Inteligensi Embun Pagi (Dee Lestari)

Novel ini mengingatkan saya pada banyak elemen di novel War and Peace-nya Leo Tolstoy. Sayangnya, Inteligensi Embun Pagi tidak berhasil membuat saya terpikat seperti halnya karya Leo Tolstoy tersebut.

28937283

Kandidat utama buku paling mengecewakan tahun ini?

Ketebalan. Ketika saya membaca buku IEP di stasiun, seorang teman saya berkomentar, ‘bukunya tebal banget, berapa halaman?’, ‘ya sekitar 700-an’, ‘serius kamu baca buku setebal itu?’, harap maklum dia jarang membaca buku fiksi yang tebal-tebal, Harry Potter saja mentok di buku ketiga. Well… Saya sudah berhasil menamatkan W&P setebal 1200-an halaman dengan ukuran font imut dengan selamat. Rasanya tak banyak novel di dunia yang memiliki ketebalan melebihi W&P—W&P sendiri termasuk 20 novel tertebal yang pernah ditulis manusia, atau untuk kasus Leo Tolstoy, ‘alien’—jadi IEP yang hanya 700-an dan ukuran font besar tak jadi masalah. Sementara setelah saya menutup buku W&P merasa kalau 1200-an halaman masih kurang, IEP malah membuat saya meringis, halaman buku ini kebanyakan. Masih bisa dikompress menjadi setengahnya.

Subbab yang banyak. W&P mengandung 15 bab utama dan 2 epilog sekaligus dengan masing-masing bab mengandung 15-20 subbab yang panjang-panjang. Epilog kedua bahkan sepenuhnya essai sejarah. Banyaknya subplot ini untuk menggambarkan alur cerita yang kompleks dan subplot yang membelit masing-masing tokohnya. Bab pertama tentang motif peperangan Napoleon terasa begitu panjang dan diselingi aneka pesta kebangsawan yang bisa sampai 200 halaman jika ditotalkan. Meski ini tak berhubungan langsung dengan cerita utama, tetapi saya tak merasa ada lubang cerita di antara subbab-subbab-nya. Anehnya, di IEP saya merasakan aneka lubang yang banyak seolah IEP adalah jala ikan.

Ketika membaca Petir, setingan waktu ceritanya kurang lebih akhir tahun 1990-an atau awal 2000-an. Hal ini terlihat dari deskripsi teknologi komputer dan internet yang dibahas di sana. Hiatus yang lama antara seri Petir dan 3 seri berikutnya membuat celah seting waktu yang lebar. Sementara 3 buku lain berakhir di era tahun sekarang, kisah di 3 seri pertama menjadi terseok-seok dan dipaksa harus mengikuti timeline 3 seri terakhir. Makanya terjadi banyak lubang cerita di IEP (yang premisnya merajut ke-5 seri sebelumnya). Misal deskripsi warnet si Elektra hanya dibahas sekenanya saja karena penulis sendiri sepertinya sudah sadar bahwa zaman sekarang era warnet sudah habis. Padahal di akhir buku Petir, warnet dan wartel sedang di puncak kejayaannya.

Penokohan yang banyak. Ada lebih dari 600-an karakter di dalam W&P (15-an diantaranya bisa dikatakan tokoh utama karena porsi cerita yang hampir sama banyaknya). Ajaibnya, kompleksitas aneka subplot dan porsi tampil protagonist (dan antagonisnya) bisa didedah Tolstoy dengan rapi, telaten, dan sama rata sehingga terasa benar-benar hidup. Setiap tokohnya hidup dengan penjelasan detail sehingga kita seolah tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan pikiran dan emosi para tokohnya. Salah satu tokoh utama yang bernama Pierre Bezukhov bahkan adalah alter-ego Tolstoy dimana si pengarang suka mengeluarkan ide dan pandangannya yang diceritakan mengalir lancar sepanjang cerita. Di IEP, karakter yang banyak muncul secara sporadis begitu saja sehingga beberapa karakter minor hanya mucul sesaat lalu ditambahkan kalimat semacam ‘mereka harus pergi ke Jakarta malam ini’, dan tokoh-tokoh ini langsung menghilang tak berbekas. Padahal kalau baca buku-buku sebelumnya, tokoh-tokoh tsb bukan sekedar sidekick tokoh utama saja, tetapi juga menjadi penentu nasib bahkan ada yang memiliki ikatan emosional yang tak bisa sembarang dilupakan begitu saja. Ini bikin saya sangat senewen.

