Gunung Merbabu, September 2015 [bag. 2]

I will show you fear in a handful of dust
― T.S. Eliot, The Waste Land

Ketika saya memulai pendakian di pagi hari―saya sampai ke basecamp saat tengah malam, sehingga pemandangan menjadi tak jelas―saya sedikit tertohok dengan pemandangan gunung Merbabu. Tanpa sadar, saya segera membayangkan gunung ini seperti nenek-nenek sakti yang ada di cerita silat era tahun 80-an. Liat, penuh keriput, penuh jejak-jejak purba yang tak bisa disamarkan, dan, terutama, tampak rapuh. Kebakaran hebat yang melanda gunung ini seminggu sebelum pendakian membuat saya meringis melihat betapa banyaknya borok-borok lahan yang meranggas dan punah oleh api yang membakar. Aroma abu sisa lahan terbakar bahkan bisa dicium dari jarak berkilo-kilo sebelum pendakian dimulai. Tetapi, seperti halnya sosok nenek antik dalam cerita silat, dalam kerapuhan dan lenguhan nafas terakhirnya, Merbabu masih berusaha tampak tegar dan jumawa. Kesaktian gunung ini, mungkin belum hilang terbakar sepenuhnya. Semoga.

Secara ironis, gunung yang penuh balutan abu dan arang sisa lahan terbakar ini sangat sesuai dengan namanya. Secara bahasa, Merbabu berasal dari kata meru (gunung) dan awu (abu). Nama ini didapatkan dari sisa letusan terakhirnya di abad ke-18 yang menutupi sekujur gunung ini dengan abu vulkanik. Sekarang, nama itu bermakna debu sisa kayu hutan yang terbakar. Di masa modern ini, status vulkanisme gunung ini dalam kondisi dormant, sehingga dibandingkan saudaranya Gunung Merapi, Merbabu menjadi pilihan para pendaki karena lebih sepi dan aman. Tapi ini juga membuatnya rentan kebakaran karena ulang pendaki yang lalai. Seperti saat itu, saya mendaki gunung ini tepat sesudah kebakaran hebat yang melandanya. Maka, ketika saya menyusuri (sisa) hutan-hutannya, yang tercium hanya aroma kematian. Tanahnya serupa dengan sisik ular yang mengelupas; kering, kelabu, dan tanda-tanda kehidupan telah lama meninggalkannya. Pemandangan monoton warna abu-abunya membuat saya merinding. Ini tak seperti bayangan apapun tentang “hutan” dalam ingatan saya. Apakah foto-foto keindahan hutan Merbabu hanya berakhir di foto-foto para pendaki sebelum yang diambil sebelum kebakaran?

*****

Saya sampai di kota Yogya ketika malam sudah mendatangi kota ini setelah hampir 8 jam berkereta. Tetapi, kehidupan masih dan malah bertambah semarak seiring datangnya malam. Sambil menunggu kawan-kawan pendakian lain yang menuju Yogya dengan pesawat, saya menyempatkan diri berjalan-jalan di suasana malam Yogya yang melankolis. Warna malam kota ini sudah menjadi legenda dan inspirasi sekian banyak lagu dan cerita. Dan saya selalu tak pernah bosan dengannya. Setiap berkesempatan ke Yogya, saya selalu berjalan-jalan keliling kota, mencoba tempat-tempat makan baru, mendengar alunan musik-musik jalanan yang sangat kreatif dan tak bisa ditemukan di kota lain di Indonesia. Saya awalnya berniat berkeliling (dengan memanggul tas keril besar) siapa tahu bertemu pengamen yang menyanyikan lagu-lagu The Beatles. Tetapi niat itu terhenti ketika di sekitaran Gejayan, ada serombongan pengamen menyanyikan lagu Georgia on My Mind dari Ray Charles. Kerennya, mereka menggantikan kata “Georgia” dengan “Jogja” yang secara sekilas satu pelafalan. Tak perlu usaha lebih lanjut, saya langsung jatuh cinta dengan band jalanan tsb dan memilih berhenti di tempat itu untuk makan malam sambil mendengarkan lagu-lagu mereka. Lagu-lagu lawas era 60-70 an yang sebagian besar saya hafal liriknya langsung membuat saya kenyang tak hanya urusan lambung yang menuntut nasi tetapi juga kenangan yang ingin dibagi. Hal-hal yang sulit ditemukan di kota-kota lain di zaman sekarang.

