Cain (José Saramago)

doubt is the privilege of those who have lived a long time,
― José Saramago, Cain

Saya pertama kali mengenal nama Saramago, pemenang Nobel Sastra 1998, dari novel Blindness dan tak perlu usaha keras untuk langsung jatuh cinta dengannya. Saramago adalah sebuah contoh paling nyata dan paling terang bagaimana sebuah keberanian (atau malah kenekatan) dipadukan dengan kepiawaian bercerita dan kejeniusan menyusun kata, bisa menjadi sebuah mahakarya literasi tak tertandingi. Dan novel Cain ini, bisa menjadi salah satu contoh kisah keberanian ini.

 

13318584

Apakah Cain sesungguhnya adalah seorang “Kesatria Iman”?

 

Cain, yang menceritaulangkan Perjanjian Lama, tampaknya menjadi sebuah spin-off dari novel Saramago lain yang bertema Perjanjian Baru, The Gospel According to Jesus Christsebuah novel yang mengobrak-abrik kisah Jesus dalam sebuah interpretasi yang menohok, tak hanya karena isi cerita yang radikal tetapi juga karena provokasinya dalam mempertanyakan konsep ketuhanan Jesus. Teringat dengan novel The Da Vinci Code? Di luar sensasi dan reaksi gegap gempitanya, sesungguhnya dibandingkan The Gospel According to Jesus Christ, novel The Da Vinci Code lebih mirip sebuah kertas bungkus petasan; rapuh, mudah sobek, dan berisik. The Gospel According to Jesus Christ di lain pihak, meski menawarkan ledakan yang lebih nyaring, tetapi disampaikan dengan cara yang lebih piawai dan menarik.

The Gospel According to Jesus Christ

Masa-masa hening dalam kehidupan Jesus, bisa jadi adalah masa paling bergejolaknya

Sementara The Da Vinci Code langsung mengeluarkan ‘tuduhan’,  The Gospel According to Jesus Christ justru jauh lebih menarik karena menceritaulangkan kisah Jesus dalam interpretasi yang segar. Dalam Alkitab, kisah tentang Jesus berkisar antara masa kelahiran sampai usia remaja 12 tahun, lalu tiba-tiba menceritakan 3 tahun terakhir masa hidupnya. Saramago dengan meyakinkan membuat kisah tersendiri mengenai tahun-tahun yang hilang ini. Dengan telaten dia menuntun pembaca untuk menelusuri kejadian-kejadian yang dialami Jesus dalam periode gelap ini–yang sebenarnya sangat krusial dalam membentuk ‘Jesus yang baru’, untuk kemudian diakhiri dengan cerita yang bakal bikin pembaca ternganga dan cuma bisa berkata ‘wow!’ dan ‘hah, masa?!’—atau malah, ‘kampret!’.

Novel Cain, kali ini mengambil cerita dari sudut pandang tokoh alkitab bernama Cain (dalam tradisi Islam, namanya Qabil). Sebagai orang pertama yang melakukan kejahatan pertama di dunia, terutama dalam tradisi kekristenan, nama Cain adalah nama yang paling dikutuk dan dibenci. Mungkin hanya nama ‘Judas’ yang bernasib lebih malang dalam mendatangkan caci maki. Jadi, kebayang kan, apa yang akan dilakukan Saramago dalam menampilkan sosok yang kadang namanya disinonimkan dengan setan itu sendiri ini.

Dengan nakal, Saramago memasukkan unsur humor pedas dalam menarasikan kisah tentang Cain. Sebagaimana yang sudah diketahui, Cain menjadi terkutuk namanya karena membunuh Abel (Habil) adiknya (ngomong-ngomong, gegara Cain vs Abel ini hampir semua tokoh cerita menampilkan sosok kakak yang jahat dan adik yang baik. Saya sebagai anak bungsu sih senang-senang saja, haha). Tuhan yang murka kemudian mendatangi Cain. Cain, merasa tidak bersalah atas pembunuhan adiknya tersebut malah meminta pertanggungjawaban Tuhan. Menurut Cain, jika Tuhan Masa Kuasa dan Maha Mengetahui, mengapa Dia tidak mencegah pembunuhan ini? Mengapa Dia membiarkan pembunuhan tsb? Di bagian ini, ada dialog teologis yang intens dan panjang. Beberapa bagian membuat kita bersimpati kepada Cain. #teamCain

Tuhan yang ‘kewalahan’ dengan semprotan Cain, akhirnya menghukum Cain dengan memberi tanda hitam pada dahinya dan mengutuk Cain untuk melakukan pengembaraan abadi di dunia. Dan justru karena kutukan ini, kisah Cain menjadi lebih menarik dan segar. Dalam pengembaraan abadinya, Cain mendatangi peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam Bibel seperti keruntuhan Menara Babel, kehancuran benteng Jericho oleh Joshua, dan peristiwa-peristiwa alkitabiah lainnya. Cain terseret dalam berbagai pusaran prahara ini, tidak hanya sebagai pengamat, tetapi kadang sebagai pelaku yang menentukan. Bagian yang paling menarik (dan favorit saya) adalah tentu saja saat Cain naik ke bahtera Noah saat bencana air bah melanda. Dialog-dialog teologis yang disajikan Saramago kadang bikin nyengir dan kadang juga bikin perenungan mendalam.

