Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 1]

He walked out in the gray light and stood and he saw for a brief moment the absolute truth of the world. The cold relentless circling of the intestate earth. Darkness implacable. The blind dogs of the sun in their running. The crushing black vacuum of the universe. And somewhere two hunted animals trembling like ground-foxes in their cover. Borrowed time and borrowed world and borrowed eyes with which to sorrow it.
― Cormac McCarthy, The Road

Sains terpurba dan agama tertua lahir di bawah langit malam*. Pasti akan sangat berbeda sekali rupa langit malam di masa ratusan ribu tahun lampau dibanding saat ini. Leluhur jauh kita, menghabiskan malam-malam tergelap sebelum api dan pencahayaan buatan tercipta, di malam tak berbulan, mengamati puluhan ribu bintang tampak di dasar kegelapan langit malam. Bintang tercerlang berurutan diberi nama, bintang berdekatan diberi garis khayalan dan bentuk-bentuk abstrak diasosiasikan dengan sosok-sosok makhluk-makhluk supernatural, hingga aneka konstelasi terbentuk dan legenda mitos pun diciptakan. Ketakjuban akan keindahannya menciptakan rasa penasaran untuk melakukan pengukuran dan perhitungan, maka sains purba pun lahir. Kekaguman akan keluasannya menciptakan rasa ketakutan dan pengharapan, maka penyembahan agama awal pun lahir.

Karenanya, kesenangan menatap langit malam tak sepenuhnya bisa saya fahami. Langit malam dengan ribuan gemintang tampaknya, memang memesona dan menimbulkan decak kagum. Namun di sisi lain, kegelapan tiada akhirnya menimbulkan ancaman dan ketakutan. Kita menjadi seolah tak berarti, tak berdaya, dan tak bermakna di bawah naungan keluasan kubah langit malam. Maka, menatap langit malam sering membuat saya membisu dengan pikiran berhamburan kemana-mana. Pesona, gairah, daya tarik, mimpi, imajinasi, misteri, ketakutan, semuanya melarut dalam kepekatan latar legam langit malam yang menimbulkan efek menghipnotis. Dan langit malam di puncak Tambora, menjadi salah satu langit malam paling menyihir yang pernah saya saksikan.

*****

Karena kesibukan, ahelah, saya sepertinya harus terpaksa menunda (atau malah membatalkan) beberapa tulisan catatan pendakian gunung-gunung lain sebelum Tambora. Haha. Ternyata dengan banyaknya ide dan kenangan yang ingin disampaikan, malah membuat saya gagap saat menuliskan. Jadi, mohon maaf jika blog ini tidak diisi rutin lagi dengan tulisan, bukan karena tak ada bahan, tetapi terlalu banyak bahan sehingga keburu malas saat ingin dituliskan. Haha. Pun untuk cerita Tambora, kalau tidak sekalian dipublikasikan di media lain, terpaksa harus mengendap lebih lama lagi. Tapi berhubung di versi media itu tidak bisa ditulis versi curhatannya, jadi versi di blog ini yang dikorbankan untuk lebih banyak versi curhatnya. Haha.

*****

Pendakian ke Tambora di Pulau Sumbawa merupakan bagian dari rangkaian pendakian gunung-gunung tertinggi di pulau-pulau utama gugusan Kepulauan Sunda Kecil (salah satu warisan Mohammad Yamin selain simbol lambang negara adalah pengubahan nama-nama geografis kepulauan Indonesia termasuk perubahan nama Kepulauan Sunda Kecil  menjadi Nusa Tenggara) yang saya gagas bersama beberapa teman-teman saya. Gunung Rinjani di pulau Lombok, Gunung Muis di pulau Timor (gunung ini terletak di kabupaten yang namanya selalu membuat mulut saya belepotan, Kabupaten Timor Tengah Selatan), dan Gunung Wanggameti di pulau Sumba, sudah berhasil kami daki. Oya, yang Muis dan Wanggameti belum sampai ke puncak, hanya sampai pertengahan gunung saja karena saat ke sana kami memang tidak berniat mendaki sampai puncak alias jalan-jalan hura-hura-hore-hore. Gunung Inerie di Bajawa Flores juga belum berhasil didaki dan sepertinya masuk dalam keranjang belanjaan yang semakin menumpuk. Untung saja saya pernah mendaki Gunung Tongkor Kina di Flores sehingga prioritas Inerie tak terlalu mendesak. Ah, dan terakhir, Gunung Agung di Bali. Saya sengaja menyisakan gunung ini sebagai yang terakhir karena akses transportasi akomodasinya yang termudah sehingga bisa dilakukan kapan-kapan.

