Gunung Merbabu, September 2015 [bag. 1]

“Her soul glowed, and the fire died away again in solitude…”
― Ivan Turgenev, On the Eve

Tak terbersit secuil pun rasa sok-sokan atau kepongahan yang ingin saya sampaikan, tapi saya harus mengatakan ini, terakhir kali lebih dari 5 tahun yang lewat, saya tidak pernah menggunakan kereta kelas ekonomi terlebih untuk tujuan jauh luar kota. Bukan saja karena (dulu) cerita horor teman-teman saya yang harus berdiri selama lebih dari 8 jam dari Bandung menuju Yogyakarta dalam kondisi berdesak-desakan, tetapi juga kriminalitas yang telah menjadi buah bibir dan mengintai siapapun yang terlalai. Namun zaman telah berubah. Tergoda dengan ulasan-ulasan yang mengatakan bahwa pelayanan kereta ekonomi sudah jauh lebih baik (sebenarnya ini sudah saya rasakan saat mampir ke stasiun-stasiun kereta), akhirnya saya memutuskan untuk mencoba. Dan jujur saja, perjalanan perdana setelah hiatus dalam waktu yang tak bisa saya ingat kapan persis terakhir kalinya, perjalanan dengan kereta ekonomi Jakarta-Yogya tsb membuat saya sangat terkesan. Namun, hal-hal yang hilang (atas nama perbaikan) membuat saya sedikit masygul. Kenangan terakhir yang saya ingat dari perjalanan kereta yang usianya seolah lebih dari berabad-abad lampau itu, tentang kesemrawutannya yang “Indonesia banget” telah hilang. Seperti pot bunga di tanah pemakaman, tujuannya mungkin baik, tapi tetap menimbulkan kesan salah tempat, saya merindukan kesemrawutan itu lagi. Ada kerinduan ganjil yang tak semestinya.

Saya masih takjub ketika mengingat bahwa saya membeli tiket kereta ekonomi Bengawan jurusan Pasar Senen Jakarta menuju Lempuyangan Yogyakarta seharga 80 ribu rupiah. Tiket pesawat paling promo dan obral tak akan pernah mencapai harga segitu. Bahkan bis antarkota pun jelas tak akan bisa bersaing dengan tiket semurah itu. Sekarang harganya mungkin sudah berubah, tetapi tiket seharga 80 ribu dengan fasilitas AC (tidak terlalu dingin sih), tempat duduk sesuai tiket, dan socket listrik untuk nge-charge alat elektronik, benar-benar membuat saya nyaris terpesona. Perbaikan dan pelayanan kecil seperti ini, terasa sebagai sebuah loncatan raksasa dari kereta ekonomi sebelum reformasi transportasi kereta. Saya bahkan sama sekali tak mengeluh karena kursinya yang keras bak kayu, bikin pantat saya membatu, dan jalan mengangkang karena kaku—apa yang bisa kamu tuntutkan dari tiket seharga 80 ribu? Maka, perjalanan saya terasa sebagai sebuah nostalgia yang campur aduk. Dan mencapai puncaknya saat saya menjejakan kaki di Kenteng Songo, titik tertinggi Merbabu.

*****

Keputusan perjalanan kereta ekonomi (meski ada pilihan kereta bisnis atau eksekutif) akhirnya saya pilih selain karena selain harganya yang menggoda, juga ada pengalaman yang ingin saya ulang. Kereta, terlebih jenis ekonomi, selain bis, membuat perjalanan menjadi lambat. Bagi kebanyakan masyarakat urban yang terbiasa tergesa-gesa, melambat terasa sebagai sebuah gangguan. Bagi saya, melambat adalah sebuah kemewahan hidup yang terlupakan. Melambat, membuat garis-garis perjalanan menjadi terlihat lebih tegas. Banyak kenangan yang bisa direkam, dalam warna-warna yang lebih jelas dan tidak kabur. Interaksi sosial dan pengamatan bisa muncul secara mengejutkan saat kita mengalami delay, macet, atau mogok. Makanya, ketika delay dan kerusuhan di bandara terjadi, saya sedikit merasa bersalah karena saya menikmatinya…

