Gunung Nglanggeran, Januari 2016

Sometimes you have to travel a long way to find what is near
― Paulo Coelho, Aleph

Saya selalu membayangkan kota Yogyakarta sebagai bocah SD kelas 2; imut, polos, sopan, tak ada cela dalam berperilaku, penurut pada perintah orang tua, dan manis tanpa banyak tingkah polah yang mencemaskan. Kadang saya merasa sedikit terenyuh ketika melihat kota ini yang terlihat sangat pemalu. Kesantunan dan keteguhannya memegang adat menjadikan kota ini benar-benar istimewa. Hal inilah yang membuat saya selalu menyambut gembira setiap kunjungan kembali ke kota ini dengan keistimewaan yang tak bisa saya temukan saat kunjungan ke kota lain (hanya Bukittinggi dan Solo mungkin yang menjadi saingan kuat). Setidaknya, dalam perjalanan terakhir saya yang belum lama sebelumnya ke kota ini, kesan tersebut masih tertancap kuat. Tapi, apa yang terjadi dalam perjalanan kali ini, mengobrak-abrik gambaran kepolosan kota ini. Ada banyak hal yang selama ini belum saya lihat, membuat ide saya tentang kota ini terusik. Namun sebagaimana diduga, tak ada kekecewaan yang saya rasakan. Sisi lain Yogya yang saya rasakan justru menjadikan kota ini sebagai kota yang manusiawi. Kota ini sudah beranjak remaja. Meski masih penurut, tetapi kadang dia bisa bengal jika diusik. Meski polos dan pemalu kadang sering degil dan ugal-ugalan. Dan itu yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan kota ini.

*****

Andai tak dapat tiket pesawat promo, mungkin saya akan ke Yogya menggunakan kereta ekonomi lagi. Tetapi karena acara di Yogya yang akan saya hadiri baru diberitahu secara mendadak (kurang dari sebulan) dan kebetulan ada paket promosi sebuah maskapai, akhirnya saya memilih menggunakan pesawat. Padahal, saya mulai menjadi keranjingan naik kereta. Ada banyak pengalaman unik yang tak bisa didapatkan saat menggunakan pesawat. Entahlah, saat naik pesawat, hanya ada muka-muka tegang para petugas yang selalu mencurigai isi bawaan kita, para penumpang yang selalu ketakutan terlambat dan tergesa-gesa tanpa sempat bercakap-cakap dengan teman sebangku, ruang tunggu pesawat yang selalu diisi keluhan dan kecemasan karena jadwal yang mundur. Dan secara otomatis, mereka hanya akan berinteraksi dengan gawai elektronik mereka. Pun saat saya sampai di ruang tunggu bandara, secara mengejutkan–ketika saya lirik kiri kanan penumpang lain–tak ada satupun penumpang yang mengobrol dan berinteraksi, semuanya melarut dalam kekhusyuan menatap layar ponsel mereka. Hanya saya sendirian yang membuka buku untuk dibaca, sehingga awalnya saya merasa sungkan dan tergoda untuk ikut-ikutan berselancar membaca pesan dan berinternet ria.

41jt+mHq-jL

Bisa dikatakan saya bukan fans Coelho, tetapi buku ini sangat asyik dibaca saat lagi di perjalanan.

Ini membuat saya sedikit cemas. Sebegitu parah kah ketergantungan masyarakat terhadap gawai elektronik dan tak ada minat sama sekali terhadap buku bacaan fisik? Saya bukannya menghakimi, toh saya yakin banyak di antara mereka yang sedang membalas pesan penting, membaca portal berita dan situs informatif, atau malah membaca buku elektronik. Tetapi, entahlah, pilihan konservatif saya bahwa buku cetak adalah teman terbaik untuk perjalanan masih tak tergoyahkan. Maka, setelah mencari tempat duduk di sudut ruang tunggu (saat itu ruang tunggu cukup penuh karena delay yang terjadi menyusul cuaca yang tak bersahabat), saya mengamati dengan bingung (dan nyaris malu) bahwa keasyikan bermain dengan gawai nyaris menjadikan ruang tunggu tersebut senyap. Dan setelah menjelajah ruangan untuk mencari kemungkinan ada orang yang melakukan kegiatan lain (namun gagal), saya akhirnya mulai membaca buku Aleph karya Paulo Coelho. Kalimat pembuka novel ini langsung menembus kepala saya bak percikan minyak panas yang menembus plastik tipis karena sangat sesuai dengan kondisi saat itu, “Oh, no, not another ritual! Not another invocation intended to make the invisible forces manifest in the visible world! What has that got to do with the visible world we live in today?”