Gunung Tambora sendiri baru didaki belakangan, karena akses ke sana (setidaknya rute yang saya ambil) menjadikan gunung ini yang aksesnya paling jauh dan paling susah. Dari Bandara Lombok, kami berkendara untuk sampai titik awal pendakian basecamp Desa Pancasila di Kabupaten Dompu, Sumbawa. Dan itu artinya kami harus berkendara antara 10 sampai 12 jam lebih. Cukup untuk membuat pantat saya menebal dan membeku seperti agar-agar yang terlalu lama berdiam di freezer lemari es. Ketika saya mendaki Gunung Tambora keesokan harinya (kami sampai Desa Pancasila jam 1 malam), saya masih merasa kaku untuk melangkah, dan ada sensasi kebas yang bertahan lama pada gluteus maximus saya dan beru terasa hilang ketika sampai seperempat pendakian. Haha.

*****

Ketika saya mendarat di Bandara Internasional Praya Lombok, saya diliputi sensasi aneh —semacam déjà vu namun lebih kuat dari biasanya—saya merasa bahwa perjalanan saya menuju Desa Pancasila akan sedikit banyak mirip dengan perjalanan saya antara Bandara Komodo – Desa Denge saat akan menuju Wae Rebo: jalanan lengang dan berlenggok saat mengitari bukit dan menyusur teluk, dan akan sampai lokasi tujuan saat dini hari. Dan ternyata memang seperti itulah yang terjadi.

Karena letak bandara Praya terletak di tengah-tengah pulau Lombok, perlu waktu 2.5 jam sendiri menuju pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, tempat pelabuhan penyeberangan ferry menuju Sumbawa. Selama rute ini, jalanan yang dilalui lebar luas dengan melewati kawasan-kawasan terpadat dari pulau Lombok, dengan ciri khas masjid-mesjid besar di kiri kanan jalan seperti kota-kota kebupaten di Jawa. Kadang perjalanan kami mesti melambat karena terhalangi upacara adat iring-iringan pengantin yang diarak di tengah jalan. Nada-nada cepat tabuhan tambur mengejar alunan cepat kasidahan (saya awalnya mengira si penyanyi tertinggal  beberapa nada ketimbang bunyi tambur, namun setelah beberapa saat, baru menyadari bahwa yang terjadi adalah sebaliknya). Ada dua arak-arakan seperti itu, sehingga perjalanan yang kami alami menjadi lebih melambat dari perkiraan.

Di Pelabuhan Kayangan, mobil kami segera diserbu pejaja asongan air mineral, buah nanas utuh, dan nasi yang diguyur sejenis kuah opor. Saya tadinya mengira akan menjumpai pedagang asongan bacang, kacang, telur burung puyuh, dan permen seperti dagangan di banyak terminal/pelabuhan di Jawa, tapi hanya pedagang-pedagang tiga jenis itu saja yang saya jumpai sehingga saya merasa sedikit janggal dan aneh. Selama antrian di pelabuhan, pedagang yang nyaris putus asa dalam menjajakan, banyak yang nekat membuka pintu mobil-mobil, jadi harap waspada jika tidak berniat untuk membeli. Tidak semuanya tentu saja, ada juga pedagang yang sopan dan tidak memaksa, tapi perilaku tidak terpuji beberapa diantaranya sangat mencolok mata.

Tepat di tengah hari, ketika akhirnya mobil kami diizinkan masuk kapal ferry. Setelah mengambil bekal makan siang dan meninggalkan tas keril di mobil, kami menuju dek atas kapal ferry. Makan siang dengan ayam taliwang yang sudah dibungkus sebelumnya langsung digelar tanpa perlu aba-aba. Usapan angin laut, buaian lembut ombak, seolah menjadi penyemangat perlombaan “siapa yang paling biru, langit atau laut?” dengan awan-awan membentuk formasi abstrak dan angin yang bergerak acak sebagai pemanisnya. Dan di kejauhan, siluet-siluet kecoklatan pulau-pulau yang tanahnya terpanggang membuat saya tak pernah sedikitpun mengalami kebosanan untuk terus menatap jauh ke batas cakrawala. Sangat mengesankan. Perjalanan ferry 2 jam sangat tak terasa.

DSC_7532

Hampir selicin cermin, permukaan laut yang tenang adalah jawaban doa bagi para pelayar

Pelabuhan Poto Tano di Sumbawa Barat sendiri sangat memesona. Pelabuhan sepi ini dikelilingi bebukitan rendah dengan perdu padat di sekujurnya. Sangat terasa sekali perbedaannya dengan bukit-bukit bervegetasi pohon tinggi di Jawa. Dan perjalanan déjà vu saya pun dimulai.