Saking asyiknya, saya tak menyadari jika pesan WA dan miscall sudah bertubi-tubi. Kena omel yang nyaris tanpa henti kecuali saya menginterupsi, akhirnya saya menyusul ke lokasi pertemuan dengan rekan-rekan pendakian saya yang sudah cukup lama sampai di bandara. Alhasil, saya terpaksa tak banyak berargumen di mobil menuju basecamp. Yang rencananya sampai basecamp jam 10 malam, molor menjadi jam satu dini hari. Bahkan basa-basi dan cemilan yang saya tawarkan malah berbalik menjadi bahan cemoohan. Sial.

Entah siapa yang mengusulkan, yang jelas, akhirnya jalur pendakian yang kami pilih malah melalui jalur yang non-mainstream. Biasanya, para pendaki yang akan menuju Merbabu lewat pos Wekas, Kopeng, Tekelan, atau jalur Selo yang menjadi favorit karena medannya cenderung landai. Saya kira, kami akan memilih salah satu dari empat jalur itu. Jadi, ketika diberitahu di mobil bahwa akan lewat jalur Suwanting yang relatif baru dibuka, saya berusaha mengais-ngais dalam ingatan saya, apakah ada orang yang pernah melawti jalur ini dan menuliskannya di catatan perjalanan yang saya baca? Nama jalur pendakian yang relatif asing selalu menimbulkan kewaswasan. Medannya, pasti aduhai. Setidaknya, beberapa pengalaman selalu menunjukan hal demikian. Dan, memang demikian adanya.

*****

Kami mulai mendaki jam 8 pagi tepat (saya memastikannya karena saat tim pendakian berdoa bersama sambil menunduk, saya mengecek jam tangan), dan panas langsung menyengat dengan kuat. Kemarau sedang di puncak kejayaannya. Matahari terlalu bersemangat mendermakan panasnya sehingga tanaman perkebunan yang biasanya ada di daerah pegunungan sejuk dan rimbun, terlihat meranggas. Tak heran jika gunung Merbabu ini terbakar hebat dan baru selesai seminggu sebelumnya. Itupun dipadamkan oleh para relawan dan warga setempat yang menyisir setiap jengkal api, karena hujan tak kunjung datang. Kebakaran Merbabu harus ditangani serius. Pascaletusan gunung Merapi tahun 2010, otomatis vegetasi dan satwa yang berada di kawasan taman nasional ini semakin terancam–salah satu zona habitat terakhir elang jawa, macan tutul dan edelweiss jawa yang berada dalam kondisi mencemaskan. Dan melihat dampak kebakaran hebat yang melanda Merbabu, jantung saya seolah jatuh beberapa meter dari tempatnya berada. Edelweiss Merbabu yang legendaris, musnah sudah. Suara hewan yang lazimnya terdengar saat mendaki tak terdengar sama sekali. Kebungkaman gunung terasa mencekam dan membuat saya sama sekali tak nyaman.

Hutan di kaki gunung memang masih tersisa. tetapi ini bukan hutan primer dan tempat ideal bagi para satwa liar tinggal karena berbaur dengan aktivitas manusia yang mencari kayu dan perkebunan. Dari pertengahan gunung sampai puncak, api telah menghancurkan apapun yang sebelumnya ada. Saya hanya bisa meringis ngeri dengan doa yang tak putus-putus diucap, semoga masih ada hewan yang tersisa. Semoga hujan segera tercurah dan memulihkan hutan dan sabana yang terpanggang punah. Tolong berikan Merbabu kesempatan kedua.