****

Saat saya sampai ke Yogya, hujan dan angin sedang berkumpul di kota ini seperti ibu-ibu yang menyerbu kios obralan. Setiap jengkal udara di atas tanah dipenuhi air yang jatuh dengan kencang dan berisik. Akhirnya saya memilih taksi ketimbang bus umum yang sejak awal direncanakan demi menghindari amuk badai menuju halte. Begitu sampai di hotel, karena hujan malah semakin deras, saya memilih melanjutkan pembacaan novel Aleph. Saya tak sadar seberapa lama saya membaca sampai telepon hotel berbunyi berisik karena rekan saya di kamar lain mengajak jalan-jalan sekalian makan siang. Angin sudah kehilangan semangat dan tenaganya, hanya menyisakan reriak di genangan di jalan sementara hujan sudah sepenuhnya menyerah hanya menyisakan rerintik lunak dan jinak.

Saya menyukai udara selepas hujan. Ringan, bebas, kekanak-kanakan, jenaka, dan membawa nostalgia. Karena pada saat itu harumnya aroma awan di langit teramu dalam bau tanah basah di bumi, sucinya udara karena noda polusi tersimbah, dan membawa semangat karena setelah dikurung berteduh akhirnya bebas melanjutkan rencana-rencana hidup. Maka, di halaman hotel, saya meloncat-loncat di atas genangan air seperti yang saya lakukan saat masih kecil dulu. Kesenangan sederhana seperti ini semakin terasa mahal dan langka saat ini. Jadi, setiap menemui genangan air, saya meloncat ke atasnya dalam suka cita dan semangat membara. Tetapi tentu saja untuk setiap kesenangan pribadi, akan ada banyak iri dengki dari orang lain. Saya sedang melompat-lompat ria ala Don Lockwood* gadungan, ketika teman-teman saya mengeluarkan umpatan mematikan. Merasa terganggu oleh cipratan air yang saya ciptakan, teman-teman saya mengancam untuk menggantung saya secara terbalik di pohon belakang hotel, menyetrum dengan listrik tegangan 5000 volt, menenggelamkan saya di Bengawan Solo dengan mengikatkan batu bata pada kaki saya, dan ancaman-ancaman mengerikan lainnya sehingga saya harus menghentikan kesenangan bermain-main dengan genangan air hujan. Bukannya celana mereka juga sebetulnya sudah basah karena gerimis? Menambah seciprat dua ciprat mestinya tak akan menambah basah celana mereka secara signifikan. Tapi karena melihat tatapan mata murka serius mereka, saya terpaksa harus menghentikan lompatan-lompatan tersebut. Sial.

*****

Seperti halnya kebiasaan saya kalau ke Yogya, pilihan pertama untuk makan di kota ini adalah rumah makan Raminten di daerah Kota Baru. Tempat ini murahnya agak ‘kebangetan’–setiap saya makan di sana jarang melewati harga 30 ribu rupiah dengan perut kenyang, juga interior tempat ini yang Jawa-banget sudah mengobati kerinduan saya tentang budaya etnik Jawa yang kesohor. Aroma dupanya yang hangat dan bersahabat selalu memanggil kembali saya untuk datang lagi dan lagi ke sana. Bagi penggemar batik bahkan bisa langsung melihat (bahkan mungkin mencoba?) pembuatan batik tulis langsung di sana. Setelah perut kenyang sambil menunggu malam, saya melanjutkan jalan-jalan ke Keraton Yogya. Entah kenapa, sejak saya datang pertama kali ke sana pas zaman-zamannya darmawisata sekolah, saya merasa tak pernah bosan datang kembali ke Keraton. Keraton telah menjadi jantung utama kehidupan dan peradaban kota ini, sehingga saya hampir selalu menyempatkan diri mampir ke sana. Dan mungkin karena keberadaan Keraton inilah saya selalu merasa Yogya sebagai anak kelas 2 SD tadi.

