Gunung Phnom Aoral (Kamboja), Agustus 2015 [bag. 1]

“Why they are doing this, Pa?” Kim asks.
“because they are destroyers of things.”
―Loung Ung, First They Killed My Father p. 27

Pendakian ke Phnom Aoral bagi saya bukan sebuah pendakian biasa sebagaimana yang selama ini saya jalani. Pendakian ke gunung tsb adalah sebuah upaya relokasi kenangan dan trauma. Bahkan di tempat sesenyap dan seterpencil ini, jejak berdarah kekejaman Khmer Merah yang sudah berumur 40 tahun masih menjangkau dan tercium jelas. Nama Pol Pot dan genosida memang sudah bak keping koin dengan dua sisi yang tak terpisahkan. Dan, entah mengapa, dengan segala luka dan jejak dosa di sana, mengingatkan saya pada rumah tempat tinggal saya, Indonesia. Indonesia, punya luka dan dosa yang sama dengan Kamboja. Dan keduanya, berusaha melupakan aib lama itu dengan malu dan enggan, dianggap seolah tak pernah ada, dan tak pernah mengaku dan meminta maaf kepada para korban.

Membaca Kamboja memang seperti berkaca sendiri tentang Indonesia. Kedua negeri ini tak hanya bertalian nasib sejak raja-raja di pulau Jawa pada era Dinasti Syailendra berusaha menginvasi kerajaan Khmer, tetapi juga hingga abad modern, ketika kedua negeri ini dihancur-redamkan dengan komunisme meski dengan cara yang berbeda dan ekstrem. Sementara Kamboja harus dihitamkan sejarahnya saat Khmer Merah (dengan nama Pol Pot yang kekejiannya setara dengan Hitler dan Stalin), membawa faham komunisme radikal sehingga terjadi pembantaian dan genosida massal. Sementara Indonesia dihancurkan oleh propaganda orde baru dalam memberantas komunisme yang kebablasan dan tanpa ampun, menciptakan sebuah paranoid dan provokasi dalam pembantaian terhadap warga yang dicurigai komunis. Beda pelaku dan korban tetapi hasilnya sama; hanya meninggalkan kepedihan dan luka berkepanjangan selama bergenerasi-generasi.

*****

Ada dua pemicu besar mengapa saya memaksa teman saya untuk segera mendaki ke Phnom Aoral. Pertama, karena film Don’t Think I’ve Forgotten: Cambodia’s Lost Rock and Roll (John Pirozzi, 2014). Film dokumenter brilliant ini, dengan cara yang amat cerdik, menyajikan sebuah horor pembantaian melalui kisah terhapusnya satu generasi musisi di Kamboja karena dibantai oleh Khmer Merah. Saya benar-benar surprise ketika tahu ada film dokumenter tentang kemanusiaan yang bernarasi unik seperti ini, terlebih mengenai Kamboja, negara yang sebelumnya saya tidak familiar banyak mengenai sejarahnya. Minat saya tentang Kamboja sendiri baru tumbuh setelah menyaksikan film The Missing Picture (Rithy Panh, 2013). The Missing Picture juga merupakan film dokumenter unik, sebuah film yang menceritakan horor genosida melalui media animasi tanah liat ala Shaun The Sheep.

First They Killed My Father by Loung Ung

First They Killed My Father by Loung Ung

Hal kedua yang membuat saya untuk gigih meminta teman saya hiking ke Phnom Aoral adalah, sebagai salah satu upaya memahami sejarah Kamboja, saya membaca beberapa buku tentang korban genosida Khmer Merah. Dan saya bersyukur tenyata ada teman saya yang memberikan buku dengan tema ini. Alhasil, selama perjalanan di Kamboja, saya membawa buku First They Killed My Father (Loung Ung) yang salah satu kutipannya saya cantumkan di atas. Buku memoir ini bertutur tentang seorang bocah perempuan 5 tahun yang diceraiberaikan dari keluarganya karena Khmer Merah berkuasa dan harus menjadi prajurit militer di usianya yang ke-7, dia harus bertahan dari kelaparan dan kebrutalan dalam lima tahun terburuk dalam sejarah manusia. Kepolosan sang bocah akan mencabik-cabik perasaan pembaca hampir di setiap halamannya. Dan ketika saya membacanya sambil mengunjungi situs-situs monumen pembantaian seperti Choeung Ek, membuat bola mata saya bekerja ekstra mengeluarkan keringat.

