Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 3]

“The wild animals seemed less predatory to him than people he had known.”
― Marjorie Kinnan Rawlings, The Yearling

Dalam perjalanan di bumi Flores, saya belajar bahwa konsep surga dan neraka, adalah sebuah fakta yang begitu nyata dalam manifestasi dualisme yang tak terpisahkan, seperti bayi dempet kembar siam yang berbagi organ vital sama. Tak terpisahkan, keduanya akan senantiasa bertautan. Flores, dengan keindahan alam yang meledak-ledak di setiap jengkal tanahnya, adalah sebuah representasi keindahan surga di bumi yang terbaik, namun masyarakatnya berada dalam kemiskinan yang putus asa dan mencemaskan. Penilaian saya mungkin terlalu dini dan naif. Kunjungan saya singkat dan diri saya adalah sebagai orang asing, tetapi di mata saya, Flores adalah gambaran surga dan neraka yang sangat kentara dan tidak bisa dikelabui.

Seperti buruh binatu yang teguh membersihkan noda tinta di baju seragam anak sekolah, para peladang di Flores melakukan pengorbanan yang tak sebanding dengan hasil yang didapat, nyaris sia-sia. Tak hanya iklim Flores yang keras dan tak bermurah hati bagi komoditi pertanian, juga karena faktor lain seperti para juragan feodal di zaman kolonial, para pejabat menghisap dana pembangunan dan pengembangan bagi petani demi keserakahan pribadi. Para nelayannya, mengalami nasib tak jauh berbeda (saya bahkan sulit membedakan apakah kemiskinan para nelayan ini karena nasib, atau malah sudah terpaku kokoh menjadi takdir saking lamanya mereka terjerat dalam kemiskinan). Laut Flores yang terkenal kaya secara tragis malah tidak bisa menghidupi mereka lagi dengan layak–seorang nelayan menceritakan dengan nada getir, mengenang masa sedekade lewat saat ikan paus masih sering mengunjungi perairan Komodo, tanda bahwa perairan tsb masih sehat dan aman bagi biota laut–Tapi kepedihan, datang meremas paru-paru saya sampai saya kehabisan udara untuk bernafas, saat melihat seorang petani berjalan sejauh hampir 40 km, hanya untuk menjual setengah karung singkong kurus. Berapa rupiah uang yang akan dia kantungi? Gembar-gembor gegap gempita wisata yang menggeliat dan mempromosikan Flores sebagai surga, seolah melupakan fakta bahwa neraka kemiskinan sedang mengancam dan meneror Flores. Sangat dekat, dan tak bisa didiamkan.

*****

Saya turun dari bukit di Gili Laba ketika malam sudah menguasai waktu. Saya sebenarnya sangat betah berada di puncak bukitnya, tetapi ketika huruf-huruf di lembaran buku The Yearling makin sulit terbaca, dan juga lapar yang mulai mengerubuti lambung, saya harus turun ke kapal untuk makan malam. Selepas makan malam dengan porsi yang cukup mencengangkan–di laut, saya mudah menjadi lapar–kami tidak segera lekas tidur meski lelah dan kantuk menggelayuti kelopak mata seperti anak orang utan yang menyusu. Malam masih panjang, dan terutama, saat saya menatap langit, pemandangan langit sangat fantastis dengan bintang gemintangnya yang berlimpah. Tidak seperti saat di Wae Rebo, langit di Laut Komodo sangat jernih dan bersih. Angin laut kencang menyapu semua sisa awan sehingga bintang di ujung cakrawala timur dapat menyapa bintang lain di ujung cakrawala barat. Namun, bagi saya, baik langit Wae Rebo maupun langit Komodo sama-sama fantastisnya. Maka, sambil berjuang melawan kantuk, saya bercengkerama dengan kapten kapal mengenai kehidupan sosial masyarakat Flores dan Komodo, yang masa depannya tidak semakin membaik seiring geliat dan gencarnya promo wisata di sana.

Besoknya, saya bangun di pagi buta demi menyaksikan sunrise meski kantuk dan lelah hari sebelumnya belum sirna benar. Awan-awan tipis yang ada di kaki langit sebelah timur meyakinkan saya bahwa kemunculan sang surya tak hanya akan menjadi berkah pada hari itu, tetapi juga akan sangat indah dan mendebarkan. Dugaan yang sepenuhnya terbukti di menit-menit kemudian. Merangkak seperti bayi di usia bulan kelima, lambat dan sebelum waktunya, matahari muncul perlahan dan langsung mencuri perhatian dari bintang-bintang yang masih berusaha untuk memancarkan sinar redupnya. Upaya bintang-bintang itu, sia-sia tentu saja.