Berkelok-kelok menyusuri pesisir utara Sumbawa, perjalanan dari Poto Tano menuju Desa Pancasila adalah perjalanan 8 jam dalam kesunyian. Jalan-jalannya benar-benar senyap. Pernah selama hampir 3 jam, mobil kami tidak pernah menyalip ataupun disalip oleh mobil lain. Ada dua alasan utama mengapa kesunyian merajai pulau ini. Meski Sumbawa memiliki luas ¾ dari luas keseluruhan provinsi NTB, tetapi pulau ini hanya diisi ⅓ saja populasi keseluruhan. Jadi bayangkan betapa sepinya pulau Sumbawa dibandingkan pulau Lombok yang jauh lebih kecil. Alasan keduanya mungkin terdengar klise sudah ditebak sejak mula: pembangunan yang tidak merata dengan hanya Lombok-sentris menjadikan perekonomian Sumbawa tidak sepesat Lombok. Ketika angka-angka statistik seperti ‘angka buta huruf’ dan sejenisnya yang terlihat terlalu khayali, saya sering berkesimpulan cepat bahwa sedikitnya kepemilikan kendaraan bermotor adalah indikator jelas dalam menghitung tingkat kemiskinan, yang tentu saja masih bisa didebatkan. Sedikitnya kepemilikan kendaraan motor mengindikasikan pemerataan ekonomi yang tak sempurna karena artinya kemampuan masyarakat setempat untuk membeli kendaraan sebagai kebutuhan sekunder belum terpenuhi. Seingat saya, selama 8 jam perjalanan itu, hanya ada dua pom bensin yang kami lewati, itupun lengang oleh kendaraan yang mengisi yang kebanyakan truk pengangkut barang dan kendaraan umum.

Angka kepadatan penduduk yang rendah membuat pemukiman terserak tak merata dan terlihat lengang dimana-mana. Mungkin hanya ada satu atau dua baris rumah saja di pinggir jalan raya. Padahal jalan yang kami lewati adalah jalan raya besar mulus. Keberadaan warung-warung terasa sangat langka, sehingga makan malam kami terlambat 3 jam dari seharusnya karena tak menemukan tempat makan. Untungnya kami sudah diperingati sehingga membawa bekal cemilan dalam jumlah banyak ketika masih di Lombok. Ketika kami akhirnya menemukan tempat makan yang buka, sebuah kedai nasi goreng di mana pemiliknya adalah seorang perantau dari Jawa, kami ‘disambut’ dengan suka cita oleh pemilik warung yang terasa berlebihan. Saya menduga, dalam sebulan terakhir, mungkin rombongan kami memecahkan rekor sebagai rombongan makan terbanyak di warung nasi gorengnya. Antusias sambutan si pemilik kedai terwujud dalam keramahtamahan yang membuat membuat saya kadang segan.

Dalam 8 jam yang penuh kesunyian, pemandangan perjalanannya sangat menawan; jalan mulus dengan sabarnya memisahkan laut di sisi kiri dan perbukitan acak di sisi kanan. Ombak tenangnya yang setia menemani, telah memasuki masa-masa cuaca tenang sehingga membentur pasir dalam kebisuan. Ada banyak teluk tenang dan pantai elok yang membuat kami ingin meloncat dari mobil untuk berenang dan bermain pasir, yang sangat disayangkan harus kami tahan ketimbang semakin lama sampai tujuan.

Saat itu purnama baru lewat berselang beberapa hari, ketika bulan bulat telur muncul di sisi kanan mobil yang dipenuhi semak belukar lebat, teman-teman saya langsung bersemangat berbagi cerita horror. Sang sopir yang sedikit parno sengaja memutar musik lebih kencang agar kami berhenti bercerita, haha. Tetapi tentu saja kami tak mudah dikalahkan. Cerita horror baru terhenti ketika beberapa orang dari kami melihat seekor sapi cokelat besar di tepi jalan, yang di bawah guyuran kirana bulan terlihat bersinar keemasan, berdiri sendirian jam 11 malam di tempat yang jauh dari pemukiman. Kami mengira itu adalah sapi gembalaan biasa, tetapi karena tak ada sapi lain dan pemukiman terakhir yang dilewati sudah sejam lebih berselang, timbul dugaan macam-macam. Sang sopir berkomat-kamit merapal doa, beberapa teman saya ada yang pura-pura tidur, dan saya langsung dengan jailnya memotret ekspresi tegang mereka. Haha.