Mungkin, seperti inilah gambaran pasca pembalasan atas kota Midian dalam cerita alkitab. Aroma abu dan arang memenuhi udara, sisa-sisa pohon yang menghitam dalam bentuk arang lebih mirip tiang kayu ketimbang pohon karena tak ada dedaunan yang tersisa. Abu yang hampir semata kaki berbaur dengan debu-debu yang diaduk oleh angin gunung kering panas. Kabut yang turun dengan lambat menjadikan tempat ini sangat ideal untuk tempat syuting film zombie atau gambaran dunia pascakiamat. Kesedihan dan kehancuran, merayap dan meratap dalam nuansa pilu berdebu yang menyesakkan. Dan entah mengapa puisi kutipan T.S. Eliot bergelayut terus dalam kepala saya selama pendakian. Kan kuperlihatkan kengerian padamu dalam segenggam debu…

*****

Jalur Suwanting, sudah dapat diduga, bukanlah jalur yang populer bagi para pendaki, karena jalur ini sama sekali tak mudah. Tanahnya sampai pos terakhir menuju puncak, dipenuhi debu kering. Di musim penghujan, akan terbentuk sungai lumpur tebal. Kemarau yang tak bermurah hati, menjadikan debu-debu di sepanjang jalur pendakiannya meninggi. Di beberapa tempat bahkan debunya bisa melesak sampai melewati mata kaki hampir setengah betis dan mengubur sepatu. Tanpa masker atau pelindung hidung, akan sangat merepotkan karena debu yang berterbangan entah terbawa angin atau hantaman kaki pendaki lain, membuat nafas menjadi lebih pendek dan mata cepat perih. Kami menyiasatinya dengan berjalan terpisah antara satu orang dengan yang lainnya dalam jarak minimal lima meter.

Tak seperti jalur Selo yang melandai (dan butuh waktu tempuh lebih lama), jalur Suwanting sangat curam. Setiap jalan 5 menit pasti berhenti sesaat untuk mengatur nafas. Saking curamnya, beberapa warga terdahulu berinisiatif membuat jalur alternatif sedikit memutar saat melewati tanjakan curam yang tak ada habisnya. Beberapa teman saya menunjukan muka penyesalan yang tak ditutup-tutupi karena medan pendakian yang diluar dugaan. Warga yang kami tanyai mengatakan bahwa sampai pos terakhir, kami akan sampai dalam waktu 5 jam. Jelas kami tak percaya, kami lipatkan durasi menjadi dua. Dan memang selama itulah kami akhirnya sampai menuju pos terakhir sebelum puncak.

WP_20150919_16_29_38_Pro

Kabut yang mengurung, tanah yang terpanggang, aroma hawa yang terbakar, dan absennya kehidupan menjadikan tempat ini seperti gambaran dunia pascakiamat di film-film Hollywood

Meski kemarau kering, kabut senantiasa mengikuti kami sejak pukul sepuluh pagi, dan terus begitu sampai kami sampai di pos terakhir di sore hari. Kelelahan yang kami rasakan lumayan luar biasa. Debu yang kami kira akan meringankan beban pendakian, malah memperberat langkah. Belum kemiringan lereng yang terjal. Sering kali saya mengais-ngais dengan putus asa, sisa-sisa rumput atau semak yang selamat dari kebakaran untuk berpegangan.

Ketika akhirnya saya sampai di pos pemberhentian terakhir sebelum puncak (pos 5), kelegaan menerpa saya dengan kehampaan dan kelelahan. Saya nyaris ingin langsung tidur membayar kelelahan setelah mendaki seharian. Tetapi begitu saya membanting tas keril yang seharian memberati bahu lalu mendirikan tenda dengan anggota tim pendakian, ada sesuatu yang mencegah saya untuk tidur. Sesuatu yang langsung memulihkan tenaga dan semangat saya dengan seketika. Dan saya pikir, semua penderitaan seharian sebelumnya, nyaris terbayar semuanya.

