The Spirit of the Beehive (Víctor Erice, 1973, Spanyol)

Why did he kill the girl, and why did they kill him after that?
―Ana Torrent, El espíritu de la colmena (1973)

Selepas menonton film The Little Prince (Mark Osborne, 2015), saya mendiskusikan dengan teman-teman saya, mengenai film-film dengan tema kepolosan anak kecil yang begitu rapuh namun berharga hingga akhirnya dihancurkan oleh realitas kehidupan yang pedih nan keras. Di dunia dimana hal-hal ideal telah lama musnah, film-film (ataupun karya sastra) seperti ini menjadi pengingat kita bahwa mimpi dan imajinasi adalah hal yang amat langka dan gampang menguap seiring bertambahnya usia dan kegiatan yang bernama “menikmati hidup”. Apa sih nikmatnya hidup jika rutinitas dan ambisi menghempaskan kemurnian mimpi imajinasi?

Dalam diskusi tersebut, muncul beberapa film yang layak disebut bagus banget, mulai dari film vampire Låt den rätte komma in (Tomas Alfredson, 2008) yang mendefinisikan genre horor dengan cara baru, film fantasi populer dan dicintai sejuta umat El Laberinto del Fauno (Guillermo del Toro, 2006), film perang paling mengerikan yang pernah saya saksikan Idi i smotri (Elem Klimov, 1985), hingga yang ikonik ―dan menjadi satu diantara 10 film terfavorit saya sepanjang masa― Fanny och Alexander (Ingmar Bergman, 1982), atau Kes (Ken Loach, 1969) yang begitu polos dan murni. Secara garis besar, saya setuju dengan film-film pilihan tsb. Tapi, tampaknya ada satu film yang jarang disebut yang bertema kepolosan anak-anak, yang saking dahsyatnya, saya telah menonton film ini sebanyak 4x, dua pertama masih takjub karena keindahan visualnya yang cemerlang (saya rasa film ini dapat di-pause tiap beberapa detik, lalu gambarnya dicetak dan digantung sebagai wallpaper pajangan di rumah, semuanya akan terasa indah). Dua yang berikutnya, mulai mengerti bahwa dibalik keindahannya yang memabukkan, film ini sejatinya adalah film horor. Bukan horor dengan penampakan makhluk-makhluk supernatural atau teror ghaib yang mengerikan, tetapi film ini menggambarkan secara vulgar bahwa hilangnya kepolosan dari dunia anak-anak adalah tragedi paling mengerikan dalam kemanusiaan. Hilangnya kepolosan anak-anak berarti dunia yang kita tinggali semakin memburuk dan tak layak huni. Punahnya imajinasi anak-anak berarti teror yang mematikan akan datang dan menghantui.

*****

El_espiritu_de_la_colmena-324778657-large

El spiritu de la colmena film poster

Film El espíritu de la colmena (atau The Spirit of the Beehive) adalah film perdana dari sutradara Spanyol, Víctor Erice. Film pertama… beberapa orang di dunia ini memang dianugerahi bakat luar biasa yang bahkan karya pertamanya yang bagi kebanyakan orang menjadi karya amatiran ‘mentah’, dan ‘coba-coba’, bagi Erice dan orang-orang yang sudah ditakdirkan sebagai dewa lainnya, karya pertama bisa langsung menjadi sebuah mahakarya.

Premis cerita film ini sederhana. Bersetting di sebuah desa terpencil di daerah plato Meseta Central di sekitaran tahun ’40-an. Kehidupan desa ini sangat tenang dan aksesnya yang terisolir. Untuk hiburan warganya, diputarlah film di sebuah rumah yang mendadak disulap menjadi bioskop sederhana. Suatu hari, film yang diputar adalah Frankenstein (1931) karya James Whale. Salah satu adegan di film itu, saat si monster frankenstein menenggelamkan seorang bocah perempuan, begitu membekas dalam ingatan si bocah 6 tahun bernama Ana Torrent.

Sekembalinya dia ke rumah, dia mempertanyakan mengapa si monster membunuh gadis kecil dalam film, dan bagaimana nasib si monster apakah dia juga ikut dibunuh oleh warga yang marah? Pertanyaan-pertanyaan si bocah Ana pada dasarnya adalah pertanyaan paling mendasar mengenai moral dasar kemanusiaan. Jika manusia terlahir suci dan bersih, mengapa dia bisa berbuat jahat? Hukuman apa yang “adil”? Kenapa tuhan tak kuasa mencegah? Apakah manusia bisa terbebas dari dosa kejahatannya? Apakah akan kembali menjadi murni sebagaimana dia lahir, atau apakah kejahatan yang dilakukan bisa ditoleransi atas nama ‘kekhilafan’?