Dan begitulah, lewat tengah malam, kami akhirnya sampai di basecamp pendakian yang segera disambut kesunyian khas desa kaki pegunungan yang terpencil, setelah melewati delapan jam yang diisi keluhan AC mobil yang tidak dingin, lelucon-lelucon jorok dan menjurus, cemoohan status update media sosial teman yang salah ketik, bualan tentang cerita-cerita horror yang penuh dengan prolog “kata si anu”, gunjingan tentang lipstick istri si tukang nasi goreng yang terlalu tebal, keluhan dan cibiran tentang pekerjaan dan bos-bos yang tak pernah memuaskan, curhatan tentang kondisi ekonomi dan harga minyak dunia yang tak memberikan tanda-tanda perbaikan, harapan dan serta kekecewaan tentang pemimpin dan dunia perpolitikan yang memuakkan, musik-musik lagu daerah yang sengaja diperdengarkan kencang hanya agar teman yang tak mengerti bahasa daerahnya merasa terganggu, obrolan sok tahu tentang fenomena-fenomena lokal yang kami temui sepanjang jalan, analisis-analisis palsu dan tak bertanggung jawab saat mengomentari gadis-gadis yang berkerumun di dermaga pelabuhan, perdebatan mengenai kebenaran mitos-mitos lokal, makian karena tercium bau gas efek samping pencernaan yang dilepas secara tak berperikemanusiaan dan tanpa peringatan, umpatan bersahut-sahutan saat ada anggota tim yang izin ke toilet tetapi malah menelepon pacar, sorak sorai kemenangan ketika seorang rekan meludah tepat di batu sejauh dua meter yang dijadikan target, gumaman pelan saat membicarakan sopir mobil yang sering tertawa spontan di tengah alunan lagu-lagu yang sama sekali tak lucu, dan ada banyak sekali suara dengkuran karena kelelahan dan juga kebosanan terkurung di kursi mobil berjam-jam.

Rombongan kami memang jauh dari deksripsi “rombongan pendaki teladan” atau “tim pendakian impian” manapun. Harus siap selalu untuk tertawa, meski itu artinya kita hanya punya dua pilihan, pihak yang menertawakan atau yang ditertawakan.

*****

Ketika lelaba cahaya Sang Surya pagi hari menyelusup dari tapisan bilik-bilik bambu tempat kami menginap, rasa lelah dan lemas terlalu lama duduk di mobil, masih saya derita sehingga membuat saya malas untuk segera bangun. Tetapi tentu saja untuk pendakian rombongan seperti ini, kondisi ingin bermalas-malasan seperti itu tidak akan bisa bertahan lama. Akan selalu ada teriakan ‘oy bangun-bangun’ jahil padahal dia sendiri masih berselimut atau ‘kamu lihat barang saya yang warnanya kuning?’ dan teriakan-teriakan mengganggu kenikmatan lainnya sambil mengguncang-guncang tubuh lelah, saya langsung menyerah dan segera bangkit pada teriakan pertama ketika seseorang menanyakan sikat gigi yang dibeli kemarin ada di kantung plastik mana. Untung saja perasaan dongkol bertahan tidak lebih dari sepuluh detik karena begitu melangkah ke beranda, saya melihat teman lain yang lebih rajin daripada saya sudah mengatur dan menuangkan kopi tambora yang melegenda** dengan pisang goreng yang masih mengeluarkan uap panas dan dari arah dapur terdengar suara samar gesekan wajan dan gagangnya: sedang memasak nasi goreng. Ahhh.

Akhirnya saya bisa mencicipi langsung kopi tambora dari perkebunannya langsung dan diseduh dari jarak sepelemparan dengan kebun kopinya. Mengingatkan saya pada kopi manggarai saat dicicipi di Wae Rebo. Aroma kopinya memang tercium kuat—saya pikir saya terbangun duluan oleh aroma kopi ini ketimbang teriakan mencari barang—dengan rasa yang asam lembut di lidah, seperti minum perasan lemon dengan kadar yang tak sampai membuat mulut mengerucut kecut. Hangat dan lembut, penambahan gulanya yang tak berlebihan menimbulkan sensasi jinak pada rongga mulut saya sehingga saya nyaris berkumur-kumur dengan kopi karena tak ingin segera ditelan. Sambil menunggu hidangan nasi goreng, kami mengobrol dengan penduduk setempat mengenai rute pendakian yang akan kami tempuh, yang menjawab perasaan mengganggu sejak tadi malam ketika sampai pertama kali di Desa Pancasila.

Kami sampai di Desa Pancasila memang saat larut malam dengan kondisi mental dan tenaga yang terkoyak-koyak karena kelelahan. Kami tak memperhatikan detail tempat penginapan (apalagi penerangan di sana seadanya). Tetapi ada sesuatu yang menggangu saya saat itu, dengan lokasi berada di titik terdekat ke puncak Tambora, Desa Pancasila mestinya berada di lerengnya dengan bayangan gelap puncak bisa dilihat jelas dari arah lapangan desa. Tetapi ketika saya turun dari mobil, tak ada tanda-tanda ada tempat yang lebih tinggi dari Desa Pancasila. Alias, puncak gunung yang tak terlihat menandakan bahwa medan yang akan kami tempuh akan sangat panjang dan jauh. Keberadaan bulan kuarsa yang masih cukup benderang tak menunjukan bayangan gelap gunung dimanapun. Mendengar deskripsi dari pemandu setempat mengenai rute yang akan di tempuh, menjawab rasa penasaran saya. Rute yang akan kami tempuh memang akan panjang. Sangat panjang.