*****

Pendakian gunung selalu mengajarkan saya bahwa apapun akan berlipat ganda terlihat lebih indah saat dilihat dari ketinggian. Bahkan lahan gersang dan tandus di sekujur Merbabu terlihat mempesona pada ketinggian sekitar 2700 meter. Saya rasa, tak seorang pun tidak bisa memungkiri bahwa neraka debu yang kami lewati seharian tadi berubah dalam sekejap menjadi surga yang mempesona. Lanskap debu dan batu ini membuat saya termangu, mengejutkan di setiap lekukannya.

Saat saya naik turun bukit dan lembah curam ke hutan-hutan kering dan meranggas terbakar, ketika dilihat dari ketinggian berubah menjadi surga berisi pohon-pohon jati, cemara tua, kayu-kayu hangus yang menjadikannya terkesan magis dan menghipnotis. Saya mabuk oleh udara kering, aroma aneh tanah terbakar yang dibawa angin lembah bercampur dengan aroma getah dan akar-akaran. Kedamaian secuil semak belukar edelweiss yang bertahan selamat dari kebakaran terasa sebagai sebuah anugerah dan terlihat lebih indah daripada edelweiss di gunung-gunung lain. Gumam misterius dari segala penjuru yang sedang merintih kesakitan bekas api, kidung perairan yang tak terlihat, tarian udara di sela rerumputan, bisik-bisik serangga dan semak yang selamat dari kebakaran. Ada daerah tak ramah tempat bebatuan tajam yang mengancam di celah-celah jurang curam. Saya terkesima.

1024px-Albert_Bierstadt_-_A_Storm_in_the_Rocky_Mountains,_Mt._Rosalie_-_Google_Art_Project.jpg

A Storm in the Rocky Mountains, Mt. Rosalie (1866) karya Albert Bierdstat. Awan ajaib inilah yang saya saksikan di Merbabu

Dan pemandangan semakin mengguncang saat matahari senja menyala di balik kubah awan, jubah kabut, dan tirai debu yang diterbangkan angin. Cahaya yang tertapis, menciptakan ilusi menyilaukan yang asing. Mengingatkan saya pada lukisan-lukisan luminisme-nya Albert Bierstadt. Jadi, inilah kesaktian nenek-nenek nyentrik Merbabu yang kesohor itu. Dalam kondisinya yang rapuh sekalipun, gunung ini masih punya daya tarik besar dan bersolek dengan maksimal untuk membuat para pendakinya terpukau. Saya membayangkan bagaimana jika gunung ini tak terbakar, pemandangannya mungkin sulit dikalahkan oleh pemandangan gunung-gunung lain. Saya foto dengan kamera dan ingatan, bahwa pemandangan mendebarkan ini harus terekam dan terdokumentasikan tak hanya oleh gambar tetapi juga kenangan yang akan saya alirkan dan ceritakan lanjut ke penerus saya nanti.

*****

Karena tak ada pepohonan yang selamat dari kebakaran, kami bertenda di area yang mirip lapangan bola bekas diamuk naga. Absennya pepohonan juga menjadikan angin kencang tak ada yang menahan sehingga tak hanya berhembus kuat tetapi juga membawa dingin yang menyayat-nyayat. Sambil menggigil, kami menghabiskan waktu dengan mengobrol dan berfoto. Meski langit September tak kedatangan Milky Way*, tetapi masih memesona kami dengan berlimpahnya bintang-bintang yang menjadikan langit bak lautan pelita yang terang benderang. Saya menghabiskan malam dengan bercanda-ria dengan teman-teman, juga diselingi dengan pembacaan novel On the Eve yang mengagumkan.

Summit attack (perjalanan menuju puncak) Merbabu harus saya akui, memiliki banyak kekeliruan dalam prediksi. Anehnya, ketika saya membuka tenda jam 2 dini hari, udara malam yang lembam sama sekali tak membuat saya menggigil. Bahkan saya sempat berseloroh untuk membuka sarung tangan dan kaos kaki karena temperatur saat itu terasa normal dan sejuk. Saking nyamannya, dua dari anggota rombongan saya memilih tak mendaki puncak dan melanjutkan tidur di pos terakhir. Maka, sepanjang perjalanan menuju puncak, saya menjadi berandai-andai, betapa nikmatnya tidur di tenda yang hangat. Di puncak nanti, apakah pemandangannya akan membayar kepayahan perjalanannya? Tapi begitu saya melangkah beberapa ratus meter, semua prediksi saya salah total.