Bahasa asing dalam dialog. Sepertinya, hampir seperlima dialog dalam W&P ditulis dalam bahasa Perancis dan sisanya ditulis Tolstoy dalam bahasa Rusia (dalam kasus buku yang saya baca, versi Rusia diganti bahasa Inggris). Ini membuat saya merasa melambat saat membaca W&P ketika bagian dialog Perancis tadi karena harus mengecek terjemahannya, maklum tak bisa berbahasa Perancis. Ketika W&P pertama diterbitkan, banyak yang protes dengan banyaknya dialog Perancis tsb, tetapi Tolstoy tidak merevisinya karena dia ingin menggambarkan suasana senyata mungkin. Kaum bangsawan Rusia di awal abad ke-19 memang sering menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa percakapan karena menganggap bahasa tsb bahasa intelektual dan simbol keningratan mereka yang membedakannya dengan rakyat jelata. Makanya ketika Napoleon menyerang Rusia, sikap bangsawan terbelah dua. Bagi kaum bangsawan kuno, serangan Napoleon adalah invasi terhadap Rusia dan ancaman terhadap kengingratan mereka, tetapi bagi bangsawan moderat seperti Pierre Bezukhov, serangan Napoleon adalah salah satu kesempatan untuk memodernkan Rusia dari pandangan kolotnya. Jadi, sebenarnya sempilan dialog-dialog berbahasa Perancis tersebut sangat berkaitan dan mendukung seting cerita agar terlihat realistis.

Di IEP, hal berbeda terjadi. Di buku lain yang editornya berbuat lebih baik dan lebih rajin, ketika tokoh utama (orang Indonesia) berbicara dengan bule dan meski dialognya ditulis dalam bahasa Indonesia, kita semua faham bahwa dialog bahasa Indonesia tersebut sebenarnya dilakukan dalam bahasa asing. Tetapi di IEP, saat di tengah dialog muncul kalimat berbahasa asing, kita jadi berpikir keras. Sebenarnya dialog yang ditulis dalam bahasa Indonesia tadi beneran diucapkan dalam bahasa asing apa bahasa Indonesia? Sempilan dialog yang ditulis dalam bahasa asing di tengah dialog yang ditulis dalam bahasa Indonesia, padahal dialognya dimaksudkan berbahasa asing, benar-benar bikin proses membaca saya menjadi lambat. Bingung ya dengan kalimat barusan? Saya juga bingung kenapa hal seperti ini lolos sensor. Saya benar-benar menunggu kalimat ‘where are you going?’ keluar, supaya bisa balas dengan kalimat ‘I am walking… tak gendong kemana-mana’. Ish.

Tema besar. Dari ukuran raksasanya, kita tahu, W&P bukanlah novel biasa, tapi juga raksasa dalam ukuran pesan yang ingin disampaikan. Sejarah global vs sejarah personal, politik, ketuhanan, legalitas agama, hingga konspirasi freemason merupakan sebagian kecil dari tema yang dibahas di W&P. Di seri Supernova KPBJ kesan ‘wah ini bakal jadi novel serius dengan tema berat nih’ muncul dengan kuat. Mekanika kuantum (itu loh, cabang fisika yang membahas perilaku partikel subatom)—yang saya rasa banyak orang Indonesia masih sangat awam terhadapnya—berhasil diringkas dan direkaulangkan bahasanya dalam gaya popular. Tetapi semakin ke sini, tema besar tersebut memudar. Meski sempat menguat kembali di seri Partikel (ingat dialog-dialog kritis bahkan cenderung sinis terhadap agama yang dilontarkan Zarah?) tetapi kemudian hilang sepenuhnya di seri-seri berikutnya. Di IEP bahkan menguap sama sekali, hanya menyisakan kisah petualangan makhluk ras ajaib dengan kekuatan super ala cerita fiksi tahun 80-an. Kesan ilmiah di seri KPBJ dan Partikel hanya tinggal kenangan.

Sesungguhnya sebagai serial yang menyinggung topik besar tentang penciptaan dan kesadaran makhluk, saya sangat mengharapkan jika serial Supernova akan memasukan topik Relativitas Umum Einstein (sebagai pengantar kosmologi) dan Evolusi NeoDarwinisme (sebagai pengantar biologis makhluk hidup dan kesadaran). Harapan ini yang membuat saya membaca terus serial Supernova karena terpesona dengan paparan Mekanika Kuantum di seri pertama. Tentu saja harapan saya itu tak terjadi. Yang ada hanya menemukan kisah seru-seruan dan gontok-gontokan ala novel fantasi young adult yang sekarang ini membanjiri pasar.