DSC_8055.jpg

Suasana Desa Pancasila adalah suasana ‘damai di desa’ seperti yang sering digembar-gemborkan buku sekolahan

*****

Selepas sarapan dan menata ulang peralatan dan kebutuhan pendakian—peralatan snorkeling saya sengaja ditinggalkan di rumah penduduk—kami siap berjalan memulai pendakian. Berfoto-foto sok gaya kami lakukan dengan maksimal untuk segera dikirim ke akun media sosial atau sekedar dikirim ke kerabat terdekat sebelum kami kehilangan sinyal.

Jika kalian menggunakan kacamata pengintai yang sebagaimana yang digunakan bangsa Seiyan dalam serial kartun Dragon Ball, dan memindai kami saat itu, akan terbaca bahwa skala semangat kami akan mencapi poin tertinggi. Kafein kopi tambora bekerja sempurna membakar semangat kami untuk segera mendaki. Diiringi tepuk tangan anak-anak desa yang mengiringi dan mengantar kami hingga batas hutan desa, rombongan kami memulai pendakian setelah sebelumnya merapal doa agar pendakian kami berjalan dengan baik dan selamat. Saya yang biasanya bertugas sebagai tim penyisir paling belakang (atau kalau tidak sebagai tim perintis paling depan) tertawa geli menyaksikan arak-arakan parade pendakian kami yang dimeriahkan tepuk tangan anak-anak. Ketika saya mengkonfirmasikan kepada pemandu, saya diberitahu bahwa berbeda dengan Rinjani yang ramai oleh pendaki (baik lokal maupun mancanegara), Tambora adalah gunung sepi dari pendakian (hanya ramai jika ada event khusus seperti peringatan letusan). Saat kami mendaki, dalam 3 minggu terakhir hanya rombongan kami saja yang mendaki. Sebelumnya ada pendaki lain dua orang warga Polandia. Saya duga akses transportasi yang jauh yang menjadi kendala. Tambora memang cocok untuk menyepi.

DSC_8026

Rombongan suporter yang menyemangati pendakian kami hingga tepi batas hutan desa

Perjalanan dari basecamp hingga pos 1 diisi berupa jalan super landai menembus rimba tropis padat. Empat jam pertama yang masih diisi dengan celotehan ribut dan ejekan dimana-mana jika ada anggota tim rombongan yang melakukan tindakan yang dianggap lucu seperti terpeleset. Sebelum menuju pos 1 setelah berjalan hampir sejam lebih, kami melewati persimpangan menuju sebuah pura bernama Pura Jagat Agung Tambora yang berada di tengah hutan belantara. Keberadaan pura ini benar-benar terisolasi dari keriuhan dan gegap gempita dunia. Hening, khuysu, khidmat, dan damai. Bahkan suara air pancurannya terdengar nyaring dan bisa didengar sampai jauh. Kehadiran pura di tengah belantara jauh dari mana-mana menciptakan kesan magis dan kekhusyuan yang tak terperi. Saya tadinya berniat mampir dan tak keberatan jika harus menginap di area pura andai tak akan ditinggalkan teman-teman lain. Keramahan yang kami dapatkan dari penjaga pura benar-benar bak oase di padang kering. Doa singkat mereka agar pendakian kami berjalan lancar membuat saya sangat terenyuh sekaligus serasa diberkati. Tak ada diantara anggota tim pendakian kami yang beragama yang sama dengan penjaga, tetapi kami percaya jika doa mereka akan melindungi kami karena Sang Pengabul Doa tak pernah memilih siapa perapalnya.

Keheningan hutan benar-benar sangat nikmat, dan saya banyak terdiam untuk menikmatinya selama hampir dua jam berikutnya sampai akhirnya rusak oleh suara mesin gergaji di kejauhan. Hutan belantara Tambora yang padat dengan pohon-pohon perawannya sudah pasti akan menjadi godaan tak tertahankan bagi para pejarah dan perambah. Padahal hutan Tambora baru saja dinobatkan sebagai taman nasional tahun 2015 yang lalu (taman nasional termuda di Indonesia, peresmiannya bersamaan dengan peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora)—artinya kegiatan apapun yang merusak area hutan menjadi sangat terlarang dan illegal. Andai sudah lupa dengan doa damai dari penjaga pura, ingin sekali saya merutuk dan mengutuk. Sambil menahan kesal luar biasa, saya akhirnya berdoa semoga para perambah hutan tsb mendapat kesadaran akan pentingnya melestarikan hutan Tambora.

