Gunung Gede-Pangrango, April 2015

Winter kept us warm, covering
Earth in forgetful snow, feeding
A little life with dried tubers.
― T.S. Eliot, The Waste Land

Musim dingin hangatkan kita, selimuti. Pendakian ke Gede-Pangrango April lalu, memiliki catatan sendiri dalam timeline pendakian saya. Pendakian tersebut adalah pendakian ke-35000 meter saya (akumulasi tinggi gunung-gunung yang telah didaki), pendakian pertama yang benar-benar tepat terjadi di hari lahir saya, dan juga mungkin salah satu pendakian terberat saya sejauh ini.

Pendakian tsb nyaris bisa dikatakan sebagai sebuah kenekatan atau malah bisa dikatakan nyaris sebuah kegilaan. Kami mendaki dua puncak sekaligus, plus dilakukan saat musim penghujan. Pendakian dua puncak sekaligus bisa dikategorikan sebagai kegilaan, dan mendaki gunung yang terkenal sadis dalam rute dan jalur yang sulit, bisa dikatakan sebagai sebuah upaya bunuh diri. Dan untuk efek hiperbolis dan dramatis, hal ini dilakukan di musim penghujan.

Yeah, saya sendiri sedikit menyesal saat mendakinya, haha. Untung saja peralatan tenda/logistik diangkut porter, sehingga mengurangi beban derita secara drastis. Tetapi tetap saja, medan yang berat membuat tim kami babak belur. Jatuh bangun, dalam arti kiasan maupun harfiah.

Bumi dalam balutan salju yang lalai, suapi. Benar, untuk mendaki kedua gunung tersebut dalam satu trip, kami mengambil jalur pendakian yang terkenal horor dan tak populer bagi pendaki Gede-Pangrango, jalur pendakian Salabintana. Jalur yang terkenal dengan rute terjal, medan jalan blusukan, dan banyak pacet. Kami mendapatkan paket komplit tersebut. Untung saja persiapannya lumayan matang, sehingga efeknya bisa diminimalisir, meski tidak banyak.

Saya rasa, saya tak perlu menceritakan detail teknis pendakian kedua gunung ini–bisa dibaca di ratusan blog/buku perjalanan. Jadi izinkanlah saya curhat dan ngelantur panjang lebar. Haha.

*****

Bahkan ketika baru dua jam perjalanan naik, kami sudah kena badai dahsyat; hujan besar dan tiada henti hingga 5 jam berikutnya. Kami sampai-sampai harus mendirikan bivak darurat dari ponco untuk tempat bernaung. Jalan setapak yang berupa talang air membawa lumpur licin dan dedaunan busuk, nan terjal membuat kami harus jalan merangkak. Lutut dan dada bertemu hampir tak terhitung berkali-kali karena harus mengangkat kaki tinggi-tinggi mencari pijakan. Melihat orang terjatuh dalam posisi konyol sudah tak bisa ditertawakan lagi karena takut kena karma serupa. Vegetasi lebat ala hutan tropis makin membuatnya semakin sukar untuk ditembus.

Dan di titik itulah, saya merasakan betapa pentingnya arti sahabat seperjuangan. Kami tak hentinya mengeluarkan lelucon segaring apapun demi menghibur teman yang meringis. Yang membuat saya bersyukur adalah saya ditemani oleh tim hebat, mereka supersabar dan setia kawan. Berbagi bekal dan air minum sama rata ketika yang lain sudah kehabisan, saling berpegangan tangan menarik kawan di bawah yang tak bisa memanjat, bahkan menjadikan punggung sebagai tumpuan saat kawan mau memanjat tak sampai. Ya, separah itu pendakian kemarin.

Untungnya, ya selalu ada sisi cerah dalam setiap penderitaan, saya ditemani kawan-kawan yang keren dalam selera bermusik. Ada anak yang muter terus-terusan lagu jazz (sedikit aneh memang, mendengarkan alunan sax di tengah badai di hutan), dan ada juga si fans berat band Queen. Hebatnya lagi, dia memilih lagu The Prophet’s Song dan 39 sebagai lagu favoritnya–tidak sekedar Bohemian Rhapsody yang membuat perjalanan kami semakin berwarna lain dari yang lain dan benar-benar anti-mainstream.

*****

Hidup sejumput benih kering. Dan, yang lebih asyik lagi, haha, ya kalian boleh bilang saya biadab untuk hal ini, ada kawan perjalanan saya yang memuja secara fanatik sutradara Christopher Nolan. Saya memang selalu tak tahan untuk menggoda para fanboy Nolan. Para pemuja Nolan, selalu merasa diri mereka sangat pintar karena mengaku menonton film yang rumit dan bisa mengerti alurnya. Bahkan mereka suka mengaku menonton berkali-kali film-film Nolan untuk menangkap esensi, pesan tersembunyi, atau apalah yang diselipkan Nolan di film-filmnya.