Detik-detik pertama saat matahari mulai terlihat bulat sempurna. Awal sempurna untuk sebuah hari yang sempurna

Detik-detik pertama saat matahari mulai terlihat bulat sempurna. Awal sempurna untuk sebuah hari yang sempurna

Selekas sarapan, kami langsung menuju Pulau Komodo, dengan dua tujuan utama: melihat makhluk purba komodo dan snorkeling di Pantai Merah. Ketika saya menjejakkan kaki di pelabuhan komodo, hari masih belum benar-benar terjaga. Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi kurang sedikit. Tetapi para wisatawan sudah ramai datang. Bahkan saat kami mendatangi kantor tiket untuk sewa pemandu, rombongan kami kehabisan pemandu. Meski terlihat sebagai salah satu makhluk yang malas dengan langkah yang merayap lambat, saat lapar, komodo bisa menjadi sangat agresif. Gigitannya mematikan, racunnya nyaris tak memiliki penawar. Maka kehadiran pemandu sangat diwajibkan untuk mendampingi para wisatawan. Kisah wisatawan yang meninggal karena gigitan komodo bukan sekedar mitos untuk menakut-nakuti turis belaka.

Tahun 2009, peneliti dari Universitas Melbourne
mengumumkan hasil penelitian bahwa Komodo
menghasilkan kelenjar racun. Pernyataan ini jelas
berseberangan dengan kenyataan umum yg
diterima bahwa ludah komodo beracun
karena ada bakteri ganas di air ludahnya. Hasil
penelitian tsb sangat menarik karena
bagaimanapun, komodo adalah hewan dari
keluarga kadal. Mata rantai evolusi tak pernah
menyiratkan bahwa kadal memiliki kelenjar bisa
seperti ular. Jika temuan tsb benar dan
terkonfirmasi, jelas akan sangat kontroversial
karena itu artinya ilmu zoologi terutama yang
mempelajari kadal, harus ditinjau ulang.

Ketika akhirnya saya bisa melihat rupa dan wujud komodo secara langsung, saya melihat makhluk ini sebagai sesosok pemalas. Hampir semua individu komodo yang saya temui sedang dalam posisi rebahan tidur (mungkin karena masih pagi juga sih). Tampak sangat jinak untuk didekati bahkan mungkin dibelai. Tapi tentu saja tak ada yang mau ambil resiko meraba makhluk ini. Bagi yang sering dan pernah melihat biawak, melihat komodo mungkin terasa sebagai sebuah pengalaman yang tidak terlalu mengesankan, apalagi dalam posisi dia tidur terus menerus. Sebegitu malasnya dia bergerak, bahkan beberapa ekor rusa timor yang merumput hanya sejengkal dari depan hidungnya dicuekin begitu saja. Mumpung jinak, kenarsisan kami berfoto langsung ditumpahruahkan di sana.

Pulau Komodo-nya sendiri memang cukup unik, bahkan di saat pagi. Kami yang awalnya berfikir datang kepagian malah menjadi yang kesiangan. Wajah-wajah penasaran dan excited para turis tergambar dengan jelas seperti mawar merah di rerumputan hijau yang tak mungkin keliru dikenali. Sementara penduduk (yang bermata pencaharian sbg penjaja makanan dan cendera mata) tampak ogah-ogahan membuka lapak dagangan mereka karena matahari bahkan belum setinggi tombak. Wajah kelelahan mereka karena malam sebelumnya masih tergurat dalam kantuk yang membayang. Pun para komodonya sepertinya masih teler dengan pesta tak memperdulikan lalu lalang orang yang sibuk berfoto dengannya bahkan dalam jarak sangat dekat. Kantuk di pulau ini begitu terasa bahkan sampai pelabuhannya. Hanya raut muka turis yang menunjukkan bahwa hari yang baru telah datang ke pulau ini.

*****

Ketika kami memutuskan untuk langsung menuju titik snorkeling setelah kunjungan melihat komodo, awalnya langsung terjadi keluhan panjang dan bersahut-sahutan. Siapa yang mau snorkeling di pagi hari sementara air laut masih dingin membekukan bahkan sarapan belum turun ke usus? Tak ada yang benar-benar yakin akan nyemplung ke air saat kami pergi ke Pantai Merah. Pantai Merah adalah sebutan penduduk setempat untuk segaris pasir di tepian pulau Komodo yang panjangnya tak sampai 200 meter. Pecahan karang merahnya berbaur dengan pasir putih kekekuningan menimbulkan kesan pasirnya berwarna merah. Tapi, itu menurut penduduk setempat. Bagi turis yang mendamba hal-hal berbau romantis, pantai tersebut dijuluki sebagai Pantai Pink. Dan, kecuali penduduk setempat, semua orang sekarang menyebut pantai tersebut sebagai Pantai Pink. Bagaimanapun, embel-embel “pink” lebih menjual. Dan nama itu yang akan selalu muncul di media iklan dan promosi.

