Gunung Burangrang, Januari 2015

Mengandalkan citra live satelit cuaca, minggu kedua Januari lalu saya nekat hiking ke Burangrang meski sudah masuk musim penghujan. Tidak sepenuhnya akurat–cuaca lokal seperti hujan gunung memang tidak ditampilkan dalam citra satelit tsb–akhirnya saya mengalami juga hujan lebat di tengah gunung. Terakhir kehujanan kayaknya pas camping zaman SMA. Untungnya hujannya tidak lama, cuma sekitar 2 jam-an dan siang-siang sehingga tidak mengganggu waktu tidur waktu malam. Tapi lumayan lebat juga sih.

Karena Burangrang merupakan gunung yang suka dipakai latihan oleh TNI, perizinan mendaki ke sana agak sulit terutama kalau sedang dipakai latihan oleh mereka. Syukurnya kemarin sedang tidak digunakan latihan. Hanya ditanya-tanya sedikit mengenai tujuan dan rute pendakian saja.

Rute pendakian ada dua, lewat perkebunan (yang lebih singkat) dan lewat air terjung Layung (yang lebih memutar). Rombongan saya mengambil alternatif kedua (karena berangkat pagi sehingga perkiraan waktunya cukup sampai puncak sebelum malam).

Karena musim hujan, medan yang ditempuh cukup sulit, dedaunan yang licin dan lapisan mudcake yang gampang sekali bikin kepleset jika tak waspada. Jadi, meski rutenya tidak terlalu panjang, tetapi karena medan yang kurang kondusif sedikit keteteran juga sih. Tak mengejutkan jika beberapa spot ada epitaph-epitaph (batu penanda bahwa seseorang pernah meninggal di tempat tsb). Melihat epitaph di tengah gunung, selalu membuat saya merinding. Bukan dalam artian takut, tetapi lebih ke arah ‘sedih’.

Bagaimana jika nama yang tertulis di sana adalah nama saya? Bagaimana rasanya meninggal jauh dari keluarga? Beberapa pendaki yang meninggal mungkin meninggal saat dikerumuni teman-teman sependakian di detik-detik terakhirnya. Beberapa yang lainnya mungkin meninggal dalam kesendirian dan tak berdaya di dasar jurang. Beberapa cukup beruntung ditemukan jasadnya sehingga mendapat penguburan yang layak, sementara beberapa dinyatakan ‘hilang’ seolah dia pergi sebentar dan akan kembali beberapa hari lagi. Tentu saja, mereka tak akan pernah kembali lagi. Selamanya.

Dan karena ini pula saya sedikit senewen dengan para pendaki yang suka memakai celana jeans dan sandal gunung biasa. Hal-hal sederhana dan ‘sepele’ seperti ini, bisa menimbulkan situasi kritis karena kondisi gunung (terutama musim penghujan) tidak bisa diprediksi dan dikompromikan sehingga dapat berakibat fatal. Belum kalau peralatan seadanya seolah mendaki adalah piknik biasa cuma pindah tempat tidur saja. Mendaki gunung adalah pekerjaan yang melelahkan. Alpa membawa barang sederhana karena perencanaan yang tergesa-gesa dapat berakibat fatal. Buktinya di Burangrang ini, meski rutenya pendek dan tidak ekstrem, tetapi ada beberapa epitaph di jalur pendakiannya.

Karena sehabis hujan, pendakian menuju puncak Burangrang sedikit menyulitkan. Medan yang curam (beberapa titik kemiringannya mencapai lebih dari 40°) ditambah licin habis diguyur hujan, membuat saya harus sedikit merangkak menuju puncak. Bahkan di beberapa tempat ada jejak prosotan bekas tergelincir para pendaki sebelumnya. Untungnya karena vegetasi yang cukup padat, memudahkan saya berpegangan.

Ini kah yang kami cari? Jawabanya jelas tidak.

Ini kah yang kami cari? Jawabanya jelas tidak.

Pas turunnya lebih menantang lagi, karena bagian paling sulit dalam sebuah pendakian bukanlah saat naik mendaki tetapi saat turun. Saat mendaki, kita memiliki harapan untuk segera menggapai puncak, kondisi badan masih sangat prima, dan bekal masih mencukupi. Tetapi saat menurun, kondisi badan yang masih lelah (terutama bila istirahat tidak mencukupi) dan ditambah ingin tergesa-gesa sampai pulang ke rumah sehingga mengendurkan tingkat kewaspadaan menjadi berkurang. Berita-berita mengenai pendaki yang meninggal kebanyakan terjadi pada masa saat si pendaki tsb turun.

Gunung ada, dan tidak untuk dikejar. Tidak perlu ada ketergesaan saat mendakinya ataupun menuruninya. Menggapai puncak hanya sebuah tambahan telah bersusah payah yang tak seberapa dibandingkan dengan kesehatan dan keselamatan. Persiapan dan perbekalan adalah hal yang tak bisa ditoleransi, karena gunung tak pernah bermurah hati.

Begitulah, pendakian yang saya lakukan menjadi melambat karena memang harus selalu awas. Tetapi di lain pihak pendakian yang melambat senantiasa saya syukuri. Artinya, saya menjadi memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati alam, menikmati kebersamaan dengan rekan, menikmati kelelahan saat jalan menanjak. Dan sebenarnya, untuk hal-hal seperti ini seorang pendaki susah payah mendaki. Bukan rekor ketinggian, pun bukan puncak yang dikejar. Sayangnya, kebanyakan orang tidak menyadari hal ini.

Tidak pernah ada cerita tentang penaklukan dalam sebuah pendakian. Frasa “menaklukan gunung” dan “menantang alam” hanya sebuah frasa hiperbola tanpa makna dan pasti ditulis oleh orang yang tak pernah mendaki gunung dan menjelajahi alam. Alih-alih sebuah penaklukan, mendaki justru sebuah penemuan. Penemuan betapa tak berdayanya kita sebagai manusia, sebagai makhluk rapuh, dalam menghadapi gunung yang berusia purba yang ketegaran dan keteguhannya sama sekali bukan tandingan untuk ditantang, apalagi untuk ditaklukan.

It is not the mountain we conquer, but ourselves.
― Edmund Hillary, as quoted in That’s Life : Wild Wit & Wisdom (2003) by Bonnie Louise Kuchler, p. 20

Advertisements

2 thoughts on “Gunung Burangrang, Januari 2015

  1. Pingback: Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3] | melquiades caravan

  2. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s