Seperti kawan saya itu, dia dengan bangganya memproklamirkan film Interstellar sebagai film terbaik sepanjang masa, dan bercerita dengan kepala tegak sudah menonton 4x filmnya berturut-turut di bioskop. Ugh, yummmyyy…

Film ini lah yang menjadi sumber perdebatan dan dendam kesumat selama pendakian ke gede-Pangrango

Film ini lah yang menjadi sumber perdebatan dan dendam kesumat selama pendakian ke Gede-Pangrango (sumber)

Oke, harus saya tekankan, saya sangat terbuka terhadap perbedaan. Saya menghargai keputusan dan pendiriannya dalam memuja Nolan. Yang saya ingin lakukan adalah, memberi sudut pandang baru dan meluaskan cakrawala berfikir terhadap orang lain, agar melihat suatu hal dari sisi lain dan berbeda, tidak fanatik buta apalagi meremehkan orang lain. Dan juga, untuk menyadarkannya bahwa tak ada hal benar-benar sempurna. Bahkan Nolan sekalipun.

Jadi, saat dia dengan bangganya bercerita tentang monster lubang hitam dan konsep dilatasi waktu di Interstellar, saya mengujinya, apakah kebanggan dan sikap sok pintarnya itu juga berarti dia memahami konsep relativitas umum yang menjadi landasan film Interstellar? Dia awalnya tentu saja bangga dan mengutip sesempal fakta-fakta sains dasar. Tapi, dia salah memilih orang untuk menunjukan kebanggaannya. Haha. Tanpa bermaksud congkak, pas tingkat 1 kuliah, saya pernah mengerjakan soal solusi teori relativitas umum untuk model Friedmann–Lemaître–Robertson–Walker metric, dan lubang hitam berotasi. Sedangkan 2 model lain (gelombang gravitasi dan lubang hitam tak berotasi) memang tak terselesaikan karena keburu saya disibukkan dengan materi kuliah lain, maklum saya tidak berkuliah di jurusan fisika…. #cari alesan, haha

*****

Pada akumulasi ketinggian 35000 meter (memanfaatkan jam tangan Garmin yang dikenakan teman saya sehingga bisa mengetahui ketinggian dengan tepat), saya meminta teman-teman saya berhenti sejenak, membagi-bagikan cokelat Toblerone yang saya bawa kepada teman-teman seperjuangan. Sebagai imbalannya, muka saya dicoreng-corengi lumpur karena saat itu hujan gerimis masih berlangsung. Dammit.

Si fans Nolan–yang disemati dendam kesumat karena membuatnya terpojok telak saat disuksi film Interstellar dan Inception, melumuri sepatu dan celana saya dengan lumpur. Teman-teman saya memang gak ikhlas melihat kostum saya yang masih bersih sementara mereka sudah belepotan dengan lumpur. Jarang sekali sih celana saya sampai belepotan karena jatuh terpeleset. Ini bukan masalah kesigapan dan pengalaman saja, tetapi kemampuan memperhitungkan area yang aman untuk berpegangan atau mendarat sehingga aman dan tidak jatuh terjerembap.

Si fans Queen menawarkan lagu apa yang ingin diputar untuk menyenangkan saya yang berulang tahun. Saya, tentu saja memintanya memutar terus-terusan lagu The Prophet’s Song dan 39. Dua lagu ini diputar terus-terusan selama hampir 2 jam, sehingga teman-teman saya yang lain pada protes dan mengancam untuk tidak memasakkan ramen keju di puncak nanti. Dan, demi ramen keju, saya akhirnya mengalah. Haha.

Mandalawangi – Pangrango
Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
Malam ini ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“Hidup adalah soal keberanian
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, hadapilah”
Dan di antara ransel – ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas – batas hutanmu
Melampaui batas – batas jurangmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Soe Hok Gie, Jakarta 19 – 7 – 1966

Karena melalui jalur yang sepi, kami nyaris tak bertemu pendaki lain, hanya bertemu +3 rombongan lain saja. Tapi pas di puncak, ternyata ramai sekali–rombongan dari jalur lain. Haha. Saat masih dalam pendakian naik, mungkin karena badai dahsyat, ada satu tim yang anggotanya menggigil dan basah. Bajunya kuyup tanpa persediaan baju ganti. Tim kami terpaksa berhenti sejenak memberikan bantuan sebisanya. Dan ini yang selalu membuat saya ngeri dengan pendaki kebanyakan. Mendaki gunung (apalagi musim hujan) bukan piknik biasa, apalagi untuk jalur-jalur yang tak ada warung/pos singgah. Prinsip saya selama ini adalah, mending membawa barang lebih (dan ternyata tidak terpakai semua) ketimbang membawa barang pas-pasan dengan alasan efisiensi ketat tapi malah kekurangan saat dibutuhkan.

