Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 1]

“He lay down beside the fawn. He put one arm across its neck. It did not seem to him that he could ever be lonely again.”
― Marjorie Kinnan Rawlings, The Yearling

Oke, saya melakukan sedikit kebohongan di sini. Meski judul tulisan ini memakai dua nama gunung sekaligus, tetapi saya tidak mendaki kedua puncaknya. “Sedikit”, karena pada nyatanya saya memang mendaki selama hampir 5 jam untuk mencapai sebuah tempat yang diapit kedua gunung tsb. Sebuah tempat yang mengingatkan saya bahwa saya seolah pulang kembali ke rumah meski saat itu saya sedang jauh dari kampung halaman. Nyaman, tenteram, damai, sejuk, dan tentu saja indah, rumah itu bernama “Wae Rebo”.

Flores, pulau di mana Wae Rebo berada, sudah membuat saya terkesiap bahkan sejak pertama kali kaki mendarat di tanahnya. Dijejali bukit-bukit tandus nan gersang, membuat jalan rayanya mengular bak urat yang mengakar seperti pada gambar organ jantung di buku sekolahan, selalu membuat saya terkejut di setiap kelokannya. Sungai-sungai keringnya hening tak bernada, tenaganya yang terkuras kemarau tak kuasa menciptakan keriuhan. Aroma tanah merahnya sensual, kering dengan bau garam samar-samar meski saat saya sudah berada jauh dari laut. Tak ada bunyi kelepakkan sayap burung, hanya suara angin yang berbenturan dengan tanah keras dan membuat semak-semak berbisik-bisik bahkan di malam tersunyinya. Bebatuan, yang jumlahnya secara mengejutkan berlimpah, seolah menjadi saksi bahwa pulau purba ini memang memiliki definisi yang berbeda mengenai “keindahan” dengan yang ada di Jawa. Pulau ini mengingatkan saya pada sosok gadis remaja yang dipinggit; diam, gelisah, dan menggoda.

*****

Dari jarak ratusan kilometer dari langit sebelum Bandar Udara Komodo saat pesawat masih mengudara, Flores (dan pulau-pulau di sekitarnya) memang terlihat berbeda. Lanskapnya yang purba, tak menyisakan kerimbunan apapun kecuali di secuil tempatnya yang bergunung dan masih menerima kemurahhatian air hujan, sisanya hanya ada debu dan tanah merah. Pulau kecokelatan yang sangat kontras dengan Pulau Lombok dan Sumbawa yang sebelumnya saya lewati. Dan begitu mendarat di Bandara Komodo, semua prasangka saya selama di atas pesawat, terbukti sudah, tapi juga jauh lebih menarik dan lebih banyak kejutan.

Saya mendarat di Labuan Bajo (kota paling barat di Flores sekaligus gerbang menuju kawasan wisata Taman Nasional Komodo) pada pagi hari, dan terik langsung menyelimuti saya dengan keteguhannya yang luar biasa. Tak ada kehijauan kecuali beberapa rumpun semak pantang menyerah yang hanya bisa tumbuh di tempat sekering itu. Pepohonan kurus bak orang yang kena demam selama bertahun-tahun. Dan karenanya, begitu sampai, saya tak membuang waktu untuk segera naik ke mobil dan memulai perjalanan ke Wae Rebo.

Salah satu pintu masuk menuju Gua Batu Cermin. Tak perlu imajinasi liar untuk bisa membayangkannya sebagai Batcave tempat Bruce Wayne berlindung

Salah satu pintu masuk menuju Gua Batu Cermin. Tak perlu imajinasi liar untuk bisa membayangkannya sebagai Batcave tempat Bruce Wayne berlindung

Mengingat perjalanan menuju Wae Rebo sangat jauh (hampir 8 jam hanya untuk sampai desa Denge, pemukiman terdekat dari Wae Rebo), saya menyempatkan diri untuk mampir ke Gua Batu Cermin. Melalui jalan setapak yang dirimbuni pepohonan bambu, menciptakan ilusi seolah berjalan melalui terowongan, saya menuju Gua Batu Cermin di tengah terik pagi memanggang. Jaraknya dari bandara sangat dekat, tak sampai seperempat jam dengan mobil.