Bercak-bercak merahnya memang terlihat jarang dan sedikit. Tetapi dari jarak jauh, sudah cukup menimbulkan efek warna merah muda yang kesohor itu

Bercak-bercak merahnya memang terlihat jarang dan sedikit. Tetapi dari jarak jauh, sudah cukup menimbulkan efek warna merah muda sepantai yang kesohor itu

Pasir pantainya sendiri memang mengagumkan saat kaki saya mendarat. Halus tipis dengan bercak-bercak warna merah yang akan terlihat berwarna merah jambu jika dilihat dari kejauhan. Warna lembayung lembut dan halus seperti sutera saat pasirnya bersentuhan dengan telapak kaki saya. Ketika air lautnya menyentuh pasir, pemantulan acak cahaya menjadikan kesan merah mudanya semakin tegas dan semarak. Dan begitu sampai di sana, apa yang dicemaskan saat berangkat bahwa airnya akan masih dingin membekukan, langsung sirna saat melihat dari atas kapal koral dan ikan berseliweran di bawah air, saya harus langsung terjun berenang. Maka terjadilah, kami snorkeling jam 8 pagi.

*****

Pemandangan bawah laut lepas Pantai Merah membuat kami nekat menerjang dingin. Tak terasa sudah hampir dua jam kami berenang kesana kemari mendatangi setiap area sisi pantainya sampai harus dihentikan oleh kapten kapal demi mengejar target kunjungan kami berikutnya, Pulau Padar yang melegenda itu. Maka, meski kami kelelahan berenang, kami harus melanjutkannya dengan mendaki bukit-bukit di Padar. Saya pikir, ketika saya mendaki Pulau Gili Laba, pemandangan di sana sudah cukup mewakili semua keindahan kepulauan Komodo. Tetapi saya salah. Di Padar, atraksi pamer keajaiban Flores belum habis. Sambil mendaki di bawah terik menyengat, menarik nafas kelelahan yang tak berkesudahan, saya berbalik ke menengok belakang, dan selalu terkejut melihat kemegahan alam luar biasa yang tersaji.

Jika Gili Laba sangat tenang dan gagah, maka Padar terlihat sangat genit dan pesolek. Lekukan-lekukan sekujur pulau ini bak penari legong yang terus bergerak mengikuti irama tarian erosi angin dan abrasi ombak. Berada dalam wilayah arus perairan kencang, waktu telah memahat pulau ini dalam bentuk yang semrawut dan pola tak teratur yang justru menjadikannya sangat cantik dan mencengangkan. Saya yang saat itu mendaki puncaknya saat terik panas menyengat, tak memedulikan dahaga untuk terus mendaki ke puncaknya yang medannya sebenarnya sama sekali tak mudah. Dahaga penasaran mengalahkan dahaga akan air, ketakjuban menepiskan kelelahan.

Seperti sulur yang menjalar, Padar merambat dan bercabang dan tak mungkin bisa menjelajahi semua puncaknya hanya dalam seharian

Seperti sulur yang menjalar, Padar merambat dan bercabang dan tak mungkin bisa menjelajahi semua puncaknya hanya dalam seharian

*****

Jika bukan karena takut arus semakin kencang (ombak semakin besar) pada sore hari, kami mungkin akan betah berlama-lama di puncak Padar. Pengorbanan menuju puncaknya, sebuah pendakian melalui medan terjal berdebu, membuat kami bermaksud ingin berlama-lama ada di puncaknya. Penebusan dengan pemadangannya yang spektakuler dan kelelahan membuat kami enggan turun kembali ke kapal. Tapi apa daya, kami tetap harus kembali ke bawah jua. Perjalanan turunnya ternyata hampir lama seperti mendakinya. Saat turun, pandangan mata menghadap langsung ke depan turunan, dimana keajaiban berada begitu dekat dan nyata. Kamera tak henti-hentinya mengambil gambar karena kami sadar, ingatan akan memudar. Keindahan seperti ini harus diabadikan sehingga ketika kenangan semakin menumpul, gambar akan membuat ingatan tersegarkan.

Begitu sampai kembali di kapal, perpaduan kelelahan pendakian, buaian alun yang ditiup angin yang meninabobokan, kawan-kawan saya segera saja tertidur pulas dalam tempo sesingkat-singkatnya. Bagi saya, sambil memandang pulau Padar yang semakin menjauh, ini saatnya untuk membaca buku. Maka pembacaan The Yearling pun dilanjutkan.