Rasa penasaran Ana–dan kita semua atas pertanyaan tak berkesudahan dan tak terjawab sejak era agama purba lahir tsb–dia utarakan pada kakaknya yang juga masih kecil, dan jelas-jelas tak bisa memberikan jawaban memuaskan. Bosan dengan berondongan pertanyaan adiknya, si kakak malah menakut-nakutinya tentang cerita sosok hantu imajiner. Si Ana kecil kemudian mengasosiasikan hantu rekaan kakaknya dengan monster frankenstein.

Hingga suatu hari, di sebuah gubuk terpencil di tengah ladang tempat si Ana bermain, datanglah seorang pelarian gerilyawan yang memberontak terhadap kediktatoran Jenderal Francisco Franco. Dalam kondisi terluka, si gerilyawan ditolong Ana dengan memberinya makanan hingga jaket hangat ayahnya. Dan si kecil Ana mencampuradukkan antara sosok gerilyawan tadi dengan imajinasi  tentang sosok monster frankenstein dan juga sosok arwah rekaan kakaknya. Yang pada akhirnya, akan membawa kita semua pada konsekuensi yang tak terduga. Dan menyakitkan.

Film ini, sangat hening sekali. Alurnya lambat dengan tempo yang lembam. Tetapi ending-nya akan sangat meledak kencang dan menghancur-redamkan hati penonton tanpa ampun.

colmena8

Lanskap datar, hening, dan sepenuhnya terisolir menyimpan kejutan tak terduga di akhir

*****

Sepanjang karirnya, Víctor Erice hanya membuat tiga film panjang yakni film ini, film drama El Sur/The South (1982) dan film dokumenter El Sol del Mebrillo/Quince Tree of the Sun/Dream of Light (1992). Hanya perlu tiga (meski satu film ini saja mestinya sudah cukup), dan nama Erice telah terukir sebagai salah satu sutradara terbesar yang pernah hidup.

Film The Spirit of the Beehive dengan cerita bersahajanya, menyimpan banyak sindirian tajam dalam simbolisme yang kasat mata. Di awal perilisannya, film ini menuai kontroversi dan cekalan karena dianggap menyerang kediktatoran Jenderal Franco. Banyak adegan yang mengkritik menusuk pemerintahan diktatorian Jenderal Franco yang opresif disembunyikan dalam metafora dan parabel yang senyap. Pemilihan film Frankenstein, adegan di peternakan lebah, penemuan jamur, dan banyak hal lagi tidak dipilih secara acak, semuanya punya makna spesial. Dan tentu saya akan dianggap mengurangi keasyikan menafsir jika saya beberkan satu-satu simbolisme apa saja yang ditampilkan dalam film tsb. Jadi, segeralah menonton dan saksikan kecerdikan sang sutradara dalam membalut horor dan kritik dengan cara yang luar biasa unik.

Film ini memang harus disaksikan lebih dari sekali. Bukan hanya karena keindahan visualnya yang memukau, juga karena setiap penyaksian, akan menambah referensi atas tafsir metafora yang tersembunyi. Alegori yang tersisip dan dibaurkan dengan hal-hal supernatural semuanya bercampur dalam kepolosan anak-anak yang menggemaskan sekaligus meresahkan. Keheningan dalam film ini adalah sebuah kebisuan yang menggelisahkan. Meski tampak senyap, sebenarnya film ini mampu berteriak sangat kencang dalam melawan sensor dan pesan yang ingin disampaikan.

Anak-anak, yang tak berdaya dalam melawan, punya cara unik untuk menghadapi teror yang terjadi dalam hidupnya. Lewat imajinasi, anak-anak menantang teror dan kekejaman di dunia orang dewasa dalam kebungkaman yang efektif. Kepolosan melawan kegilaan. Kepasrahan melawan ketamakan. Keluguan melawan kekejaman.

Hingga akhirnya, ketika dunia semakin jungkir balik dalam ketidakwarasan, kita semua mempertanyakan, apakah masih ada harapan untuk memperbaiki kekacauan dunia dengan segala kesintingannya? Jawaban itu tersimpan kokoh dalam mimpi anak-anak dan dijawab film ini dengan lugas. Film ini menjadi pengingat kembali bahwa kita harus menjaga kepolosan imajinasi anak-anak yang begitu rapuh. Karena mempertahankan kepolosan anak-anak juga berarti kita berupaya untuk menjauhkan dunia dari kekejaman dan ketamakannya yang menghancurkan.

Advertisements

2 thoughts on “The Spirit of the Beehive (Víctor Erice, 1973, Spanyol)

  1. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2015 | melquiades caravan

  2. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s