Sepanjang perjalanan menuju pos 3 yang memakan waktu hampir 8 jam, medan yang kami tempuh adalah melulu hutan hujan tropis padat. Benar-benar sebuah rimba raya yang rimbun. Sangat sulit dibayangkan jika dua ratus tahun lalu area hutan ini porak poranda oleh letusan mahadahsyat. Abu vulkanik yang pada awalnya membawa mara bahaya yang membinasakan, berubah menjadi berkah yang menyuburkan. Hal yang membuat kami cukup frustasi adalah, selama menuju pos 3 selama hampir 8 jam itu, penambahan elevasi hanya sekitar 400 meter saja. Artinya, untuk menambah ketinggian 100 meter, kami harus berjalan selama 2 jam. Lambatnya penambahan ketinggian ini disebabkan medan antara pos 1-3 sangat landai. Sangat sedikit sekali tanjakan yang harus kami tempuh. Tiap beberapa puluh menit, teman saya yang mengenakan jam tangan yang dilengkapi altimeter mengumumkan penambahan ketinggian yang hanya berkisar angka satuan saja. Penambahan ketinggian yang lambat akan selalu harus ditebus dengan puncak yang curam untuk didaki pada saat summit attack. Padahal biasanya summit attack dilakukan pada dini hari buta ketika badan masih dalam kondisi lelah.

MIP_118

Jalan seperti inilah yang harus kami lalui; kanopi hutan tropis basah, rimbun, dan lembap

Hutan hujan tropis lebat selain di satu sisi membuat perjalanan kami menjadi sangat teduh, tetapi di sisi lain membuat kami kegerahan dan gampang berkeringat karena kelembapannya yang tinggi. Sering sekali saya meminta teman-teman saya agar sering minum air untuk mencegah dehidrasi. Untungnya di tiap pos ada mata air sehingga tidak perlu membawa air minum dalam jumlah banyak yang hanya akan menambah beban logistik. Kesulitan lain yang kerap terjadi adalah dengan banyaknya pohon tumbang yang melintang di jalan, kami harus merunduk jongkok untuk melewatinya. Dengan kondisi otot betis berkontraksi karena seharian berjalan ditambah beban tas keril di punggung yang berat, berjalan jongkok bisa sangat menyakitkan. Setiap ada pohon melintang, ada saja anggota tim saya yang menjerit karena otot betis/pahanya terpelintir sehingga salep untuk pelemas otot banyak berkurang dengan cepat.

Hutan tropis basah juga artinya menyiapkan kejutan yang bernama pacet. Awalnya saya mengira bahwa medan gunung Tambora akan serupa dengan medan Gunung Rinjani (sama-sama di provinsi NTB) yang kering. Maka tak ada dari kami yang membawa gaiter pelindung serangan pacet. Begitu kami beristirahat di pos peristirahatan, betis-betis kami digelayuti pacet seukuran jempol tangan (ukuran awal pacet sebelum menghisap darah adalah sebesar ijuk tipis). Terjadi kepanikan ketika istirahat karena serangan pacet yang tak kami antisipasi membuat bulu kuduk meremang oleh rasa jijik dan geli. Saya sendiri kena total 8 pacet. Melihat kedelapan pacet bergelantung di betis kaki, membuat kepala saya pusing entah karena perasaan jijik dan ngeri, atau karena serangan anemia mendadak.

Tetapi tak ada yang membuat kami menderita ketimbang jelatang. Jelatang atau istilah kerennya poison ivy (Toxicodendron sp.) tumbuh dengan sangat subur di hutan tropis Tambora terutama antara pos 3 hingga pos 5. Tiap sepuluh menit ada saja anggota tim kami yang menjerit kesakitan terkena sengatan jelatang. Durinya yang halus dan tipis dapat menembus permukaan kain biasa. Teriakan seperti ‘emak!‘, ‘awww!‘, ‘astaga!‘, ‘aduh!‘, dsb terdengar sahut menyahut tiap beberapa menit. Awalnya memang terdengar lucu dan saya tertawa dibuatnya, tetapi ketika saya akhirnya merasakan sendiri sengatan jelatang, saya tak berani lagi menertawakan teman saya yang teriak kesakitan. Gatal dan panas seperti terkena percikan puntung rokok terbakar, sengatan jelatang bisa bertahan dari beberapa menit hingga beberapa jam. Membilasnya dengan air hanya akan membuat kandungan asam semut (formic acid)-nya semakin reaktif dan semakin perih. Pemandu kami menunjuk jenis jelatang berdaun hijau tua dan lebar yang dia sebut sebagai ‘jelatang bulan’. Nama ‘bulan’ ini tak ada kaitannya dengan keindahan benda langit, tetapi rasa sakit sengatannya bisa bertahan sampai dua bulan jika kena. Jadi kami berjalan super lambat saat jalan yang kami tempuh dipenuhi jelatang.

