Sapuan sampah, wabah, dan keduniawian yang dingin. Senyap.

 

(bersambung)

 

Catatan tambahan:

* = Puisi Lord Byron “Darkness” selain menggambarkan suasana alam yang mencekam, juga menjadi perlambang atas kegagalan pernikahan dia yang bercerai hanya sebulan sebelum puisi tsb ditulis. Penuh dengan simbolisme yang merujuk pada alkitab (tentang kisah-kisah neraka dan dosa), mungkin inilah puisi kelam favorit saya selain puisi The Raven-nya Edgar Allan Poe. Baris-baris pertamanya, saya senandungkan di puncak Tambora sambil membayangkan kengerian macam apa di dua ratus tahun lampau. “I had a dream, which was not all a dream/ The bright sun was extinguish’d, and the stars/ Did wander darkling in the eternal space/ Rayless, and pathless, and the icy earth/ Swung blind and blackening in the moonless air/“. Sisanya, bisa dibaca di sini.

** = Syair Kerajaan Bima merupakan babad sejarah yang ditulis dari perspektif kerajaan Bima, kerajaan tua dan terbesar di pulau Sumbawa. Babad ini terdiri dari tiga bagian, dimana bagian pertama khusus menceritakan tentang bencana Tambora yang menimbun 3 kerajaan kecil di semenanjung Sanggar tempat Tambora berada yakni kerajaan Tambora, kerajaan Papekat, dan kerajaan Sanggar. Bagian meledaknya Tambora diceritakan sangat menarik karena menurut naskah ini, Tambora meledak setelah raja Tambora yang bernama Abdul Gafur, membunuh ulama suci bernama Haji Mustafa. Haji Mustafa yang datang dari Arab menuduh Sang raja telah kafir. Tak terima dihina, sang raja membunuh sang musafir. Tuhan yang murka, meledakkan gunung karena orang terkasihNya dibunuh.

Bait-bait syairnya sangat detail dalam menceritakan bagaimana kiamat terjadi sesudahnya: hujan abu berhari-hari, kemelaratan dan kelaparan dimana-mana, mayat tergelatak di jalanan tanpa ada yang punya tenaga untuk menguburkannya dan menjadi santapan anjing-anjing yang kelaparan, berminggu-minggu setelahnya lebih banyak lagi orang yang mati karena memakan daun beracun karena tak ada makanan.

Sebuah naskah lain yang berjudul Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora karya Roorda van Eysinga, terbitan 1841, memberikan cerita hampir senada dengan tambahan detail mengenai sebab musabab petaka. Menurut versi ini, ulama Arab yang datang bernama Said Idrus yang mampir di Kerajaan Tambora setelah sebelumnya mampir dulu ke Bengkulu. Saat dia shalat di mesjid kerajaan, dilihatnya anjing milik sultan di mesjid. Sang ulama mencerca Sultan sebagai orang kafir karena membiarkan anjing di rumah ibadah. Tak terima dituduh kafir, Sultan mengadakan muslihat: anjing tadi dihidangkan sebagai jamuan makan dan disajikan kepada Sang Ulama. Ketika Sang Ulama memakan hidangan anjing tsb, Sang Sultan mengatakan kalau daging yang dilahap adalah anjing yang dia hina tadi. Kemurkaan Sultan berlanjut dan berpuncak dengan menyuruh bawahannya membunuh Sang Ulama. Murka Tuhan pun turun.

Sebagaimana babad sejarah lainnya, babad biasanya ditulis oleh orang yang berada dalam perspektif sebagai “pemenang”. Sehingga saya curiga bahwa detail dalam kedua cerita di atas adalah tambahan untuk mengungkapkanan rasa ‘benci’ sekaligus ‘lega’ karena kerajaan saingan akhirnya punah kena bencana. Kerajaan Tambora yang secara politis menjadi lawan dari kerajaan Bima, ketika hancur oleh bencana alam, lantas dituliskan dengan tambahan tuduhan politis yang tak simpatik (seperti menuduh kafir dan layaknya kena azab Tuhan).

Advertisements

6 thoughts on “Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 2]

  1. Pingback: Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3] | melquiades caravan

  2. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

  3. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2016 | melquiades caravan

  4. Pingback: Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 3] | melquiadescaravan

  5. Pingback: Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 3] | melquiadescaravan

  6. Pingback: Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 4] | melquiadescaravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s