Pun saat naik kereta ini, ada banyak pengalaman baru yang saya rasakan yang tak mungkin bisa didapatkan jika saya naik transportasi jenis lain, termasuk jika naik kereta jenis kelas lain. Dari 4 tempat duduk (dengan dua kursi panjang saling berhadapan), saya ditemani sebuah keluarga kecil dengan tiga anggota keluarga yang akan menghadiri kondangan kerabat mereka di Yogya. Berbagi tempat duduk dengan mereka, terasa sebagai sebuah nostalgia yang menyenangkan, dulu saya juga melakukan perjalanan serupa dengan orang tua saya. Keluarga kecil mereka (ayah-ibu-anak) adalah tipikal dari keluarga yang melakukan urbanisasi dari kota kecil di Jawa dan berjuang meraih kesuksesan di ibukota. Kesibukan di kota besar (apalagi yang jauh) membuat kesempatan mereka pulang ke daerah asal menjadi semakin jarang. Perlu ada pemicu khusus yang membuat mereka kembali, seperti misalnya lebaran atau momen keluarga spesial seperti pernikahan. Pun keluarga yang berbagi tempat duduk dengan saya tersebut.

Di stasiun Pasar Senen, ada 3-6
rombongan pendaki lain yang akan
berangkat mendaki gunung-gunung di
Jawa Tengah/Yogyakarta. Sayang ketika
kereta berangkat, kami terpisah gerbong.
Banyaknya pendaki menandakan mulai
dibukanya gunung-gunung di sekitar Jawa
Tengah setelah mengalami musim
kebakaran hebat yang melanda gunung-
gunung di sana dan masih berlanjut bahkan
saat tulisan ini dibuat, termasuk Gunung
Merbabu yang akan saya daki.

Seperti yang bisa ditebak bahkan saat mereka mengatur posisi tempat duduk, dalam keluarga kecil tsb, si ibu yang akan mendominasi cerita–dia juga yang memulai obrolan ketika saya sedang asyik-asyiknya membaca novel On the Eve. Obrolan yang terlihat tak seimbang tsb (saya kebanyakan menjadi pendengar) sudah pasti tak terhindarkan dengan selipan curhatan mengenai masalah keluarga (terutama kerabat mereka yang di Jawa). Si anak, yang usianya sekitaran 15 tahun dan perempuan, jelas sangat risih mendengar ibunya menceritakan rahasia keluarga tersebut kepada orang asing. Dalam jumlah yang tak terhitung, dia menginterupsi obrolan dengan pura-pura izin ke toilet bolak-balik.

Dalam kekikukan khas remaja tanggung, dia berusaha tampil untuk memproklamirkan ‘saya mandiri dan telah dewasa loh‘, berusaha terlalu keras agar terlihat bergeming saat orang tuanya menawarinya makan atau hal-hal sepele yang-tidak-layak-ditampilkan-di-depan-lawan-jenis. Bahkan sikap protektif dan sayang ibunya seperti memasangkan pita rambut ditepis dengan cukup kasar oleh si anak. Saya jadi membayangkan, apakah dulu pas di usia segitu saat perjalanan keluarga, saya berusaha tampil maksimal terlihat mandiri di depan lawan jenis meski itu membuat saya bertindak sedikit tak pantas pada orang tua saya? Sementara sang ayah, berusaha tampak terlalu keras untuk terlihat ‘saya berhasil membangun keluarga kecil saya dengan sukses dan mandiri loh’. Saya bukannya merendahkan dan berprasangka buruk, tetapi ada beberapa kalimat-kalimatnya yang terdengar terlampau hiperbolis. Bahkan ada saat si anak memutar bola matanya dan membelalak tak percaya saat kedua orang tuanya bercerita.

Jika berada dalam posisi mereka, saya juga mungkin akan melakukan hal yang sama. Prestasi terkecil apapun dalam hidup harus dirayakan, terlebih saat berhadapan dengan orang lain yang tak dikenal di kereta (secara ironis, kami tak memperkenalkan nama masing-masing) sehingga bisa dikatakan ‘perjumpaan sekali seumur hidup’. Lagian, tak ada gunanya terpuruk dalam kekecewaan hidup dan menampilkannya kepada orang asing.

Obrolannya sudah pasti melantur kemana-mana. Dari mulai politik hingga makanan khas daerah Yogya. Dari kepuasan dan kekecewaan terhadap presiden baru hingga ceramah panjang bagaimana cara menikmati gudeg yogya bagi orang yang tak familiar dengan citarasa manis seperti saya. Si anak tak secuil pun mengacuhkan obrolan kami. Pura-pura sibuk dengan gawainya. Casing warna semarak dengan gantungan kelap-kelip menghiasi telepon genggam buatan Korea yang tak pernah sedetik pun lepas dari telapak tangannya bahkan saat dia tidur dan makan.