Setelah membaca sekitar dua puluhan halaman, sang kapten kapal datang mendekati saya dan melanjutkan obrolan malam sebelumnya yang terputus. Dengan nada prihatin–dan suara putus asa yang tak bisa disamarkan–sang kapten menceritakan kehidupan nelayan Komodo yang semakin memprihatinkan tiap harinya.

Kepulauan Komodo, di luar perairannya, dianggap tak menarik secara komersil. Secara turun-temurun, beberapa pulau lepas pantai di sana dikuasai oleh keluarga-keluarga ningrat di Labuan Bajo. Ketika Komodo melejit namanya sebagai tempat wisata, merasa bahwa pulau-pulau ini milik keluarga serta kebutuhan akan uang, dan dianggap tak menarik bagi orang lokal, pulau-pulau sekitar Komodo dijual kepada orang asing. Maka, kita mendengar mengenai sengketa pulau yang dijual kepada orang asing.

“Kepolosan” masyarakat nelayan Komodo sana juga menjerumuskan mereka pada kemiskinan yang menggurita. Sang kapten kapal, merupakan mantan pegawai koperasi nelayan. Awalnya dia gigih memperjuangkan program bantuan pemerintah untuk program berkelanjutan mengatasi kemiskinan, misal melalui sistem simpan pinjam modal, dll. Tetapi setelah berjuang hampir 5 tahun, dia akhirnya menyerah. Digerogotinya dana bantuan oleh mulut-mulut rakus, sikap masyarakat kepulauan yang serba pasrah dan ingin hidup instan, membuat dia akhirnya menyerah ketimbang masuk lebih lanjut ke dalam jebakan tindak pidana. Dengan getir, dia menceritakan bagaimana realitas kehidupan masyarakat Komodo dibalik gegap gempita promo wisatanya. Secara berulang dan hampir konsisten setiap lima menit, dia mengucapkan kalimat yang sama, “kasihan nelayan komodo…

Dari mulai aspek sosial ekonomi, obrolan mengenai kehidupan nelayan Komodo merembet jauh sampai ke topik politik. Seperti halnya daerah kantong-kantong ekonomi seret, penduduk Komodo (dan Labuan Bajo) adalah korban-korban kenistaan pelaku kampanye pemilu yang tak bertanggung jawab. Dimanja di awal pencalonan, ditelantarkan di masa kekuasaan. Saya tidak ingin mengeluarkan tuduhan siapa yang bertanggung jawab, yang jelas, kemiskinan yang menjerat nelayan dan petani adalah hasil dari proses akumulasi kekuranggesitan pemerintah dalam merespon dan menciptakan program tepat guna yang dibutuhkan masyarakatnya. Pemberian bantuan langsung tunai (atau sekedar pembangunan fasilitas umum) tidak serta merta menyelesaikan solusi. Ini adalah upaya kulminasi proses tak-efisien yang telah berlangsung lama. Maka, upaya perbaikannya pun tak bisa instan dan segera. Program yang berkesinambungan, konsisten, dan teguh adalah yang dibutuhkan. Tapi, siapa yang peduli dengan hal-hal ribet seperti itu?

*****

Komodo, terkenal dengan reputasinya sebagai makhluk buas dan tak kenal ampun dalam memburu mangsa. Sebagai predator dan berada di puncak piramida makanan di pulau kecil ini, komodo terkenal tak hanya buas terhadap mangsa perumput, tetapi juga menjadikan spesies sesamanya sebagai makanan. Tetapi, perjalanan di Flores semakin menyadarkan saya bahwa sebuas apapun hewan liar terhadap mangsanya, ada makhluk lain yang lebih buas. Tak hanya pada hewan buas untuk diburu tetapi juga pada makhluk-makhluk tak berdaya. Dan itu semua dilakukan atas nama keserakahan. Homo homini lupus*.

PS:

* = frasa ini secara harfiah bermakna ‘manusia adalah serigala bagi manusia lain’, sebuah frasa terkenal yang sejarahnya dapat ditelusuri sampai Plautus di abad ke-2 SM untuk menggambarkan sifat kompetisi dan invasi manusia terhadap manusia lain. Istilah ini semakin populer saat filsuf aliran empirisme Thomas Hobbes di abad ke-17 menuliskannya dalam buku De Cive yang membahas hubungan masyarakat dan negara.

Advertisements

3 thoughts on “Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 3]

  1. Pingback: Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 2] | melquiades caravan

  2. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

  3. Pingback: Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 3] | melquiadescaravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s