Gua Batu Cermin adalah perpaduan unik antara mitos, kisah mistik, kesakralan, dan pesona sains. Dihasilkan dari proses pasang surut muka air laut di masa lampau, gua ini terbentuk dari batuan karbonat dan garam yang melarut oleh air laut yang surut. Beberapa batuan karbonatnya bahkan berasa asin–berdasarkan pengakuan sang pemandu yang tak saya coba setelah mempertimbangkan berapa ribu orang pengunjung menjilati batu yang sama? Ewww… Stalagmit dan stalaktitnya meski tidak berukuran raksasa, tetapi tumbuh secara unik dan membentuk pareidolia yang berkaitan dengan ritus keagamaan terlebih dalam suasana dingin dan hening gua yang luar biasa–sangat kontras dengan kondisi di luar gua. Maka, tak mengherankan jika beberapa stalaktit dan stalagmit yang terbentuk dicitrakan dan diasosiasikan dengan hal-hal sakral dan magis. Misal, ada stalagmit yang mirip dengan citra perempuan. Bagi masyarakat Flores yang mayoritas Katolik, dengan cepat mengasosiasikan citra tsb sebagai Bunda Maria. Hawa gua yang mendinginkan, akan membuat batu apapun di dalam gua bernuansa memberkatkan.

Eksotisme gua ini juga bukan sekadar stalagmit dan batuan asinnya saja. Di salah satu chamber di atap, menggantung cetakan fosil kura-kura. Saya mengamati fosil ini cukup lama sambil membayangkan (secara keliru dan imajinatif tentu saja) kalau kura-kura tsb sedang jalan merayap terbalik di atap gua ala Spider-Man kemudian mati karena dikutuk menjadi batu. Haha. Dan, di salah satu lorong sempit, terdapat sebuah cerobong cahaya. Pada saat yang tepat dan di musim hujan, cerobong cahaya tsb akan tepat mengenai genangan air, menciptakan ilusi optis sebuah genangan kemilau berbentuk cermin. Dari sanalah nama gua ini berasal. Saat saya datang, sedang musim kemarau sehingga efek cermin tsb tak tampak. Tetapi, ketika saya berdiri di bawah cerobong cahaya tsb, saya seolah merasa terberkati oleh cahaya sementara kegelapan mengurung dan siap menelan di sekeliling saya.

Secara mengejutkan, sang pemandu gua kami–setiap rombongan harus diiringi seorang pemandu–ternyata sudah mendapat training memadai tentang kondisi geologis gua tsb. Jadi, secara fasih, dia menceritakan mengenai proses geomorfologis pembentukan gua tsb. Hampir akurat dan lengkap, sehingga saya yang tadinya berniat menambahkan atau mengoreksi nyaris tak punya celah saat mendengar penjelasannya. Seorang teman geologis yang jadi rombongan saya bahkan saya ledekin apakah dia bisa menjelaskan sebaik sang pemandu yang sudah pasti tak menginjak bangku kuliah, haha.

Tidak sebesar atau sefantastis gua-gua yang pernah saya datangin sebelumnya tentu saja–setelah mengunjungi Gua Jomblang saya jadi punya standar sendiri mengenai definisi sebuah gua yang ‘dahsyat’.  Tetapi, keheningan Gua Batu Cermin dengan segala cerita misteri dan pesonanya membuat saya betah berlama-lama di gua ini. Nyaris seperti mengunjungi sebuah kapel yang dibuat alam, saya merasakan sebuah kesyahduan yang mendamaikan saat berada di dalam gua tsb.

*****

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Wae Rebo, saya juga menyempatkan mampir ke sebuah bukit yang oleh penduduk setempat dinamakan Bukit Cinta. Sebenarnya ini bukit biasa saja, dan agak membuat saya malas mendakinya dalam kondisi medan berdebu di tengah terik siang yang memanggang dengan ketinggian yang lumayan. Tetapi dengan alasan ‘mumpung-kesini’, saya memaksakan kemalasan dan keengganan saya untuk segera mendaki ke atas bukti itu. Hasilnya, benar-benar tak mengecewakan. Pelabuhan Labuan Bajo dengan warna biru lautnya yang legendaris, kapal-kapal putih yang bersandar malas di dermaga, dan sesekali pesawat yang terbang rendah untuk mendarat di landasan bandara Komodo, bukit cantik ini tepat berada di himpitan bandara dan pelabuhan. Saya menghabiskan waktu setengah jam sendiri untuk berfoto-foto (durasi yang sama juga untuk mendaki dan menuruninya). Saya tebak, nama bukit itu didapat tak hanya karena pemandangan puncaknya yang mendebarkan dan menimbulkan romantisme sendiri, tetapi juga karena ketika mendaki/menuruninya, saat para pasangan yang mendaki harus berpegangan supaya tak tergelincir.