Dan memang begitulah cara Saramago bercerita. Melalui humor tajam dan menusuk-nusuk, misal saat Cain menghentikan Abraham menyembelih Isaac, terselip dialog-dialog brilian yang terkadang membuat kita mengerutkan kening dan mempertanyakan bahwa keimanan yang kita miliki saat ini mungkin tak setegar yang dikira.

Dibandingkan The Gospel According to Jesus Christ, novel Cain memang tidak segahar dalam konflik teologis maupun konklusi yang ingin disampaikan. Tetapi tetap saja Cain memberikan pencerahan dengan cara yang membakar terutama bagi mereka yang tidak waspada. Mungkin, memang seperti itulah pencerahan yang harus kita cari. Untuk mendapatkan cahaya yang mencerahkan, harus ada yang dibakar demi menghasilkan api yang membawa terang.

Dengan premis di atas, novel ini jelas bukan novel yang bisa dibaca (dan disukai) oleh siapa saja, tentu saja. Membaca Cain, adalah sebuah upaya penelusuran, sejauh mana kita memaknai Tuhan dan kuasa-Nya, yang kadang membingungkan, ambigu, dan lebih banyak menunggu.

Jika Tuhan Maha Pemurah, mengapa dia menghancurkan kota Sodom dan Gomorrah beserta penduduknya termasuk bayi tak berdosa? Mengapa hanya untuk mengetes keimanan Job (Ayub) diperlukan banyak pengorbanan yang menjurus pada kekejaman tak terperi? Dan dimana Dia saat dengan darah dingin Haman atau Firaun membantai puluhan ribu orang yahudi? Ini sebagian pertanyaan-pertanyaan yang diwakili oleh Cain (lewat Saramago) kepada Tuhan langsung, ketika kita sendiri terlalu malu dan takut untuk bertanya langsung padaNya.

Humor cerkas Saramago, meski bagi beberapa orang tampak sebagai sebuah olok-olokan, sesungguhnya adalah sebuah upaya pencarian pemahaman. Keambiguan dan kebisuan Tuhan, baru bisa ditemukan jawabannya setelah Cain mengolok-olok dan menantangnya. Dan Dia lebih banyak menjawabnya dengan sebuah diam yang merisaukan.

Humor Saramago terasa lebih kering dan kasar ketimbang The Gospel According to Jesus Christmungkin karena ini adalah novel terakhirnya, sehingga saat menjelang usia tua dia cenderung lebih pesimis dalam mempertanyakan hal-hal berbau ketuhanan. Apalagi, menjelang akhir hidupnya, semakin banyak orang yang berperang atas nama Tuhan. Upaya pemahaman Tuhan menjadi semakin membingungkan, saat kehendak murni Tuhan dicampurkan dengan tafsir atas kehendak Tuhan. Maka, kita tersesat dalam menafsirkan apa kehendakNya, dan mungkin Dia sendiri tak dapat mengontrol keinginan dan rasa penasaran manusia yang terlalu banyak menuntut dan bertanya.

The history of mankind is the history of our misunderstandings with god, for he doesn’t understand us, and we don’t understand him

―José Saramago, Cain

Advertisements

7 thoughts on “Cain (José Saramago)

  1. Pingback: The Spirit of the Beehive (Víctor Erice, 1973, Spanyol) | melquiades caravan

  2. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2015 | melquiades caravan

  3. Qui, gue suka resensi novel Cain oleh Jose Saramago ini. Gue ada ebooknya di laptop tapi belum sempet kebaca… Jadi pengen baca setelah baca resensi ini…. 😀

    Salam,

    Leo

    Like

    • Mending baca dulu yg “The Gospel According to Jesus Christ” dulu deh. Ini karya terbaik dari Saramago. Sekaligus yang terliar dan tergalak. Kamu udah baca Blindness kan?

      Baca ebook Saramago kayaknya kurang asyik ya? Pernah nyoba, agak mumet. Soalnya kalimatnya panjang-panjang lintas halaman. Kurang praktis bolak-balik versi digitalnya, hehe

      Like

      • Halo Qui,

        Maaf baru balas, Qui tinggal dimana ya? Boleh pinjam novel “The Gospel According to Jesus Christ” ga? Kalau memang memungkinkan kita bisa ketemuan untuk bincang-bincang buku dan saling tukar pinjam Buku niih :D, tapi kayanya koleksi buku punyaku terlalu sedikit dan rata-rata pasti Qui sudah baca…

        Salam,

        Leo

        Like

  4. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s