Untuk yang sulit membayangkan seburuk apa genosida di era rezim Khmer Merah, coba bayangkan jika saat itu penduduk Phnom Penh ada hampir setengah juta warga pada tahun 1975. Dan ketika diumumkan bahwa partai komunis Angkar berhasil mengkudeta pemerintahan, semua penduduk Phnom Penh diusir oleh simpatisan partai Angkar. Benar-benar secara harfiah “semua penduduk”. Tanpa terkecuali, hanya dalam waktu sehari, kota Phnom Penh dipaksa dikosongkan, penduduknya diusir. Yang membangkang atau sekedar bertanya (atau pasien rumah sakit dan jompo yang masih tertidur) ditembak di tempat. Phnom Penh langsung menjadi kota hantu. Migrasi massal ini sudah pasti menimbulkan kelaparan hebat. Lebih dari setengah penduduk kota yang terusir ini meninggal karena kelaparan atau tewas menginjak ranjau darat yang sengaja dipasang pasukan Khmer Merah. Bagi mereka, semakin sedikit penduduk semakin baik karena lebih mudah untuk dikontrol. Horror, horror, horror!*

Mungkin kalian bertanya, ini bukannya cerita tentang hiking gunung? Kok jadi cerita horor tentang genosida? Hehe. Soalnya, seperti kalimat pembuka cerita ini, pendakian ke Phnom Aoral benar-benar bukan pendakian biasa seperti yang saya lakukan sebelumnya di Indonesia. Sepanjang perjalanan dan selama mendaki, saya diceritakan mengenai brutalitas genosida Khmer Merah, langsung menyaksikan bukti-bukti pembantaiannya langsung seperti di situs Choeung Ek atau melakukan wawancara langsung dengan penyintas, kesaksian pertama dari mereka yang selamat dan mengalami langsung kengerian ini. Dan saya, akan membagikannya dengan kalian, haha.

*****

Sebenarnya, pendakian ke Phnom Aoral bukan tujuan perjalanan yang utama dan satu-satunya, tetapi merupakan rangkaian perjalanan ke negara-negara Indochina. Startnya tentu aja dari Thailand, karena paling mudah aksesnya (dan paling murah, hehe). Karenanya perjalanan di Thailand dipenuhi semangat backpacker-an yang menggebu-gebu (dan daripada dituduh tukang bohong, sebenarnya demi ngehemat juga sih, haha), saya melintasi Thailand ke Kamboja dengan menggunakan bis antar negara. Karena perjalanan di Thailand terlalu mainstream dengan tujuan wisata populer, saya skip saja ceritanya haha (soalnya bakal terlalu panjang juga apalagi kalau dirunut dari awal sampai ke Phnom Aoral-nya, haha).

Dari hasil googling dan pengalaman langsung,
saya sarankan untuk membeli tiket secara resmi
di terminal bis Mo Chit, harganya memang sedikit
lebih mahal daripada yang ditawarkan agen
perjalanan, tetapi ada jaminan sampai lokasi
dengan harga pasti. Beda dengan cerita mereka
yang tetiba ditagih biaya tambahan dan diturunkan
di tempat antah berantah. Juga jangan lupa untuk
membeli tiket minimal sehari sebelum
keberangkatan, ketimbang datang di hari H malah
gak kebagian tiket karena penuh. Terminal dan
trayek bis Bangkok-Siem Reap adalah favorit
backpackeran para bule, tanpa pemesanan tiket
jauh-jauh hari bisa gak kebagian kursi duduk.
Ada bule yang nekat berdiri selama 8 jam…
Dan itu sama sekali tak disarankan karena
kondisi jalannya yang aduhai.

Dari terminal bis Mo Chit di Bangkok, saya harus menempuh perjalanan selama hampir 8 jam menuju Siem Reap di Kamboja. Karena sudah diperingati tentang kondisi kemacetan Bangkok yang melegenda, saya pergi ke Mo Chit terlalu pagi, sehingga sambil menunggu jadwal keberangkatan, punya waktu banyak untuk baca buku dan… nonton sinetron. Haha. Dari beberapa negara Indochina yang saya kunjungi, drama TV dengan format sinetron ternyata memang yang mewabah dimana-mana, persis banget dengan Indonesia. Gak kenal batasan waktu jam tayang (dari yang jam 5 pagi sampai jam 11 malam juga ada). Format sinematografi (aduh, agak malu nulis kata ini saat bahas sinetron) juga sama, kamera zoom in zoom out dengan musik jeng jeng jeng dan tentu saja adegan lebay dan muka gede memenuhi layar dan keluar suara padahal bibir aktor/aktrisnya gak bergerak. Saya yang tadinya berniat baca buku, malah menghabiskan waktu dengan menebak ‘apa adegan selanjutnya’ dari sinetron tsb bersama rekan seperjalanan. Saya mencetak poin 100% tepat menebak adegan yang akan muncul–diclaimer: ini bukan berarti saya demen nonton sinetron ya, haha– Bahkan kami tak kuasa menahan tawa terbahak-bahak sampai diliatin warga sana saat muncul adegan cewek miskin ditabrak cowok kaya, dibawa ke rumah sakit lalu jatuh cinta. Terdengar familiar ya? Pertanyaan jebakan, yang menjawab iya pasti penonton sinetron, haha.