Dengan medan landai dan dominasi hutan tropisnya, pendakian terasa sangat monoton karena pemandangan dibatasi oleh dinding rimba lebat tak tertembus. Nyaris kami jarang berfoto sepanjang jalur pendakian karena pemandangannya itu-itu saja. Vegetasi hutan baru mulai berubah ketika kami sampai di pos 4. Pohon pinus mulai muncul–menandakan ketinggian tanah mulai naik signifikan, karenanya dari pos 3 ke pos 4, medan yang kami tempuh sangat terjal dan licin. Ketika kami akhirnya sampai di hutan pinus, senja sudah datang. Mengingat tak ada area cukup luas untuk mendirikan tenda, kami memaksakan terus berjalan menuju pos 5. Pos 5 memang ditetapkan sebagai pos terakhir untuk menginap juga dengan alasan agar saat summit attack, jarak yang harus kami tempuh tidak terlalu jauh. dan asal tau saja, meski vegetasi hutan telah berubah, surga jelatang malah semakin berlimpah. Menembus surga jelatang pada kondisi lelah dan pandangan terbatas karena malam merupakan salah satu ide tercemerlang yang pernah kami lakukan. Erangan, umpatan, teriakan, keluhan, dan makian saling bertimbalan…

DSC_7669.jpg

Pohon pinus pertama yang kami temui di pos 4 yang juga menjadi pintu gerbang surga jelatang berikutnya (jelatang adalah perdu pendek yang ada di foto, di kaki pohon pinus)

*****

Ketika kami akhirnya sampai di pos 5,  kelelahan luar biasa mengerubungi kami seperti lalat buah pada mangga yang busuk. Perlu hampir setengah jam sendiri untuk saya agar bisa bangkit dari rebahan melepas lelah agar bisa menyiapkan makanan dan tenda. Sambil menikmati makan malam, kami bercerita kilas balik tentang pendakian hari tersebut. Dalam kondisi rileks, ternyata penderitaan tadi siang bisa ditemukan sisi humor dan jenakanya. Derai tawa senantiasa mengiringi acara makan malam sederhana kami. Tetapi bagaimanapun kondisi tubuh memang tak bisa dibohongi, rasa letih luar biasa membuat kami memutuskan untuk langsung istirahat ke tenda masing-masing bahkan sebelum pukul 9 malam.

Sebelum masuk ke tenda untuk tidur (dan membaca buku The Road karya Cormac McCarthy beberapa halaman), saya menatap langit Tambora untuk beberapa saat. Saat itu bulan belum terbit (bulan baru terbit jam 10 malam) sehingga langit yang saya saksikan sangat gelap sekaligus sangat terang. Tak adanya sinar bulan menjadikan langit menjadi gelap yang secara paradoks justru membuat bintang-bintang teredupnya berani berunjuk calaknya. Di dasar samudera kegelapan langit, bintang-bintang bermunculan dalam bentuk perayaan semarak.

Bintang Alphard yang bersinar kuning menyilaukan memberitahukan bahwa rasi Hydra sudah siap menjalar di langit malam sementara kelima bintang Hya-nya yang membentuk formasi kepala ularnya mengarah ke arah rasi Canis Minor, siap menelan anjing malang itu yang seolah sedang berusaha lari sembuyi ke balik cakrawala langit barat. Regulus yang biru menjadi penanda tak mungkin keliru dari rasi Leo berada sangat dekat dengan planet Jupiter yang berwarna cokelat. Dan tentu saja ada Spica yang terang benderang terasa sangat mencolok di rasi Virgo, sementara rasi rumit Hercules dan Ursa Major sepertinya tertutup pucuk cemara karena tak bisa saya lihat. Mars dan Saturnus tampak sedang diburu oleh capitan rasi Scorpio di kaki langit selatan—Antares memang sangat mencuri perhatian. Namun diantara yang paling mencolok semua benda langit malam itu (selain Mars tentu saja) adalah kemunculan rasi Crux yang berbentuk salib dan menjadi ciri khas langit belahan bumi selatan. Apalagi rasi Crux bersisian tepat dengan rasi Centaurus yang ramai. Yang lebih redup namun menjadi ciri khas langit selatan lainnya adalah rasi Triangulum Australe yang sayangnya terhalang pepohonan. Seharusnya pemandangan langit akan semakin sempurna andai saja Canopus dan Sirius sudah terbit.