Tokoh favorit. Saat membaca W&P, saya langsung mengidentifikasikan diri sebagai Pierre Bezukhov. Bukan karena saya terlahir di keluarga kaya (atau dalam kasus Bezukhov, orang terkaya), tetapi pandangan filosofis si Bezukhov. Tentu saja awalnya saya ingin menjadi Andrei Bolkonsky—pangeran rupawan yang digilai banyak perempuan. Tetapi saat Bolkonsky malah bernasib tragis karena idealisme utopisnya, saya makin mantap memilih Bezukhov sebagai tokoh favorit. Bezukhov adalah tipe orang yang skeptis. Dia selalu merasa tak puas dan mengkritisi kondisi sosial, politik, bahkan ideologi negaranya yang kaku dan bergerak di tempat. Sayang pandangan skeptis dan kritisnya sering disalahartikan sebagai kekikukan oleh masyarakatnya. Sehingga mimpi dia untuk mengubah dunia selalu kandas meski dia punya kekuatan harta. Pandangan Bezhukov ini malah sering dituduh sebagai ilusi karena dia terlalu idealis dan tidak realistis dengan kondisi aktual. Ini juga alasan Tolstoy menggunakan kata ‘Bezukhov’ untuk tokoh tsb, karena dalam bahasa Rusia, kata tersebut bermakna ‘tidak bertelinga’ sebagai ungkapan pandangan Bezukhov yang terlampau idealis sehingga kadang tidak menyimak kondisi yang terjadi di masyarakat.

Di serial Supernova, tokoh favorit saya tentu saja si Bodhi. Bodhi yang berjiwa bebas membuat saya terpesona dengannya ketika dulu pertama kali membaca buku Akar zaman SMA. Bahkan, ketika saya akhirnya mendapat kesempatan menjelajahi kawasan Indochina dan mendaki gunung Phnom Aoral, saya menjadi teringat akan petualangan si Bodhi di kawasan tersebut. Di IEP, kekaguman padanya lenyap seluruhnya. Sosok unik Bodhi malah menjadi terlihat inferior (kalau tidak dikatakan menjadi tokoh sampingan) dibandingkan tokoh lainnya yang sejak awal tak menarik. Akibatnya serial Supernova di IEP malah menjadi tokoh plastik yang tak memiliki kedalaman karakter dan ikatan emosional dengan pembacanya. Bahkan karakter-karakter Power Ranger saja lebih unik ketimbang karakter-karakter di IEP.

Akhir cerita. Ketika saya akhirnya sampai ke halaman terakhir buku W&P saya sedikit bingung apakah saya harus bernafas lega karena akhirnya saya menamatkan 1200 halaman yang berat dan rumit, atau harus sedih karena saya harus berpisah dengan salah satu saga epik terbaik yang pernah dituliskan manusia. Apalagi Tolstoy selain menulis Epilog ke-1 yang mengisahkan akhir kisah para tokohnya, dia juga menambahkan Epilog ke-2 yang berisi essai panjang tentang opininya yang kontra terhadap pandangan yang menyatakan bahwa figur besar adalah yang menciptakan sejarah. Meski terlihat tak nyambung, sebenarnya essai panjang itu justru konklusi 1100 halaman sebelumnya. Dalam pandangan Tolstoy, bukan hanya Napoleon yang mengubah sejarah Eropa dan dunia, tetapi tukang roti dan sais kuda juga berkontribusi untuk membentuk masa depan dan meninggalkan jejak di masa lalu. Dan kita akan dibuat yakin bahwa semua orang yang ada di novel ini (termasuk pembaca sendiri) adalah tokoh-tokoh yang penting.

Di IEP, akhir yang berupa roman picisan menghancurredamkan tema besar yang susah payah ingin diusung pendahulunya. Kisah petualangan kejar-kejaran ala 5 Sekawan-nya menutup topik-topik berat yang dibahas di buku-buku sebelumnya. Romansa murahannya menapis semua esensi dan keunikan tokoh-tokohnya. Hingga akhirnya, kita berkesimpulan bahwa semua orang di novel ini adalah tokoh-tokoh yang tidak penting.

—-

Catatan tambahan:

1. Biar tidak ada yang bertanya, saya memang tidak menyebut buku Gelombang dalam uraian di atas karena saya menganggapnya sebagai salah satu buku terburuk saya di tahun kemarin.

2. Apakah IEP seburuk itu? Jawaban aman biar tak dikeroyok: tentu saja tak seburuk itu. Bagaimanapun serial Supernova berhasil bertahan sampai 6 seri dengan tema gado-gadonya membuat orang berani berpikir ke hal-hal baru dan di luar rutinitasnya, sangat layak diapresiasi. Jawaban jujur biar lega tak ada beban batin: lebih buruk daripada yang diperkirakan sebelumnya.

