Gunung Lawu, Februari 2015

Sudah sejak lama sekali sih saya ingin mendaki Gunung Lawu. Bukan saja karena keindahannya yang menjadi buah bibir, tapi bagi saya, Gunung Lawu adalah salah satu keping puzzle paling menarik dalam sejarah nasional. Peristiwa G30S, peristiwa Reformasi 1998, kehidupan prasejarah Nusantara praabad V, dan terutama era transisi Hindu-Islam adalah beberapa peristiwa dalam sejarah nasional yang menarik minat saya karena begitu banyakanya keping puzzle yang hilang. Tidak pernah ada buku sejarah yang bisa menuliskan dengan lengkap dan memuaskan tentang apa saja yang terjadi pada periode gelap ini.

Pada masa rangkaian keping puzzle tak utuh ini, banyak terjadi titik kritis paling menentukan sejarah Indonesia hingga detik ini. Misalnya saat era transisi Hindu-Islam (terutama di Jawa) menjadi titik sentral dalam membentuk pandangan filsafat tokoh nasional hingga membentuk dasar negara yang pada gilirannya menentukan sejarah dan nasib bangsa. Runtuh dan munculnya tatanan sosial, agama, budaya, dan ekonomi baru (pergantian sistem kerajaan hingga kedatangan kolonialis) yang pada akhirnya berkontribusi pada sejarah Indonesia modern. Gunung Lawu, berada pada titik persimpangan ini, sangat memegang peranan dalam era transisi tsb. Raja terakhir Majapahit, konon menghilang di Gunung Lawu. Ya, Gunung Lawu dengan segala misteri dan pesonanya, masuk dalam daftar gunung-gunung yang harus saya daki.

Awalnya saya dan teman saya berencana mau ke Gunung Lawu menggunakan mobil sambil mengunjungi tempat wisata sekitar, tetapi karena teman yg membawa mobil mengalami tragedi, kami harus merubah rencana tsb benar-benar dalam satu jam terakhir sebelum berangkat. Sejam sebelum kami akan berangkat ke naik mobil dari Jakarta-Yogyakarta, kabar duka menimpa kawan saya. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan, seketika. Kami hampir saja membatalkan pendakian ini tetapi telanjur membeli tiket pesawat pulang juga, sehingga tanpa teman saya tsb, sisanya kami melanjutkan pendakian, dengan langsung membeli tiket pesawat untuk menggantikan perjalanan mobil ke Yogya.

Ngomong-ngomong, musibah yg menerima teman saya itu, saya merasakannya sebagai salah satu konsekuensi ‘butterfly effect’ yang menarik. Bagaimana dalam dunia yang bekerja secara sistem non-linier seperti ini, pertubasi-pertubasi kecil bisa menimbulkan efek besar dan berkepanjangan. Berdasarkan investigasi, kecelakaan tsb disebabkan karena almarhum menghidari batu besar yg melintang di tengah jalan. Batu tsb menggelinding dari bukit di samping jalan setelah ada anak pencari rumput jatuh terperosot. Dia jatuh karena kehilangan keseimbangan yang disebabkan oleh ikatan rumputnya putus, yang ternyata menipis karena digunakan temannya untuk mengikat sandal jepitnya yang putus setelah tersandung. Seperti film Final Destination ya? Root cause-nya masih panjang sebenarnya jadi saya potong di sini karena hanya sampai sana saja wawancara yang didapatkan polisi seperti yang diceritakan teman saya di kemudian hari. Yang sangat menarik adalah bagaimana konsekuensi dari tindakan kecil orang lain, bisa menimbulkan efek panjang dan lama setelahnya bahkan kepada orang lain yang belum tentu dikenal. Bayangkan, dengan milyaran manusia di bumi ini, akan ada trilyunan variable irisan dan interaksi yg terlibat di dalamnya, dan semuanya menghasilkan efek tak terduga. Ini yang disebut ‘butterfly effect’ oleh Edward Lorenz, apakah kepakan sayap kupu-kupu di Amazon dapat menyebabkan sebuah badai tornado di Texas? Ok, ngelantur kejauhan. Stop. Haha.