Secuil pemandangan dari Bukit Cinta. Biru, hijau, Cokelat, dan angin yang membawa aroma garam

Secuil pemandangan dari puncak Bukit Cinta. Biru, hijau, cokelat, dan angin yang membawa aroma garam segar

Selama delapan jam berikutnya, saya bermobil menembus lanskap Flores Barat menuju Denge. Saya pikir, delapan jam berkendara akan merupakan sebuah perjalanan yang membosankan. Tetapi, seperti yang saya tuliskan sebelumnya, saya selalu terkejut di tiap kelokan jalannya. Pohon jati, salam, eukaliptus, randu, dan pinus-pinus kering menyemburat di sela-sela tebing dan bebatuan. Di setiap belokan tajam, saya selalu memasang kamera dalam posisi standby. Tak tega melihat saya selalu memegang kamera sepanjang jalan, sang sopir menawarkan untuk menghentikan mobilnya berkali-kali. Dan ketimbang diteriakin satu rombongan karena memperlambat laju mobil, saya harus menolak tawaran tsb berkali-kali juga.

Karena lelah mendaki Bukit Cinta, akhirnya saya tertidur juga di mobil saat hampir menjelang senja. Saya baru bangun ketika bunyi deburan ombak membangunkan saya. Ya, dalam perjalanan antara Labuan Bajo menuju Denge, kami ternyata menyusuri pantai selatan Flores–saya awalnya mengira kami akan melalui kota Ruteng sebagaimana tulisan di buku/blog yang saya baca, yang ternyata kota itu dilewati hanya jika kami menuju Wae Rebo dari arah timur/tengah Flores, sementara saya dari arah barat. Karenanya, rute yang kami lewati benar-benar senyap dan sepi karena tidak melewati kota. Selepas maghrib, di jalan yang hanya muat satu mobil meski itu jalan dua arah, praktis hanya mobil kami saja yang lewat. Dan kabut membutakan jalan sehingga kadang membuat merinding. Dalam kesenyapan yang melenakan timbul kewaswasan berdoa mobil kami tak jatuh ke jurang. Makanya, ketika sang supir menunjukan gejala mengantuk, rombongan saya langsung teriak menghentikan mobil dan meminta supir istirahat sekitar 5 menit untuk menyegarkan dia kembali. Kabut, dalam keheningannnya yang membutakan, bisa sangat mematikan.

Kesenyapan semak belukar pinggir jalan, jurang-jurang yang membisu dan mengancam, dan kabut yang malas bergerak senantiasa mengikuti perjalanan rombongan saya. Bahkan pernah ada selama satu jam penuh dalam suasana berkabut, kami tak menemukan rumah pemukiman sehingga timbul pikiran paranoid apakah kami tersesat. Tapi pikiran tsb langsung ditepis begitu teringat bahwa selama 6 jam terakhir, hanya satu jalan yang kami tempuh, tak ada persimpangan. Begitu bertemu pemukiman (yang jumlah rumahnya tak seberapa banyak) kami langsung lega, sementara begitu masuk kawasan hutan semak belukar langsung hening mencekam.

Hi mister!“, setiap melalui pemukiman,
para penduduk menyapa dan melambaikan
tangan kepada kami seolah kami adalah
turis asing meski saat itu mereka sedang
ada di teras rumah atau di pinggir jalan.
Awalnya geli, tapi malah keterusan menjawab
lambaian tangan dan teriakan “Hi!” dengan
alasan beramah tamah dan terutama
mengusir kebosanan 8 jam bermobil.

Untuk mengusir ketegangan, kami memutar lagu-lagu. Stok musik yang dimiliki sang supir adalah lagu-lagu berbahasa Spanyol dan bahasa Manggarai. Saya juga tak mengerti bagaimana bisa dia bisa memiliki banyak koleksi lagu Spanyol mengingat dia sendiri sepertinya pasti tidak mengerti lirik-liriknya. Jalan-jalannya benar-benar senyap. Selama 8 jam berkendara, kurang dari 10 mobil yang berpapasan dari arah sebaliknya. Jadi, meski saat itu sudah gelap, begitu kami menemui laut, kami kegirangan. Benar-benar sebuah selingan yang menyenangkan.