Secara keseluruhan, saya menikmati obrolan ringan dengan keluarga tersebut. Mereka keluarga kecil yang manis, kecuali saat si anak secara diam-diam mengambil foto saya dengan telepon genggamnya berkali-kali. Errrr….

*****

Apa yang tampak kecil dan tak berarti jika kita melihat di saat melakukan perjalanan udara, menjadi besar dan punya makna saat melihatnya di darat. Saya sengaja melakukan perjalanan siang supaya dapat melihat sebanyak mungkin pemandangan dari kereta. Saat melewati stasiun-stasiun kecil yang terpencil, selalu ada pemandangan menarik. Keluarga-keluarga kecil yang nongkrong di pinggir rel dan anak-anak yang selalu menatap takjub dan berhenti bermain seketika saat kereta lewat padahal tiap hari mereka melihatnya. Jauh dari akses hiburan seperti bioskop dan pusat perbelanjaan, kereta yang lewat selalu bisa memberikan penghiburan. Nama-nama stasiunnya terasa asing meski saya tahu pasti jalur yang saya tempuh, sehingga kadang saya menebak-nebak, saya sudah sampai di kabupaten mana. Petunjuk papan nama stasiun kecil tidak dilengkapi dengan nama kabupatennya.

Alur-alur padi muda yang baru ditanam mendominasi sisi kereta sepanjang perjalanan tapi tak membuat saya bosan karena setiap sudutnya selalu memberikan pemandangan berbeda. Entah latar gunung yang tak sama ataupun aktivitas warga yang dilakukan dengan traktor dan sapinya. Tanah-tanah yang baru dibajak (saya sedikit takjub saat melihat setelah sekian lama, ada sapi dan kerbau yang sedang membajak) membuat saya terkenang masa-masa di sekolah dasar yang sering saya habiskan dengan mengejar layangan di sawah dan bermain perang lumpur lunak di tanah yang baru dibajak. Pepohonan dan tiang-tiang listrik yang berkelebat berlarian, membuat saya terlempar pada masa-masa saat saya diajak pergi bersama orang tua keluar kota dan selalu berisik bertanya ‘kenapa pohon lari kencang tetapi gunung tidak?‘. Pertanyaan yang terus diulang sampai orang tua saya menyerah karena belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan–saya baru benar-benar terpuaskan saat membaca buku pengantar teori relativitas yang salah satu bahasan pengantarnya membahas konsep gerak relatif yang ditemukan di perpustakaan sekolah SMP.

Penuh aforisma mengagumkan, buku sempurna sebagai teman perjalanan

Penuh aforisma mengagumkan, buku sempurna sebagai teman perjalanan

Begitu banyak kenangan-kenangan di setiap detail pemandangannya (bahkan saat saya berada di daerah yang tak dikenal), sampai-sampai saya lebih sering terlihat bengong ketimbang baca buku. Membaca buku dilakukan hanya sebagai jeda obrolan atau dipaksakan sebagai selingan demi mengusir kantuk. Meski lama perjalanannya hampir 9 jam, saya nyaris tak tidur kecuali dalam jeda-jeda singkat yang tak sampai setengah jam jika ditotalkan. Terkekang dalam rutinitas kota besar, saya tak ingin melewatkan segala yang tersaji di dunia pedesaan di balik kaca jendela kereta.

Saya berangkat menjelang tengah hari sehingga saat matahari terbenam, saya masih berada di kereta. Saya sangat bersyukur ternyata sisi jendela saya menghadap ke barat. Maka, saya menyaksikan matahari terbenam yang mengguncang. Warna matahari merah terang tapi tak menyilaukan, terlihat lebih besar daripada terakhir yang saya ingat. Terpantulkan di genangan air sawah, bayangan kembar yang tercipta kadang hilang silih berganti tergantung sawahnya sudah ditumbuhi padi atau baru saja dibajak dan terlihat basah. Saat melewati daerah dataran yang mahaluas, pemandangannnya sangat spektakuler. Sejauh mata memandang, hanya padi menghijau terhampar sampai batas cakrawala, sementara dengan pongahnya, matahari merah terang berada begitu rendah di atas garis cakrawala sehingga membuat saya membayangkan bahwa matahari akan masuk dalam lumpur sawah. Saat itu, hanya ini penjelasan paling masuk akal untuk atraksi keajaiban yang tersajikan. Lupakan teorinya Copernicus.