*****

Jadi, karena ada anak yang mengganti ikatan sandal jepitnya, kami harus mengubah rencana dari yang awalnya ingin bermobil Jakarta-Yogya, menjadi naik pesawat. Dan dampak penggantian ikatan sandal jepit itu tak berhenti sampai sana. Efeknya terus bergulir dan saat ditambahkan dengan efek ‘kupu-kupu’ dari ribuan orang tak dikenal lainnya, membuat saya hampir babak belur kepayahan.

Dan sebagaimana yang diberitakan, saat itu sedang terjadi kerusuhan di bandara karena ulah pegawai maskapai Lion Air yang mogok. Yep, saya sedang berada di lokasi bandara saat kekacauan itu terjadi. Ok, mungkin saya terdengar jahat, tetapi entah kenapa, justru kejadian itu yg saya ‘harapkan’… hehe. Sesungguhnya, delay pesawat (kecuali dalam kondisi darurat) tidak pernah terlalu mengusik dan mengganggu saya. Dengan caranya yg spesial, delay membuat perjalanan saya lebih berwarna, lebih menarik untuk diceritakan, dan lebih melambat. Melambat, adalah sebuah kemewahan hidup yang sering terlupakan. Kebiasaan hidup instan dan tuntutan hidup membuat orang terlalu tergesa-gesa. Segala yang dilakukan secara tergesa-gesa akan membuat pandangan menjadi baur, hambar,  kabur, dan tak nikmat.

Saya bukan penumpang Lion sih (seumur-umur belum pernah naik Lion malah, cukup mendengar keluhan teman saja), tetapi saat kejadian, penumpang Lion yang marah, memblokir bandara agar penumpang maskapai lain tidak bisa ikut naik juga sehingga diharapkan maskapai lain ikut menekan pihak Lion juga, karena penumpang Lion sudah putus asa ketika keluhannya tak digubris. Dan tentu saja kita semua tahu, cara ini gak pernah bisa berhasil. Yang terjadi adalah, malah menyebabkan penerbangan maskapai lain jadi ikutan terganggu karena blokade tsb. Kekacauan, kemarahan, teriakan, bahkan tangisan memekat dan tercium di bandara bahkan saat taksi saya berhenti di gerbang pemberangkatan.

Quantum Man by Lawrence M. Krauss

Quantum Man by Lawrence M. Krauss

Apa yang saya lakukan di tengah kekacauan ini? Awalnya saya memutuskan untuk membaca buku Quantum Man-nya Lawrence M. Krauss (sebuah biografi keren dari salah satu nabi saya, Richard Feynman). Tetapi karena terlalu ribut sehingga saya tidak bisa berkonsentrasi, saya akhirnya ngobrol bersama teman saya. Saya bahkan melakukan permainan menebak latar belakang seseorang dari penampilan/obrolannya. Saya berhasil membuat teman saya heran setelah saya membuktikan bahwa 3 orang perempuan yang berdiri di depan kami adalah orang Malaysia. Petunjuk yang saya dapatkan saat itu adalah mereka begitu antusias membicarakan penyanyi Rossa. Saya rasa, tak banyak orang Indonesia yg membicarakan dengan begitu antusias penyanyi semacam Rossa spt yg dilakukan orang-orang Malaysia (bukankah sinetron kita juga sangat digemari di sana?). Antusiasme berlebihan yang diperlihatkan membuat saya berpikir, apa yang saya lewatkan dari seorang Rossa sehingga mereka begitu menyanjung Rossa setinggi langit, sementara saya tak bisa membicarakan seantusias itu kecuali kalau saya membicarakan seorang Sissel Kyrkjebø. Oya, kami akhirnya berhasil naik pesawat (setelah delay 3 jam lebih) setelah main kucing-kucingan dengan penumpang Lion, pindah ke terminal lain yang lebih tenang karena penumpang Lion tak hanya memblokir pintu menuju ruang tunggu, tetapi juga pintu keluar.