Kami tau kami sedang berada di pinggir pantai karena kami mencium aromanya, yang telah menjemput kami bahkan sebelum suara gemuruh ombaknya datang. Sementara mata kami dibutakan oleh malam, yang tak menyisakan secercah cahaya apapun karena memang tak ada lampu pemukiman. Kadang kami melihat beberapa petromaks berkelap-kelip di pantai, pertanda beberapa penduduk sedang mencari kerang. Ingin sekali kami berhenti dan menanyai mereka. Tapi mengingat rute menuju Denge masih jauh dan malam semakin larut, kami membatalkan niat tsb. Ada kejadian yang lumayan lucu saat itu. Penduduk yang tak terbiasa kedatangan mobil–toh tempatnya super terpencil–dengan asyiknya mandi di selokan pinggir jalan dalam kondisi telanjang yang tak ayal membuat teman-teman saya yang perempuan memekik kaget. Bahkan sang sopir sambil mengusap keringat dingin sempat berujar gugup, “saya kira tadi bocah yang telanjang itu tuyul. Hampir saya lindas…“. Sementara itu, ditempat yang benar-benar antah berantah, dimana pemukiman terakhir yang kami jumpai ada hampir sejam berlalu, di pinggir jalan yang sepi dan gelap, ada penduduk lokal yang mengangkat laptop dalam kondisi menyala dengan modem tertancap mencari sinyal. Bagaimana dia bisa sendirian di tempat seterpencil itu dengan gawai canggih, membuat kami berspekulasi liar. Flores tak pernah kehabisan bahan untuk membuat kami terkejut.

*****

Perjalanan menuju Denge (desa terakhir sebelum menuju Wae Rebo) adalah sebuah perjalanan yang mencekam, menakjubkan, sekaligus menyedihkan. Dalam perjalanan panjang tsb, kami melewati desa-desa yang begitu terpencil (kalau tidak dikatakan terisolir). Penduduk desanya menggantungkan diri pada hasil berladang. Iklim kering Flores tak akan cukup untuk membuat mereka berlebihan dengan hasil panennya. Suasana kemiskinan menggigit-gigit perasaan saya dalam sebuah kebisuan dan kebingungan, apa yang bisa saya perbuat untuk mereka. Meski ada akses jalan raya mulus tetapi mulusnya karena praktis tak terpakai, kebanyakan dari mereka harus jalan kaki bekilo-kilo (atau malah puluhan kilometer) untuk pergi ke desa tetangga, menjual hasil panen, atau berobat. Hanya beberapa rumah yang tampak memiliki sepeda motor, meski kebanyakan berakhir sebagai pajangan karena tak ada stasiun penjual BBM. Ada kendaraan umum (semacam mobil pick up yang dimodifikasi agar menampung sebanyak mungkin penumpang), tapi jumlahnya terbatas dan di saat tertentu saja (biasanya di dini hari buta jam 2 untuk mengangkut sayur ke pasar).

Kata “pembangunan” hanya berakhir pada manisfetasi “jalan raya”, seolah makna “pembangunan ekonomi sosial budaya” putus setelah jalan terbentuk tanpa ada upaya untuk menciptakan program berkelanjutan bagi masyarakatnya. Rumah yang amat sangat sederhana serta kebingungan saya mencari tanda bangunan publik sekedar seperti papan nama desa, meyakinkan saya bahwa daerah-daerah ini tak terjangkau janji-janji pembangunan yang menyejahterakan. Meski tampaknya janji hampa politik pemilu, saya yakin, sampai jua di sana.

*****

Jika menuju Kampung Denge di Desa Dintor saja saya sudah harus melewati daerah-daerah yang masuk kategori “terpencil”, maka ketika sampai Denge, saya merasa “terkucil dan tersesat”, jauh dari mana-mana. Denge sebagai lokasi terakhir yang bisa ditempuh bermobil bahkan tak terjangkau sinyal HP. Secara administratif, Wae Rebo terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, NTT. Berada di pelosok barat daya Flores, Wae Rebo benar-benar terisolir dari dunia sekitarnya.

Begitu terkucilnya Wae Rebo, sampai-sampai kampung adat menakjubkan ini baru “ditemukan” tahun 1929 oleh misionaris Belanda. Turis asing sendiri baru datang ke Wae Rebo pada tahun 2002 dan langsung menjadi sensasi dan kesohor di dunia backpackeran internasional. Ironisnya, turis Indonesia sendiri baru datang ke sana tahun 2008. Tahun-tahun yang relatif baru ini menunjukkan betapa Wae Rebo amat terpencil dan terisolir.

