Gunung Kendang, Januari 2015

Awalnya saya sama sekali gak berniat mendaki gunung di akhir tahun kemarin. Mudik ke rumah tanpa membawa peralatan hiking seperti tas, jaket, sepatu, dsb, saya memang merencanakan untuk menghabiskan akhir tahun dengan keluarga (sudah berbulan-bulan gak pulang, hehe). Tetapi, you know lah, saat teman-teman almamater kuliah mengajak hiking akhir tahun (disertai dengan ejekan-cibiran ‘anak mami’ dan hal-hal yang tak layak didengar lainnya) saya terpaksa setuju ikut mereka.

Karena tanggal 31 Januari sudah saya rencanakan untuk full acara keluarga, saya menego mereka untuk mengadakan acara pendakian ke gunung yang tidak jauh dari rumah dan waktunya pun cuma sehari, 30-31 Desember. Setelah menghasilkan 600-an pesan WA bertubi-tubi yang datang dengan jeda beberapa milidetik, akhirnya terpilih Gunung Kendang. Uh.

Jujur saja, saya sedikit gentar dengan nama ini. Cerita mistis gunung ini sudah terkenal—namanya diperoleh dari nama alat musik gamelan (kendang) yang konon sering terdengar oleh para pendaki, mirip Pasar Bubrah-nya Gunung Merapi—Tapi bukan itu yang membuat saya gentar. Gunung-gunung yang dianggap keramat pasti memiliki vegetasi yang lebat dan masih rapat jalurnya (masyarakat terlalu takut untuk membabat hutannya). Dengan peralatan terbatas ditambah cuaca yang sudah mulai memburuk, navigasi di gunung-hutan spt itu akan sangat sulit. Tapi, karena saya sudah menego waktu pendakian, tentu saja saya tidak punya kuasa untuk menego lokasi.

Jadi, dengan hanya memakai hoodie (yes, cuma itu baju hangat yang ada di rumah), sandal gunung (ide yang sangat buruk), dan tas daypack (dengan isi yang tak meyakinkan: tablet, buku, powerbank, headset, dan makanan/minuman seadanya) saya berangkat bersama 4 orang teman kuliah lainnya.

Sejak kejadian seorang teman almamater kuliah saya meninggal di gunung tsb tahun lalu, perizinan mendaki Gunung Kendang sedikit susah dan berbelit-belit. Kami diinterogasi oleh satpam perkebunan teh tempat kami menitipkan kendaraan. Untungnya, dengan sedikit ngotot dan senyum sangat-sangat lebar, akhirnya kami diizinkan. Toh yang berangkat adalah rombongan sehingga bisa saling menjaga (pada kasus yg meninggal, dia berangkat sendiri).

Kejadian sedikit konyol terjadi di awal pendakian. Kami mulai mendaki ketika langit masih belum terlalu terjaga, sekitar jam 6 pagi. Sengaja mulai berangkat pagi agar pas sampai puncak sudah sore (yang biasanya hujan). Konyolnya, baru jalan sekitar 1 jam, rinai hujan pagi sudah menyerbu sehingga perjalanan kami di awal banyak diisi gerutuan. Untungnya rerinainya sangat tipis sehingga tidak menembus hoodie saya (kalau sampai basah tembus, saya akan memaksa teman saya untuk turun balik). Tapi, akibatnya jalan pendakian menjadi licin. Ini sedikit menyulitkan, karena seperti dugaan saya, vegetasi Gunung Kendang memang rapat. Jejak jalan setapak pendaki sebelumnya nyaris sukar dilacak jika kami kurang awas sehingga kami mengalami kesulitan navigasi. Ada ketidakcocokan antara jalur peta dan koordinat lapangan yang diiukur. Sedikit debat terjadi, meski akhirnya diputuskan kalau koordinat yang diukur yang lebih kami percaya.

Dalam perjalanan saya, entah itu ke gunung, taman nasional, atau desa adat, kadang saya ditemani oleh teman-teman yang ahli biologi (sehingga saya dapat bertanya tentang spesies flora/fauna unik yg ditemui). Tapi untuk pendakian ini, ada teman saya yang anak geologi. Jadi, sepanjang perjalanan dia memberikan kuliah gratis tentang proses sedimentasi Bandung purba zaman glacial, pelapisan sisa abu gunung sisa letusan gunung api Sunda purba, dan setiap ditemukan outcrop (singkapan) batuan yang unik, selalu terjadi diskusi yang menarik. Untung saja saat masih kuliah saya mengambil mata kuliah geologi sehingga saya bisa menyeimbangkan jalan diskusi.