3. Dalam diskusi lanjutan yang saya lakukan dengan seseorang via aplikasi chatting, terjadi percakapan berikut;
+ (teman saya) Kamu tau gak kenapa judul buku ini diberi nama “Intelegensi Embun Pagi”?
– (saya) Hah?!*
+ Kok saya gak nemu ya korelasinya di buku ini?
– Hah?!
+ Terus kenapa judul serial ini ‘Supernova’ jika ke-5 buku pertama bercerita ttg pencarian sosok Supernova tapi di buku terakhir cuma muncul dg total halaman 5 doang?
– Hah?!
– Eh, nanti Rabu nonton film Batman vs Superman yuk!

* = Terakhir kali saya nonton sinetron yang selama satu jeda slot iklan adalah sinetron Cinta Cenat-cenut, pun itu karena sedang berkumpul di ruang keluarga dan remote sedang tak ada di tangan saya. Satu-satunya yang saya ingat dari sinetron tsb adalah para tokoh-tokohnya terlalu banyak mengucapkan kata ‘Hah?!’ (dengan varian ‘Hah?! Kamu nyalahin aku lagi?’ dsb). Menjengkelkan. Sensasi yang sama yang saya dapatkan saat membaca dialog-dialog di buku ini. Karena itulah, alih-alih menjawab pertanyaan teman saya tentang judul buku ini yang gak nyambung dengan isinya, saya lebih memilih untuk mengalihkan perhatian dia dari topik ini. Saya tidak ingin mengingat-ngingat kembali hal-hal yang ingin segera saya lupakan. Karena hidup, harus terus berlanjut.

Advertisements

6 thoughts on “Inteligensi Embun Pagi (Dee Lestari)

  1. Halo, Kak. Salam kenal 🙂

    Pertama-tama kumau bilang kalau aku iri banget sama reading list punya Kakak di Goodreads hehe. Tadi lagi baca-baca review IEP dan nemu review Kakak di sana.

    Aku belum baca IEP tapi menurut review yang kubaca memerhatikan dari beberapa orang yang menurutku sudah expert dalam dunia bacaan (like, Kakak) IEP cukup mengecewakan ya?

    Serial supernova aku baru baca Gelombang dan ini jalan sepertiganya Partikel (songong emang bacanya sok ngacak), ngga giru juga sih hehe, cuma karena banyak yang bilang kalau tanpa baca urut pun tetap akan paham karena belum banyak korelasi di serial sebelum IEP. Jadi yasudah kubaca sesuai interest.

    Aku juga mengagumi Dee dengan segala imajinasinya. Riset yang apik, kaya ensiklopedia berjalan. Cuma … image itu entah kenapa tidak kutemukan di Gelombang. Satu yang menurutku kurang juga dari Dee di supernova, itu emosi tokoh yang kurang. Contohnya Alfa, dengan segala too good to be true-nya, dia tetap punya satu ketakutan yang nyata. Dan menurutku, orang yang cuma bisa power nap setiap harinya, rasa frustrasi itu kurang tampak. Dan… perjalanan ke Tibet itu kupikir akan memenuhi 50% cerita, tapi nyatanya cuma sedikit sekali. Porsinya kalah banyak dibanding masa kecil Alfa di kampungnya. Padahal perjalanan itu yang punya implikasi lebih, tetapi malah cuma jadi sekedar tempelan. Savara, peretas, infiltran. Seharusnya porsinya dilebihkan. Jadi mungkin aku paham kenapa Kakak mengategorikan Gelombang menjadi bacaan terburuk tahun lalu hehehe 😀

    Ini kenapa aku jadi bawel banget yak? Haha :’) Maafkan ya Kak. Niatnya mau menyapa dan meminta izin baca blognya dan juga ekspolasi di reading list Kakak hehe.

    Sekali lagi salam kenal, Kak. Nice to know you 🙂

    Like

    • Hi Niju,

      Trims sudah mampir dan meninggalkan pesan lumayan panjang. Haha.

      Koleksi buku bacaan saya masih sedikit dibandingkan dengan lainnya, tak ada yang perlu diirikan, yang penting kamu jd makin semangat untuk menambah buku referensi bacaan. Hehe.

      Ya, IEP bagi saya mengecewakan, dengan alasan yang tak perlu saya tuliskan ulang. Haha. Bisa kamu baca sebagian tambahan di komen-komen di review saya si GR. Dan ya, Dee punya bakat nulis yang hebat. Tapi bebberapa buku terakhirnya bikin saya selalu kecewa karena bakat uniknya nyaris pudar dan menjadikan dia hanya menjadi penulis cerita pop biasa seperti penulis kebanyakan. Ciri khas yang saya rasakan dulu ketika membaca buku serial Supernova awal seolah hilang.

      Sila baca blog-blognya. AMbil minum sendiri yah, anggap saja rumah sendiri. Haha #padahal mah cuma ada air mentah doang di sumur, haha

      Enjoy your reading. Selamat membaca dan bertualang!

      -Qui

      Like

  2. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

  3. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2016 | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s