Patok-patok penanda jarak menuju Wae Rebo, Angka yang tercantum menunjukan sekian meter lagi menuju Wae Rebo

Patok-patok penanda jarak menuju Wae Rebo, Angka yang tercantum menunjukan sekian meter lagi menuju Wae Rebo

Dari Kampung Denge, saya harus mendaki antara 4 sampai 5 jam menuju Wae Rebo. Bagi yang terbiasa hiking, medan menuju sana tidak benar-benar sukar. Menerobos jalur setapak yang teduh, sepanjang jalan kami lebih banyak menjumpai wisatawan asing ketimbang lokal–sebuah kenyataan getir bagi saya mendengar lebih banyak percakapan yang dilakukan dalam bahasa Inggris/Perancis/Belanda ketimbang Indonesia.

Alasan utama mengapa Wae Rebo bisa begitu terisolir adalah kampung adat ini tepat terletak di punggungan pertemuan dua gunung, Gunung Tongkor Kina dan Gunung Porto. Ketinggian Wae Rebo sendiri sekitar 1100-an meter di atas permukaan laut. Ketinggian elevasi tanah dan posisinya yang diapit gunung, membuat kampung adat ini tak hanya terisolir secara sosial, tetapi juga terjaga kemurniannya secara kultural.

Selain agama “resmi” Katolik sebagai agama yang dianut, penduduk di sana menjalankan adatnya secara teguh. Ketika kami sampai di desa, kami disambut oleh pembacaan doa adat, meminta izin kepada leluhur desa agar kami diizinkan jadi warga Wae Rebo. Bagi Wae Rebo, tak ada istilah tamu, semua yang datang akan dianggap sebagai warga Wae Rebo.

Dan... Saya adalah pengunjung ke-2000 Wae Rebo! Setelah bergeser-geser antrian duduk, akhirnya saya berhasil mendapatkan angka genap tsb. Haha.

Dan… Saya adalah pengunjung ke-2000 Wae Rebo! Setelah bergeser-geser antrian duduk, akhirnya saya berhasil mendapatkan angka genap tsb. Haha.

Begitu sampai Wae Rebo, semua kepayahan selama pendakian terbayarkan oleh keheningan dan keindahan Wae Rebo. Saat kami mendaki ke sana, adalah hari menjelang perayaan 17 Agustus. Anak-anak Wae Rebo, yang sehari-hari sekolah di Denge, pulang ke rumah mereka di Wae Rebo karena libur. Pada hari-hari biasa, kampung sepi karena anak-anaknya diinapkan di Denge. Tapi saat kami tiba di sana, suasana semarak dan ramai oleh anak-anak yang bermain. Ada hampir seratus anak kecil bermain di sana. Dan secara kontras, suasana ramai hingar bingar pekikan anak-anak itu, di Wae Rebo justru menimbulkan kedamaian. Seperti di rumah sendiri.

*****

Wae Rebo sendiri bermakna “mata air”,
nama yang didapatkan dari keberadaan
mata air sejauh 2 km dari pemukiman–dengan
air terjun mungil bernama Cunca Neweng.
Kampung ini pertama kali ditemukan “kembali”
tahun 1997 setelah terlupakan puluhan tahun
oleh antropolog Belanda Catherine Allerton
yang menggugah para turis asing datang ke sana.

Saya belum banyak membaca referensi tentang kampung adat menakjubkan ini. Mungkin saya sudah membacanya di salah satu buku antropologi dan ensiklopedia budaya saat masih SMA sehingga ingatan saya tentang kampung adat ini samar-samar. Dari beberapa turis yang saya tanyai, sejarah kampung adat ini bisa dilacak hingga abad ke-XI, dengan asal-usul yang mengejutkan, konon mereka berasal dari tanah Minangkabau! Terisolir dan terpisah selama seribu tahun, membuat mereka sudah jauh berbeda dengan adat Minang yang sekarang kita kenal. Tak ada jejak bahasa atau sekedar ornamen bangunan yang merujuk pada budaya Minang. Termasuk pada rumah adat Wae Rebo yang menjadi buah bibir, legenda, dan daya tarik turis-turis Eropa datang ke tempat seterpencil ini; rumah adat Mbaru Niang.