Dan, setelah berjalan hampir 8 jam… yep, rekor yang sangat tidak membanggakan untuk pendakian gunung yang ‘hanya’ 2000-an meter, kami akhirnya sampai di puncak. Tidak seperti kebanyakan puncak gunung yang sudah saya daki, puncak gunung Kendang masih lebat ditutupi pepohonan. Tidak ada areal luas untuk tempat mendirikan tenda, meski beberapa sisa bivak dari pendaki-pendaki sebelumnya tampak jelas. Setelah mendirikan tenda, memasak makanan (semua peralatan tsb dibawa teman saya yg lain, saya sih lebih cocok disebut pelancong ketimbang pendaki karena bawaan yang simpel), kami melakukan hal yang sudah lama tidak kami lakukan sejak berpisah sejak kuliah; boys talk.

Sambil mengisi malam (yang ternyata tidak ada hujan sama sekali selain gerimis pagi itu), kami menceritakan apa-apa saja yang telah kami lewatkan sejak berpisah dari kuliah semester pertama: menceritakan masa-masa kuliah yang baru terlewat, mengenang kekonyolan masa kuliah yang sulit dipercaya kalau diingat sekarang, adaptasi pekerjaan yang tidak sesuai dengan harapan, kehidupan asmara yang pelik, harapan-harapan yang perlahan dikandaskan oleh kenyataan, rencana dan mimpi tentang masa depan yang mungkin tak akan kesampaian, kegagalan dan penyesalan yang sudah dan akan masih dihadapi, serta tak lupa update gosip-gosip teman-teman yang secara perlahan mulai menghilang dan makin sukar dihubungi. Impian, kenangan, dan hasrat yang harus dihadapkan dengan realitas, tak selamanya mulus.

*****

Winter and Night (SJ Rozan) book cover

Winter and Night (S.J. Rozan) book cover

Tablet dan buku yang saya bawa ternyata terpakai juga. Sore-sore disela kabut tipis, saya menghabiskan sisa novel Winter and Night-nya SJ Rozan. Kisah pembunuhan di musim dingin, entah kenapa sangat cocok dibaca di puncak gunung. Haha. Biasanya, ketika sampai puncak gunung, saya mendengarkan musik dari Richard Wegner yang menimbulkan kesan khusyu dan agung. Atau nada-nada ceria mirip kidung ala Tchaikovsky. Tapi kemarin itu, saya memilih nada-nada tunggal yang mengalun cepat dari Bach. Mungkin ini alasan kenapa saya lebih menyukai Bach ketimbang Mozart, alunan-alunan nada Bach yang ritmis justru menghasilkan efek relaks yang menenangkan. Perjalanan 8 jam diiringi gerimis (dan nyaris tersesat), saya lebih membutuhkan sesuatu yang mengendurkan ketegangan. Jadi, di penghujung senja sambil baca novel, Orchestral Suites no 1-4 dimainkan disela-sela candaan dengan teman-teman saya.

Pendakian gunung ini, meski secara lokasi tidak istimewa, tapi secara keseluruhan sangat berkesan. Ini kali pertama kami berkumpul lagi di puncak gunung, setelah terakhir melakukannya saat kuliah semester dua di Semeru (pendakian lain saya lakukan dengan teman-teman lain, teman kuliah lain dan teman kerja). Dengan kondisi jauh berbeda dari kuliah dulu, kami sadar kalau kebersamaan kami ini mungkin tak akan bisa terulang (meski tidak ada yang berani mengucapkannya), setidaknya dalam waktu dekat. Ada teman yang mau pindah kerja ke luar pulau, mau menikah sebentar lagi, menunggu istri lahiran, dll akan membuat pendakian reuni dan nostalgia seperti ini akan semakin sulit dilakukan.

Ini salah satu alasan kenapa untuk pendakian ini saya tidak meminta izin kepada orang tua (kalau lapor, pasti tidak akan dizinkan). Ini sebuah kesempatan dan peluang yang langka, dan mungkin tak akan terulang. Tak heran, saat pagi turun gunung, kami lebih banyak diam dan senyap tak mengobrol banyak. Kami hanya melontarkan lelucon seperlunya, jauh lebih tenang ketimbang saat naik yang ribut. Hanya sedikit candaan yang keluar, semuanya sibuk dengan perenungan masing-masing. Atau bisa juga karena lapar kehabisan bekal. Haha.

Advertisements

One thought on “Gunung Kendang, Januari 2015

  1. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s