Menyaksikan langit malam Tambora, entah mengapa jiwa saya seperti dipulihkan kembali semangatnya dengan seketika. Meski tubuh luar biasa payah, saya merasa bahwa tak ada keputusasaan sebagaimana beberapa jam sebelumnya. Puncak Tambora sendiri masih tak terlihat, terhalang punggungan gunung. Masih ada ratusan meter dan berjam-jam pendakian yang harus saya tempuh esok hari. Rasa penasaran berkelindan di benak saya, apakah dengan segala pengorbanannya dan penderitaannya puncak Tambora akan sedahsyat yang saya bayangkan? Pertanyaan yang saya tujukan pada langit, yang dijawabnya dalam semarak bintang yang membisu.

Kumelangkah dalam balutan cahaya kelabu, berdiri, dan untuk sesaat, mengamati kebenaran hakiki dari dunia. Hawa dingin dari tepian bumi berpusar tiada henti. Kegelapan yang tak bisa diredakan. Anjing-anjing buta menghela matahari dalam pelariannya. Kehampaan pekat semesta yang membinasakan. Dan di suatu tempat, dua hewan buruan mengigil bagai rubah bersembunyi di sarang tanahnya. Kala, dunia, dan mata yang dipinjam, dengannya segala nestapa bermula.

 

(bersambung)

 

PS:

*          : Ada sebuah buku klasik yang berjudul Der Ursprung der Gottesidee (saya membaca versi terjemahan Inggrisnya, The Origin of the Idea of God) karya linguis kenamaan Jerman, Wilhelm Schmidt (1868 –1954). Buku klasik ini membahas tema menarik mengenai asal-usul agama kuno sebelum agama-agama besar yang dikenal sekarang lahir. Schmidt melacak jejak kelahiran agama sampai ke era Zaman Perunggu dan Zaman Besi (era dimana peradaban dan tulisan pertama lahir di sekitar Mediterania, Nil, dan Mesopotamia Kuno). Dalam argumen Schmidt, “Tuhan pertama” diciptakan ketika manusia menyaksikan fenomena atmosfer dan angkasa yang dahsyat, yang menimbulkan perasaan takjub dan ngeri. Fenomena hujan yang membawa berkah, sinar matahari yang membawa hangat-terang, keindahan bintang-bintang yang misterius dianggap sebagai berkah dari sosok Omnipotent (mahakuasa) yang diasosiasikan sebagai Pencipta. Sebaliknya, kegelapan malam yang mengancam, petir serta badai yang menciutkan nyali, kemarau yang memanggang dan air bah yang membinasakan dianggap sebagai hukuman dari Sang Pencipta. Berdasarkan opini tsb, Schmidt menyimpulkan bahwa tuhan yang pertama diciptakan mestinya tuhan/dewa yang diasosiasikan sebagai ‘sesuatu yang tak tergapai’ atau ‘sesuatu yang tinggi’ alias Tuhan Langit / God Sky. Akan menjadi topik yang menarik dan panjang sekali untuk dibahas, apakah kelahiran Urmonotheismus (monotheisme primitif) lahir bersamaan dengan Urreligion (agama purba) atau salah satu muncul lebih dulu.

Pun banyak sejarawan mengusulkan bahwa astronomi merupakan salah satu sains tertua dan pertama yang diciptakan manusia. Astronomi dianggap sebagai sains pertama karena hampir semua peradaban kuno secara konsisten meninggalkan jejak peninggalan tentang astronomi yang mencengangkan dalam hal akurasi, kesamaan hasil pengamatan yang konsisten dan hampir seragam. Mulai dari era batu-batu purba Stonehenge disusul peradaban pertama di Sumeria, Babilonia, Mesir, Indus, Iran, China, hingga Maya telah membuat orang modern takjub karena bangsa-bangsa kuno ini telah berhasil menghitung dan memprediksi pergerakan benda langit dengan detail dan akurat.

 

**         : Jejak perkebunan kopi di Tambora bisa dilacak sejak zaman kolonial Belanda. Pabrik pengolahan kopi sudah berdiri sejak tahun 1930 yang diprakasai seorang berkebangsaan Swedia bernama G Bjorklund. Gedung bekas tempat tinggal Bjorklund bahkan masih utuh hingga sekarang dan disewakan sebagai tempat penginapan dengan biaya Rp 70.000,-/malam. Sayang saya tidak mampir dan menginap di sana karena teman-teman saya banyak yang sewot ketika saya mengeluarkan ide untuk menginap di gedung tua bekas era kolonial. Tatapan berang yang saya terjemahkan sebagai ‘kamu mau dilempar ke dasar kaldera Tambora?

Advertisements

7 thoughts on “Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 1]

  1. Pingback: Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3] | melquiades caravan

  2. Pingback: Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 1] | melquiades caravan

  3. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

  4. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2016 | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s