Sepulangnya dari Yogya, beberapa teman saya
menanyakan mengapa halaman media sosial
saya bersih dari foto-foto jalan-jalan di sana.
Saya hanya bisa menjawab bahwa kelak kamu
akan menyadari bahwa jalan-jalan tak melulu
tentang dokumentasi foto-foto. Jawaban yang
membuat mata mereka membelalak tak percaya

Melihat pegawai istana yang mayoritas sudah berusia sangat sepuh, selalu membuat saya terenyuh. Betapa mereka begitu mencintai kehidupan keraton dan sistem sosial di dalamnya sehingga di usia yang mestinya mereka duduk menimang cucu di rumah dengan tenang, mereka memilih menghabiskan waktu sebagai pegawai Keraton dengan upah seadanya. Karena itulah, saat di pintu masuk tiket, saat si penjaga menawarkan apakah kami akan membeli tiket tambahan untuk izin berfoto seharga 2 ribu rupiah, saya selalu membeli tiket tersebut meski tak pernah sekalipun berfoto di dalam Keraton.–ngomong-ngomong, karena semangat antimainstream, untuk perjalanan ini saya dan teman saya sudah berikrar untuk tidak sekalipun mengeluarkan kamera baik sekedar berselfie atau memoto pemandangan baik di Keraton maupun di tempat lain, jadi bersiaplah menemui kebosanan karena tulisan ngelantur ini akan panjang lebar tanpa jeda gambar, haha.

*****

Malam mengumpulkan kami semua di alun-alun Yogya seperti gula yang mengumpulkan semut-semut asing dari tempat yang jauh. Bagi kebanyakan orang, malam di alun-alun adalah kesempatan untuk menghabiskan waktu malam dengan jalan-jalan keluyuran mencari hiburan. Maka, kesemrawutan antara pedagang dan pejalan membaur dalam arus sesak yang kadang saling dorong dan tubruk agar tetap bisa melaju. Sementara teman-teman saya mencoba permainan tutup mata melewati pohon keramat alias masangin**, saya sendiri memutuskan ngemil baso ikan (tanpa sambal tentu saja karena saya tak merasa yakin apakah warna oranye sambalnya berasal dari warna alami tomat atau metanil yellow karena di bawah lampu neon, sambalnya nyaris terang berpendar).

Dalam kondisi setengah melamun dan setengah ngemil saya mengamati teman saya yang berjalan melenceng semakin jauh dari target yang dituju. Seorang bule bahkan malah berjalan ke arah sebaliknya sehingga temannya berteriak-teriak menggoda dalam bahasa asing yang tak saya kenal—bahasa salah satu negara Skandinavia, mungkin?—sehingga saya seperti orang linglung, menatap dengan mata kosong dan sesekali tertawa melihat orang-orang yang berlomba-lomba mengejar keberuntungan dan berkah pohon keramat dengan mata tertutup. Setelah mereka puas, kami memutuskan untuk pulang ke hotel lebih cepat, karena udara gerah Yogya membuat kelenjar keringat kami bekerja aktif. Saat itu, hal yang paling kami dambakan adalah berenang. Karena setiap pergi keluar kota saya selalu membawa kacamata renang (untuk mengantisipasi jika ada sungai/pantai jernih untuk langsung loncat renang), jadi malam-malam kami berenang di kolam renang hotel tempat kami menginap. Meski saat sampai ke hotel gerimis mulai datang, kami tak peduli untuk segera berenang dalam kegelapan. Kegelapan, hujan, dan kesunyian menaungi kami untuk menjelajahi setiap jengkal kolam tanpa perlu khawatir menubruk orang lain yang sedang meluncur di air.

*****

Esok paginya, awan masih bergerombol di atas langit Yogya seperti sedang berkomplot untuk memaksa kami agar jangan meninggalkan kamar hotel. Tapi semangat kami terlalu besar untuk tunduk pada ancaman awan mendung. Bisa dikatakan, keseringan main ke Yogya membuat saya sudah menjelajahi hampir semua tempat wisata popular di sana. Mulai dari bergelantungan di kerekan horor Pulau Timang hingga menyaksikan sunrise di Merbabu. Beberapa tempat seperti keraton dan alun-alun bahkan bisa dikatakan kunjungan wajib tiap datang ke sana. Pun hari itu. Saat sarapan kami masih belum memutuskan akan pergi kemana. Sempat tergoda untuk berburu candi-candi kecil dan tak populer untuk wisata, namun mengingat kondisi cuaca dan kami tidak berniat menyewa kendaraan, kami bermufakat untuk mencoba kawasan yang sedang ngetren di kalangan backpacker, kawasan ekowisata Gunung Nglanggeran.

