Gunung Manglayang, April 2015

“April is the cruelest month, breeding
lilacs out of the dead land, mixing
memory and desire, stirring
dull roots with spring rain.”
― T.S. Eliot, The Waste Land

The Waste Land, telah resmi menjadi book of the month saya di bulan April. Banyak elemen di buku ini yang begitu bertalian erat dengan kehidupan saya di bulan April, setidaknya beberapa hari menjelang bulan April.

April adalah bulan terkejam, semaikan. Saya merasa, April tahun ini benar-benar menjadi lebih bengis daripada bulan lainnya. Menjelang April, dunia saya mengalami jungkir balik karena terjadi peristiwa yang tak mengenakkan. Bahkan salah satu peristiwa paling membuat-langit-terasa-runtuh terjadi di bulan April tahun ini. Emang sedikit lebay sih, tapi setidaknya, saat itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir udara yang saya hirup terasa lebih pekat dan berat daripada biasanya. Sampai-sampai, teman-teman saya yang membaca timeline Path saya merasa janggal dengan saya yang baru–untungnya hal tsb tidak saya bagikan juga di timeline FB saya. Bisa-bisa saya dicap anak alay. Haha.

Lilak di lahan gersang, baurkan. Maka, beberapa teman saya berinisiatif mengajak saya hiking dadakan, dengan harapan menjadi penglipur lara saya. Awalnya, saya sempat menolak. Karena kondisi saat itu memang membuat saya tidak bisa pergi jauh-jauh dari rumah. Tetapi saya juga membutuhkan pikiran untuk ditenangkan dan rasa lelah untuk dilampiaskan. Dan hanya gunung yang bisa memberikan keduanya. Maka, dipilihlah Gunung Manglayang dengan dua alasan; lokasinya yang tidak begitu jauh, serta medan dan jalur pendakian yang tidak terlampau berat sehingga bisa ditempuh dalam sehari tanpa penginapan. Jadi, meski tak membawa tas keril pendakian, saya dapat mendaki sampai puncak dan turun pada hari yang sama.

Kenangan dan hasrat, campurkan. Alasan lainnya dipilih gunung tsb juga karena pada pendakian kemarin, sekaligus jadi ajang reuni teman kuliah tingkat 1. Pada bulan kedua saya kuliah, saya melakukan pendakian pertama di bangku kuliah dengan teman-teman ‘geng’ praktikum Fisika saya dari jurusan lain. Selama satu semester berikutnya, kami melakukan beberapa pendakian bersama di sekitaran Bandung. Tetapi tahun berikutnya kami harus berpisah karena disibukkan dengan jurusan yang berbeda dan menemukan teman-teman baru. Jumlah kami secara resmi yang konsisten hanya 4 orang, bersama-sama tak hanya belajar kelompok bersama menjelang ujian Fisika, tetapi juga hiking bersama.

Ada si Q, yang di antara teman-teman kuliah saya, baik sebelum dan sesudahnya, sebenarnya yang paling mendekati saya dalam selera bermusik; musik klasik-jazz-classic rock-blues. Hanya saja, orang ini cukup berkepala batu. Dia memaksakan doktrin yang menyatakan bahwa baginya hanya ada dua nama dalam dunia musik; Sebastian Bach dan Pink Floyd, sosok lainnya adalah trivial. Untuk Bach, saya sebenarnya tidak terlalu keberatan. Andai Beethoven tidak menulis Große Fuge, the 9th Symphony dan Pathétique, pilihan untuk setuju pada Bach terasa lebih mudah. Tetapi untuk nama Pink Floyd, pilihannya menjadi lebih pelik. Saya akuin bahwa The Wall adalah album rock opera terkeren yang pernah dibuat. Karya ini sama masterpiece-nya dengan patung Pieta atau Breaking Bad Season V, tetapi, untuk menobatkannya sebagai album terkeren, harus antri dulu di belakang Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band dan Led Zeppelin IV. Perbedaan ini yang sering membuat kami terlibat cekcok berdebat siapa yang paling layak mendapat gelar band terkeren. Haha.

Adalagi si A. Selera musiknya campur aduk, sehingga dia sering kami jadikan bahan perisakan. Playlist musik di hapenya merentang dari musik girlband Korea (kebanyakan) sampai musik band-band lokal populer yang menjadi soundtrack sinetron. Kadang diselipkan dengan beberapa lagu rock populer era 80-90an. Karena itulah yang membuat dia jadi bahan propaganda saya dan si Q untuk memutar lebih banyak lagu-lagu The Beatles, Led Zeppelin, dan tentu saja Pink Floyd (tentu saja si Q gak akan tinggal diam begitu saja melihat ada orang yang tak memiliki lagu-lagu Pink Floyd di daftar musiknya). Ada kejadian konyol terkait masalah ini.