Segera saja angin bagas yang bertiup tak hanya mendorong saya supaya terjengkang, tetapi juga menggigit setiap senti permukaan kulit. Dari beberapa pendakian yang saya lakukan,  summit attack di Gunung Merbabu saya rasa termasuk yang paling menyusahkan. Medan yang curam dengan debu-debu kering yang menusuk-nusuk mata semakin melengkapi perjalanan di dini hari yang saya lakukan. Angin gunung, yang mestinya mendamaikan, malah mengajak perang dengan tiupannya yang kencang. Tak hanya memaksa saya harus berjalan pelan agar tak tergilincir, juga hawa dinginnya nyaris merontokkan pertahanan baju hangat saya. Menengok jauh ke bawah perkemahan kami di pos terakhir, saya hanya bisa mengkhayal, betapa hangatnya dua orang teman saya yang memutuskan tak meneruskan pendakian sampai puncak (mereka menyerah tak melanjutkan pendakian ke puncak esok harinya karena terlalu lelah mendaki sehari sebelumnya). Hangat, terang, damai, nyaman, dan nyenyak terbuai dini hari yang tenang, kontras dengan kondisi saya yang ngos-ngosan, berjalan merangkak di tanah curam di bawah terpaan angin, hawa membeku, dan gelapnya malam yang membutakan. Dengan susah payah, saya akhirnya sampai juga ke puncak Kenteng Songo (titik tertinggi Merbabu) sebelum fajar datang. Lutut saya bergemulutuk tak hanya oleh dingin nan mengigil tetapi juga oleh rasa lelah yang tak tertahankan, belum hilang benar lelah kemarin, lelah dini hari makin menguras stamina dan mental saya sampai ke titik nadir.

*****

Rasa hangat merambat dengan lambat. Saya hampir tak ingat kapan saya terakhir menggigil lalu tetiba merasa sangat gerah. Yang saya ingat adalah, ketika saya sampai puncak Kenteng Songo, titik tertinggi Merbabu, saya sampai dalam kondisi lutut gemelutuk karena dingin dan kelelahan. Saya pikir saya hampir pingsan karena kelelahan dan kedinginan. Saat itu yang paling saya inginkan adalah tidur. Padahal di puncak gunung, itu adalah kenikmatan paling berbahaya dengan taruhan nyawa karena kehilangan kesadaran yang berlanjut hipotermi bisa sangat fatal akibatnya. Jadi, untuk mengalihkan rasa lelah dan dingin, saya mengobrol banyak dengan rekan-rekan saya. Ngelantur apa saja sampai membicarakan hal-hal tak penting. Tapi syukurlah sebelum mati kebosanan, sesuatu mengalihkan perhatian kami semua. Di ujung timur, fajar merekah untuk memulai hari itu. Fajar di puncak gunung tak pernah gagal membuat saya terkesan.

Selimut awan berpijar dalam sebuah garis tipis keemasan yang mengambang di atas cakrawala. Deru angin yang tak kunjung usai rupanya adalah sebuah tarian penyambutan sang surya ketika dia kembali menjalar di garis edar lintang langit siang. Suasana puncak yang sebelumnya ribut oleh obrolan bahkan musik dangdut, teredam dalam ketakjuban dan kesyahduan. Bahkan saya merasa mendengar aliran darah dalam pembuluh balik di kening saya. Puncak Lawu di tepian timur, sebagai titik pertama di tanah Jawa Tengah yang menerima anugerah sinar mentari pagi pertama, menciptakan bayangan segitiga memanjang dengan sudut sempurna seperti yang ditulis juru gambar termahir tanpa bantuan penggaris. Puncak Merapi di sisi tenggara tampak menggeliat malas, sementara puncak Sindoro-Sumbing di sisi barat laut masih terlihat pulas. Merbabu yang memiliki banyak puncak melarut dalam ketakjuban dan keheningan. Dan ketika sang surya muncul dalam bulatan sempurna, saya hampir bersorak kegirangan, yang tak hanya membawa hangat tetapi juga mengusir gelap. Rasa lelah yang sebelumnya mengepung setiap otot di tubuh saya, menguap sirna seiring rasa dingin yang melucut terhangatkan cahaya pagi.