Di dalam bis, saya duduk bersebelahan dengan bule perempuan asal Chile, dan hebatnya, dia adalah seorang mahasiswi sejarah. Jadi, tanpa perlu susah payah mencari bahan obrolan, kami terlibat diskusi seru mengenai komunisme Amerika Latin–yang selama ini pengetahuan saya tentangnya terbatas pada sosok Che Guevara atau Fidel Castro saja. Tentu saja kami juga membahas tentang komunisme radikal di Kamboja. See? Bahkan dalam perjalanan menuju Phnom Aoral aja, topik kekejaman Pol Pot sudah menjadi topik yang saya obrolkan.

Hati-hati saat berada di kantor imigrasi
perbatasan negara Thailand-Kamboja!
Sementara koper barang bawaan
kita dititipkan di bis, kita akan masuk
kantor imigrasi, jadi pastikan semua
barang berharga dibawa dalam tas
kecil. Tapi yang harus benar-benar
diwaspadai adalah, begitu rombongan
bis menuju kantor dengan jalan kaki
yang jaraknya cukup jauh (minim
papan petunjuk, malah ditunjuk-tunjuk
sama warga sekitar, jangan sampai
terpisah dari rombongan). Dan saat itulah
rombongan pencopet menyerbu!
Menyaru sebagai orang yang pura-pura
ingin melintasi perbatasan, secara
berombongan (jumlahnya belasan)
langsung memepet rombongan bis kami,
berbuat kehebohan dan ngobrol ribut
untuk mengalihkan perhatian dan menyusup-
nyusup di antara rombongan penumpang
bis, mengicar barang berharga bagi turis
yang lengah. Modus yang terang-terangan
dan konfrontatif ini dilakukan di siang
bolong dan jelas nekat karena secara
logika, pasti di perbatasan banyak
polisi yang siaga!

Setibanya di Siem Reap, saya menghabiskan waktu selama dua hari (akan ditulis di tulisan terpisah karena jadi tulisan tersendiri yang gak kalah panjang, haha). Di hari ketiga, baru saya melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh dengan bis malam. Bis malamnya sendiri asyik loh. Tidak seperti bis konvensional yang menggunakan kursi, bis di sana (dan juga kebanyakan bis wisata di Vietnam) menggunakan kasur rebahan ala rumah sakit. Tiap penumpang dapat satu kasur (ada dua tingkat), plus colokan, dan wifi. Hidup mestinya menjadi lebih indah jika saja sang supir tidak mengemudikan busnya dengan mengebut… Ya, tak ada hal yang benar-benar sempurna di dunia ini.

Phnom Penh modern yang hiruk pikuk, benar-benar mengingatkan saya akan Jakarta; senantiasa berisik dan bergerak acak. Saya tak bisa membayangkan bahwa empat dekade lalu, kota metropolitan ini hanya berpenduduk puluhan ribu orang saja setelah semua warganya dibantai tentara Khmer Merah. Untungnya saya sudah janjian dengan pemandu orang Kamboja sana yang sudah saya kontak sebelumnya dan akan mengantar kami ke Phnom Aoral. Tanpa kondisi pasti seperti itu, dijamin bakal kerepotan. Sangat sulit mencari warga yang bisa berbahasa Inggris, banyak scammer bertebaran dan siap memangsa para turis yang pasang tampang bingung. Menyewa pemandu mungkin terdengar mewah dan perlu biaya ekstra, tapi sesungguhnya merupakan penghematan besar-besaran. Tanpa pemandu, kami bisa terjerat tarif calo dan scammer yang bisa membuat pengeluaran menjadi semakin membengkak.

Dan tentu saja, dari pemandu orang Kamboja tadi mengalir lah kisah-kisah memilukan tentang Pol Pot, yang bahkan lebih mengerikan ketimbang gambaran terburuk yang bisa saya bayangkan.