The Dark Side of The Moon album cover

The Dark Side of The Moon album cover

Saat kami belajar kelompok di kostan si Q, si Q memasang poster album The Dark Side of the Moon. Si A dengan polosnya, mengatakan kalau si Q pasti tergila-gila dengan materi pembiasan cahaya karena ada poster besar pembiasan cahaya oleh prisma di dinding kamarnya. Yang saya ingat sesudahnya adalah, saya tertawa terbahak-bahak hampir satu jam penuh, dan si A mati kutu kena semprotan ceramah fans garis keras Pink Floyd sampai berhari-hari sesudahnya.

Dan terakhir si Z. Sebagai anak yang berasal dari kota kecil di Jawa Timur, selera musiknya cenderung konservatif, tetapi selera bacanya termasuk yang paling lumayan dibandingkan dengan si Q dan si A. Dia juga termasuk yang paling ‘polos’ dibandingkan kami berempat sehingga dia yang secara tak resmi kami angkat sebagai dewan penasihat dan kadang menjadi pelerai kalau saya sudah debat panas dengan si Q.

Minggu kemarin, Si Q pulang dari Inggris–tentu saja dengan membawa cerita napak tilasnya mengunjungi Regent Street dan tempat altar-altar pemujaan Pink Floyd lainnya– sehingga membuat pendakian kami ke Menglayang merupakan pendakian reuni setelah berpisah bertahun-tahun tidak bertemu.

Benih gabuk serta curahan hujan musim semi. Pendakian gunung telah mengajarkan saya, bahwa gunung bisa (dan lebih sering) berdusta. Dibalik paras jelitanya, mengambang selarik dusta di udaranya. Meski pada mulanya kami berangkat dalam kondisi cerah dan sejuk, kami dipaksa harus kehujanan juga di pendakian tsb. Cerah, kabut, hujan, datang silih berganti dalam tempo cepat yang membuat kami terpaksa harus mengenakan jas hujan terus-terusan sampai mencapai puncak. Ada dua puncak di gunung Manglayang, puncak utama yang lapang, dan puncak timur yang lebih sepi, lebih rendah, tetapi lebih indah. Sepanjang perjalanan, si Q memutar album-album PF terus-terusan. Saya sama sekali tidak berkomentar banyak, karena memang suasana hati saya tidak dalam kondisi baik untuk berdebat. Lagipula, Pink Floyd termasuk band favorit saya sepanjang masa. Ketika sampai pada album The Endless River, saya bahkan meminta dia untuk memutar ulang album tsb. Ada pesan-pesan khusus yang disembunyikan Pink Floyd di album terakhirnya ini, yang sangat cocok dengan suasana pikiran saya saat itu.

Meski bukan pendakian ke gunung terkenal dengan trek yang menantang, tetapi pendakian Manglayang kemarin termasuk salah satu yang paling akan saya kenang. Reuni kembali tim kecil kami setelah tersibukkan dengan jurusan baru dan kehidupan baru, membuat pendakian tsb menjadi sebuah nostalgia yang menyenangkan. Ada banyak tawa saat mengenang kekonyolan di masa lampau sehingga saya melupakan sepenuhnya kejadian yang menimpa saya. Apalagi saat melihat kawan terjatuh, lepas sekali tawa saya setelah beberapa hari terakhir terasa kaku dan sumpek. Bukannya saya kejam sih, tetapi ada kenikmatan–mungkin hasrat tergelap yang selama ini terkekang–untuk tertawa melihat kawan terpeleset saat dia sedang asyik menceritakan kisahnya yang penuh kepongahan. Kebanggaan dan kejatuhan, terlalu banyak pepatah yang mengajarkan agar senantiasa waspada mengenai hal ini karena sangat bertalian erat dan dekat.

*****

Banyak kawan yang silih berganti masuk dalam kehidupan saya, tetapi dengan si Q-A-Z, mereka mendapatkan tempat tersendiri dan istimewa dalam hati saya. Meski itu hanya persahabatan (secara langsung) yang hanya berumur setahun. Ah, sebelum saya larut dalam suasana melankolis karena kebengisan bulan April, lebih baik segera saja saya tutup dengan puisi T.S. Eliot lainnya–yang secara tak langsung judul buku asal kutipan ini dicatut, dijadikan nama grup kami di media WhatsApp,

We shall not cease from exploration
And the end of all our exploring
Will be to arrive where we started
And know the place for the first time.

― T.S. Eliot, Four Quartets

Advertisements

3 thoughts on “Gunung Manglayang, April 2015

  1. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2015 | melquiades caravan

  2. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

  3. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2016 | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s