*****

Sebelum pendakian ke Gunung Lawunya sendiri dimulai, kami memutuskan untuk keliling pantai-pantai Gunung Kidul terlebih dahulu. Dan akhirnya saya tahu kenapa banyak orang yang bilang mereka bisa mengunjungi 8 pantai sekaligus dalam setengah hari. Jarak-jarak pantainya sangat berdekatan. Cuma beda gang 2 meter saja sudah ganti nama pantai. Haha. Favorit saya pantai Krakal, Siung dan Timang sih. Timang, meski pantainya kecil, tapi ada gelayutan menyeberang pulau yang super menegangkan. Saya hampir saja tak jadi menyeberang, tetapi dengan iming-iming kesempatan sekali seumur hidup, ya sudahlah saya coba. Tapi dengan alasan apapun, saya tak mau mengulanginya lagi. Haha. Oya, saya sempat mampir juga di Gua Jomblang. Duuh, gua ini keren banget. Sayang harga masuknya mahal karena tidak dikelola serius oleh pemerintah. Harga utk turis lokal maupun asing sama, 450rb. Ugh. Tanpa asuransi, kita masuk ke dalam gua vertikal sedalam puluhan meter dengan peralatan seadanya. Benar-benar seadanya. Turunnya saja cuma digerek katrol tunggal buat timbaan sumur yang ditarik puluhan orang—kenapa mereka gak menerapkan ilmu fisika sistem katrol majemuk yg bisa mengurangi beban dengan drastis?

Kami juga menyempatkan untuk mengunjungi candi-candi di daerah Klaten-Yogya. Favorit saya adalah Candi Ijo dan Ratu Boko. Oya, pas di Boko, keterangan di papan petunjuk mengatakan bahwa batu putih yg digunakan adalah batu kapur (limestone), kok saya gak percaya ya? Di iklim tropis spt ini, tanpa pengolahan yang bagus, kapur gampang hancur oleh hujan. Kalau dilihat dari penampakan batunya yang porous, saya menduga itu batu tufa (batuan hasil erupsi gunung api, abu berwarna putih).

Oya, saya mampir juga ke Candi Sukuh, yang konon mirip Piramida Maya itu. Ternyata saya bener-bener surprise karena banyak relief ajaib-ajaibnya. Dan saya merasa sangat menyesal karena gak faham cerita pewayangan Hindu Jawa dengan detail (saya cuma baca-baca buku wayang India dan wayang Islam-Jawa). Padahal utk menikmati candi-candi di sana, harus faham kisah pewayangan Hindu Jawa. Aduh, nyesel banget.

Relief ajaib yang ada di Candi Sukuh bisa dikatakan berani dan nyaris seronok bahkan untuk ukuran modern. Banyak adegan telanjang dan interpretasi kisah wayang yang dibuat ambigu, membingungkan, dan kontroversial. Bahkan banyak gambar yang mirip pesawat alien malah. Selain relief membingungkan tersebut, yang paling provokatif tentu saja patung yg menunjukan organ genital laki-laki yang sedang ereksi. teman saya sampai menantang saya untuk berfoto di samping patung tsb dan menawarkan ‘salmon teriyaki roll’ di Sushi Tei jika saya mau berfoto di samping patung tsb dan men-share-nya di akun media sosial FB dan Path saya. Saya menyukai sushi, tetapi saya lebih menyukai kehormatan dan rasa malu saya. Haha

*****

Keasyikan menjelajah pantai-pantai Gunung Kidul, membuat kami kebablasan sehingga nyasar di jalan karena memburu jadwal pendakian. Berdasarkan petunjuk google map, jarak dari Pantai Krakal ke Cemoro Sewu hanya 2 jam berkendara. Nyatanya, melonjak jadi 6 jam berikutnya, plus nyasar di tengah-tengah jalan kecil pedalaman, dengan kiri-kanan jurang dan rumah penduduk cuma satu-dua saja. Saking kecanggihannya google map, dia juga mengindeks jalan-jalan yang dianggap jalan pintas, yang alih-alih makin mempercepat, malah makin memperlambat parah.