Pemandangan paginya benar-benar mencengangkan. Lanskap kering Merbabu sangat kontras dengan birunya langit pagi yang nyaris bersih tanpa awan. Urat-urat disekujur Gunung Merapi yang tercipta karena luka lahar, menciptakan pemandangan dramatis sebagai latar belakang. Sementara saya membayangkan Merbabu sebagai nenek sakti, maka Merapi saya bayangkan sebagai kakek pertapa di cerita silat. Tampak tenang, tapi jalur lahar dingin yang menciptakan kerutan di sekujur tubuhnya membuktikan bahwa jangan pernah meremehkan gunung purba ini. Dataran rendah Magelang-Yogya di kaki gunung menghampar seperti kain terpal di acara pernikahan, biru sejauh mata memandang yang hamparan birunya dipertemukan dengan birunya laut pantai selatan. Hari itu, warna favorit Tuhan, mungkin, adalah biru.

IMG-20150924-WA0081

Biru! Biru! Biru! Langit, gunung, bahkan pepohonan di kejauhan berwarna biru yang menggebu.

*****

Perjalanan menuju Merbabu, dimulai dari perjalanan kereta ekonomi yang serasa sebagai sebuah nostalgia, diakhiri dalam kepasrahan akan ketakjuban di puncaknya. Titik-titik tempat mistis tempat petilasan di lereng Merbabu yang saya lewati–diceritakan oleh teman pendakian setempat–menjadi bukti bahwa sejak zaman dulu, Merbabu telah menjadi tempat untuk mengistirahatkan pikiran dari hiruk pikuk zaman melalui pertapaan. Maka, siklus itupun berulang, saya tahu mendaki adalah sebuah pekerjaan berat dan melelahkan, tetapi mendaki juga sebuah kegiatan yang akan selalu dirindukan. Meski itu menuntut sebuah pengorbanan.

Di bagian barat Kenteng Songo, terdapat sebuah epitaph untuk mengenang pendaki yang meninggal. Kata-kata dalam epigraf-nya langsung menghujam dalam ke bagian ego terdalam saya, “In Memoriam Agus Winarko ‘Si Black’/ Yang mencintai udara jernih/ Yang mencintai burung-burung terbang/ Yang mencintai keluasan dan kebebasan/ Yang mencintai bumi/ Yang mendaki kepuncak gunung-gunung [sic]/ Yang tengadah dan berkain/ ke sanalah Si Black pergi/ kembali ke pangkuan-Nya/“.

Kalimat-kalimat ini adalah sebuah kerinduan sekaligus kepasrahan untuk teman sependakian yang meninggal saat dia berupaya merengkuh mukjizat alam paling tua. Gunung dengan segala daya pikatnya, bukan saja menjadi seorang resi yang memberikan ketenangan, tetapi juga bisa menjadi harimau liar dan tak kenal ampun. Dan justru itulah yang menjadi candu. Ketika saya pertama kali memutuskan untuk mulai pendakian gunung pertama saya, saya sudah menandatangani surat perjanjian, bahwa saya akan rela untuk keranjingan. Dan tak ada kata gratis untuk itu semua, termasuk suatu saat jika sang gunung meminta atma. Maka, selalulah terjaga!