Sebenarnya saya tidak terlalu antusias pergi ke Gunung Nglanggeran. Meski sedang popular di kalangan turis lokal, jujur saja saya kurang berminat untuk pergi ke sana. Satu-satunya alasan saya ikut ke sana adalah karena sikap fanatisme teman saya terhadap slogan Go Green. Bagi dia, go green tidak hanya bermakna reduce-recycle-reuse semata atau mengkonsumsi komoditi organik dan ramah lingkungan, tetapi juga bermakna Harus-Pergi-ke-Daerah-Hijau-Kalau- Liburan. Jelas karena kami memang tidak berniat naik gunung tinggi pada kunjungan saat itu, saya akhirnya harus mengalah dan kami akan tetap naik ke daerah kawasan hijau. Kalibiru terpaksa kami coret dari daftar karena sudah pernah ke sana. Pilihan kami yang semakin terbatas akhirnya memilih Gunung Nglanggeran.

Gunung Nglanggeran, atau lebih terkenal dalam iklan paket perjalanan sebagai Gunung Api Purba, bukanlah berbentuk gunung tinggi dalam arti harfiah. Lebih cocok disebut sebagai bukit karena tingginya bahkan tidak sampai 100 meter dari dataran sekitarnya. Adapun sebutan Gunung Api Purba didapatkan karena dulunya gunung ini pernah menjadi gunung api aktif sekitar 60 juta tahun lalu. Dan sayangnya, hanya sampai begitu saja keterangan yang saya dapatkan tentang informasi geologis gunung api purba ini. Awalnya saya mengira bahwa dengan menjual nama ‘gunung api purba’, kawasan wisata Nglanggeran akan menyediakan informasi geologis yang lumayan komplet. Sayangnya ini hanya sebuah gimmick tanpa informasi yang bisa digali lebih lanjut. Tanpa ada keterangan “60 juta”, Nglanggeran hanya terlihat seperti bukit batu biasa dan memang seperti itulah yang saya rasakan. Bahkan tidak ada keterangan bagian gunung api apa yang tersisa sekarang—meski dilihat dari susunan batuannya, saya mengira ini sisa-sisa dyke (leher magma). Perlu ada penelitian geologis lebih lanjut tentang bukit ini supaya nama ‘gunung api purba’ tidak sekedar tempelan buatan tanpa ada makna sama sekali.

Sebagai sebuah kawasan wisata terpadu, Nglanggeran juga menyediakan ‘desa adat’ yang bisa diinapi (berbayar tentu saja) untuk anak-anak sekolah sebagai penelitian. Sayangnya, berbeda dengan desa adat yang menjalankan konsep serupa seperti Kampung Naga, ‘desa adat’ tersebut terlihat sangat artifisial, karena memang dibuat sebagai desa buatan, bukan sebagai desa terisolir yang menjalankan teguh adatnya selama berabad-abad. Danau (kolam lebih tepatnya) kecil di dekat puncak juga terlihat sekali sebagai “dibuat mendadak” ala cerita Sangkuriang. Saya sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan tempat wisata ‘buatan’ seperti ini. Cuman dengan embel-embel ‘geopark’ saya mengharapkan sesuatu yang lebih, sesuatu yang bisa menambahkan pengetahuan geologis saya tentang tempat ini.

Kamu susah sekali ya dibuat terkesan?” begitu komentar teman saya saat saya mengeluarkan unek-unek di atas, haha. Setelah mendaki gunung-gunung yang lebih tinggi seperti Rinjani, standar ‘pemandangan puncak yang indah’ saya memang menjadi lebih tinggi dan tak mudah terpuaskan.