*****

Berada di provinsi Kampong Speue yang tak populer untuk tujuan wisata (bahkan Phnom Aoral tak tercantum di buku panduan wisata Lonely Planet edisi Kamboja), akses menuju Phnom Aoral benar-benar harus mengandalkan tawar menawar antara pemandu dengan pemilik mobil setempat, tentu saja perdebatan mereka dilakukan dalam bahasa Khmer, kebayang kan jika kami nekat menawar sendiri tanpa bantuan pemandu? Perjalanan selama hampir 6 jam dari Phnom Penh menuju Spien Daik dengan jalan jugijag-gijug (akses terjauh yang bisa ditempuh dengan mobil untuk sampai di kaki gunung Phnom Aoral). Dan oh, itu bukan berarti perjalan menuju Phnom Aoral sudah sampai, masih ada perjalanan menggunakan ojek sejauh 1-2 jam menuju Srae Kan 3, desa terjauh dan paling dekat dengan Phnom Aoral. Semua perjalan di atas, dilakukan dalam medan jalan berdebu dan berbatu. Srae Kan 3 sendiri mengingatkan saya pada desa-desa terpencil dan miskin di Indonesia, tanpa akses infrastruktur memadai, terpencil, dan sepenuhnya terlupakan oleh program pemerintah.

Bahkan, di tempat sesunyi ini, jejak dan aroma teror masih tercium jelas. Di salah satu kuil kecil dalam perjalanan menuju Srae Kan 3, saya ditunjukan tempat dahulu puluhan biksu yang memilih bunuh diri massal daripada merubah keyakinannya—bagi Khmer Merah, beragama dapat menghambat pemujaan terhadap Pol Pot.

Melalui jasa pemandu (yang merangkap penerjemah), kami mengobrol dengan penduduk setempat, dan tanpa terasa juga membahas mengenai tragedi genosida Khmer Merah. Hanya kesedihan dan kengerian yang saya dengarkan. Salah seorang kakek di Srae Kan 3, dengan nada getir, menceritakan bagaimana saat bulan-bulan terburuk kelaparan, hanya bertahan dengan 3 butir nasi setiap hari, didapat dari jatah pembagian bubur sehari sekali, di mana segenggam beras diberi air sampai setengah drum untuk dimakan satu penduduk desa. Karena migrasi besar-besaran penduduk kota, desa-desa seterpencil ini menjadi sesak menampung pengungsi. Hanya dalam lima tahun terburuk itu, cuma sepersepuluh penduduk desa yang selamat. Dan makan kuah nasi itu (kata ‘bubur’ sudah terlampau berlebihan) masih mendingan karena seringnya tidak ada makanan sama sekali selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu sehingga untuk menutupi rasa lapar mereka memakan arang kayu. Dalam kondisi ekstrem seperti itu, menemukan bangkai tikus yang terbawa hanyut air banjir (dan memakannya mentah-mentah) adalah sebuah kemewahan hidup terbaik yang bisa didapatkan (dan tentu saja kejadian seperti itu belum tentu terjadi setahun sekali).

Isu-isu kanibalisme, konflik antar keluarga karena merebutkan sebongkah ubi busuk yang memicu pembantaian, proses penyiksaan yang dilakukan tentara Khmer Merah, dan hal-hal tak manusiawi lainnya sebaiknya tak saya ceritakan kembali di sini. Terlalu mengerikan, sehingga saya yang mendengar kisahnya saja tak mau mengingat kembali saat menuliskannya. Terlalu mengerikan.

*****

Phnom Aoral, sebagai puncak tertinggi di Kamboja, tingginya hanya 1800-an meter, bahkan lebih pendek ketimbang Gunung Tangkuban Perahu di Bandung. Tetapi dengan akses terpencil seperti itu, perjalanan sehari pulang pergi dari Phnom Penh tidak bisa dilakukan. Maka, ketika kami sampai di Srae Kan 3 saat hampir senja, kami menginap dahulu di rumah warga, untuk melanjutkan mendaki esok harinya.

Inilah pemandangan dari puncak Phnom Aoral, pemandangan yang bisa kita lihat dengan mudah di bukit-bukit di Jawa

Inilah pemandangan dari puncak Phnom Aoral, pemandangan yang bisa kita lihat dengan mudah di bukit-bukit di pulau Jawa.