Dari pengalaman kemarin, sepertinya, saya kapok untuk hiking pada musim hujan (kena badai dan hujan selama hampir 5 jam di gunung terjal bukan pengalaman yang benar-benar menyenangkan). Beberapa pohon tumbang terlihat masih sangat baru (setidaknya masih terlihat baru beberapa hari). Sehingga saya harus memikirkan ulang untuk hiking gunung berikutnya (ya, saya terjerumus ke grup neraka, yang terobsesi hiking minimal sebulan sekali).

*****

Bagian favorit dari perjalanan Gede-Pangrango sudah pasti Mandalawangi. Padang edelweiss tak pernah gagal membuat saya terbius dan termabukkan oleh pesonanya. Kedamaiannya. Ketenangannya. Kesunyiannya. Soe Hok Gie bahkan pernah membuat sajak tentang tempat ini.

Sementara teman saya membaca puisi Gie yang sudah dia print di selembar kertas–untungnya tak basah kena badai–saya malah asyik membaca buku.

Q: Kamu lagi baca buku apa sih?
A: Perfect Rigour
Q: Buku tentang apa?
A: Hmmm… Buku tentang sistem pendidikan di Rusia awal pascaperang dunia II dan tentang Grigori Perelman
Q: Hah? Kamu baca buku gituan di puncak gunung?! Dan siapa itu Perelman?
A: Errr… *tarik nafas panjang* *terangin hal-hal teknis sesederhana mungkin*
Q: tau bacaan kamu model gitu, saya gak akan berdebat tentang Interstellar depan kamu
A: *senyum simpati*

Dan di sinilah konsep kebahagiaan saya terbentuk. Bagi saya, bahagia itu sederhana. Menjejak rumput berkaki telanjang dan embun membasuh telapak kaki, mendengarkan musik Orchestral Suite No. 3 in D major dari Johann Sebastian Bach, menghirup aroma edelweiss dan tanah basah, merasakan udara gunung membelai jemari saya yang memegang buku. Dan itu semua dilakukan pada hari kelahiran saya, saya tak malu untuk mengakui bahwa bola mata saya berkeringat beberapa kali.

Advertisements

6 thoughts on “Gunung Gede-Pangrango, April 2015

  1. Pingback: Gunung Rakutak, Mei 2015 | melquiadescaravan

  2. Pingback: Gunung Latimojong, Mei 2015 | melquiadescaravan

  3. Pingback: Gunung Merbabu, September 2015 [bag. 2] | melquiades caravan

  4. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

  5. Apa kamu percaya (sesuai kaidah science) bahwa apa yang terjadi di film Interstellar itu mungkin?.

    Pernah baca Dark Matter-nya Blake Crouch? Ceritanya hampir mirip dengan salah satu judul komik dan satu episod Spongebob 😀
    Bagaimana menurutmu?

    Like

    • Film Interstellar memang mengambil dasar Teori Relativitas Umum-nya Einstein yang sampai saat ini dianggap teori paling valid untuk membahas gravitasi. Tetapi beberapa hal seperti teknologi yang dapat melawan gravitasi untuk pesawat luar angkasa atau mengenai apa yang ada di dalam lubang hitam saat si Cooper kesedot ke dalamnya, adalah murni spekulasi. Untuk sains, saya tidak lantas mengambil kata “percaya/tidak percaya”, kita tak akan pernah tahu ke arah mana sains akan melaju. Untuk gagasan yang sudah terbuktikan secara solid oleh sains dalam film Interstellar, memang sangat menarik dan memuaskan, tetapi ada banyak hal yang masih meragukan karena pekulasi tadi. Jadi, kita tinggal tunggu saja apakah kisah-kisah fiksi tersebut bisa jadi kenyataan atau tidak. Sejarah mengajarkan bahwa banyak sains lahir dari fiksi, dan banyak juga mitos berawal dari mimpi yang tak mungkin terjadi. Let us see.

      Buku “Dark Matter” saya belum membacanya, hehe. Dan ada beberapa episode dalam kartun Spongebob yang membahas mengenai mesin waktu–seperti saat Spongebob terprangkap di gua, atau saat kawanan superhero Bikin Bottom memakai mesin waktu untuk mengubah sejarah. Saya kurang jelas menangkap versi mana yang kamu maksud, hehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s