*****

Satu-satunya kesenangan yang saya temukan di Nglanggeran adalah saat akhirnya saya dapat melihat tanaman paku tiang (Cyathea sp). Kehadiran mereka di kawasan tsb seolah menjadi penanda bahwa Nglanggeran memang setua yang diklaim. Tanaman paku tiang alias pakis, pernah merajai planet bumi dan menjadi komponen alam terpenting yang mendukung kelahiran monster-monster dinosaurus—meski pada masa 60 juta tahun itu, daratan Indonesia belum terbentuk sempurna seperti sekarang, sehingga dinosaurus tidak hidup di daratan yang sekarang disebut nusantara. Tetapi hadirnya tanaman paku tiang sudah lebih dari cukup menghibur saya.

Tanaman ini sudah dimakan makhluk hidup purba sejak 60 juta tahun lalu dan berlanjut hingga manusia zaman sekarang. Banyak kuliner daerah yang menjadikan olahan tanaman pakis sebagai bahan utamanya. Saya sendiri pernah memakan kuncup tanaman paku tiang saat ditinggal di hutan dalam rangka pelatihan survival sebuah organisasi pencinta alam. Terbatasnya logistik membuat saya memasak rebusan kuncup paku tiang dan dibumbui dengan garam saja. Kehadiran paku tiang tsb di kawasan Nglanggeran memicu memori ke masa awal-awal saya belajar untuk mencintai (dan belajar untuk takut) kepada keliaran alam yang tak terduga. Ditinggal sendirian di hutan, saat itu saya merasa bahwa alam bisa menjadi sahabat ramah yang menyediakan segala kebutuhan sekaligus musuh tak kenal ampun yang membinasakan. Saya bengong cukup lama menatap tanaman paku tiang sampai teman saya menyikut saya dan bertanya apa yang sedang saya lakukan. Saya membalas jawaban dia bahwa memang sulit untuk membuat saya terkesan oleh sesuatu yang artifisial, tetapi saya mudah dibuat terpukau oleh hal-hal sederhana yang natural, seperti misalnya paku tiang tadi.

*****

Sekembalinya ke hotel, kembali saya berenang di bawah guyuran lebat hujan. Kesenyapan kolam renang karena tak ada orang lain menciptakan sensasi aneh karena udara bisu diisi kebisingan gemuruh air hujan. Karena hal inilah saya selalu merindukan hujan. Kesendiriannya terasa ramah, akrab, dan tidak membuat kita terasing. Saya merasa kosong dan terisi sekaligus. Bahkan setelah kelelahan berenang, saya melanjutkan bengong di teras hotel sambil ditemani buku Aleph dan minuman jamu hangat.

Setelah teman-teman saya bangun dari tidur sorenya, mereka mengajak saya menghabiskan malam terakhir kami di Yogya sebelum besok malamnya pulang. Kembali terjadi cekcok rebutan usulan tempat menghabiskan malam. Saya rasa bermenit-menit adu argumen terjadi dan baru berhenti saat seseorang menyebut nama “Mirota”.

Berada di jantung jalan wisata Malioboro, Mirota terkenal sebagai pusat oleh-oleh terlengkap di sana. Saya sendiri sudah beberapa kali ke sana dan selalu berakhir dengan kebingungan karena ingin memborong segala yang dijual di sana sampai akhirnya malah tidak jadi membeli apa-apa. Satu-satunya yang pernah saya beli adalah bahan kain batik yang sampai sekarang masih utuh belum sempat dijahit. Nah, yang membuat diskusi tadi menarik dan sejenak terhenti adalah karena Mirota terkenal pada hari tertentu selepas maghrib ada pertunjukan kabaret yang dilakukan oleh… ehem… wadam. Dari dulu saya pernah mendengar pertunjukan ini tetapi tak pernah memiliki cukup keberanian untuk menontonnya, haha.

Untuk beberapa hal, saya memang cenderung sangat konservatif.  Misal opini saya tentang wadam tadi. Saya memang tidak pernah mempermasalahkan keberadaan wadam apalagi sampai pada konteks jijik/benci. Kemunculan kaum wadam adalah hasil dari proses kompleks yang tak bisa disamakan dalam kasus per kasus. Siapalah saya yang bisa menghakimi orang lain dan mendikte pilihan hidup orang lain? Jadi apapun yang menjurus kepada diskriminasi tak bisa saya tolerir. Namun, untuk beberapa hal seperti pertunjukan kabaret tadi, saya merasa ada unsur ‘eksploitasi’ karena status kewadaman mereka. Dan ini yang membuat saya merasa tidak nyaman. Tetapi kembali lagi, siapalah saya yang bisa menghalangi orang lain untuk mencari rejeki, selama itu tidak merugikan orang lain.