Itu kali keempatnya kami ditatap warga dengan tatapan prihatin, saat muka memelas tersesat minta petunjuk arah. Saya mendapatkan pandangan prihatin ini terakhir saat nyasar hunting lokasi punden berundak/menhir/prasasti di Gunung Salak Bogor. Biasanya tempat-tempat seperti ini tak dimuat dalam peta dan tanpa penunjuk arah, dan sudah pasti akan nyasar. Kami harus mengandalkan GPS (guide penduduk sekitar) yang belum tentu gampang ditemui karena lokasinya terpencil jauh dari lokasi pemukiman. Dan, biasanya tempat-tempat seperti ini dijadikan lokasi pesugihan. Jadi, saat kami bertanya pada warga, akan muncul pandangan prihatin dari mereka, “kasian sekali anak muda ini, sedepresi apa beban hidupnya sehingga mereka mencari tempat pesugihan?”. Yah, kami mendapatkan juga pandangan tsb saat jam 12 malam, bertanya ke petugas ronda di pemukiman terpencil, arah jalan menuju Gunung Lawu–lokasi yg terkenal aroma kleniknya. Sampai-sampai, pas di mobil, kami harus melakukan suit, giliran siapa yang harus turun dari mobil untuk bertanya. Haha.

*****

Jadi, perkiraan perjalanan yang awalnya diharapkan sampai kaki Gunung Lawu jam 8 malam, molor menjadi sampai jam 1 malam. Dalam kondisi kelelahan, kami menginap di guest house yang tersedia untuk bersiap-siap bangun pagi esok harinya memulai pendakian.

Kami ambil rute start Cemoro Sewu karena konon katanya rute ini yang paling singkat. Karena terlalu kelelahan nyasar malam sebelumnya, kami bangun siang esoknya sehingga baru bisa mulai hiking ke puncak Lawu jam 11 siang. Dan itu ternyata sangat panas. Rute yang awalnya enak sampai pos 2 karena rimbun, membuat kami letoy pas rute antara pos 3 dan 5. Terlebih antara pos 3-4. Rutenya mirip rute Kandang Badak-nya Gunung Gede. Tangga batu curam, gak ada bonus sama sekali, nanjak terus. Ugh.

Untungnya, kami hanya membawa peralatan standar seperti sleeping bag dan tenda saja. Logistik makanan dan air minum, murni menyerahkan nasib pada warung-warung yang ada di puncak saja. Nekat tidak membawa logistik karena tahu saat itu liburan panjang imlek, sehingga bakal banyak yang melakukan pendakian maka diharapkan warung-warung pada buka. Dan untungnya, dugaan kami benar adanya. Tetapi kekhawatiran seperti ini tidak terlalu mencemaskan sih. Gunung Lawu sudah menjadi lokasi favorit bagi mereka yang ingin melakukan pertapaan, sehingga warung gampang ditemui di bagian puncak dan di pos-pos peristirahatan.

Saya mengira, kami akan berdesak-desakan mencapai puncak karena sepanjang jalan, banyak sekali para pendaki. Tapi, ketika kami memaksakan untuk tetap ke puncak saat sore hari (sampai puncak jam 5-6 sorean) di hari yang sama, nyatanya puncak dalam keadaan senyap. Ternyata para pendaki berkemah di pos 3 atau 5 setelah terlalu gentar menghadapi rute pos 3-4 yang luar biasa. Kami pun bisa ambil foto-foto sunset sepuasnya.

Dengan ketinggian di atas 3000 meter, Puncak Lawu memang sudah pasti dingin. Tapi yang mengejutkan saya adalah, di daerah puncak, banyak burung-burung bersarang. Apa yang dicari makhluk-makhluk berdarah panas ini di ketinggian seperti ini? Bahkan serangga yang jadi mangsa mereka tersedia sedikit sekali karena tak mampu bertahan di tempat dingin seperti ini. Tanpa bermaksud menekankan kisah mistik keberadaan burung-burung di puncak ini, hal ini membuat saya heran sehingga setiap ada burung lewat di puncak, saya mengamati secara serius mengenai penampilan dan makanan burung-burung tsb.