Di sebuah tikungan di lereng belokan antara Puncak Syarif dan kawah mati** saya beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga dengan sarapan roti seadanya. Meski saat itu perut saya memang lapar, tetapi ada yang lebih lapar ketimbang lambung yang mengerubuk minta diisi. Mata saya tak henti-hentinya menjelajah segenap penjuru mata angin, dengan rakus dan lapar menimbang-nimbang gunung apalagi yang harus saya daki berikutnya. Sebuah kutukan abadi bagi para pendaki. Sambil menunggu teman-teman saya menyusul, saya menuntaskan pembacaan bagian akhir novel On the Eve. Dan entah kenapa, kalimat terakhir buku ini malah menjadi penyemangat luar biasa yang seketika menjadi obat kuat saya. Jalanlah bersamaku sobat, pergi kemana netra kita memandu. Netra yuwana kita, akan memandu jauh… 

“Run along, my friend, Andrei Petrovitch, put a hat on your learned head, and let us go where our eyes lead us. Our eyes are young―they may lead us far.”
― Ivan Turgenev, On the Eve

 

PS:

* = Milky Way tidak selalu dapat dilihat di langit sepanjang waktu. Secara teknis, Milky Way ada di langit sepanjang tahun. Tetapi inti galaksi yang terang benderang (dan paling bagus untuk difoto) tidak muncul setiap saat. Hanya di bulan-bulan yang disebut Milky Way season. Di belahan bumi selatan, musim Milky Way muncul di bulan Maret-September, dan mencapai puncaknya di bulan Juni-Juli. Di akhir dan awal tahun, hanya ujung ekor Milky Way yang terlihat. Seperti saat saya mendaki di Merbabu saat itu, Milky Way muncul sekilas di jam 8 malam, itupun hanya ekornya saja dan segera terbenam di jam 10 malam.

** = Ledakan purba di Gunung Merbabu membuat gunung ini memiliki kontur puncak yang berlekuk-lekuk, sehingga memiliki beberapa puncak bayangan seperti Puncak Antena (Puncak I, 2800 m), Puncak Syarif (Puncak II, 3119 m), dan Puncak Kenteng Songo (Puncak III/Sejati, 3142 m). berbagai jalur pendakian akan mempertemukan para pendaki di persimpangan yang kerap dijadikan pos terakhir yang disebut Pos Helipad. Dari pos ini menuju Puncak I, akan melewati punggungan gunung terjal dengan kiri kanan jurang terjal bernama “Jembatan Setan”. Saat mendaki dini hari dimana minim cahaya, kehati-hatian sangat diwajibkan. Di samping bawah Jembatan Setan terdapat lima kawah yang menjadi bukti bahwa Merbabu purba pernah mengamuk. Nama-namanya menyiratkan ancaman dan peringatan untuk tak bermain-main dengannya;  kawah Condrodimuko, kawah Kombang, kawah Kendang, kawah Rebab, dan kawah Sambernyowo.

Advertisements

9 thoughts on “Gunung Merbabu, September 2015 [bag. 2]

    • Dear w!n,

      Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca blog saya. Syukurlah, ada yg suka dg tulisan saya, haha.

      Membaca buku sangat menyenangkan. Mendaki gunung sangat menggembirakan. Dan membaca buku di gunung… well… Kamu harus cobanya sendiri.

      Saya sudah folbek blognya ya. Thankie sudah diajak pertemanan.

      Selamat bertualang.

      -Qui

      Liked by 1 person

      • whuaaaa… difollow blognyaaa….
        duuuuhhhh… ga ada apa2nyaaaa blog sayaaaah…. *tutupmukaaaaaa

        Siiippp, siap menerima tantangan, suatu hari nanti. I will 🙂

        Like

        • Haha. Kamu terlalu berlebihan kayaknya. Saya juga gak ada apa-apanya, hanya menulis gerundelan dan menumpahkan kerikil dalam pikiran.

          Ditunggu cerita pendakian dan pembacaannya. Happy holiday!

          -Qui

          Like

  1. Pingback: Gunung Nglanggeran, Januari 2016 | melquiades caravan

  2. Pingback: Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3] | melquiades caravan

  3. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s