Gunung Rakutak, Mei 2015

“You are about to begin reading Italo Calvino’s new novel, If on a winter’s night a traveler. Relax. Concentrate. Dispel every other thought. Let the world around you fade”
―Italo Calvino, If on a winter’s night a traveler

Kalimat pembuka buku If on a winter’s night a traveler sebegitu kerennya sampai-sampai saat kami sedang rebahan di puncak gunung karena kelelahan mendaki, saya memanggil teman saya yang sama-sama suka baca untuk membaca kalimat di atas. Saat saya meminta komentarnya, dia menjawab pendek, “Aneh. Tapi keren sih.” Dan saya rasa seluruh cerita pendakian gunung Rakutak kemarin bisa dirangkum seperti komentar teman saya tersebut. Ditambahkan dengan kata “kejutan”.

If on a winter's night a traveler by Italo Calvino

If on a winter’s night a traveler book cover

Aneh. Siapa yang pernah liat orang naik gunung lalu berdiskusi panjang dan ngotot-ngototan bahas tentang pembentukan negara agama, lalu loncat ke mutasi transgenetika, genetically modified organism, sistem negara agraria versi negara komunis, dan hal-hal lain? Sejauh yang saya ingat, diskusinya berakhir pada pembahasan kenapa kartun Tom & Jerry dilarang tayang oleh lembaga sensor.

Saya tidak tahu kenapa bisa sampai loncat ke topik negara agama. Yang jelas, pembahasan tentang topik ini menarik dan menjadi sangat panjang karena ada salah satu anggota rombongan yang cukup fanatik tentang ide utopia negara agama. Anehnya, orang ini tidak pernah membaca buku langsung pemikiran asli ide negara agama (apalagi mengkritisinya). Ya sudah, dia jadi bulan-bulanan saya dan teman saya. Gerakan puritanisme untuk memurnikan ajaran agama pada dasarnya adalah hak pemeluk agama untuk perlindungan terhadap tafsir-tafsir kontemporer yang bias, tetapi puritanisme setali tiga uang dengan fundamentalisme yang sangat dekat dengan radikalisme. Ok, stop. Haha.

Kalau tentang mutasi genetika, ini awalnya berasal dari celetukan teman saya. Sepertiga jalur pertama pendakian, kami melewati perkebunan sayur; kentang, kol, wortel, tomat, dsb. Intinya, bahan lengkap untuk sayur sop sehingga secara bercanda dia mengatakan bahwa alangkah nikmatnya jika di puncak nanti kami buat sayur sop hangat dengan bahan-bahan ini, kalau perlu minta petani (atau nekat ‘meminta tanpa izin‘ jika tak sempat bertemu pemilik lahan). Seketika saya bergidik ngeri. Bukan semata-mata alasan moral, tetapi melihat betapa intensifnya para petani menyemprotkan pestisida dan insektisida, membuat saya bergidik membayangkan berapa jumlah racun yang akan saya telan saat makan sayur sup nantinya.

Dan seterusnya. Dan seterusnya. Seperti biasa, obrolan semacam itu akan ngelantur kemana-mana, apalagi saat diobrolkan saat ngos-ngosan hiking.

*****

Kejutan. Dang. Ini yang tidak kami antisipasi. Ketinggian Rakutak kurang dari dua ribu meter. Sehingga kami mengira waktu tempuh pendakian akan singkat dan… mudah. Nyatanya, jalanan super terjal dan licin ala hutan tropis, menerobos semak-semak tajam, jalur jejak samar-samar yang gampang bikin tersesat (karena jarang didaki/tidak populer, tidak ada pos-pos pemberhentian/jalan petunjuk). Menyesatkan dan merepotkan. Andai terjadi hujan badai seperti pas di Gede-Pangrango yang lalu, kami pasti akan menyerah dan langsung berencana turun pulang di pertengahan jalan. Haha.

Keren. Danau di tengah gunung (bernama Danau Ciharus) benar-benar sebuah oase yang menjadi penglipur lara penderitaan kami. Begitu kami keluar semak-semak padat dan melihat air danau, hampir semua anggota pendakian berteriak histeris kegirangan, mirip dengan ekspresi Mr. Krabs saat menemukan keping penny pertamanya. Ada juga jembatan (punggungan gunung) curam bernama jembatan siratal mustaqim yang super curam (punggung gunung yang sempit dengan diapit lereng terjal mirip jurang) yang menghubungkan dua puncak (Rakutak memiliki tiga puncak). Kondisinya super ekstrem dan harus super hati-hati. Goyah sedikit karena kelelahan atau terpeleset, jurang kiri kanan siap menanti. Tapi ini juga yang membuat kami berjalan cepat saat melewati tepi punggungan gunung curam tsb–supaya tidak lama-lama lewat di jalur tsb.

Dan puncaknya, adalah benar-benar sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Dari puncaknya, terlihat berbagai puncak gunung-gunung yang membentuk kawasan perbukitan massif yang menjadi batas Bandung Selatan dan Garut. Suasana gunung yang lumayan sepi meski di akhir pekan panjang–sangat kontras dengan gunung tetangganya seperti Gunung Papandayan yang sudah mirip pasar, membuat kami bisa menikmati suasana puncak dalam ketenangan dan kepuasan. Saya tidur super cepat, jam setengah delapan dan bangun jam empat. Kelelahan yang dipertemukan dengan kawan terbaiknya, suasana segar dan tenang khas gunung.

Di pagi buta sambil menunggu mentari muncul, dalam kesejukan udara pagi dan ketinggian puncak gunung, saya melanjutkan pembacaan novel Calvino. Angin gunung yang berhembus kencang dan puncak sempit membuat saya seolah terbang, saya berhenti membaca pada bagian ini,–dengan pikiran yang berkelana dan terbang kemana-mana.

“To fly is the opposite of traveling: you cross a gap in space, you vanish into the void, you accept not being in a place for a duration that is itself a kind of void in time; then you reappear, in a place and in a moment with no relation to the where and when in which you vanished.”
―Italo Calvino,  If on a winter’s night a traveler

Advertisements

3 thoughts on “Gunung Rakutak, Mei 2015

  1. Pingback: Gunung Latimojong, Mei 2015 | melquiadescaravan

  2. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2015 | melquiades caravan

  3. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s