Seperti yang diberitakan di blog-blog perjalanan, pemadangan dari puncak Lawu memang mendebarkan. Waduk Gajah Mungkur, puncak-puncak gunung di kejauhan seperti Arjuna dan Semeru, semuanya terlihat jelas, sebaliknya kota-kota yang ada di kaki Gunung Lawu malah tertutup awan tebal. Seolah, puncaknya muncul begitu saja dari atas awan, mengapung dan melayang.

Bisa jadi, inilah alasannya mengapa Brawijaya V menyepi di sini pada zaman dulu saat huru-hara mengoyak-ngoyak Majapahit. Begitu tenang, terpisah sepenuhnya dari hiruk pikuk pemukiman oleh awan tebal, puncak Lawu menawarkan kedamaian yang tak terperikan. Bahkan sementara kaki gunung dipenuhi awan gelap hujan dan halilintar, puncak Lawu sepenuhnya bersih, tak terjangkau kekacauan dan kebisingan. Keheningannya nyaris menjadikan tempat ini suci.

Dengan keheningannya yang menghanyutkan, Gunung Lawu memang menjadi primadona para pendaki. Syukurnya kami bertenda agak terpisah dari rombongan lain sehingga dapat menikmati setiap bunyi gemerisik rumput tertiup angin karena senyapnya. Satu-satunya penyesalan saya adalah, ketika melakukan pendakian tsb, saya melakukannya saat liburan imlek. Artinya, saat malam bulan baru, dimana cahaya bulan cukup redup sehingga cahaya bintang gemintang lainnya terlihat sangat-sangat jelas. Rasi pisces, aquarius, hydra, cetus, corvus, virgo, bahkan ophiucus terlihat terang di langit malam Lawu. Sementara teleskop saya tersimpan rapi di kota asal saya karena tidak dibawa. Argghhh…

Rute turun Gunung Lawu yang karena berupa tangga-tangga batu, bener-bener membuat lutut saya lemas banget. Sekarang saya tahu, kenapa tidak banyak pendaki lain yg langsung ke puncak di hari pendakian pertama, karena medan tangga batu bikin lutut gemelutuk lemas, turunnya apalagi. Jadi, ketika saya memutuskan untuk langsung hiking lagi minggu berikutnya (hanya berjeda tiga hari) ke salah satu gunung di Maluku Utara, itu bener-bener bikin kapok dan lelah, tak hanya terkuras fisik tetapi juga mental dan materi. Haha.

Advertisements

12 thoughts on “Gunung Lawu, Februari 2015

  1. Belum pernah ke Lawu, tapi semoga bisa kesana Inshaa Alloh. Aamiin.
    Ceritanya super duper panjang dan detail. Khas kamu. Banyak tulisan nggak ada gambar.
    Btw, akun pet nya apa jadinya? *tetep ngeyel* 😀

    Hayo nulis lagiiii!! :p

    Like

    • Tenang aja, cerita yg lain masih banyak dan sudah pasti lebih panjang. Haha.

      Buruan ke Lawu. Sebenernya gak perlu bawa tenda dan logistik makanan. Bisa tidur di warung di puncak buat ngurangin beban. Cukup bawa sleeping bag aja. Happy hiking

      Like

    • Hi MGL,

      trims sudah mampir dan suka.

      Hmmm… mendaki Lawu baru sekali sih. Mau ke sana lagi… tapi di berita, bulan kemarin Lawu kebakaran hebat yah… Duh… warung Mbok Yem, tempat saya menggantungkan makanan selama di sana. 😦

      kelak, saya pasti akan ke sana lagi, semoga diberikan kesempatan dan kesehatan. Mau emncoba rute Cemoro Kandang.

      Like

  2. Pingback: Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 1] | melquiades caravan

  3. Pingback: Gunung Gamalama, Maret 2015 | melquiades caravan

  4. Pingback: Gunung Merbabu, September 2015 | melquiades caravan

  5. Pingback: Gunung Merbabu, September 2015 [bag. 2] | melquiades caravan

  6. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2015 | melquiades caravan

  7. Pingback: Gunung Nglanggeran, Januari 2016 | melquiades caravan

  8. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s