*****

Untungnya, saya membawa banyak persediaan cemilan dan makanan. Berada 9 jam perjalanan dengan jeda-jeda super singkat di tiap stasiun yang dilewati (hanya beberapa stasiun besar kereta berhenti) tak ada waktu untuk membeli makanan. Ada sih petugas kereta yang menawar-nawarkan makanan kotakan dan dijual. Tapi, ini yang sedikit membuat nostalgia saya menjadi meresahkan. Saya tak melihat lagi pejaja asongan yang sejak dari zaman Belanda sudah menjadi ciri khas kereta ekonomi. Absennya kehadiran mereka membuat perjalanan kereta ekonomi sekarang serasa seperti bunga yang kehilangan aromanya. Pembenahan kereta yang menghilangkan pejaja asongan membuat bunganya memang menjadi cantik dan tak lusuh. Tapi aromanya terlihat seperti aroma buatan yang disemprotkan dari kaleng-kaleng parfum murahan.

Terakhir kali saya menaiki kereta ekonomi, selain obrolan acak dengan penumpang di kursi terdekat, juga dibuat terpesona dengan kehadiran pedagang asongannya. Hilir mudik bolak-balik gerbong depan-belakang sampai puluhan kali, pedagang di kereta ekonomi selalu membuat saya takjub. Entah karena metode jualan mereka yang sangat kreatif agar menarik perhatian dari pedagang lain yang jualan barangnya serupa, juga supaya terlihat selalu menarik saat menawarkan barang ke penumpang yang sama untuk ke sepuluh kalinya. Durasi lama di perjalanan membuat si pedagang yang sama bisa mendatangi penumpang yang sama puluhan kali, sehingga mereka harus merayu dengan kreatif. Keajaiban pedagang asongan yang saya rindukan tak berhenti di sana saja. Barang-barang yang dijualkan selalu membuat saya kagum dan bingung. Banyak barang aneh yang dijual untuk meminimalisir kompetisi jualan sejenis antar pedagang yang tentu saja dijual murah. Kebanyakan produk china tentu saja, tetapi kegigihan dan kelihaian si penjaja dalam menawarkan membuat pedagang asongan di kereta bisa menjawab kebutuhan apa saja yang kita perlukan dengan berlimpahnya keragaman barang jualan. Semuanya dijual dalam harga yang murahnya bisa membuat kita tak berkedip karena tak percaya. Dulu saya pernah ditawari satu biji semangka besar seharga dua ribu rupiah, atau nasi komplit ayam telur semur cuma seribu rupiah. Ketakjuban, ketidakpercayaan, bahkan kadang buruk sangka membuat pedagang asongan kereta menjadi nyawa tersendiri bagi kereta ekonomi.

Absennya mereka di kereta ekonomi yang sekarang, terasa sebagai sebuah pengkhianatan. Pengorbanan demi perbaikan kualitas pelayanan kereta terasa tak seimbang dengan dibunuhnya ratusan ribu lapangan pekerjaan yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat kelas terbawah. Hiruk pikuk stasiun (dan kereta) hanya berkisar pada ketepatan jadwal, bukan lagi tempat menggantungkan nasib dan meraih kesempatan bertahan hidup. Tak adanya interaksi sosial tawar menawar dan pemandangan semrawut, malah menjadikan stasiun dan kereta jauh dari kesan hidup dan energik.

Ketika saya berhenti di stasiun terakhir, saya merasakan sebuah suasana hiruk pikuk yang hampa. Hanya ada ketergesa-gesaan tanpa nyawa. Bangunan tua, bahkan orang-orangnya, terlihat tanpa jiwa dan terjerembab melarut dalam rutinitas yang tanpa rasa. Daya juang dan semangat menikmati anugerah hidup, habislah sudah.  And the fire died away again in solitude…

 

(bersambung)

Advertisements

6 thoughts on “Gunung Merbabu, September 2015 [bag. 1]

    • Terima kasih Rizky telah menikmati tulisan saya.

      Pujian kamu terlampau tinggi, sementara yang saya tulis sekadar unek-unek acak, makanya ceritanya ngelantur padahal niatnya ingin menceritakan pendakian gunung. Haha.

      Oh well, saya jadi keingetan buat ngelanjutin tulisan ini. Hufffttt.

      Like

  1. Pingback: Gunung Merbabu, September 2015 [bag. 2] | melquiades caravan

  2. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2015 | melquiades caravan

  3. Pingback: Gunung Nglanggeran, Januari 2016 | melquiades caravan

  4. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s