Perjalanan menuju puncaknya hanya memakan waktu 2.5 jam saja, melalui hutan bambu dan hutan tropis basah yang tidak terlalu sulit ditembus karena ada jalan setapak yang sering digunakan penduduk yang mencari kayu hutan. Kawasan Phnom Aoral sebetulnya termasuk kawasan cagar alam terutama untuk tempat suaka harimau–hal ini membuat saya sedikit waswas ketika hendak mendaki ke sana–tetapi tempat ini tidak memiliki pemandangan spektakuler untuk ditawarkan kepada para turis. Bagi yang sering mendaki gunung-gunung di Jawa, mendaki Phnom Aoral sama sekali tak menantang. Pemandangannya pun sebenarnya tidak ada yang spesial sama sekali, kalau gak dikatakan biasa saja.

Tapi tentu saja bukan itu yang kami cari. Alasan saya susah payah mengejar puncak Phnom Aoral dengan menempuh jalan panjang dan berliku tak semata-mata karena mengejar puncak atau prestise pernah menginjakkan kaki di sana. Cerita rakyat setempat membuat pendakian ke Phnom Aoral benar-benar memberikan kesan amat sangat mendalam. Begitu mendalamnya, sehingga ketika saya berpamitan dengan penduduk setempat saya merasa ada sesuatu yang menganga dan kosong di dada saya. Ketika saya melanjutkan perjalanan di hari-hari berikutnya, saya merasa semua rasa makanan terasa hambar begitu teringat semua yang diceritakan warga Srae Kan 3.

Apa yang kamu cari di tempat seperti ini?” Pertanyaan ini diajukan pemandu saya ketika saya memberi tahu dia bahwa saya ingin ke Phnom Aoral. Menurut dia, sangat aneh jika ada turis yang mau ke Phnom Aoral, selain aksesnya rumit juga ‘tidak ada apa-apa untuk dilihat’, makanya di Lonely Planet, nama ini tak tercantum di daftar destinasi wisata.

Jujur saja, saya tidak bisa menjawab pertanyaan dia saat itu, hanya membalas dengan cengiran lebar kikuk. Ketika saya melanjutkan pembacaan buku First They Killed My Father saat turun gunung, saya rasa saya menemukan sebagian jawaban dari pertanyaan itu; untuk membuktikan, apakah perkataan si bocah Loung Ung ini benar,

“I think how the world is still somehow beautiful even when I feel no joy at being alive within it. ”
― Loung Ung, First They Killed My Father

(bersambung)

Note:
* : Frasa “horror, horror, horror!” awalnya muncul di drama Macbeth-nya Shakespeare, dan menjadi semakin ikonik (meski diubah sedikit) saat muncul dalam adegan terakhir film Apocalypse Now (1979) yang mengguncang.

Advertisements

10 thoughts on “Gunung Phnom Aoral (Kamboja), Agustus 2015 [bag. 1]

    • Nanya yang “cantik” atuh Fel. Sebelum ke sana, saya ngobrol-ngobrol dulu dg pemandunya via internet–nemu di forum internet–yg udah melek ttg sejarah.

      kalo yg pas di sana dan warga, yah “mancing dikit” aja, sisanya mereka ngobrol sendiri kok… 😛

      Semuanya korban, justru mereka selama ini seolah “bingung”, mau curhat ke siapa. Pas tau ada yang mau dengerin mereka berkeluh kesah, mereka justru seolah seneng, bisa berbagi beban.

      Like

        • Iya, apalagi tau kalau pendengarnya itu orang asing, menunjukkan kepedulian pada mereka. yang saya lakukan hanya diam menunggu dan ngangguk-ngangguk doang.

          mereka berani terbuka karena kisah genosida dianggap “selesai”, beda dg kasus spt di Myanmar yang masih ada rezimnya.

          Like

          • hmmm klo Myanmar agak beda sih dan mungkin masih dipendam dalam hati aja klo ada yang ngeganjel. Kalau dari luar mereka selalu senyum dan tampak biasa aja. One of the most modest and humble people on earth so far I can see after 2 times to Myanmar!

            Like

  1. Tentang foto, saya tidak mau mempublikasikan wajah orang tentu saja. Pemandangan ya so-so-so, gak terlalu menarik buat dipublish. Ada sih yg unik-unik spt foto yg didapat saat dalam perjalanan bis, dll. Tapi ntar malah nge-distract cerita (padahal ceritanya sendiri udah acakadut, haha).

    Like

  2. Pingback: Gunung Phnom Aoral (Kamboja), Agustus 2015 [bag. 2] | melquiades caravan

  3. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2015 | melquiades caravan

  4. Pingback: Inteligensi Embun Pagi (Dee Lestari) | melquiades caravan

  5. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s