Nah, teman saya mengusulkan ide menonton kabaret itu. Saya yang awalnya pernah diajak sebelumnya menonton acara serupa di Thailand tentu saja menolak (dulu yang di Thailand juga saya menolak). Namun kegigihan teman saya untuk mengajak dan dengan alasan ‘sekali seumur hidup’ akhirnya membuat saya bersedia mengikuti ajakannya. Saya pikir, mungkin tak ada salahnya untuk mencoba menyaksikan langsung. Bagaimanapun, kita tak bisa menilai sesuatu—apapun itu—hanya  dari dugaan dan rumor belaka. Maka, di bawah guyuran gerimis rapat, kami pergi ke sana selepas petang.

Harus saya akui, penampilan kabaretnya memang lumayan impresif. Dengan melakukan gerak bibir tanpa suara, para wadam membawakan lagu-lagu populer. Kadang mereka melakukan atraksi supaya penonton tak bosan, mulai dari akrobat lompat-lompat dengan sepatu bersol tinggi, sampai melakukan gerakan-gerakan yang menjurus pada pancingan-tindakan-tak-senonoh. Lagu-lagu yang dibawakan sudah pasti kebanyakan lagu-lagu yang sekarang populer dan kekinian sehingga sudah pasti saya tak bisa mengenali judul dan penyanyinya (selera musik saya memang cenderung konservatif dan ‘jadul’). Karenanya, ketimbang bosan menjawab pertanyaan ‘ini lagu siapa’, teman saya berinisiatif memberitahukan judul dan penyanyi lagu setiap pergantian jeda. Satu-satunya lagu yang saya kenali adalah lagu Madonna yang berjudul Don’t Cry for Me Argentina, dan untuk lagu tsb, saya yang berbalik memberitahu teman saya—lengkap dengan ceramah singkat tentang film Evita (Alan Parker, 1996).

Mungkin karena pengaruh tata cahaya panggung yang terlalu terang benderang, namun saat si penampil sampai pada bagian lirik ‘So I chose freedom, running around, trying everything new’ saya melihat ekspresi pengharapan dan kebebasan di wajah si penyanyi. Dan segala prasangka saya runtuh sudah. Memang, semua orang layak untuk berharap dan menikmati kebebasan dirinya sendiri, tanpa perlu dihakimi berdasarkan tampilan dan pilihan yang mereka ambil. Siapa kita yang bisa memberikan penghakiman dan pelabelan?

*****

Keluar dari Mirota, sekali lagi tanpa berhasil membawa oleh-oleh yang sebenarnya ingin memborong, ada banyak hal yang berlompatan di kepala saya seolah kepala saya berisi banyak anak-anak tupai. Teman saya yang sering melihat ekspresi aneh muka saya ketika keluar dari suatu tempat perenungan, menggodai saya untuk mengajak saya pergi ke sebuah tempat di Yogya yang terkenal sebagai pusat ‘wisata malam’. Andai tidak ada tulisan ‘memecahkan berarti membeli’, sebuah pajangan dokar dari kayu mungkin akan tertangkap kamera CCTV mengenai jidat seseorang. Haha.

Sebuah kota besar, dengan segala sisi kehidupannya yang ruwet tak melulu penuh kegemerlapan yang mempesona. Tetapi juga ada bayang-bayang gelap yang seolah ingin disembunyikan para pejabat, namun sesungguhnya adalah tantangan yang harus dihadapi dan jangan ditutup-tutupi. Selama ini saya selalu mengunjungi Yogya ke tempat wisatanya yang memang ditujukan untuk dilihat para turis, bukan bagian kota yang ingin disembunyikan dari mata pandang pendatang asing. Mungkin karena itulah, saya sebelumnya selalu merasa bahwa kota Yogya itu ibarat anak kecil yang lugu, polos, dan sopan.