Mbaru Niang sangat ikonik karena bentuknya yang kerucut sempurna bak nasi tumpeng beras hitam–udara dingin di sana selalu membuat saya lapar dan mengasosiasikan apapun dengan makanan, haha. Ada 7 rumah Mbaru Niang di sana yang usianya tak bisa diperkirakan saking lamanya. Belakangan, di salah satu bukit sebelah barat kampung, dibangun tambahan Mbaru Niang ke-8 yang dialihfungsikan sebagai rumah baca dan kadang tempat tidur wisatawan yang tak tertampung di 7 rumah utama.

Semburat cahaya pagi, kopi manggarai pekat, dan keindahan rumah Mbaru Niang. Apalagi yang inginkan dalam hidup?

Semburat cahaya pagi, kopi manggarai pekat, dan keindahan rumah Mbaru Niang. Apalagi yang harus kita cemaskan dalam hidup ini?

Meski secara kasat mata di dalam rumah itu hanya ada satu ruangan tunggal (diameter 8 meter) saja tanpa sekat dan tempat tinggal beberapa keluarga sekaligus (ada 44 keluarga di 7 rumah), nyatanya Mbaru Niang terbagi-bagi menjadi beberapa tingkatan, lantai utama tempat tidur (Lutur), tingkat selanjutnya adalah sebagai tempat menyimpang perkakas pertanian (Lobo), tempat benih (Lentar), hasil panen (Lempa Rae), dan di puncak terdapat penyimpanan sesajian dan persembahan untuk leluhur (Hekang Kode). Keunikan dan keasrian rumah adatnya menjadi buah bibir dan pesona utama Wae Rebo, tak heran jika pada tahun 2012 rumah adat ini mendapat penghargaan dari UNESCO Asia-Pacific Heritage Award sebagai bangunan adat terbaik mengalahkan kandidat lain se-Asia Pasifik. Dan, entah mengapa, seperti halnya pembangunan di desa-desa menuju Wae Rebo, tak banyak orang dan pemerintah Indonesia yang mengetahui hal luar biasa ini.

*****

“Starry, starry night
Paint your palette blue and gray
Look out on a summer’s day
With eyes that know the darkness in my soul”

Don McLean ― Vincent (Starry Starry Night)

Kelelahan mendaki seharian, saya tidur cepat, dan tak mengejutkan jika tidurnya saya lewatkan tanpa mimpi. Namun, sebelum tidur saya menyempatkan menengok keadaan langit malam Wae Rebo. Setiap penjurunya membuat saya tercekat. Ekor dari Bimasakti, yang meski masih secuil terbit, terlihat penuh gemintang yang bergemerlapan. Suasana kampung yang terpencil semakin menegaskan bintang-bintang teredup untuk berani memancarkan sinarnya–hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan saat di kota yang penuh polusi cahaya dan udara. Sisa kabut tadi sore yang masih belum hilang, tertiup angin turbulensi gunung, menimbulkan efek yang semakin mendebarkan; langit tampak seperti lukisan The Starry Night-nya Van Gogh. Kalau bukan karena kantuk, saya akan terus berdiri tertegun di sana. Awan-awan sentrifugal yang berarak dan menari-nari merayakan malam yang gemilang, bintang gemintang bersorak di segenap penjuru langit.

Seperti biasa, sebelum tidur, saya menyempatkan diri membaca buku, saat itu buku yang dibaca adalah The Yearling dari Marjorie Kinnan Rawlings. Buku ini adalah buku yang sendu dan mengharu biru. Tetapi karena saat itu masih membaca di bagian awal-pertengahan, saya masih merasakan kehangatan yang tercurah dari buku itu. Sebuah buku yang menceritakan kehidupan para pioneer Amerika awal abad ke-19, yang memancarkan kehangatan akan makna penting sebuah rumah. Dan saat di Wae Rebo, pembacaan buku tsb semakin terasa intim dan memeluk. Hangat dan akrab tanpa secuil pun rasa sepi. Saya seperti pulang ke rumah.

(bersambung)

Advertisements

6 thoughts on “Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 1]

  1. Pingback: Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 2] | melquiades caravan

  2. Pingback: Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 3] | melquiades caravan

  3. Pingback: Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 1] | melquiades caravan

  4. Pingback: Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 1] | melquiades caravan

  5. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

  6. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2016 | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s