Kunjungan ke Mirota memicu ingatan saya pada kunjungan saya ke Kampung Code yang berada di bantaran Kali Code. Kawasan padat ini sedang berusaha bersolek menjadi kampung wisata, namun ada kesan ‘pemaksaan’ pada tampilannya yang membuat saya sedikit linglung ketika masuk ke sana. Berbeda misalnya saat saya datang ke pemukiman padat Kampung Ledhok Timoho di pinggir Kali Gajah Wong di bagian timur kota. Suasananya yang sesak dan carut marut seolah telah terjadi kecelakaan lalu lintas, malah mengejutkan saya bahwa bagian kota ini justru terlihat sangat manusiawi. Mata-mata yang bersinar penuh harap berbaur dengan ekspresi muka pasrah. Sebuah tantangan yang tak akan mudah untuk dihadapi ‘para pejuang kemakmuran rakyat’. Ah, andai para pejabat itu rajin menyambangi tempat-tempat seperti ini tidak hanya pada masa kampanye dan tanpa diikuti pemberitaan media berlebih, mungkin mata-mata penuh harap tadi memang bisa dikabulkan mimpi-mimpinya.

Mengunjungi tempat-tempat seperti ini selalu membuat saya tercenung karena merasa jauh sekaligus merasa dekat dengan nilai-nilai kehidupan yang selama ini saya pegang teguh, menantang daya pikir rasional dan nurani sekaligus. Keacakannya seolah menjadi pembuktian bahwa perjuangan dalam hidup tidak melulu diisi oleh perayaan kemenangan tetapi juga kepasrahan atas kekalahan. Di sini, janji, kekecewaan, dan pengharapan berkelindan dan berbaur tanpa terbedakan. Dan memang, begitulah hidup yang sesungguhnya.

Ketika saya merasa saya mengetahui seluk beluk kota Yogya, saya dikejutkan bahwa pengetahuan baru yang datang tiap berkunjung ke sana membuat saya sadar bahwa masih banyak hal yang tidak saya ketahui tentangnya. Pun kunjungan ke kota, kampung, atau tempat-tempat lain. Karena itulah saya mengamini perkataan para petualang lainnya, hobi traveling memang sebuah upaya penemuan dan pencarian. Dan alih-alih menemukan hal baru di luar, traveling sesungguhnya penemuan tentang diri sendiri.

“You don’t need to climb a mountain to know that it’s high.”
― Paulo Coelho, Aleph

 

 

PS:

* = Don Lockwood (diperankan oleh Gene Kelly) adalah tokoh utama di film komedi-romantis musikal Singin’ in the Rain (1952). Adegan saat dia menari-nari di tengah hujan sangat ikonik dan jadi inspirasi semua film India manapun. Adegan menari-nari di film tsb bersama adegan tarian di film Bande à Part (Jean-Luc Godard, 1964) mungkin akan menjadi adegan joget-joget terkeren yang pernah dimasukkan ke dalam film sampai Béla Tarr membuat adegan menari yang hipnotik dan indah di film Werckmeister Harmóniák (2000).

** = Masangin, tradisi dimana orang diharapkan untuk berjalan lurus dari jarak sekitar 20 meteran lebih dengan mata tertutup untuk menuju area diantara dua pohon beringin keramat di alun-alun kidul Yogyakarta, sebenarnya bisa dijelaskan dengan sederhana tanpa melibatkan kekuatan supernatural. Ketika mata tertutup, orang cenderung berjalan menyimpang dari gurus lurus. Bahkan rata-rata setelah berjalan sekitar 5 meter, orang yang ditutup matanya cenderung berjalan mulai menyimpang ke samping dan membentuk lingkaran berdiameter 20 meter. Efek yang serupa sering ditemui oleh orang yang tersesat di gurun atau gunung. Sering kali mereka berjalan memutar dan kembali ke tempat semula. Mengapa? Tidak adanya patokan visual membuat organ vestibular di dalam telinga yang berperan sebagai penjaga keseimbangan, dan indera proprioception yang berperan sebagai kemawasan menjadi terganggu dan bertendensi untuk berjalan menyimpang ke samping. Jika diakumulasikan, maka akan cenderung membentuk lingkaran. Pada tradisi masangin aturannya semakin dipersulit karena peserta harus diputar-putar dulu badannya sehingga menambah gangguan yang disebut vertigo peripheral yang membuat kepala pusing dan semakin sulit untuk berjalan dalam garis lurus.

Advertisements

3 thoughts on “Gunung Nglanggeran, Januari 2016

  1. Pingback: Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 1] | melquiades caravan

  2. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

  3. Pingback: Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 3] | melquiadescaravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s